Tebing Terjal Atap Borneo

Tebing Terjal Atap Borneo


Keheningan di kamar mendadak buyar. Alarm ponsel memaksa tubuh saya terjaga dari lelap. Beberapa saat kemudian, angin dingin di sekitar Panalaban langsung menyapa ketika saya keluar pondok. Perlengkapan summit attack: headlamp, sarung tangan, jaket windproof, hingga tas kecil yang berisi logistik dan berbagai keperluan standar; sudah melekat di tubuh.


Pintu yang Terkunci

Semalam, kepanikan di bawah guyuran hujan akhirnya terurai. Setelah sekitar lima menit saya menggedor pintu dan berdiri kedinginan di teras Pendant Hut, pintu kayu itu akhirnya terbuka dari dalam. Seorang staf Mountain Torq yang mendengar gedoran saya muncul dengan wajah terkejut. Rupanya pintu tak sengaja terkunci dari dalam saat ada penyesuaian ruangan di area belakang.

Melihat saya berdiri menggigil di luar, ia menyampaikan permohonan maaf seraya mempersilakan masuk. Tanpa buang waktu, saya bergegas melangkah ke dalam ruang tengah. Udara hangat ruangan terasa menenangkan, perlahan mengusir dingin mencekam yang sempat meresap hingga ke tulang. Saya segera melepas jaket yang basah oleh rintik hujan dan mengelap sisa air di badan.

Sebelum naik ke atas tempat tidur, saya menyempatkan diri turun ke kamar kecil di lantai bawah. Menuntaskan kewajiban sebelum tidur: buang air kecil, menggosok gigi, dan mencuci muka. Rasa dingin air gunung dari keran di wastafel cukup membuat kulit meringis. Tetapi guyurannya setidaknya membuat tubuh terasa jauh lebih segar. 

Usai bebersih ala kadarnya, saya kembali ke kamar untuk menyiapkan perlengkapan. Saya memilah barang bawaan ke dalam ransel kecil, memastikan semuanya dalam posisi siap jangkau. Dengan packing yang rampung lebih awal, nanti saya tinggal mengenakan jaket dan sepatu saja. Tak perlu grusa-grusu mencari barang lagi.

Begitu seluruh urusan tuntas, saya membenamkan diri ke dalam kantong tidur. Rasa lelah fisik dan kecemasan yang sempat membuncah telah luruh diterpa rasa kantuk. Tak butuh waktu lama sampai saya terlelap total.Saya pun menikmati mimpi, yang entah apa. Saya tak ingat lagi ketika menulis ulang catatan ini. Yang pasti, saya memaksimalkan jam-jam istirahat sebelum perjuangan dini hari nanti dimulai.

Saya tertidur pulas tanpa sempat memikirkan lagi, apakah hujan di luar sudah reda, atau justru makin lebat. Sampai akhirnya, raungan alarm ponsel membangunkan. Tepat pada pukul satu dini hari. Penghuni lain yang sekamar dengan saya rupanya juga sudah memasang alarm. Alarm mereka menyala hampir bersamaan dengan yang di ponsel saya. 


Menuju Sayat-sayat

Pukul dua dini hari akhirnya tiba.

Saya kembali berada di depan pintu masuk pondok, beberapa jam setelah kejadian pintu terkunci. Kini waktunya bergerak menuju puncak.

Saya melihat Airin sudah siap. Dengan jaket ungu yang membungkus tubuhnya, ia tampak mencolok. Sementara saya juga sudah siap. Istirahat saya cukup. Menu supper alias makan dini hari juga saya lahap dengan nikmat.

Sebagian tamu penghuni Pendant Hut sudah berangkat lebih dulu. Sebagian yang lain masih bersiap. Tanpa menunggu apa pun lagi, saya bersama Airin mulai melangkah. Menapakkan kaki menuju arah puncak.

Syukurlah, dini hari ini hujan tidak turun. Kondisinya cukup cerah, meskipun tidak ada satu pun bintang yang terlihat di langit. Kabut sepertinya cukup tebal, menutup pandangan ke atas dan ke sekeliling. Namun, untuk perjalanan menuju puncak, kondisi seperti ini masih jauh lebih baik daripada harus berjalan sambil diguyur hujan.

