Skip to main content

Posts

Sehari ke Pohen

Tak banyak yang tahu tentang sebuah gunung di Bali yang bernama Pohen. Karena memang kurang dikenal. Tak seperti Gunung Agung atau Gunung Batur yang banyak dikunjungi pendaki. Gunung Pohen adalah salah satu puncak atau gunung di kawasan Cagar Alam Batukaru. Cagar alam satu-satunya yang ada di Pulau Bali. Lokasinya di Tabanan, Bali.  Dengan tinggi 2.063 mdpl (meter di atas permukaan laut), Gunung Pohen berdiri berdampingan dengan gunung-gunung lainnya di kawasan cagar alam. Selain Pohen, ada Gunung Batukaru, Sanghyang, Lesung, Tapak, dan Adeng. Gunung Pohen dilihat dari salah satu kemah induk Geothermal Peta pegunungan di Bali bagian tengah Teman Berkaki Empat Pagi itu, saya bersama Dwiana Putra, yang biasa dipanggil Ufo, berangkat dari Kota Denpasar. Menuju kaki Gunung Pohen di Bedugul. Kami akan mendaki ke Pohen, berolahraga di akhir pekan. Mendakinya secara tiktok , naik dan turun dalam sehari. Dan kami tak hanya berdua. Ada teman berkaki empat yang ikut serta. Namanya Kimmy. Panggil
Recent posts

Dagang Jukut

Dagang Jukut Jika olahraga di persawahan Kertalangu di pinggiran Kota Denpasar, kita pasti melihat ada beberapa perempuan paruh baya yang berjualan hasil sawah dan ladang. Seperti Ni Wayan Muntik di foto ini. Saban sore ia biasa menggelar dagangannya di pematang sawah di tepian jalur olahraga.  Biasanya ada kangkung dan kacang panjang yang dijual, atau daun pisang. Tapi sepertinya memang bukan musimnya kali ini. Yang saya lihat adalah jagung, ubi, talas, dan daun pepaya muda. Ada juga lengis tandusan , minyak kelapa yang diolah secara tradisional dalam botol air mineral. Saya kira itu adalah sebotol arak bali. Lengis ini cocok untuk buat sambal matah , katanya meyakinkan saya.  Ia yang lahir dan besar di Kertalangu bercerita pada saya, yang nongkrong di depan lapaknya. Tentang aktivitasnya sehari-hari membuat ceper  dan porosan untuk bahan canang. Tentang aktivitasnya mencari nafkah dengan berjualan di Kertalangu. Tentang kisahnya yang masih lajang dan tak mau merepotkan para keponaka

Kena Covid

Akhirnya saya terkena penyakit karena virus laknat ini. Saya menyebutnya laknat karena saya kesal sekali. Pada virusnya, pada penyakitnya, dan juga pada imbasnya yang terjadi yang membatalkan banyak sekali rencana. Ceritanya dimulai pada akhir minggu kedua bulan Agustus 2021 ini. Saya yang sudah bekerja WFH setahun lebih, mengambil cuti beberapa hari di antara libur tujuhbelasan dan Idul Adha. Dan di waktu libur inilah, saya mencurigai virus tersebut mengenai saya. Malam itu, menjelang upacara piodalan di pura keluarga besar saya di Klungkung, saya cegukan. Biasanya, jika saya cegukan, itu menandakan saya akan sakit. Tapi hari itu, saya tetap memutuskan untuk pulang dari Denpasar ke Klungkung. Esok harinya, seperti dugaan, saya mulai demam. Saya tak menghadiri upacara piodalan. Saya yang belum tahu bahwa saya sudah terkena covid, hanya mengira flu biasa, memutuskan tak datang ke upacara untuk jaga-jaga saja. Siapa tahu beneran covid dan itu menular ke yang lain. Lewat tiga hari, demam

Bumi Ini Berharga

Image by Bob Bello from Pixabay Bagaimana Tuan dapat membeli atau menjual langit dan kehangatan tanah? Gagasan ini aneh bagi kami, kalau kami tidak memiliki udara yang segar dan air yang bergemericik. Bagaimana Tuan dapat membelinya? Pada tahun 1854, "Pemimpin Besar Orang Kulit Putih" yang berkedudukan di Washington menyatakan keinginannya untuk membeli tanah milik orang Indian yang luas dan berjanji akan memberi mereka "tanah perlindungan". Jawaban Kepala Suku Seattle berikut dianggap sebagai pernyataan mengenai lingkungan hidup paling indah yang pernah dibuat. Semuanya Keramat Bagi bangsa saya, setiap bagian dari bumi ini adalah keramat. Dalam ingatan dan pengalaman bangsa saya, setiap pucuk daun cemara yang berkilauan, setiap pantai berpasir, setiap kabut yang menyelimuti hutan nan gelap, setiap jengkal tanah terbuka dan serangga yang bergumam adalah sakral. Sari kehidupan yang mengalir di dalam pepohonan menyimpan ingatan orang kulit merah. Orang kulit putih ya

Keliling Sangeh dan Carangsari (Bagian 2)

Di tepian kolam, saya menghirup segarnya udara. Pemandangan di lembah Tukad Yeh Penet ini sangat asri. Rasanya begitu tersembunyi dari dunia luar. Sementara, kucuran dan gemericik air Beji Samuan berpadu dengan denting genta jero mangku.  Bersepeda Keliling Sangeh dan Carangsari (Foto oleh Alit Arimbhawa) Agama Tirta, Agama Asli Bali Menikmati suasana di petirtaan seperti ini, pikiran saya melayang tentang tradisi Bali. Tentang spiritualitas dan kepercayaan lokal orang-orang di pulau ini. Jika kita melihat lebih dalam, maka akan kita ketahui bahwa setiap kegiatan upacara keagamaan di Bali, selalu menggunakan air sebagai instrumen utama. Sebelum memulai, saat kegiatan, dan setelah selesai; air selalu digunakan. Suasana Beji Samuan di Lembah Tukad Yeh Penet Suasana Beji Samuan di Lembah Tukad Yeh Penet Dulu, kepercayaan orang-orang Bali disebut sebagai Agama Tirta. Yang artinya air suci. Karena selalu menggunakan air. Sebuah praktik laku kehidupan yang diamalkan oleh hampir seluruh manus

Keliling Sangeh dan Carangsari (Bagian 1)

Monyet ekor panjang itu asyik mengunyah nasi kuning di atas pohon. Yang didapatkannya dari dashboard mobil. Monyet itu pasti sangat menikmatinya. Pagi-pagi benar sudah dapat rejeki nomplok. Nasinya masih hangat. Lengkap dengan ayam suwir dan tempe oret manis. Belum lagi beberapa pisang goreng yang juga ikut dibawa kabur. Bersepeda keliling Sangeh dan Carangsari (foto oleh Alit Arimbhawa) Sementara itu. Di bawah pohon tempat si monyet menikmati sarapan. Saya dan Alit melihat peristiwa itu. Antara sedih dan tertawa. Sedih karena merasa sayang sekali makanan seenak itu dibawa kabur oleh para primata. Tertawa karena nasi itu adalah jatah Si Ufo, teman kami yang memang nasibnya cukup sial pagi ini. Ia terlambat berangkat. Sehingga nasi bungkus tak sempat ia makan sebelumnya. Niat mau dimakan di Sangeh, malah sarapan itu berakhir di tangan para penghuni hutan. Awal Mula Cerita Seusai insiden makanan diambil monyet, saya memulai perjalanan. Bersepeda cross country . Bersama Alit Arimbhawa yan