Skip to main content

Posts

Showing posts from 2023

Piodalan Sukra Umanis Kelawu

Apa yang bisa diceritakan dari kegiatan rutin? Seperti piodalan enam bulan sekali dalam keluarga besar saya di Bali? Sebuah upacara peringatan berdirinya pura keluarga. Yang kali ini diperingati pada awal Desember 2023, tepat tanggal satu, Sukra Umanis Kelawu 1945 Saka. Jika hanya kabar dan cerita, tentu ada saja yang bisa dituliskan. Segala sesuatu yang pasti selalu berubah seiring waktu. Yang lalu dan sekarang tak pernah sama, walau tempat dan pelakunya masih sama. Setiap piodalan, saya selalu memotret. Mengambil gambar wajah-wajah setiap anggota keluarga. Ketika gambar-gambar itu saya bandingkan dengan gambar piodalan-piodalan sebelumnya, di sanalah perubahan itu terlihat.  Bapak, ibu, paman, bibi; terlihat makin menua. Orang tua kami makin renta, walau mereka tetap bersemangat. Anak-anak yang dulu lucu kini sudah beranjak remaja dan lebih bersolek. Tak lagi suka menangis atau kejar-kejaran saat acara. Mereka sekarang lebih sering sibuk menggenggam telepon pintarnya masing-masing.

Wa Jawa

Saya bersama Wa Jawa ketika  melali  ke Taman Nasional Way Kambas, 2007 Namanya Ni Nengah Sukasih. Dalam arsip saya, ia tercatat lahir pada tahun 1950. Tapi kemudian diperbarui, tepatnya lahir pada tanggal 3 April 1944, di Klungkung, Bali. Meninggal dunia pada 7 November 2023 lalu, di Lampung. Saya atau beberapa kerabat biasa memanggilnya dengan panggilan Wa Jawa. Di mana kata 'wa' ini dibaca seperti menyebut 'we' pada kata 'wewenang'. Wa adalah kosa kata Bahasa Bali. Itu sebutan untuk paman atau bibi kita, atau orang yang posisinya sejajar dengan orang tua kita. Ia juga dipanggil Dadong Jawa, oleh mereka yang berposisi sebagai cucu. Embel-embel namanya yang berisi 'Jawa' ini memang unik. Saya tidak tahu persis bagaimana kisahnya. Tetapi itu berkaitan dengannya yang tinggal berpindah-pindah: kadang di Sumatera, kadang di Bali. Lah? Kok Sumatera? Karena bagi orang Bali, apa pun daerahnya yang ada di luar Bali, lumrah disebut sebagai Jawa. Walaupun tinggal

Kalembo Ade, Tambora!

"Om Swastiastu" begitu saya membuka salam. Saat saya masuk ke halaman rumah, saya melihat seorang wanita sedang mejejaitan  di teras. Yang kemudian saya ketahui adalah jero mangku istri . Ditemani seorang lelaki paruh baya, yang katanya adalah warga setempat. Kuda-kuda yang sedang merumput di padang sabana Doro Ncanga Pura Agung Udaya Parwata Saya masuk ke dalam kawasan pura. Ada lapangan yang luas. Di bagian pojoknya, ada sebuah bangunan sederhana. Itu adalah rumah jero mangku , yang sekaligus menjadi penjaga di pura tersebut. Irfan menyarankan saya untuk minta izin ke sana. Saya mengucap salam. Memperkenalkan diri. Lalu mengutarakan maksud untuk masuk ke pura. Hanya untuk melihat-lihat. Kondisi saya kotor usai turun gunung. Juga tak berpakaian adat. Ada sedikit rasa tak enak pada jero mangku . Walaupun mungkin hanya perasaan saja. Saya memutuskan tidak bersembahyang. Hanya berdoa dalam hati saja, ngacep  seadanya. Saya dipersilahkan ke pura dengan ramah. Dengan catatan berl

Turun Gunung

"Kretek... Kretek..." begitu saya dengar dari kejauhan. Itu bunyi kayu dan rerumputan terbakar. Asap tebal membumbung di bukit seberang. Kebakaran Hutan Menjelang tengah hari, kami mulai turun dari Puncak Tambora. Dari jalur turun kami, saya melihat asap tebal di kejauhan. Mengepul di sela-sela pepohonan. Awalnya saya mengira itu adalah awan. Tapi suara samar kretek kretek segera menyadarkan, bahwa itu bukan awan. Itu suara pepohonan terbakar. Ditambah apinya yang membesar dan makin jelas.  Arah angin berlawanan. Tidak mengarah ke jalur kami turun. Kalau tidak, asapnya akan melalui dan menghalangi pandangan. Apinya juga akan merambat mendekat. Jalur yang kami lalui sebenarnya juga tandus. Dengan rerumputan menghitam usai terbakar. Rentan sekali tersulut api lagi. Musim kemarau seperti ini, potensi kebakaran lahan memang besar. Di lereng Tambora, tak ada orang yang melakukan prewed seperti di Bromo tempo hari. Di mana percikan suar api pada sesi pemotretannya berubah menjadi

Atap Sumbawa

 "Tit... Tit... Tit..." alarm saya berbunyi. Saya membuka mata. Walaupun masih mengantuk, saya bangun. Memaksa diri keluar dari kehangatan kantong tidur di dalam tenda. Salah satu puncakan kecil di sisi Kaldera Tambora. Bersiap ke Puncak Jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Tiba waktunya untuk bergerak. Tiga puluh menit lagi, kami akan mulai mendaki ke puncak . Saya sudah mengemas perbekalan dalam tas kecil, semalam sebelum tidur. Tinggal berganti pakaian lapangan, memakai sepatu, dan sarapan. Menu sarapan sebelum pendakian ke puncak. Abdul berseru untuk segera bersiap. Bang Can sudah menyiapkan spageti dan teh hangat. Kami memakannya dengan nikmat. Entahlah, apakah makan pagi saat dini hari seperti ini, bisa disebut sebagai sarapan. Makan malam tentunya juga bukan. Yang pasti, kami harus mengisi perut dulu untuk asupan tenaga. Saya juga mengisi botol minum dengan teh panas. Suasana gelap. Langit cerah. Kami beruntung mendaki saat bulan purnama penuh sempurna. Malam menj

Kenapa Tambora?

"Bli. Kenapa memilih untuk mendaki Gunung Tambora?" tanya Abdul pada saya. "Karena belum pernah" begitu saya menjawab. Cukup singkat dan jelas. Sejenak, kami sama-sama diam. Lalu tertawa. Jawaban saya adalah alasan yang masuk akal, bukan? Kenapa Tambora? Kenapa Tambora? Abdul sedang membuat rekaman video. Pertanyaannya tadi, ditanyakan juga pada rekan-rekan yang lain. Jawaban yang keluar beragam. Tapi satu hal yang sama: semuanya belum pernah ke Tambora. Elita menjawab karena Tambora ada di luar Jawa. Waktu libur panjang akhir pekan ini, memungkinkannya untuk ke Sumbawa. Jika akhir pekan biasa, ia lebih memilih mendaki gunung di Pulau Jawa. Karena dekat dengan tempat tinggalnya. Sebagian besar tak perlu cuti dari kantor, imbuhnya. Elita baru kecanduan mendaki gunung setahun belakangan ini. Jadi jika ada kesempatan, ia akan mendaki ke mana saja asal memungkinkan. Sementara Imam, yang sudah cukup banyak mendaki gunung, beralasan bahwa mendaki Tambora adalah satu paket