Jalur pendakian dalam kondisi gelap. Namun, bukan berarti saya tidak bisa melihat jalan di depan. Senter yang terpasang di kepala cukup membantu menerangi beberapa meter jalur di depan. Sesekali jalurnya berupa jalan setapak dengan batuan kerikil. Kemudian berubah menjadi tangga-tangga kayu yang tersusun mengikuti kontur lereng. Di sisi kanan dan kiri jalur, terbentang tali baja sebagai pembatas sekaligus pegangan.

Beberapa ratus meter berjalan, saya berhenti sejenak di sebuah gardu pandang. Saya menoleh ke sekeliling, mencoba melihat apa yang ada di balik kegelapan. Namun, pemandangan luas yang biasanya bisa dinikmati dari tempat seperti ini belum banyak terlihat. Malam masih terlalu gelap dan kabut menutup sebagian pandangan.

Yang menarik perhatian saya adalah cahaya-cahaya kecil di sepanjang jalur. Di arah atas, tampak titik-titik cahaya dari headlamp para pendaki yang sudah berjalan lebih dulu menuju puncak. Mereka bergerak perlahan, beriringan mengikuti jalur yang menanjak. Di jalur bawah, saya juga melihat cahaya serupa. Pendaki lain mulai menyusul dari Panalaban.

Sementara itu, lampu-lampu dari pondok penginapan di Panalaban semakin lama semakin terlihat redup. Makin jauh saya melangkah, makin kecil cahaya-cahaya itu terlihat. Perlahan kawasan pondok yang beberapa jam lalu masih menjadi tempat saya beristirahat mulai tertinggal di bawah.

Perjalanan kembali berlanjut. Saya dan Airin menapaki tangga-tangga kayu yang panjang. Langkah demi langkah membawa kami semakin tinggi. Hingga akhirnya, kami tiba di Sayat-sayat Check Point.

Dari namanya saja, sudah jelas bahwa tempat ini merupakan titik pemeriksaan. Di sinilah perjalanan pendaki menuju puncak ditentukan: boleh lanjut atau harus kembali turun. Ada batas waktu cut off time yang harus dipenuhi. Pendaki harus sudah tiba di Sayat-sayat sebelum pukul lima pagi. Selain itu, kondisi cuaca juga harus memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, perjalanan menuju puncak tidak dapat dilanjutkan.

Di Sayat-sayat ini pula terdapat kamar kecil terakhir sebelum puncak. Keberadaannya cukup membantu, terutama bagi pendaki yang punya rutinitas buang hajat beberapa saat setelah bangun tidur. Bagi beberapa orang, fasilitas seperti ini mungkin terdengar sepele. Tetapi di gunung, apalagi saat sedang di jalur di ketinggian lebih dari tiga ribu meter, bisa buang air di toilet yang benar tentu sebuah kemewahan. Tentu lebih nyaman dibandingkan melakukannya dengan gaya kucing: cari tempat tersembunyi, buat lubang, lakukan, lalu kubur hasilnya bagai harta karun.

Oh, ya. Lalu bagaimana dengan COT saya? Aman.

Saya tiba sebelum batas waktu. Cuaca juga masih memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Kartu saya diperiksa dan dicatat oleh petugas yang standby di Pondok Sayat-sayat. Itu artinya, misi menuju puncak bisa dilakukan. Saya dan Airin pun melanjutkan perjalanan.


Menyusuri Tebing dalam Gelap

Jalur perjalanan berikutnya lebih terbuka. Tampak samar-samar dalam gelap, di sekitar saya hanya bebatuan. Miring dan terjal. Di sepanjang lintasan, ada tali tambang putih terbentang. Itulah petunjuk jalur. Kalau saja tak ada tali tersebut, maka rute menuju ke puncak tak akan ada petunjuknya. Saya diikuti oleh Airin, juga beberapa pendaki lain, berjalan mengikuti arah tali tersebut.

Dalam keremangan malam, saya bergidik ngeri. Rasanya tebing-tebing curam ada tak jauh dari tempat saya melangkah. Di beberapa lintasan yang menanjak terjal, saya mempercepat langkah. Buru-buru mencari tempat berhenti yang kiranya aman.

