Skip to main content

Atap Sumbawa

 "Tit... Tit... Tit..." alarm saya berbunyi. Saya membuka mata. Walaupun masih mengantuk, saya bangun. Memaksa diri keluar dari kehangatan kantong tidur di dalam tenda.

Salah satu puncakan kecil di sisi Kaldera Tambora.

Bersiap ke Puncak

Jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Tiba waktunya untuk bergerak. Tiga puluh menit lagi, kami akan mulai mendaki ke puncak . Saya sudah mengemas perbekalan dalam tas kecil, semalam sebelum tidur. Tinggal berganti pakaian lapangan, memakai sepatu, dan sarapan.

Menu sarapan sebelum pendakian ke puncak.

Abdul berseru untuk segera bersiap. Bang Can sudah menyiapkan spageti dan teh hangat. Kami memakannya dengan nikmat. Entahlah, apakah makan pagi saat dini hari seperti ini, bisa disebut sebagai sarapan. Makan malam tentunya juga bukan. Yang pasti, kami harus mengisi perut dulu untuk asupan tenaga. Saya juga mengisi botol minum dengan teh panas.

Suasana gelap. Langit cerah. Kami beruntung mendaki saat bulan purnama penuh sempurna. Malam menjadi cukup terang. Senter kepala tetap terpasang. Angin berhembus. Udara terasa dingin. Karena itu, bandana dan jaket anti angin juga saya kenakan.

Sepuluh orang berangkat ke puncak: saya, Abdul, Bang Can, Roy, Imam, Siska, Alazier, Elita, Wahyu, dan satu porter kami yang bernama Rian. Bergerak mendaki beriringan. Dua porter lainnya tetap tinggal di Pos 3, untuk stand by menjaga tenda dan menyiapkan makan siang.

Pendakian malam itu ditemani bulan purnama.

Ternyata Panas

Malam sudah menjelang subuh yang seharusnya dingin, saya malah kepanasan. Berjalan mendaki sama dengan berolahraga. Jaket anti angin malah membuat tubuh bertambah gerah. Saya akhirnya melepaskan jaket itu. Lega dan segar jadinya. Tapi ketika istirahat agak lama, jadi cepat kedinginan. Ditambah dengan keringat yang membasahi badan, rasanya seperti disiram air.

Perjalanan dari Pos 3 menuju Pos 4 biasa saja. Jalur tak terlalu menanjak. Walaupun gelap, saya melihat vegetasi hutan perlahan mulai berubah. Yang sebelumya hutan lebat, makin lama makin jarang ditumbuhi pepohonan. Tanah di jalur yang dilalui juga kering dan berdebu. Jika siang, sepertinya sangat panas.

Jelatang banyak tumbuh di kiri dan kanan jalur pendakian. Tumbuhan ini memiliki daun yang dapat menimbulkan rasa gatal pada kulit apabila tersentuh. Para pendaki dari Jawa menyebut jelatang di Tambora ini dengan sebutan jancukan. Dari sebutannya, jelas itu berasal dari sebuah kata umpatan. Konon para pendaki jadi sering mengumpat karena terkena dedaunan hijau yang berbentuk runcing seperti hati itu.

Langit mulai cerah saat menjelang pagi.

Kerajaan yang Hilang

Kami berjalan, dan terus berjalan. Tak berbicara. Fokus dengan langkah kaki masing-masing. Saya yang di depan, sesekali melihat ke belakang. Memastikan rekan-rekan tak tertinggal jauh. Cahaya lampu-lampu senter yang bergerak mendekat, menandakan jarak di antara kami.

Sambil menunggu, saya teringat cerita Bang Can semalam. Katanya, Pos 3 yang menjadi tempat kami berkemah, adalah gerbang Kerajaan Tambora. Itu berdasarkan legenda masyarakat setempat. Diceritakan dari mulut ke mulut. Tapi, saya sedikit meragukannya. Kenapa ada pintu gerbang kerajaan di atas gunung?

Dari beberapa buku tentang Tambora yang saya baca, memang benar ada kerajaan-kerajaan di lereng gunung ini. Ada tiga: Kerajaan Tambora di barat laut, Kerajaan Pekat di barat daya, dan Kerajaan Sanggar di timur. Mata angin yang saya sebutkan itu merujuk pada lokasinya dari puncak gunung. 

