Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2019

Selepas Moni

Saya masih setengah mengantuk. Berusaha keras membuka mata untuk segera bangun. Lalu duduk di tepian ranjang penginapan.  Barusan, saya hanya sempat tidur selama dua jam. Usai turun dari Gunung Kelimutu pagi tadi. Walaupun dua jam hanya sebentar, tapi rasanya sangat cukup untuk mengembalikan kesegaran tubuh. Hari telah beranjak siang. Ini masih di penginapan milik John. Di Moni. Usai membasuh muka dan menggosok gigi, saya bergegas berkemas. Dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Tertipu Calo "Ayo Mas. Mampir ke penginapan saya. Duduk di restoran. Kita ngopi-ngopi dulu lah di sana sambil nunggu travelnya datang." Seorang lelaki, yang kelihatannya berusia tak jauh berbeda dengan saya, menawari untuk mampir. Saat itu saya tengah duduk sambil makan nasi goreng. Di sebuah warung di tikungan jalan. Tak jauh dari Pasar Moni. Saya tak langsung percaya dengan tawarannya. Dari gerak-geriknya, sedikit mencurigakan. Ia pasti calo. Naluri jalanan saya menebak tingkah la

Kabut Kelimutu

Saya suka membaca Tintin. Komik petualangan seorang wartawan muda yang rambutnya berjambul itu. Saya bahkan mengoleksi komiknya. Lengkap. Dari pertama sampai terakhir. Dari sekian banyak petualangannya, cerita dengan judul Penerbangan 714 yang rasanya paling spesial. Karena menjadikan Indonesia sebagai latar tempatnya. Salah satu yang tergambar di komik ini adalah pulau rekaan bernama Bompa. Dengan gunung berisi danau berwarna. Yang sekilas langsung saya simpulkan bahwa itulah Kelimutu. Maka, tentu sayang sekali jika saya ke Flores tidak mampir ke gunung ini. Walaupun hanya sekedar untuk melihat ketiga danau itu saja. Tapi sebelum mendaki ke sana, saya harus ke Moni dulu. Moni adalah desa yang menjadi pintu gerbang pendakian ke Kelimutu. Kelimutu Dari Ende ke Moni Sebenarnya saya mau ke Moni sendiri. Inginnya naik angkutan umum dari Ende. Jarak tempuhnya kurang lebih lima puluh kilometer. Tapi Koplo bersikeras mengantarkan. Tak apa, katanya. Padahal sore itu, ia harus m

Ke Ende

Ende, adalah kota tempat Bung Karno mendapatkan ilham Pancasila Ende adalah kampung nelayan yang dipilih sebagai penjara terbuka untukku. Jika naik jip dari kota terdekat, dibutuhkan waktu delapan jam. Jalan utamanya adalah jalanan tanah bekas tebasan hutan. Di musim hujan, terjadi kubangan lumpur yang becek. Itulah kalimat pembuka Sukarno, presiden pertama Indonesia. Tentang pandangannya akan kampung nelayan terpencil di Flores. Yang dituturkan pada Cindy Adams. Wartawan Amerika yang menuliskan biografi sang proklamator : Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Tiba di Ende Hari telah malam. Perjalanan saya hari ini sudah memasuki Kota Ende. Sedari tadi saya memperhatikan laju minibus yang saya tumpangi di Google Maps. Melihat posisinya. Dan mencari-cari tempat yang cocok untuk turun. Buku 'Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' karya Cindy Adams.  Ende tak lagi seperti cerita Bung Karno di atas. Bukan lagi sebuah kampung nelayan terpencil.

Kampung Bena dan Kopi Bajawa

Kampung Bena dan Kopi Bajawa Watujaji... Watujaji... Begitu teriak sopir membuyarkan kantuk. Minibus berhenti di tepi pertigaan jalan. Saya pun turun. Beberapa tukang ojek sudah menawarkan jasanya, saat saya masih menunggu sopir menurunkan ransel dari bagasi. Saya telah tiba di Pertigaan Watujaji. Pertigaan yang memecah jalan dari Ruteng menjadi dua. Yang ke kiri, ke Bajawa. Yang ke kanan, ke Ende. Tak jauh dari pertigaan jalan ini, ada terminal yang sepi. Mungkin karena sudah malam. Kota Bajawa hanya berjarak sekitar dua kilometer lagi. Seorang tukang ojek mengantarkan saya. Mencari sebuah penginapan. Jaket saya di dalam ransel. Saya yang tak memakainya menggigil kedinginan. Udara di Bajawa ternyata jauh lebih dingin daripada di Ruteng. Bajawa, Kota yang Dingin Bajawa adalah ibukota Kabupaten Ngada di Flores. Berlokasi di ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut. Bentang alamnya berbukit dan dikelilingi pegunungan. Mirip Bandung. Kota Bajawa (Gambar diambil dari

Kilas Balik Manggarai

Ada sesuatu yang magis dari sebuah perjalanan. Yang kadang sulit dimengerti. Perjalanan memberikan sentuhan pengetahuan baru bagi mereka yang melakukannya. Ia mengajarkan pelakunya untuk tahu dan mencari tahu. Tanpa bicara. Tanpa menggurui. Begitu pula ketika saya menginjakkan kaki di tanah Flores selama beberapa hari terakhir. Secara kasat mata, saya merasakan aura perbedaan suasana. Terutama ketika bergerak makin ke timur meninggalkan Kota Ruteng. Inilah yang menyebabkan rasa keingintahuan. Akan kehidupan masyarakat beserta cerita di baliknya. Terutama tentang Flores bagian barat. Tentang Manggarai, yang akan saya tinggalkan. Peta Manggarai Raya di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Ditandai dengan arsir warna merah. Peta sebelumnya diambil dari pembesaran bagian Nusa Tenggara Timur di Kepulauan Nusantara Manggarai di Flores Barat Manggarai adalah kawasan di bagian barat Pulau Flores. Orang menyebutnya sebagai Manggarai Raya. Yang kini sudah terpecah menjadi tiga

Menghayati Kesendirian di Ruteng

Akhirnya saya tiba di Ruteng. Kota kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten Manggarai di Flores. Udara cukup dingin. Ruteng bisa dibilang adalah kota di pegunungan. Berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Menyebabkan suhunya rendah. Jika tak tertutup awan, Pegunungan Mandasawu seharusnya terlihat jelas di selatan. Pintu gerbang Kota Ruteng di Jalan Raya Trans Flores Menghayati Kesendirian Hari telah beranjak sore. Leonardus Jalo, yang menemani saya ke Wae Rebo telah kembali ke Labuan Bajo. Saya sendiri kali ini. Tak ada teman. Di kamar sebuah penginapan yang sepi. Yang saya pilih secara acak dari Google Maps. Yang tak ada review atau reputasi di aplikasi perjalanan. Yang harganya cocok dengan isi kantong. Penginapan ini berdinding kayu. Tampak tua. Sementara kamar mandinya ada di bawah lantai. Rasanya seperti di bawah tanah. Gelap. Tapi cukup bersih. Suasananya agak horor. Dan saya masa bodoh. Hal yang kadang kurang saya sukai ketika melakukan perj