Yang Tertinggi di Kalimantan

Yang Tertinggi di Kalimantan.


Ada semacam godaan yang sulit dijelaskan dari sebuah kata: tertinggi.

Bagi seorang pendaki gunung, begitu sebuah puncak gunung menyandang predikat itu, rasanya selalu ada alasan untuk datang. Untuk melangkahkan kaki, mendaki, dan melihatnya sendiri.


Berawal dari Bukit Raya

Beberapa bulan sebelumnya, saya sudah datang ke Bukit Raya, di jantung Pulau Kalimantan. Puncaknya mencapai sekitar 2.278 meter di atas permukaan laut. Menjadi titik tertinggi di wilayah Kalimantan yang berada dalam wilayah Indonesia.

Bukit Raya adalah bagian dari Pegunungan Schwaner, jauh di pedalaman Kalimantan. Mendakinya memberi saya satu kepuasan sederhana: berhasil mencapai titik tertinggi di bagian pulau yang selama ini saya kenal sebagai Kalimantan Indonesia.

Tetapi setelah itu muncul pertanyaan yang agak mengganggu.

Kalau sudah sampai pada yang tertinggi di Indonesia, bagaimana dengan yang tertinggi di seluruh pulau?

Jawabannya berada jauh di utara, di wilayah Sabah, Malaysia. Namanya Gunung Kinabalu.

Dengan ketinggian 4.095 meter di atas permukaan laut, Kinabalu adalah gunung tertinggi di seluruh daratan Borneo. Puncaknya, Low's Peak, menjulang di atas bentang alam Sabah dan menjadi salah satu ikon alam paling terkenal di Malaysia.

Ia berada di dalam kawasan Kinabalu Park, kawasan konservasi yang membentang di sekitar Gunung Kinabalu. Kekayaan hayatinya luar biasa, terutama karena bentang alamnya berubah seiring ketinggian. Dari hutan tropis hingga vegetasi pegunungan di dekat puncak.

Pentingnya kawasan ini bukan hanya bagi Sabah, tetapi juga bagi dunia. Pada tahun 2000, Kinabalu Park ditetapkan sebagai UNESCO World Heritage Site, salah satu kawasan warisan dunia yang pengakuannya didasarkan pada kekayaan dan keanekaragaman hayati yang dimilikinya.


Dari Mana Nama Kinabalu?

Nama Kinabalu sendiri menyimpan cerita.

Ada beberapa penjelasan mengenai asal-usulnya. Salah satu yang paling sering disebut mengaitkannya dengan bahasa masyarakat setempat, khususnya orang-orang Dayak Dusun. Dalam salah satu penafsiran, nama itu berkaitan dengan kata Aki Nabalu, yang kurang lebih bermakna “tempat bersemayamnya orang yang telah meninggal” atau “tempat orang mati”.

Ada pula penjelasan lain mengenai asal-usul nama tersebut. Karena itu, etimologi Kinabalu tidak sesederhana menerjemahkan sebuah kata ke dalam satu arti yang pasti.

Apa pun asal-usulnya, nama itu terasa megah dan mistis untuk sebuah gunung yang berdiri begitu dominan di atas lanskap Sabah.

Tetapi ada sesuatu yang menarik dari gunung ini. Untuk mendakinya, saya harus pergi ke Malaysia, ke Sabah. Padahal, jika melihat peta, saya sebenarnya tidak sedang menuju sebuah pulau yang berbeda. Saya masih berada di pulau yang sama dengan tempat Bukit Raya berdiri beberapa bulan sebelumnya.

Hanya saja, pulau ini punya dua nama.

Bagi saya, dan bagi kebanyakan orang Indonesia, namanya Kalimantan. Tetapi bagi orang Malaysia, Brunei, dan dunia internasional, pulau ini lebih dikenal sebagai Borneo.

Lalu, mengapa satu pulau memiliki dua nama?


Borneo atau Kalimantan?

Pulau terbesar ketiga di dunia ini bagai raksasa yang tenang. Di peta, ia melingkar bak benteng hijau purba yang membagi Laut Tiongkok Selatan dan Laut Jawa. Namun, orang-orang menyebut tanah ini dengan nama yang berbeda-beda, tergantung dari garis batas geopolitik mana mereka memandangnya.

Bagi orang Indonesia, nama yang lebih akrab tentu Kalimantan. Itu sebuah nama yang kemungkinan berakar dari bahasa Sanskerta Kalamanthana (pulau yang berudara panas) atau merujuk pada buah keladi lokal.

