Saya masih di Kota Kuching. Di Sarawak. Dua hari penuh saya lalui dengan santai. Beristirahat usai lelah mendaki Gunung Kinabalu di Sabah. Di kota yang berjuluk The Cat City ini, saya telah berjalan-jalan menyusuri tepian sungai, membaca kisah yang ada di baliknya, juga mencicipi beberapa ragam makanannya yang khas. Masih ada titik-titik lain di kota ini yang perlu saya jelajahi dan sayang untuk dilewatkan.
Kawasan Pecinan
Kuching memang kota yang identik dengan budaya Tionghoa. Malah terasa begitu kental dibandingkan kultur Dayak atau Melayu. Orang-orang Dayak, mungkin lebih banyak di luar kota. Sementara Melayu, lebih tersebar, yang di Sarawak ini tentu tak seperti di Semenanjung Malaya. Maka tak heran, ketika menyusuri pertokoan di Kuching, saya tiba di kawasan pecinan kota. Atau Chinatown-nya Kuching.
Pusat kawasan pecinan ini berada di Carpenter Street. Saya menyusuri jalanannya yang sempit dan riuh. Di kiri-kanan, berbagai pernak-pernik khas kawasan pecinan menghiasi pertokoan. Ada kedai, restoran, toko-toko kecil, dan tempat-tempat untuk sekadar duduk nongkrong. Ramai, tetapi tidak terasa kumuh. Sore menjelang malam, kawasan ini mulai terasa semakin hidup.
Banyak tempat ngopi di sini. Ada pula tempat-tempat yang tampaknya memang cocok untuk duduk santai mengobrol hingga malam. Sebenarnya saya tergoda juga. Tetapi sudah beberapa hari ini saya tidak ngopi. Lambung terasa sedikit tidak enak, ditambah sedikit rasa teler usai mendaki Kinabalu. Jadi, untuk sementara saya harus menahan diri. Hanya teh cipeng yang jadi minuman favorit kalau saya ingin ngopi.
Di bagian yang menjadi pusat kawasan pecinan, terdapat sebuah gapura yang menandai kawasan tersebut. Ada pula beberapa petugas keamanan yang berjaga di sekitarnya. Saya tidak yakin mereka polisi. Seragamnya bermotif loreng hijau muda. Mereka terlihat ramah. Kalau di Indonesia, mungkin saya akan menyebutnya seperti hansip.
Saya juga tidak tahu kenapa mereka harus berjaga dan mengatur lalu lintas. Jalanannya tidak terlalu lebar dan kendaraan yang lewat juga tidak begitu banyak. Tapi mungkin memang itu bagian dari pengaturan kawasan yang ramai dikunjungi orang.
Saya terus berjalan hingga menemukan sebuah klenteng lagi. Namanya Klenteng Hiang Thian Siang Ti, sesuai yang tertulis di depan pintu masuk. Di seberangnya ada sebuah bangunan besar terbuka yang tampak ramai. Awalnya saya mengira ada kegiatan biasa di sana. Ternyata sedang berlangsung sebuah perayaan yang belum pernah saya lihat sebelumnya: Festival Hantu.
Saya baru pertama kali mendengar tentang perayaan ini. Ada beberapa patung berukuran besar. Bentuknya mengingatkan saya pada ogoh-ogoh yang biasa dibuat menjelang Nyepi di Bali. Bedanya, ini bukan ogoh-ogoh. Patung-patung dari kertas tersebut merupakan bagian dari festival yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Tionghoa tentang bulan ketujuh dalam penanggalan lunar. Rentang waktu inilah yang sering disebut sebagai Hungry Ghost Festival.
Dalam tradisi ini, dipercaya bahwa roh-roh orang yang telah meninggal kembali mengunjungi dunia manusia selama bulan ketujuh dalam penanggalan lunar. Berbagai persembahan kemudian disiapkan sebagai bagian dari ritual. Di tempat yang saya datangi, hamparan terpal memenuhi area terbuka. Di atas dan di sekitarnya terdapat kotak-kotak yang berisi berbagai hasil bumi, seperti buah-buahan dan sayur-mayur. Ada pula jajanan dan berbagai makanan.