Sebelum Gunung Tambora meletus pada 1815, ketiga kerajaan diduga cukup makmur. Mereka terlibat perdagangan dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara. Juga berhubungan dengan perusahaan dagang Belanda: VOC. Dari laporan yang ada, menyebutkan bahwa berbagai hasil bumi dihasilkan dari wilayahnya: kemiri, kapulaga, padi, kopi, madu, kain tenun, dan juga kuda.

Tapi kemakmuran itu kemudian sirna. Luluh lantak dalam sekejap. Gunung api tertinggi di Nusantara, saat itu, meletus. Kerajaan Tambora dan Pekat musnah terkubur. Sedangkan Kerajaan Sanggar porak poranda. Sanggar menyisakan raja dan sebagian kecil rakyatnya, yang terpaksa pindah lebih jauh ke timur.

Pos 4 dan Pos 5

Saat berada di tempat yang sedikit terbuka, terlihat nyala api di kejauhan. Karena gelap, api itu cukup jelas. Ada di seberang lembah dari punggungan gunung yang kami lalui. Kata Bang Can, yang berjalan di dekat saya, itu api para pemburu. Di Tambora, banyak pemburu liar. Mereka sering mencari rusa atau ayam hutan. Padahal itu dilarang.

Kami tiba di Pos 4 sekitar pukul empat. Bisa pas, ya? Empat dengan empat. Kondisi pos ini tertutup. Tak ada shelter. Lahannya yang terbuka tidak terlalu luas. Banyak tumbuhan jelatang di sekelilingnya. Kami beristirahat beberapa menit. Makan sepotong biskuit dan minum air.

Pos 4

Subuh, kami belum mencapai Pos 5. Karena sudah waktunya menunaikan ibadah bagi yang beragama Islam, maka kami pun berhenti cukup lama di lahan terbuka yang kami temukan. "Lebih baik sholat di sini daripada subuh terlewatkan" kata Imam yang menjadi imam sholat.

Menjelang Pos 5, vegetasi makin terbuka. Padang rumput makin banyak. Langit mulai terang secara perlahan. Kami tak bisa melihat sunrise di puncak yang masih jauh. Ya, karena kami memang tidak menargetkan sampai di puncak saat matahari terbit. Sayang, ya?

Pos 5

Pos 5 adalah pos terakhir di jalur pendakian Dusun Pancasila. Di sini juga tak ada shelter sebagai tempat berlindung. Hanya cerukan tanah, yang cukup menampung beberapa tenda. Tapi tempatnya tak begitu terlindungi oleh angin. Karena cukup terbuka tanpa banyak pepohonan di sekitarnya.

Di dekat Pos 5, ada sungai kering. Tak ada aliran airnya. Hanya ada genangan-genangan air yang terlihat kotor dan tak layak minum. Kata Abdul, jika musim penghujan, ada tetesan air yang bisa dimanfaatkan. Saat ini, tetesan air itu mungkin ada. Tapi saya tak mengeceknya untuk mencari tahu. Persediaan air kami sudah cukup hingga nanti turun kembali ke Pos 3.

Menyeberangi sungai kering di dekat Pos 5.

Mae Tafa Gumbilo

Pagi telah menjelang dan makin terang. Tapi tidak panas karena matahari masih di balik gunung. Puncak rasanya masih jauh. Kerucutnya yang bagaikan piramid sudah kelihatan. Sangat kecil dari tempat saya berdiri.

Jika kita pernah mendaki gunung dan berada di puncaknya saat pagi, kita akan melihat segitiga gelap.  Yang terbentuk karena bayangan gunung. Karena jalur pendakian dari Dusun Pancasila berada di lereng barat, maka kami ada dalam area yang tak terkena sinar matahari langsung. Makanya  tidak panas.

Selepas pukul tujuh pagi, barulah matahari muncul. Bersinar terik. Jalur pendakian menjelang puncak adalah medan terbuka. Kebanyakan bebatuan dengan beberapa padang rumput dan perdu. Sebagian menghitam bekas kebakaran. Lumayan luas bekas padang rumput yang menghitam itu.