Semakin tinggi saya melangkah, vegetasi semakin jarang. Sebelum Sayat-sayat, satu dua pepohonan yang terlihat perlahan tak ada lagi. Yang tersisa hanya hamparan batu. Tidak ada lagi batang pohon, semak, atau rimbunan daun. Di hadapan saya terbentang permukaan batuan yang miring, bertingkat, dan terjal. Dalam gelap, semuanya terlihat seperti dinding raksasa yang tidak memiliki ujung.

Saya kemudian teringat Gunung Bukit Raya di Kalimantan. Gunung yang pernah saya daki beberapa waktu sebelumnya itu memiliki karakter berbeda. Di sana, hutan tropis semua, dari awal perjalanan hingga puncak. Jalurnya berada di tengah rimba, dengan pepohonan dan vegetasi yang mengapit perjalanan.

Kinabalu sungguh lain. Dari berbagai sumber bacaan, bebatuannya yang bertipe granit terbentuk dari aktivitas geologi jutaan tahun lalu. Massa granit yang berada jauh di bawah permukaan bumi perlahan terangkat. Mengalami proses pelapukan dan erosi dalam waktu yang sangat panjang. Proses geologi itulah yang turut membentuk wajah Gunung Kinabalu seperti yang terlihat sekarang.

Di ketinggian seperti ini, batuan menjadi lebih dominan. Kondisi lingkungan yang semakin dingin, terpaan angin, tanah yang tipis, serta permukaan batu, membuat kondisinya sulit ditumbuhi vegetasi. Karena itu, ketika berada di jalur menuju puncak, rasanya seperti sedang menapaki batu raksasa.

Pemandangan seperti ini rasanya bukan sesuatu yang asing di Kalimantan. Di wilayah Kalimantan yang masuk Indonesia, terutama di kawasan pegunungan dan pedalaman, sepengetahuan saya terdapat pula berbagai bentang alam berbatu. Sebut saja Gunung Kelam di Kalimantan Barat, tempat penggiat alam biasa melakukan kegiatan panjat tebing.

Saya kembali menatap jalur pendakian. Cahaya lampu senter di kepala hanya mampu menerangi beberapa meter di hadapan kaki. Selebihnya gelap. Saya tidak benar-benar tahu seberapa besar batuan yang sedang saya lewati. Juga tak melihat jelas seberapa dalam lereng yang berada di sisi jalur.

Untuk sementara, saya tidak perlu tahu. Saya cukup mengikuti bentangan tali putih, menjaga pijakan, dan memastikan langkah berada di tempat yang aman.


Kedinginan di Puncak

Oh, ya. Di beberapa bagian bebatuan yang saya lintasi, ada genangan-genangan air. Juga aliran-aliran air di beberapa dinding batu seperti sungai kecil. Saat berjalan merangkak, telapak tangan saya refleks berpegangan pada bebatuan yang basah. Alhasil, sarung tangan yang saya kenakan ikut basah. Dan itu lumayan membuat masalah.

Di ketinggian Gunung Kinabalu, menjelang puncak yang empat ribuan meter, suhu udara sangat dingin. Saya tak mengecek berapa nilai pastinya. Saya berani bertaruh bahwa suhunya tak mungkin melebihi lima derajat Celsius. Jari-jari tangan saya di dalam sarung tangan yang lembab mulai terasa kebas. Berkali-kali saya menepuk-nepukkan tangan untuk membuat kehangatan di dalamnya.

Jam di tangan menunjukkan pukul lima pagi. Matahari belum terbit. Sebentar lagi saya akan tiba di puncak. Tapi beberapa meter menjelang puncak, saya menemukan sebuah ceruk. Saya gunakan ceruk itu sebagai tempat berlindung dari angin. Daripada saya bertambah kedinginan di titik paling tinggi gunung ini, lebih baik saya menunggu di tempat aman dulu.

Ketika langit mulai remang memerah, saya bergegas ke puncak. Tapi kabut tebal dan angin menderu. Pemandangan di puncak seperti dipagari tembok abu-abu yang pekat. Saya tak bisa melihat apa pun, kecuali plakat penanda ketinggian puncak gunung.

