"Selamat datang", begitu salam pertama yang saya dengar. Seorang pria di balik meja penerima tamu, mengucapkan itu. Ia menyambut saya masuk ke pondok penginapan. Inilah Pendant Hut, tempat saya bermalam di ketinggian Gunung Kinabalu.
Pendant Hut
Pendant Hut. Lokasinya paling ujung dan paling atas di Panalaban, kawasan beristirahat pendaki di Gunung Kinabalu. Pendaki yang menempati pondok ini adalah pendaki-pendaki yang akan melalui jalur pendakian via ferrata. Jika pendaki yang akan mendaki dengan jalur normal, maka ditempatkan di pondok lain.
Usai mengisi buku tamu, saya pun duduk memperhatikan suasana di dalam hut. Fasilitasnya membuat saya terpukau. Menurut saya, tak jauh berbeda dengan hotel. Kalau ini di kota, pondok-pondok ini sih pastinya biasa saja. Tapi ini di ketinggian gunung. Dari peta daring yang saya bawa, Pendant Hut ini berada di ketinggian 3.300 meter dari permukaan laut. Lebih tinggi dari ketinggian Gunung Agung di Bali atau Gunung Lawu di Jawa.
Tak jauh dari meja resepsionis, ada meja-meja dengan bangku untuk para tamu pendaki yang datang. Semacam ruang tengah bersama. Jendelanya yang besar mengarah ke sisi barat dan selatan, membuat pemandangan lapang ke arah bawah. Angin dingin sesekali masuk melalui celah jendela.
"Minum dulu" begitu ucap Airin yang kemudian duduk sambil minum segelas teh hangat. Ia mempersilahkan saya untuk minum juga.
Di salah satu sisi ruangan, ada meja kecil yang berfungsi sebagai dapur sederhana. Di sana lah fasilitas makan dan minum untuk tamu di Pendant Hut ditata. Piring, mangkuk, sendok, garpu. Air minum, yang panas atau biasa, tersedia dua puluh empat jam. Lengkap dengan sajian kopi, teh, cokelat, gula, serta setoples biskuit kering.
Untuk tempat tidur atau istirahat, masing-masing pendaki mendapatkan satu dipan di dalam kamar pondok. Lengkap dengan kasur tentunya. Serta kantong tidur yang tebal dan hangat. Lampu penerangan dan sumber listrik untuk mengisi ulang daya baterai menyala dua puluh empat jam.
Lalu tersedia pula kamar mandi dan kamar kecil dengan air panas. Mantap, ya? Walaupun bisa mandi dengan air hangat, tapi sssst, saya tidak mandi malam ini. Hanya gosok gigi dan bersih-bersih ala kucing. Hehe! Dingin soalnya. Lokasi kamar kecil ini berada di bagian bawah pondok. Sebuah anak tangga menghubungkannya ke ruang tengah. Bebatuan gunung yang tampak jelas menjadi dasar dari pondok yang saya inapi malam ini.
Lalu kembali lagi ke ruang tengah. Bekal makan siang yang tak saya makan sebelumnya, akhirnya saya nikmati sambil istirahat santai. Nafsu makan yang hilang mulai sedikit membaik ketika makanan saya dorong paksa, ditemani teh manis hangat. Sebagaimana pun saya tak ingin makan, saya harus makan. Kalau tidak, kondisi akan makin drop untuk bisa melanjutkan pendakian esok hari.
Airin kemudian pamit pada saya. Ia berjanji akan datang lagi dini hari nanti ke Pendant Hut. Untuk menjemput saya melanjutkan summit attack atau perjalanan ke puncak gunung. "Pukul dua pagi, ya!" serunya, mengingatkan. "Siap!" balas saya padanya sambil mengepalkan tangan layaknya anggota pasukan komando militer. Kami tertawa kecil.