Suasananya cukup ramai. Orang-orang datang untuk melihat-lihat, sementara kegiatan di sekitar festival terus berlangsung. Saya sendiri lebih banyak mengamati. Saya masuk dan melihat-lihat dengan sopan setelah diizinkan. Banyak hal yang terasa asing bagi saya, tetapi sekaligus menarik. Ternyata ada tradisi masyarakat Tionghoa yang selama ini belum pernah saya lihat secara langsung.
Saya juga melihat banyak wisatawan. Yang bule jelas terlihat sebagai wisatawan. Sementara yang berasal dari Asia Tenggara, atau mungkin sesama warga Malaysia, agak sulit dibedakan. Tetapi dari gaya mereka berjalan dan melihat-lihat, saya menduga mereka juga pelancong. Gaya mereka ketika berjalan dan melihat-lihat hampir sama dengan saya. Sesekali berhenti, mengeluarkan telepon genggam, mengambil foto atau membuat konten.
Laksa Sarawak
Kawasan pecinan yang sebelumnya remang sore telah berubah menjadi suasana malam. Tapi masih ramai dan terasa gembira. Entah kenapa, saya merasa Kuching seperti Singkawang. Di kota Kalimantan Barat yang jaraknya tiga ratusan kilometer itu, juga kental akan nuansa Tionghoa. Banyak ragam kuliner khas menggugah untuk dicoba. Dan tiba-tiba, saya pun lapar.
Pagi tadi, saya sudah mencoba kolo mie, mi keriting khas tanpa kuah. Siang, saya sudah mencoba nasi kandar, makanan yang banyak saya temukan di rumah-rumah makan di Sarawak selain nasi lemak. Maka malam ini, saya akan mencoba salah satu kuliner yang lain, yaitu: laksa Sarawak.
Sambil berjalan kaki menyusuri malam menuju hotel, saya pun menargetkan satu rumah makan. Namanya: Loklok. Nama yang unik. Saya sebagai orang Bali, mendengar namanya langsung membuat dahi berkernyit. Lalu senyum simpul.
Loklok adalah tempat makan yang direkomendasikan oleh pengemudi Grab yang mengantar saya dari bandara kemarin. Katanya, nasi lemaknya juara di seantero Kuching. Tapi, saya lagi tak ingin nasi lemak. Saya mau laksa. Untung saja di sana ada menu laksa dengan berbagai pilihan topping.
Dan lagi-lagi, pegawai rumah makan yang melayani saya adalah orang-orang Indonesia. Saya sebut orang-orang karena lebih dari satu. Semuanya berasal dari Jawa Barat. Ada yang dari Tasik, ada yang dari Garut. Kami pun ngobrol basa-basi sebagai sesama orang Indonesia di Malaysia.
Lalu laksa Sarawak itu pun tersaji di meja. Ternyata mi. Awalnya saya kira ada nasi atau ketupatnya. Soalnya di Jakarta, saya tahu ada yang jual ketupat sayur laksa. Eh, ternyata yang di Sarawak ini, mi saja. Tapi penampakannya lumayan.
Kuahnya terlihat pekat dan aromanya langsung terasa gurih. Di atas mi, ada beberapa potong udang yang ukurannya cukup lumayan. Saya aduk perlahan, lalu mencicipi kuahnya lebih dulu. Benar-benar gurih. Ada rasa rempah yang cukup kuat. Enak sekali disantap bersama mi dan udang yang empuk.
Kalau dibandingkan dengan kolo mie yang saya makan pagi tadi, perbedaannya terasa jelas. Kolo mie disajikan tanpa kuah, dengan mi yang dicampur minyak dan bumbu, lalu diberi irisan daging babi yang rasanya cenderung asam manis. Laksa Sarawak sebaliknya. Berkuah, gurih, dan topping utamanya malam ini adalah udang.
Dua kali makan mi dalam sehari, tetapi rasanya sama sekali tidak terasa seperti makan makanan yang sama. Yang satu kering dan berbumbu, yang satu berkuah dan gurih. Mungkin memang begitulah kuliner. Bahan dasarnya bisa sama atau mirip, pengalaman menikmatinya berbeda.
