Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2009

Ujung Genteng & Cikaso Backpacking

Senja di Ujung Genteng Langit terlihat memerah ketika kami tiba di Pantai Ujung Genteng. Matahari perlahan tapi pasti menghilang di cakrawala. Di depan sebuah pos pangkalan TNI AU, minibus yang kami tumpangi berhenti. Tempat ini merupakan ujung jalan. Tempat sebuah perkampungan nelayan Ujung Genteng . Senja di Ujung Genteng Setelah beberapa saat melapor dan bersoasialisasi di pos tersebut, kami pun beranjak untuk mencari tempat bermalam. Rencana mendirikan tenda di dalam hutan Cagar Alam Ujung Genten g kami urungkan karena larangan dari peraturan yang ada di sini. Di bawah pohon ketapang, di pinggir pantai, dan sekaligus di pinggir jalan kecil, tenda kami dirikan. Beberapa ratus meter di sebelah selatan dan utara tempat kami, terdapat warung-warung dan kafe-kafe sederhana yang berdiri. Kami sebut kafe remang-remang. Alunan musik karaoke sayup-sayup terdengar. Tempat ini sendiri masih termasuk di dalam wilayah Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi , Provinsi Ja

Segelas Teh Darimu

Nyanyikanlah lagu indah Hanyalah untukku Saat temaram datang ketuk hati Tolong kau dendangkan Usaplah nurani Agar tak kelam Sekali lagi kuminta Coba kau nyanyikan Semoga dapat kurasa ikhlasmu Pasti kan kudengar Pasti kuresapi Kasih yakinlah Bukan ku tak mau mengalunkan laguku Kutakut menyakiti telingamu Bukan aku enggan memainkan gitarku Sebab cinta bukan hanya nada Kalau kita saling percaya Tak perlu nada tak perlu irama Berjalanlah hanya dengan diam Segelas teh manis buatan tanganmu, kuteguk perlahan. Kuresapi sebagai wujud kasih sayangmu. Segelas teh manis buatan tanganmu, kuteguk perlahan. Kuhirupkan udara untuk menenangkan segala resahku. Dari dunia yang mungkin tak ramah pada kita. Segelas teh manis darimu, kunikmati pasti. Sebagai rasa yang kupercayakan pada senyummu. Sebagai penghangat layaknya pelukan sayap perakmu, dari dingin udara yang mungkin tak kita kira. Segelas teh manis darimu, mengingatkan setiap waktu akan nada lagu yang membiru. Segelas te

Ngurah, Rest In Peace

Rasanya baru beberapa minggu kemarin kita berbicara bersama di kamarku. Membicarakan tentang album baru dan majalah Metallica milikmu yang kupinjam. Juga tentang hidup dan keterasingan di Kota Jakarta . Masih terngiang tentang harapan-harapan dan ketidaktahuan kita tentang masa depan. Sementara, saat ini dirimu tiba-tiba sudah menjadi abu. Kembali kepada semua unsur alam semesta. Cepat atau lambat, aku dan kami juga akan menghadapi misteri ini. Katanya dan pikirku, tentang mereka yang mati muda, atau mungkin menjadi orang yang tak pernah dilahirkan. Hei... Kemana nanti kita akan pergi? Kita masih dalam satu sistem kesatuan teori penciptaan ini. Sudahlah, mari kita jalani semuanya dengan baik. Semoga senyum dan kenanganmu tak hangus jua dalam api, yang membumbung tinggi di angkasa. Hilang, dan ada dalam ketiadaan. Kosong dalam keterisian. Selamat jalan kawan. Semoga damai selalu bersamamu. Picture taken from Ngurah Friendster Profile Jakarta, Januari 2009

Citarum di Awal Januari

Masih seperti dulu. Air yang membelah daerah perbukitan kapur Bandung Barat . Yang berkali-kali sudah Astacala menjadikan aliran ini tempat latihan. Begitu juga penggiat alam ataupun atlet olahraga air di seputaran Bandung . Citarum , salah satu sungai yang menjadi ikon Jawa Barat , yang terbesar dan terpanjang, yang di masa silam memisahkan dua kerajaan, Sunda dan Galuh . Di Riak Citarum Gemericik air jernih yang berasal dari nun jauh di kaki Gunung Wayang Pengalengan . Dimuarai oleh Cikapundung yang sepanjang hari selalu kulihat ketika bepergian kuliah dulu. Juga ditambah sungai-sungai kecil lainnya yang ikut menjadikannya tempat berlabuh terakhir. Yang ketika musim penghujan akan meluapkankan sebagian isinya di seputaran Dayeuhkolot dan Baleendah . Untuk kemudian mengalir berkilo-kilometer ke barat sampai di PLTA Saguling yang akan menjadikannya energi yang bisa menerangi malam. Dan pada akhirnya riak dan jeramnya bisa kulihat di sini, di sebuah jembatan kecil yang terli