Skip to main content

Posts

Piodalan Alit

Sukra Umanis Kelawu. Hari Jumat 19 Juni 2020, adalah hari upacara piodalan di pura dadia keluarga besar saya. Pura Dadia Arya Keloping, Besang Kawan Tohjiwa. Di Klungkung, Bali.



Ada yang tak biasa dari upacara kali ini. Yaitu tak meriah. Hanya dihadiri beberapa kerabat keluarga saja. Yang memang tinggal di sekitar pura.

Kecuali saya yang dari Denpasar, anggota keluarga lainnya yang tinggal di luar Klungkung tak hadir. Termasuk pihak keluarga dari saudara perempuan kami yang telah menikah keluar, juga tak datang.

Tak ada terpasang pengangge atau hiasan-hiasan layaknya upacara besar. Tak ada penjor. Tak ada babi guling. Tak ada iringan gamelan. Juga tak ada pedanda yang memimpin upacara. Hanya Jero Mangku keluarga yang menjadi pemuput.

Semuanya terjadi karena saat ini masih musim pandemi virus corona, covid 19. Yang mana sudah diatur, bahwa segala jenis kegiatan keagamaan harus terbatas. Dibatasi secara jumlah orang yang mengikuti kegiatan. Dan dibatasi secara skala kegiatan. Tak boleh…
Recent posts

Ulang Tahun yang Salah?

Hari ini, 28 April 2020, adalah hari ulang tahun Kota Klungkung. Atau lebih tepatnya : hari ulang tahun Kota Semarapura. Sebuah kota kecil di Bali bagian timur. Yang diresmikan namanya melalui sebuah peraturan pemerintah tahun 1992 silam.

Sekarang, usia kota ini sudah mencapai 28 tahun. Umur yang masih muda. Jika menjadi pemain bola, ia sedang jaya-jayanya. Tapi ini sebuah kota. Bukan pemain bola. Umur segitu tentu belum apa-apa.

Dan melihat umur yang masih muda ini, saya sedikit ragu dan bertanya. Tepatkah peringatan kelahiran Kota Klungkung atau Kota Semarapura di tanggal tersebut? Kalau dipikir-pikir dan menurut saya pribadi, yang hanya berkapasitas sebagai penyuka kisah-kisah sejarah, hal itu tidak tepat.

Jika merunut kronologi garis waktu, istana Kerajaan Klungkung mulai dibangun pada tahun 1686 Masehi. Masa di mana istana sebelumnya di wilayah Gelgel telah hancur akibat pemberontakan. Saat itu, raja pertama yang pindah dari Gelgel dan mulai memerintah di Klungkung adalah Dewa A…

Panggilan dari Dayeuhkolot

Teruntuk Alumni Kampus Putih Biru : Universitas Telkom

Di kala pandemi corona terjadi, Bandung Selatan banjir lagi. Sungai Citarum meluap. Merendam tiga kecamatan : Dayeuhkolot, Bojongsoang, dan Baleendah.

Ketinggian air sampai dengan dua meter. Membuat puluhan ribu warga mengungsi. Laporan BPBD, ada 98 ribu jumlah pengungsi. Dan pengungsian ini berlangsung di tengah epidemi virus corona.

***
Tak jauh dari lokasi banjir, ada Universitas Telkom. Yang sejak pertengahan Maret lalu, imbauan untuk bekerja dan belajar dari rumah sudah dilakukan. Mahasiswa, dosen, dan seluruh pegawai berkegiatan di rumah. Belajar mengajar di rumah.

Walaupun banyak yang berkegiatan dari rumah, masih ada yang tak bisa di rumah. Seperti misalnya tim keamanan : para satpam. Ada juga tim kebersihan : cleaning service maupun tukang kebun. Mereka semua masih tetap bertugas di kala yang lainnya berkegiatan dari rumah.

Asrama mahasiswa, juga tak sepenuhnya sepi. Sebagian besar mahasiswa memang memilih pulang ke rumah …

Benteng Terakhir

Semenjak epidemi corona ini berlangsung, sudah lama sekali saya tak pulang kampung. Biasanya seminggu atau dua minggu sekali saya pasti menyempatkan diri. Atau bahkan di waktu yang tak tentu. Hanya sekedar untuk melihat orang tua di rumah.

Untuk mengobati kerinduan, saya lakukan hanya lewat komunikasi di telepon. Memantau kesehatan orang tua. Sambil bertanya apa saja kegiatan dan aktivitas mereka pada hari-hari belakangan ini.