Untuk minum, saya memesan es teh. Kali ini teh biasa saja. Tanpa susu, tanpa gula nipah berlapis seperti teh cipeng yang saya minum sebelumnya. Malah sedikit tawar. Yang penting dingin, biar malam-malam tak ada konsumsi gula berlebih.
Perut sudah kenyang. Malam juga semakin larut. Saya pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Besok, saya masih akan berjalan-jalan lagi. Masih ada beberapa sudut Kota Kuching yang belum saya datangi.
Patung Kucing
Malam berlalu. Pagi datang lagi di Kuching. Saya memulai hari lagi dengan santai. Usai sarapan yang terlambat di dekat hotel, saya berjalan-jalan lagi. Kali ini ke ikon kota yang lain: patung Kuching.
Di sebuah persimpangan jalan utama, tepatnya di Jalan Padungan dan Jalan Tunku Abdul Rahman, ada patung keluarga kucing. Patung kucing-kucing ini rasanya jadi salah satu ikon kota juga. Patungnya nggak estetik-estetik amat, tapi ya cukup lucu. Yang pasti tidak selucu patung macan di Cisewu yang terkenal di waktu lampau.
Saat saya tiba, ada beberapa wisatawan yang juga mengunjunginya. Berfoto seperti biasa. Menandai tempat, bahwa mereka pernah ke Kota Kuching. Sama dengan yang saya lakukan juga. Hal yang wajar, ya?
Tapi ngomong-ngomong, benarkah Kuching ini, yang dengan huruf 'h' di dalamnya, identik dengan hewan kucing? Tidakkah ia adalah kosa kata Tionghoa? Soalnya saya mengira-ngiranya demikian. Dan mengidentikkannya dengan hewan kucing, tidakkah berasal dari pengaruh budaya Melayu, karena lafalnya ya, kucing?
Dari beberapa sumber yang saya baca, katanya ada dua versi penamaan kota ini. Dan keduanya tak berkaitan dengan kucing, yang hewan itu. Yang pertama, seperti tebakan saya, dikaitkan dengan istilah Tionghoa cochin, yang berarti pelabuhan. Yang kedua, dikaitkan dengan buah tanaman lokal yang disebut mata kucing.
Nama Kuching kemudian semakin identik dengan kucing itu sendiri. Patung-patung kucing dibangun di berbagai sudut jalan. Suvenir dan oleh-oleh dibuat dengan berbagai motif dan gambar kucing. Bahkan ada museum yang memajang berbagai hal tentang kucing. Hingga kemudian kotanya sendiri mendapatkan julukan The Cat City alias Kota Kucing.
Ya, apa pun itu, oke-oke saja. Saya sih, tidak perlu banyak protes. Lagi pula saya suka kucing. Unik rasanya jika ada kota yang identik dengan hewan yang lucu. Maka, saat kemudian melintasi pertokoan yang menjual berbagai macam oleh-oleh, saya membeli jersey bergambar kucing. Lumayan untuk kenang-kenangan.
Mural Dinding Kota
Lalu, di beberapa sudut kota, di dinding-dinding gedung yang lebar, saya melihat banyak lukisan tangan yang menarik.
Ada lukisan tentang kaum pekerja. Lukisan perempuan tua yang sedang merajut jaring nelayan. Ada yang tentang lelaki tua menyeduh kopi, entah jika itu teh. Ada lukisan burung enggang. Ada tentang anak-anak Malaysia berbagai latar belakang: Tionghoa, Dayak, Melayu, dan mungkin India. Dan masih banyak lagi.
Sebagai pelancong, saya suka menemukan hal-hal seperti ini. Lukisan-lukisan itu membuat perjalanan dari satu tempat ke tempat lain terasa berwarna. Ada cerita tentang orang-orang, pekerjaan, alam, dan kehidupan sehari-hari yang terselip di dinding-dinding kota.
Saya tidak selalu tahu siapa yang dilukis. Atau apa persisnya cerita di balik sebuah gambar. Tetapi melihatnya saja sudah membuat saya berhenti sejenak. Mengamatinya sambil berimajinasi, apa arti coretan-coretan di dinding tersebut.