Di satu titik, ada sebuah monumen kenangan. Terbuat dari lempengan batu pualam yang dicor di atas batu besar. Bertuliskan: Mae Tafa Gumbilo, Pemandu Gunung Tambora. Dengan penanda waktu lahir dan meninggalnya. Dibangun oleh Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Brawijaya.

Nama yang terpahat itu adalah nama tokoh pendaki di sumbawa. Ia orang pertama yang menjadi pemandu bagi orang-orang yang ingin mendaki puncak Tambora. Membuat jalan-jalan rintisan ke arah puncak. Bagi para pemandu gunung di Tambora, sosoknya sangat dihormati.

Kematiannya mendadak terjadi saat turun dari puncak. Itu ketika mengantar para pendaki dari Impala Brawijaya. Kejadiannya pada tahun 1989. Monumennya di lereng gunung ini adalah tempat ia menghembuskan nafas yang terakhir.

Monumen Mae Tafa Gumbilo

Kaldera Terbesar di Asia

Gunung Tambora adalah gunung api yang masih aktif. Kaldera atau lubang kawahnya sangat luas, dengan diameter lebih dari tujuh kilometer. Konon, kawah Tambora ini adalah kawah gunung api aktif yang terluas di Asia. Mungkin juga di dunia. Tak ada data yang secara gamblang menyebut. Tapi saya tak menemukan kawah gunung lain yang masih aktif dan lebih luas.

Sekitar pukul sembilan pagi. Kami akhirnya sampai di tepian kaldera. Benar-benar luas. Seperti mangkok raksasa di puncak gunung. Tapi kami belum di puncak. Arah kedatangan kami dari barat dan titik tertinggi gunung ini masih sekitar satu kilometer ke selatan.

Saya dengan latar belakang Kaldera Tambora.

Lubang kaldera dipagari tebing curam di sekelilingnya. Seperti pahatan-pahatan. Kedalamannya sekitar 1.200 meter. Tampak rapuh. Di pinggir tebing, ada satu papan peringatan tentang bahaya longsor. Bahkan tebing di tepian kaldera seberang kami, runtuh di depan mata. Debunya kelihatan mengepul ke atas.

Ada gunung api kecil di bawah sana, di dasarnya. Dalam bahasa Bima, gunung api itu disebut sebagai Doro Api Toi. Masih mengepulkan asap putih. Itu menandakan bahwa Tambora tidak benar-benar mati. Ia hanya tertidur. Mungkin sedang mengumpulkan kekuatan. Saya merinding membayangkannya.

Penampakan Kaldera Tambora.

Kawah Tambora.

Kawah Tambora.

Papan peringatan "Rawan Longsor" di tepi kawah.

Longsor di kejauhan.

Supermarket Bencana

Indonesia berada di zona Cincin Api dunia. Tepatnya menjadi negeri kepulauan yang dilalui Cincin Api Pasifik. Sebutan cincin api ini karena merupakan daerah yang memiliki banyak aktivitas pergerakan lempeng bumi. Dengan rangkaian gunung-gunung api yang panjang.

Sumbawa dengan Tamboranya tentu saja termasuk bagian rangkaian tersebut. Salah satu daerah yang rawan akan gempa bumi dan gunung meletus. 

Setelah 1815, letusan Tambora pernah terjadi dalam skala kecil. Terakhir ia meletus pada tahun 1972. Dan jika mau meletus lagi tentu ada tandanya. Pasti ada peringatan dini. Ilmu pengetahuan makin maju. Pemerintah melalu Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi telah mengawasi Tambora. Juga gunung-gunung lain di seluruh Indonesia.

Dan berbicara tentang potensi bencana, saya jadi teringat akan sebuah lagu. Judulnya Supermarket Bencana. Dinyanyikan oleh Navicula, grup musik rock dari Bali. Begini penggalan liriknya, saya tuliskan di paragaraf selanjutnya.

"Lahan hijau yang terhampar, di seribu pulau yang berjajar. Indonesia, negeri aman sentosa. Tapi jangan lengah kawan. Di balik semua keindahan, ada yang sembunyi tak kelihatan. Buka mata dan telinga. Bencana alam mengancam kapan saja. Dia siap menerkam. Selamatkan bumi, selamatkan diri. Bekali dirimu dengan informasi."

