Skip to main content

Posts

Showing posts from 2019

Gowes Santai, Denpasar - Ubud

Sudah lama saya tak bersepeda. Terakhir sebulan yang lalu. Sampai akhirnya pagi ini, saya mengayuh pedal lagi.  Menaiki sepeda merah saya yang telah berdebu. Yang semalam telah saya cek kesiapannya.

Beberapa hari sebelumnya, Dwiana Putra "Ufo" mengajak saya gowes lagi. Mengisi liburan di akhir tahun. Menyusuri jalur mountain bike dari Penulisan ke Penuktukan di Bali Utara. Tapi itu tak jadi. Karena personil yang kurang.

Jadilah saya dan Ufo sepakat bersepeda di dekat-dekat rumah saja. Sekitar Denpasar, Badung, dan Gianyar. Hanya berdua. Dari rumah saya di Denpasar. Ke Ubud. Sambil kulineran, cari-cari makanan enak.

Menuju Jagapati

Jam tujuh pagi, saya mulai mengayuh. Meninggalkan rumah di Kesiman Kertalangu, Denpasar. Menyusuri Jalan Siulan yang pagi itu baru mulai bergeliat ramai.

Saya sendiri dari rumah. Sedangkan Ufo juga sendiri, dari rumahnya di Ahmad Yani. Kami berjanji akan bertemu di satu titik di sekitar Desa Jagapati.

Jalur yang saya lalui dari rumah adalah jalur y…

Makan Ikan

Kedonganan, adalah desa yang terkenal sebagai kampung nelayan. Sentra ikan. Di Kecamatan Kuta. Di Bali selatan.

Tiga tahun sudah saya berkantor di Kedonganan. Dan selama tiga tahun itu, baru kali ini saya makan ikan saat jam makan siang. Di tepi pantai. Di sisi pesisir desa bagian barat. Tak jauh dari pasar ikan. Mantap sekali.

Sambil melihat laut biru di bawah terik mentari. Yang lengkap dengan perahu-perahu nelayan yang parkir di atas pasir. Serta wisatawan yang lalu lalang.

Pemandangan lain adalah villa-villa di pinggir-pinggir tebing di Jimbaran. Patung GWK di kejauhan. Juga pesawat yang sesekali beterbangan. Lepas landas atau mendarat di Bandara Ngurah Rai.



Ini sangat jauh berbeda. Dibandingkan saat saya masih di Jakarta. Di kota besar. Yang pilihan tempat makan dan nongkrongnya hanya di kantin. Atau food court di mall sebelah gedung. Atau warung-warung di gang-gang kecil, di belakang kantor.

Desa Kedonganan memiliki garis pantai yang panjang. Karena lokasinya yang berada di cek…

Selepas Moni

Saya masih setengah mengantuk. Berusaha keras membuka mata untuk segera bangun. Lalu duduk di tepian ranjang penginapan. 

Barusan, saya hanya sempat tidur selama dua jam. Usai turun dari Gunung Kelimutu pagi tadi. Walaupun dua jam hanya sebentar, tapi rasanya sangat cukup untuk mengembalikan kesegaran tubuh.

Hari telah beranjak siang. Ini masih di penginapan milik John. Di Moni. Usai membasuh muka dan menggosok gigi, saya bergegas berkemas. Dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan.

Tertipu Calo

"Ayo Mas. Mampir ke penginapan saya. Duduk di restoran. Kita ngopi-ngopi dulu lah di sana sambil nunggu travelnya datang."

Seorang lelaki, yang kelihatannya berusia tak jauh berbeda dengan saya, menawari untuk mampir. Saat itu saya tengah duduk sambil makan nasi goreng. Di sebuah warung di tikungan jalan. Tak jauh dari Pasar Moni.

Saya tak langsung percaya dengan tawarannya. Dari gerak-geriknya, sedikit mencurigakan. Ia pasti calo. Naluri jalanan saya menebak tingkah lakunya.

Ia meman…

Kabut Kelimutu

Saya suka membaca Tintin. Komik petualangan seorang wartawan muda yang rambutnya berjambul itu. Saya bahkan mengoleksi komiknya. Lengkap. Dari pertama sampai terakhir.

Dari sekian banyak petualangannya, cerita dengan judul Penerbangan 714 yang rasanya paling spesial. Karena menjadikan Indonesia sebagai latar tempatnya. Salah satu yang tergambar di komik ini adalah pulau rekaan bernama Bompa. Dengan gunung berisi danau berwarna. Yang sekilas langsung saya simpulkan bahwa itulah Kelimutu.

Maka, tentu sayang sekali jika saya ke Flores tidak mampir ke gunung ini. Walaupun hanya sekedar untuk melihat ketiga danau itu saja. Tapi sebelum mendaki ke sana, saya harus ke Moni dulu. Moni adalah desa yang menjadi pintu gerbang pendakian ke Kelimutu.



Dari Ende ke Moni

Sebenarnya saya mau ke Moni sendiri. Inginnya naik angkutan umum dari Ende. Jarak tempuhnya kurang lebih lima puluh kilometer. Tapi Koplo bersikeras mengantarkan. Tak apa, katanya.

Padahal sore itu, ia harus menghadiri pesta pernikaha…

Ke Ende

Ende adalah kampung nelayan yang dipilih sebagai penjara terbuka untukku. Jika naik jip dari kota terdekat, dibutuhkan waktu delapan jam. Jalan utamanya adalah jalanan tanah bekas tebasan hutan. Di musim hujan, terjadi kubangan lumpur yang becek.

Itulah kalimat pembuka Sukarno, presiden pertama Indonesia. Tentang pandangannya akan kampung nelayan terpencil di Flores. Yang dituturkan pada Cindy Adams. Wartawan Amerika yang menuliskan biografi sang proklamator : Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Tiba di Ende

Hari telah malam. Perjalanan saya hari ini sudah memasuki Kota Ende. Sedari tadi saya memperhatikan laju minibus yang saya tumpangi di Google Maps. Melihat posisinya. Dan mencari-cari tempat yang cocok untuk turun.



Ende tak lagi seperti cerita Bung Karno di atas. Bukan lagi sebuah kampung nelayan terpencil. Jalannya sudah beraspal, bukan tanah. Dari balik kaca minibus, lampu-lampu berpendaran dari kendaraan bermotor yang lalu lalang.

Seorang perempuan muda yang duduk di…