Di antara bangunan-bangunan tua dan jalan-jalan kota, mural itu bagai seorang tuan rumah yang bercerita pada tamunya. Kali ini, Kuching bercerita kepada saya tanpa banyak kata.
Kawasan India
Jika sebelumnya saya menyusuri Carpenter Street yang merupakan kawasan pecinan atau Tionghoa, tidak jauh dari sana terdapat kawasan India. Di antara kedua kawasan ini, masih berdiri bangunan-bangunan tua peninggalan masa Keluarga Brooke. Yang ada tugu memorialnya itu.
Jalan utama kawasan India ini bernama India Street. Suasananya segera terasa berbeda. Di sepanjang jalan, toko-toko menjual berbagai macam pakaian. Kain sari tergantung dan dipajang di bagian depan toko, berdampingan dengan pakaian khas India lainnya. Ada pula toko yang menjual oleh-oleh dan suvenir, sementara dari beberapa tempat lain tercium aroma makanan yang berbeda dari kawasan yang baru saja saya lewati.
Saya berjalan menyusuri kawasan ini sambil sesekali melihat ke dalam toko. Ada makanan ringan, minuman, rempah-rempah, dan berbagai barang yang rasanya memang lebih dekat dengan keseharian komunitas India di Kuching. Ada pula masjid tua bernuansa India di dalam gang kecil.
Di tengah kawasan kota lama yang bangunannya banyak menyimpan jejak sejarah, India Street memberi warna tersendiri. Rasanya seperti berpindah dunia hanya dengan berjalan beberapa ratus meter.
Tiga Museum
Dari Kawasan India, saya melanjutkan jalan kaki menyusuri jalan-jalan kecil sekitarnya. Lalu masuk ke sebuah mal, yang kemudian saya ketahui bernama Plaza Merdeka. Lumayan bisa ngadem sebentar di ruangan berpenyejuk udara setelah gerah berjalan-jalan di bawah langit Kuching yang terik.
Sepertinya Plaza Merdeka ini dinamai demikian karena berlokasi di samping lapangan yang juga bernama Padang Merdeka. Yang di seberangnya, ada bangunan mencolok yang akan saya tuju, yaitu Borneo Cultures Museum.
Museum itu tampak modern dan besar. Dari kejauhan saja, sudah terlihat bahwa tempatnya menjadi salah satu tujuan wisata utama di Kuching. Di halamannya berdiri beberapa tiang kayu berukir yang tinggi. Bentuknya mengingatkan saya pada totem yang sering muncul dalam kisah-kisah suku Indian Amerika.
Bicara tentang totem, istilah ini pertama kali saya kenal dari komik Donal Bebek, ketika para keponakan Donal alias Kwik, Kwek, dan Kwak bertualang bertemu suku Indian. Di Kalimantan sendiri, ukiran kayu seperti ini memiliki bentuk dan makna yang beragam. Sebagian orang mungkin mengenalnya sebagai sapundu. Atau nama lain sesuai tradisi masyarakat Dayak setempat.
Saya tidak masuk ke museum ini. Harga tiketnya cukup lumayan hanya untuk sekadar iseng berkunjung. Lagi pula waktu yang saya miliki juga terbatas. Jadi, saya hanya berjalan-jalan di pelatarannya. Mengamati pengunjung yang datang dan pergi. Ada wisatawan lokal, ada pula wisatawan mancanegara. Sebelum melanjutkan perjalanan, saya mampir ke restoran di area museum dan membeli segelas minuman dingin. Duduk sejenak di sofa yang empuk sambil melihat orang-orang berlalu-lalang.
Dari Borneo Cultures Museum, saya menyeberangi jalan menuju museum selanjutnya: Museum Sarawak. Kesan pertama saya malah bukan tentang isi museumnya, melainkan bentuk bangunannya yang lawas. Arsitekturnya terlihat tua, mengingatkan pada bangunan-bangunan masa kolonial. Mungkin karena itulah, ketika saya datang, ada beberapa pasangan calon pengantin yang sedang melakukan sesi foto pranikah di halamannya.
