Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2020

Ulang Tahun yang Salah?

Hari ini, 28 April 2020, adalah hari ulang tahun Kota Klungkung. Atau lebih tepatnya : hari ulang tahun Kota Semarapura. Sebuah kota kecil di Bali bagian timur. Yang diresmikan namanya melalui sebuah peraturan pemerintah tahun 1992 silam.

Sekarang, usia kota ini sudah mencapai 28 tahun. Umur yang masih muda. Jika menjadi pemain bola, ia sedang jaya-jayanya. Tapi ini sebuah kota. Bukan pemain bola. Umur segitu tentu belum apa-apa.

Dan melihat umur yang masih muda ini, saya sedikit ragu dan bertanya. Tepatkah peringatan kelahiran Kota Klungkung atau Kota Semarapura di tanggal tersebut? Kalau dipikir-pikir dan menurut saya pribadi, yang hanya berkapasitas sebagai penyuka kisah-kisah sejarah, hal itu tidak tepat.

Jika merunut kronologi garis waktu, istana Kerajaan Klungkung mulai dibangun pada tahun 1686 Masehi. Masa di mana istana sebelumnya di wilayah Gelgel telah hancur akibat pemberontakan. Saat itu, raja pertama yang pindah dari Gelgel dan mulai memerintah di Klungkung adalah Dewa A…

Panggilan dari Dayeuhkolot

Teruntuk Alumni Kampus Putih Biru : Universitas Telkom

Di kala pandemi corona terjadi, Bandung Selatan banjir lagi. Sungai Citarum meluap. Merendam tiga kecamatan : Dayeuhkolot, Bojongsoang, dan Baleendah.

Ketinggian air sampai dengan dua meter. Membuat puluhan ribu warga mengungsi. Laporan BPBD, ada 98 ribu jumlah pengungsi. Dan pengungsian ini berlangsung di tengah epidemi virus corona.

***
Tak jauh dari lokasi banjir, ada Universitas Telkom. Yang sejak pertengahan Maret lalu, imbauan untuk bekerja dan belajar dari rumah sudah dilakukan. Mahasiswa, dosen, dan seluruh pegawai berkegiatan di rumah. Belajar mengajar di rumah.

Walaupun banyak yang berkegiatan dari rumah, masih ada yang tak bisa di rumah. Seperti misalnya tim keamanan : para satpam. Ada juga tim kebersihan : cleaning service maupun tukang kebun. Mereka semua masih tetap bertugas di kala yang lainnya berkegiatan dari rumah.

Asrama mahasiswa, juga tak sepenuhnya sepi. Sebagian besar mahasiswa memang memilih pulang ke rumah …

Benteng Terakhir

Semenjak epidemi corona ini berlangsung, sudah lama sekali saya tak pulang kampung. Biasanya seminggu atau dua minggu sekali saya pasti menyempatkan diri. Atau bahkan di waktu yang tak tentu. Hanya sekedar untuk melihat orang tua di rumah.

Untuk mengobati kerinduan, saya lakukan hanya lewat komunikasi di telepon. Memantau kesehatan orang tua. Sambil bertanya apa saja kegiatan dan aktivitas mereka pada hari-hari belakangan ini.

Saya mendapatkan kabar tentang ayah yang rajin panen ubi dan singkong. Memetik bayam dan buah pepaya. Yang pohon-pohon tersebut lagi rajin-rajinnya berumbi, berdaun, dan berbuah. Sampai-sampai bisa dijual ke pedagang-pedagang sayur.

Di rumah saya di Klungkung, ayah saya yang pensiunan PNS memang rajin bertani. Menanam segala jenis tanaman di kebun samping rumah. Atau di sawah di desa. Juga memelihara ayam. Yang beberapa ada di dalam kandang. Dan beberapa lain dibiarkan berkeliaran.



Saya jadi teringat kehidupan di kota. Dan kaitannya dengan kondisi belakangan ini…