Sementara bagi orang Malaysia dan Brunei, pulau yang sama lebih sering disebut Borneo. Nama Borneo pula yang lebih umum digunakan di dunia internasional. Nama itu adalah jejak lidah kolonial Eropa, hasil salah eja para penjelajah Portugis dan Spanyol saat pertama kali mendarat di Kesultanan Brunei pada abad ke-16.

Pulau ini sendiri memang terbelah oleh batas negara. Seperti yang kita tahu, tiga negara ada di sana. Sebagian besar wilayahnya berada di Indonesia, yang mencakup Kalimantan Barat, Tengah, Selatan, Timur, dan Utara. Di sebelah utara terdapat Sabah dan Sarawak milik Malaysia. Sementara sebagian kecil lainnya merupakan wilayah Brunei Darussalam.


Mengejar yang Lebih Tinggi

Ada alasan lain mengapa Kinabalu akhirnya masuk dalam daftar perjalanan saya.

Saya rupanya sedang menjalankan semacam proyek pribadi yang tidak pernah benar-benar saya rencanakan.

Setelah Bukit Raya, saya mulai berpikir: kalau sudah mendaki titik tertinggi Kalimantan Indonesia, mengapa tidak sekalian mendaki titik tertinggi Borneo?

Logikanya sederhana. Mungkin agak konyol, tetapi cukup untuk membuat saya membeli tiket. Kinabalu juga menawarkan sesuatu yang berbeda dari Bukit Raya.

Bukit Raya adalah perjalanan menuju puncak yang relatif terpencil, menembus hutan hujan pedalaman Kalimantan. Kinabalu, sebaliknya, adalah gunung yang sudah lama menjadi tujuan pendakian internasional. Jalurnya dikelola dengan sangat baik, fasilitas pendaki tersedia, dan setiap hari ada pendaki dari berbagai negara yang datang untuk mencapai puncaknya.

Namun bukan angka 4.095 meter itu yang membuat saya penasaran. Walaupun ketinggiannya terasa seperti tantangan, saya justru tertarik melihat tata kelola wisata pendakian gunung, yang kata banyak orang, dilakukan secara profesional. 

Saya ingin merasakannya sendiri. Bagaimana pendaki diregistrasi dan diatur. Bagaimana logistik dikelola. Bagaimana pondok-pondok pendakian dipelihara. Bagaimana pemandu, porter, dan ranger bekerja. Hingga bagaimana sampah dan limbah dikelola di sebuah gunung yang setiap harinya didatangi banyak pendaki. 

Maka jauh-jauh hari, niat saya pun bulat untuk pergi ke sana.


Menuju Kota Kinabalu

Dari Denpasar, kota tempat saya tinggal, tidak ada penerbangan langsung menuju Kota Kinabalu. Ada beberapa pilihan rute dengan transit, dan kali ini saya memilih Singapura.

Pesawat berangkat dari Bali menuju Singapore Changi Airport. Setelah transit sekitar tiga jam, perjalanan dilanjutkan menuju Kota Kinabalu, ibu kota Sabah.

Tiga jam di Changi sebenarnya bukan waktu yang panjang. 

Tetapi bandara ini punya satu persoalan: terlalu menarik untuk sekadar dijadikan tempat menunggu pesawat. Di sela penerbangan, ada godaan untuk berjalan-jalan sebentar, melihat Jewel, mencari makan, atau sekadar menikmati kenyamanan bandara yang seolah sengaja dirancang agar penumpang lupa bahwa mereka sedang menunggu penerbangan.

Namun kali ini tujuan saya bukan Singapura. Tujuan saya jelas: Kota Kinabalu. Dari sana perjalanan akan bergerak ke selatan, menuju Kundasang, sebuah kota kecil di kaki Gunung Kinabalu, lalu ke Kinabalu Park untuk memulai pendakian.

Kalau dilihat di peta, rutenya sederhana: Bali ke Singapura, Kota Kinabalu, Kundasang, lalu Gunung Kinabalu.

Tetapi sebuah perjalanan gunung biasanya tidak pernah sesederhana garis di peta.

Ada penerbangan, transit, kendaraan, penginapan, izin pendakian, dan tentu saja kaki yang harus bersedia diajak bekerja sama.

Dan di Kota Kinabalu nanti, di sanalah perjalanan saya menuju atap Kalimantan akan dimulai. []


I Komang Gde Subagia | Denpasar - Kota Kinabalu, Agustus 2026


Comments