Sayangnya, museum ini sedang tutup. Saya tidak mengetahui lebih jauh tentang koleksinya. Belakangan saya mengetahui bahwa Museum Sarawak merupakan salah satu museum tertua di Borneo. Ia menyimpan berbagai koleksi sejarah alam, budaya, serta kehidupan masyarakat Sarawak. Namun, bagi saya, museum ini lebih terasa sebagai sebuah bangunan tua yang menarik untuk dipandang dari luar.
Masih satu kompleks halaman, ada lagi museum yang lain. Yaitu: Muzium Semula Jadi. Unik ya, namanya? Kalau diterjemahkan bebas versi saya, ini museum alam atau purbakala. Karena koleksi di dalamnya adalah kisah zaman purba ketika Sarawak belum dihuni manusia. Di bagian atas pintu masuk museum, terdapat ornamen kupu-kupu raksasa. Sekilas mirip layang-layang besar. Museum ini dapat dimasuki secara gratis. Pengunjung hanya perlu mengisi buku tamu di meja depan.
Tapi ada satu hal yang menurut saya cukup aneh. Petugas museum mengatakan bahwa pengunjung tidak diperbolehkan memotret menggunakan kamera. Hanya boleh memotret menggunakan telepon genggam. Saya merasa heran. Di beberapa museum lain yang saya kunjungi, aturan yang umum justru hanya melarang penggunaan lampu kilat. Itu tentu agar tidak mengganggu pengunjung atau merusak koleksi tertentu. Mungkin ada pertimbangan tersendiri di museum ini. Apa pun alasannya, saya simpan kamera saja dan berjalan keliling di dalamnya.
Malam di Kuching
Setelah dari tiga museum, saya masih melanjutkan berjalan kaki menyusuri Kuching hingga sore beranjak malam.
Di beberapa sudut kota, saya kembali menemukan bangunan-bangunan tua dengan plakat keterangan di depannya. Masing-masing diberi nomor sebagai bagian dari titik-titik heritage Kuching. Saya tidak sedang mengejar semuanya satu per satu. Saya hanya membaca beberapa plakat yang menarik perhatian.
Semakin lama berjalan kaki di Kuching, saya merasa kota ini punya karakter yang cukup khas. Kota lama, bangunan peninggalan masa lalu, kawasan Tionghoa, India Street, mural, museum, sampai berbagai makanan yang saya temui, terasa seperti kepingan-kepingan kisah manusia yang hidup di dalamnya.
Menjelang sore, lapar mulai melanda. Saya berhenti untuk makan dan memilih semangkuk laksa Sarawak, ditemani teh cipeng rasa pandan. Menu berulang yang saya suka, tetapi pas untuk mengganjal perut setelah seharian berjalan.
Setelah malam agak larut, saya kembali berjalan-jalan ke mal yang berada tidak jauh dari hotel. Sekadar melihat suasana malam, orang-orang yang masih berbelanja, toko-toko yang mulai bersiap tutup. Mengamati Kuching dari sisi yang berbeda.
Besok pagi saya akan meninggalkan Kuching. Saya akan kembali ke Bali.
Rasanya baru kemarin saya tiba di Kota Kinabalu, lalu bergerak ke Kundasang untuk mendaki gunung. Setelah itu berpindah ke Kuching, berjalan di tepian sungai dan di antara bangunan-bangunan tua.
Saya ternyata sudah melewati dua negeri di Malaysia Timur. Sembilan hari lamanya, tetapi terasa terlalu singkat untuk benar-benar mengenalnya.
Sambil berjalan santai di Kuching, saya seperti baru menyadari bahwa perjalanan ini hampir selesai. Besok saya akan pulang membawa ransel yang sama. Tetapi isi ransel sudah bertambah: cerita tentang sebuah gunung tertinggi di Borneo, hingga pengalaman berharga yang saya resapi di tanah Sabah dan Sarawak.
Oh ya. Tentu saja ransel saya juga bertambah dengan beberapa bungkus pakaian kotor. []
I Komang Gde Subagia | Kuching, Agustus 2026

Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.