Saya mendapatkan kabar tentang ayah yang rajin panen ubi dan singkong. Memetik bayam dan buah pepaya. Yang pohon-pohon tersebut lagi rajin-rajinnya berumbi, berdaun, dan berbuah. Sampai-sampai bisa dijual ke pedagang-pedagang sayur.

Di rumah saya di Klungkung, ayah saya yang pensiunan PNS memang rajin bertani. Menanam segala jenis tanaman di kebun samping rumah. Atau di sawah di desa. Juga memelihara ayam. Yang beberapa ada di dalam kandang. Dan beberapa lain dibiarkan berkeliaran.



Saya jadi teringat kehidupan di kota. Dan kaitannya dengan kondisi belakangan ini…

Nyepi Kali Ini (Dengan Corona)

Nyepi kali ini rasanya sungguh berbeda. Bagaimana tidak. Sejak munculnya virus corona atau covid-19 dari Wuhan di Tiongkok pada Desember 2019 lalu, himbauan negara  pada masyarakatnya untuk waspada terus bergulir. Karena proses penularannya yang begitu cepat. Sehingga tak ada satu negara pun di dunia yang bisa dipastikan bersih dari virus ini.

Membatasi jarak dengan sesama makin mengemuka dan menjadi-jadi. Karantina. Lock down. Social distancing. Istilah-istilah ini menjadi tak asing. Tak peduli untuk urusan tradisi atau keagamaan. Termasuk dalam menyambut hari raya Nyepi kali ini pada tanggal 25 Maret 2020 Masehi. Tahun baru Saka 1942.

Tak hanya di Bali yang akan Nyepi. Hampir seluruh negara di dunia ‘ikutan’. Membatasi ruang gerak masyarakatnya. Beberapa malah melakukan lock down. Atau menutup akses secara total. Baik penutupan akses setingkat negara, provinsi, atau pun kota. Suasana jadi sepi. Tak ramai lagi. Rasanya, hari raya Nyepi dilakukan lebih awal. Dan dirayakan di seluruh …

Gowes Santai, Denpasar - Ubud

Sudah lama saya tak bersepeda. Terakhir sebulan yang lalu. Sampai akhirnya pagi ini, saya mengayuh pedal lagi.  Menaiki sepeda merah saya yang telah berdebu. Yang semalam telah saya cek kesiapannya.

Beberapa hari sebelumnya, Dwiana Putra "Ufo" mengajak saya gowes lagi. Mengisi liburan di akhir tahun. Menyusuri jalur mountain bike dari Penulisan ke Penuktukan di Bali Utara. Tapi itu tak jadi. Karena personil yang kurang.

Jadilah saya dan Ufo sepakat bersepeda di dekat-dekat rumah saja. Sekitar Denpasar, Badung, dan Gianyar. Hanya berdua. Dari rumah saya di Denpasar. Ke Ubud. Sambil kulineran, cari-cari makanan enak.

Menuju Jagapati

Jam tujuh pagi, saya mulai mengayuh. Meninggalkan rumah di Kesiman Kertalangu, Denpasar. Menyusuri Jalan Siulan yang pagi itu baru mulai bergeliat ramai.

Saya sendiri dari rumah. Sedangkan Ufo juga sendiri, dari rumahnya di Ahmad Yani. Kami berjanji akan bertemu di satu titik di sekitar Desa Jagapati.

Jalur yang saya lalui dari rumah adalah jalur y…

Makan Ikan

Kedonganan, adalah desa yang terkenal sebagai kampung nelayan. Sentra ikan. Di Kecamatan Kuta. Di Bali selatan.

Tiga tahun sudah saya berkantor di Kedonganan. Dan selama tiga tahun itu, baru kali ini saya makan ikan saat jam makan siang. Di tepi pantai. Di sisi pesisir desa bagian barat. Tak jauh dari pasar ikan. Mantap sekali.

Sambil melihat laut biru di bawah terik mentari. Yang lengkap dengan perahu-perahu nelayan yang parkir di atas pasir. Serta wisatawan yang lalu lalang.

Pemandangan lain adalah villa-villa di pinggir-pinggir tebing di Jimbaran. Patung GWK di kejauhan. Juga pesawat yang sesekali beterbangan. Lepas landas atau mendarat di Bandara Ngurah Rai.



Ini sangat jauh berbeda. Dibandingkan saat saya masih di Jakarta. Di kota besar. Yang pilihan tempat makan dan nongkrongnya hanya di kantin. Atau food court di mall sebelah gedung. Atau warung-warung di gang-gang kecil, di belakang kantor.

Desa Kedonganan memiliki garis pantai yang panjang. Karena lokasinya yang berada di cek…