Ada beberapa pendaki yang berbarengan di puncak dengan saya. Dua di antaranya adalah Nazriel dan Amirul, pendaki Malaysia yang kemarin satu meja bersama saya saat makan malam. Kami bergiliran mengambil gambar di puncak. Saya meminta Airin untuk mengambilkan gambar. Ya, hasilnya, dicukup-cukupkan saja.

Saya tak mau berlama-lama di puncak. Jari-jemari tangan saya terasa makin kebas. Saya takut itu adalah gejala awal frostbite, yaitu cedera pada kulit dan jaringan tubuh akibat paparan suhu dingin yang ekstrem. Jari tangan yang merupakan bagian tubuh paling ujung memang termasuk bagian yang rentan terkena kondisi ini.

Saya pun buru-buru turun. Tujuan saya kembali ke Sayat-sayat Check Point. Perlahan, langit berubah makin terang. Bebatuan yang beberapa jam sebelumnya hanya terlihat samar kini mulai tampak jelas. Bentuk lereng dan jalur yang tadi malam terasa seperti dunia lain, sekarang mulai menunjukkan wujud sebenarnya.

Dalam perjalanan turun, puncak-puncak Kinabalu lainnya di sisi timur tampil menjulang. Sekilas, bentuknya mengingatkan saya pada pemandangan Puncak Tanpa Nama di Gunung Leuser. Sama-sama berupa hamparan yang terbuka di ketinggian, dengan sedikit pepohonan menghalangi pandangan.

Tapi auranya jelas berbeda. Di Kinabalu, saya berjalan bersama banyak pendaki lain. Jalurnya jelas, terkelola, dan setiap orang bergerak mengikuti rute yang sudah ditentukan. Di Leuser, pengalaman berjalan di tempat terbuka seperti ini terasa lebih mencekam. Ketika melintasi hamparan bebatuan, saya selalu was-was pada harimau Sumatra yang mungkin sedang mengintai dari balik hutan.

Di Kinabalu, tentu ceritanya lain. Tidak ada harimau yang perlu saya khawatirkan. Mungkin ada beruang. Tetapi setahu saya, hewan itu lebih banyak berada di kawasan hutan di bagian bawah. Jadi kali ini, kekhawatiran saya hanya soal jalur yang terjal, cuaca, dan kondisi tubuh sendiri.

Dalam perjalanan turun, saya berpapasan dengan Afzan. Tak lama kemudian, saya berpapasan pula dengan Hamdan dan Zainab. Dari mereka, saya akhirnya mengetahui kabar tentang Raja. Ternyata semalam ia tiba di Laban Rata Guest House sekitar pukul delapan malam dengan selamat. Namun pagi ini, Raja memutuskan tidak melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Saya terus turun. Meniti jalur bebatuan yang berganti kembali menjadi tangga-tangga kayu. Sampai akhirnya saya tiba lagi di Sayat-sayat Check Point.


Bergelantungan di Ferrata

Di sebelah Pondok Sayat-sayat Check Point, ada pondok kecil. Di sana sudah menunggu Hillary. Ia salah seorang staf dari Mountain Torq, operator aktivitas via ferrata di Gunung Kinabalu. 

Istilah via ferrata berasal dari bahasa Italia, yang secara harfiah berarti “jalan besi”. Itu merujuk pada jalur pendakian di tebing terjal yang dilengkapi kabel baja, tangga, pijakan, dan pengaman tetap. Sistem seperti ini awalnya banyak digunakan di kawasan pegunungan Alpen, terutama untuk membantu pergerakan pasukan dan pendaki melewati medan sulit. Tapi kini, banyak diadopsi untuk kepentingan wisata gunung.

Belum pukul tujuh pagi, batas cut off time untuk menentukan bisa atau tidaknya melanjutkan perjalanan dengan tali. Baru saya seorang yang tiba. Pendaki lain yang akan melalui jalur via ferrata bersama saya adalah sepasang pendaki dari Australia yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya.

Jalur via ferrata dari Mountain Torq ini ada dua. Yang pertama adalah Low's Peak Circuit. Ini merupakan jalur via ferrata yang lebih panjang, sekitar tiga hingga empat kilometer. Yang kedua adalah Walk the Torq. Ini lebih pendek, hanya sekitar delapan ratus meter. Titik awalnya berbeda, tetapi titik akhir yang menjadi tujuan sama. Yang pasti, keduanya menuruni gunung dengan melipir tebing curam.