Lirik penutupnya sangat pas: bekali dirimu dengan informasi!

Di tepi kaldera.

Rencana Kedua

Angin berhembus cukup kencang. Semenjak tiba di tepian kaldera, saya sudah mengenakan jaket kembali. Itu sangat membantu menahan angin. Juga melindungi diri dari panas matahari yang makin naik.

Beberapa puluh meter sebelum mencapai puncak, ada cerukan tanah yang cukup lebar. Jika rencana awal perjalanan kami ikuti, yaitu bermalam di kaldera pada hari kedua, maka di cerukan itu lah kami bermalam. Kurang lebih, tempatnya cukup untuk dua tenda. Atau tiga tenda jika dipaksakan.

Keputusan kami rasanya tepat. Untuk tak bermalam di sana. Kami jadinya tak mendapatkan pemandangan matahari terbit dan terbenam di puncak. Tapi kami jadi terhindar melewati malam dengan angin kencang yang berbahaya. Kalaupun bisa aman, pasti tak akan nyaman.

Atap Sumbawa

Berjalan mendaki beberapa meter dari cerukan tadi, sampailah kami di puncak tertinggi. Titik yang menjadi atap Pulau Sumbawa. Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh. Ada monumen kecil bertuliskan Puncak Tambora sebagai penanda.

Puncak tertinggi Gunung Tambora.

Ada juga tugu triangulasi dengan bendera merah putih usang berkibar. Di mana bendera usang itu diganti dengan yang baru. Imam yang menggantinya. Selama ini ia ternyata membawa sang saka dalam perjalanannya.

Bendera usang yang terpasang di puncak.

Selain monumen Mae Tafa Gumbilo di bawah tadi, di puncak ada monumen peringatan juga. Terbuat dari plat logam yang dicor ke bebatuan. Dibuat oleh Keluarga Besar Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung. Untuk mengenang Widjajono Partowidagdo. Yang meninggal pada tahun 2012 di jalur pendakian Doropeti, jalur pendakian lain di Tambora. Nama yang terpahat adalah seorang Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral kala itu.

Monumen kenangan Widjajono Partowidagdo.

Puncak Embun

Titik tertinggi Tambora bernama Puncak Embun. Saya baru tahu kemudian setelah turun. Setelah melanjutkan membaca kisah tentang gunung ini di Laporan Jurnalistik Kompas. Dari berbagai pencarian yang saya lakukan, tak banyak catatan pendakian yang menyebutkan nama Puncak Embun ini. 

Mungkinkah nama itu datang dari Tim Kompas yang mendaki ke sana? Banyak orang atau tim menamai suatu puncak gunung dengan nama tertentu. Biasanya berlaku di kalangan tertentu mereka saja untuk tujuan tertentu pula. Seperti penamaan Puncak Sumantri di Papua. Dinamai demikian oleh Mapala Universitas Indonesia untuk menghormati rektor mereka.

Makan buah apel di Puncak Tambora.


Pemandangan dari Puncak Tambora.

Dari puncak, pemandangan luas menghampar. Awan berarak di bawah sana. Jika bersih dan tak berawan, Pulau Moyo dan Satonda akan terlihat di arah barat. Moyo adalah pulau seluas 350 km2 yang memiliki banyak desrinasi menarik. Sedangkan Satonda adalah pulau kecil dengan danau air asin, yang terbentuk dari kawah purba. Kedua pulau itu merupakan sebuah taman nasional, dengan nama sesuai namanya: Moyo Satonda.

Kami di puncak cukup lama. Berfoto. Mengambil foto. Membuat konten video. Istirahat. Melihat pemandangan, sambil makan biskuit dan buah apel. Juga merenung, merasakan kebesaran semesta. Rasanya, manusia begitu kecil di alam raya ini, bagai debu di angkasa yang luas. Kita tunduk pada kemahakuasaan yang abadi. Di ketinggian gunung, kita disadarkan dan diajarkan lagi untuk memahami kerendahan hati. []


I Komang Gde Subagia | Sumbawa, September 2023


RELATED:


Comments