Sambil menunggu kedatangan mereka, saya minum segelas teh hangat. Hingga pukul tujuh pagi, pendaki-pendaki dari Australia itu belum datang. Jadilah saya sendiri saja yang akan menyusuri jalur via ferrata Walk the Torq ini. Bersama Hillary tentunya yang menjadi pemandu. Sementara Airin kembali turun melalui jalur normal ke Panalaban.

Oke. Singkat cerita, saya bersama Hillary pun mulai mengenakan peralatan. Harness dan helm dipastikan sudah terpasang dengan pas. Lalu kami mulai berjalan dari titik awal yang langsung menuruni tebing setinggi sekitar lima meter. Tapi jelas aman. Saya tak mengalami kesulitan berarti menuruninya.

Dalam berjalan di tebing seperti ini, ada dua sistem pengaman yang digunakan pada jalur via ferrata. Yang pertama adalah pengaman utama, yaitu tali pengaman tubuh dengan karabiner yang terkait ke tali lintasan. Ada dua karabiner, di mana salah satunya harus selalu terhubung ke tali. Pengaman yang kedua adalah sistem antarpendaki, dengan satu orang berperan sebagai leader dan yang lain sebagai belayer. Ini merupakan pengaman cadangan, di mana satu pendaki saling melindungi dengan pendaki lain dalam rombongan.

Berikutnya, kami menyusuri bebatuan yang miring. Mungkin sekitar lima puluh hingga enam puluh derajat. Sambil berjalan, saya ngobrol dengan Hillary. Ia bercerita bahwa mendaki via ferrata menyusuri tebing seperti ini, selain membutuhkan skill dan pemahaman penggunaan alat, juga membutuhkan fitness level yang baik. Ia sering menemani pendaki yang baru berpindah lima meter, langsung beristirahat sambil berpegangan. Akibatnya, waktu melintas menjadi sangat lama.

Selepas lima ratus meter pertama yang bisa dilalui dengan mudah, lintasan terhalang oleh jurang yang menganga. Tapi di sana sudah terpasang jembatan tali. Pendaki harus meniti tali tersebut. Kaki berjalan di atas tali bagian bawah, sementara tangan berpegangan pada tali bagian atas. Dengan pengaman tetap terpasang tentunya.

Di lintasan jurang ini, saya teringat tentang jalur di Puncak Jaya, gunung tertinggi di Indonesia. Setahu saya, untuk menuju puncak yang ada di Papua itu, harus menyeberangi jurang seperti ini juga. Saat saya melontarkan tentang gunung itu kepada Hillary, ia tidak tahu. Barulah kemudian ia ngeh ketika saya sebutkan bahwa itu adalah salah satu gunung dari Seven Summits dunia.

Setelah lintasan tebing, kami disambut tangga vertikal setinggi kurang lebih sepuluh meter. Kami pun naik dengan mudah. Berlanjut kemudian meniti pengaman yang terpasang di dinding tebing. Ini jaraknya lebih jauh. Mungkin seratusan meter. Saya terengah juga melaluinya. Sepertinya kecapekan. Saya sempatkan istirahat sambil melihat pemandangan dari ketinggian.

Dari sini, pondok-pondok di Panalaban yang tadi pagi masih terasa begitu dekat kini terlihat kecil. Atap-atap bangunan tampak seperti titik-titik yang menempel di lereng gunung. Lebih jauh lagi, terlihat titik-titik permukiman di bawah. Awan bergerak perlahan melewati lereng dan lembah, sesekali menutup sebagian pemandangan yang baru saja terbuka.

Saya diam beberapa saat. Di tempat setinggi ini, manusia terasa begitu kecil. Pondok yang menjadi tempat kami tidur, rumah-rumah yang berada jauh di bawah, bahkan jalur yang tadi kami lalui, semuanya berubah menjadi bagian-bagian kecil dari bentang alam yang luas. Kami datang ke sini dengan segala perlengkapan, rencana, dan tujuan. Namun dari ketinggian, semuanya terlihat sederhana. Hanya dua manusia yang sedang bergantung pada seutas kabel di dinding gunung.

Saya kembali melanjutkan perjalanan. Perlahan lintasan via ferrata mulai berakhir. Kabel baja yang sejak tadi menjadi pegangan dan pengaman akhirnya membawa kami sampai di titik akhir jalur. Tidak ada lagi dinding batu yang harus dititi atau tangga vertikal yang perlu dinaiki.

Kami pun melepaskan pengaman dari lintasan. Saya dan Hillary kemudian kembali berjalan dengan kedua kaki di jalur biasa. Hanya satu jam yang saya perlukan di lintasan ferrata ini. Kami pun bergegas kembali ke Pendant Hut.


Kembali ke Kundasang

Saya tiba kembali di Pendant Hut sekitar pukul sembilan pagi setelah menyelesaikan jalur via ferrata. Sebenarnya saya sudah berjanji kepada Airin untuk turun bersamanya pukul sebelas dari Laban Rata. Namun, karena waktu masih cukup panjang, saya memilih bersantai dulu di Pendant Hut.

Saya sarapan. Menunya cukup lengkap. Ada sup kacang merah, sosis, telur rebus, roti, dan minuman hangat. Setelah itu saya bersih-bersih dan mulai berkemas. Barang-barang saya masukkan kembali ke dalam carrier. Semua sudah siap untuk turun.

Lalu saya tiduran sebentar di kasur.

Ternyata sebentar itu berubah menjadi cukup lama. Saya malah bablas tidur sampai lewat pukul sebelas. Haha! Janji bertemu Airin tepat waktu pun gagal saya tepati.

Saya baru bertemu dengannya jelang pukul dua belas siang.

Untuk menebus kesalahan, saya pun bergaya layaknya trail runner untuk turun gunung. Dengan carrier di punggung, saya memang tidak sampai berlari. Tapi saya berjalan cepat. Cukup cepat untuk membuat saya menyalip banyak pendaki yang turun.

Dalam perjalanan, saya juga bertemu Raja yang sudah lebih dahulu turun. Ia tetap terlihat bersemangat meskipun tidak jadi mencapai puncak. Katanya, suatu saat nanti ia akan kembali lagi ke Kinabalu. Kali ini ia ingin memastikan sendiri bisa berdiri sampai di puncaknya.

Semakin ke bawah, saya juga berpapasan dengan banyak pendaki yang naik. Ada juga para porter yang membawa berbagai macam barang. Saya melihat ada yang membawa bensin, tabung gas, karung beras, dan berbagai kardus berisi kebutuhan lainnya. Mereka adalah staf Kinabalu Parks yang bertugas membawa logistik untuk memenuhi kebutuhan di kawasan pendakian. Barang-barang itu harus terus diangkut ke atas agar berbagai fasilitas di Panalaban tetap bisa beroperasi. Melihat mereka berjalan naik dengan membawa beban seperti itu, saya jadi sadar bahwa berbagai kenyamanan yang saya rasakan di atas gunung tidak muncul begitu saja. Ada yang bekerja mencari nafkah untuk itu.

Singkat cerita, hanya dua jam waktu yang saya butuhkan hingga tiba kembali di Timpohon Gate. Dari sini perjalanan saya di gunung sudah selesai.

Namun, sesampainya di kantor Kinabalu Park, saya masih harus menunggu Raja dan teman-teman yang lain. Kami akan kembali bersama-sama menuju Kota Kinabalu.

Sambil menunggu, saya berjalan-jalan di sekitar kawasan Kinabalu Park. Saya juga makan siang di sebuah restoran di seberang jalan. Setelah itu, saya kembali bersantai menunggu rombongan lengkap.

Menjelang sore, saya kembali melihat Gunung Kinabalu di kejauhan.

Saya menatap puncaknya yang menjulang tinggi di atas sana. Rasanya agak aneh membayangkan lagi. Bahwa beberapa jam sebelumnya, saya berdiri di titik paling tinggi gunung itu. Kini saya sudah berada jauh di bawahnya. Saya melihat kembali bentang batu raksasa itu di bawah langit sore yang perlahan temaram. []


I Komang Gde Subagia | Gunung Kinabalu, Agustus 2026


Terkait:
Dari Sabah ke Sarawak
Ada Kucing di Kota Kuching


Comments