Sebagai pemandu lokal, Airin dan pemandu-pemandu gunung lainnya di Kinabalu mendapatkan pondok penginapan tersendiri. Terpisah dengan para pendaki. Rasanya ini karena fasilitasnya memang dibedakan. Pendaki yang merupakan tamu atau wisatawan, mendapatkan fasilitas lengkap di Panalaban. Sementara berdasarkan keterangan Airin, para pemandu atau porter beristirahat dan memasak makanan serta minuman mereka secara mandiri.
Mountain Torq
Pendant Hut, pondok yang saya tempati ini, dikelola oleh sebuah perusahaan swasta operator olahraga rekreasi dan petualangan. Namanya: Mountain Torq.
Saya memperhatikan tamu-tamu pendaki yang sudah tiba di Pendant Hut. Total ada sembilan orang termasuk saya. Delapan orang ini adalah empat pasang pendaki, laki-laki dan perempuan. Dua pasang dari Rusia, sepasang dari Australia, dan sepasang lagi dari Asia Timur. Entah Tiongkok atau Taiwan, atau mungkin Singapura. Saya luput melihat formulir kewarganegaraan mereka.
Saya tersenyum kecil sendiri. Ternyata hanya saya yang tak membawa pasangan di pondok ini. Untung saja kantong tidur yang disediakan sudah tebal. Pasti bakalan hangat, batin saya.
Menjelang sore, suasana ruang tengah Pendant Hut mulai berubah sibuk. Tim dari Mountain Torq mengumpulkan kami semua untuk sesi briefing wajib. Sebagai operator tunggal lintasan tebing yang menempel di dada Gunung Kinabalu, mereka sangat ketat soal keselamatan. Kami tidak boleh menyentuh jalur besok subuh tanpa memahami aturan mainnya.
Satu per satu alat pengaman dibagikan. Kami diajari cara memakai harness atau tali pengaman yang melilit dada, pinggang, dan paha. Juga cara menggunakan helm pelindung kepala dengan benar. Setelah itu, kami diajak melakukan simulasi kecil di dalam pondok. Sudah terpasang contoh kabel baja dan pasak besi yang persis seperti di tebing nanti.
"Klik, klak, klik, klak," suara kait besi saling beradu saat kami bergantian mempraktikkan teknik memindahkan pengaman. Aturan utamanya sederhana. Tetapi fatal jika dilanggar: salah satu kait harus selalu terkunci di kabel baja. Tidak boleh ada momen di mana kedua kait terlepas bersamaan.
Melihat tali pengaman dan rangkaian alat besi ini, ingatan saya melayang ke masa lalu di Astacala. Sebagai anggota pecinta alam, urusan panjat tebing bukanlah hal baru. Saya pernah mengikuti sekolah panjat tebing secara formal dan mempraktikkannya langsung di tebing alam yang terjal. Juga hanya sekadar bermain ke beberapa tebing bersama anggota Astacala lainnya.
Di tebing alam sesungguhnya, terutama dalam pemanjatan rintisan, kita harus mencari celah batu sendiri dan menaruh pengaman mandiri yang dinamis. Sementara di via ferrata ini, jalurnya sudah semi-permanen. Sudah ada tangga besi dan kabel baja yang terbentang sepanjang tebing. Keterampilan dasar bertali-temali yang saya miliki setidaknya membuat saya merasa lebih percaya diri dan tidak canggung saat memegang alat.
Jika melihat fungsinya, mendaki jalur via ferrata ini sebenarnya adalah opsi rute turun melalui tebing batu. Di Gunung Kinabalu, jalur ini sejujurnya tidak terlalu dibutuhkan. Pendaki sebenarnya bisa turun langsung menggunakan jalur pendakian normal yang jauh lebih bersahabat, tanpa perlu memakai peralatan panjat tebing sama sekali. Jadi, mengambil paket ini bisa dibilang murni demi mencari sensasi petualangan di rute turun lain yang lebih ekstrem dan memacu adrenalin.
Namun, patut diingat bahwa petualangan ekstra ini tidak gratis. Ada konsekuensi fisik. Pihak pengelola menerapkan aturan batas waktu terakhir atau cut off time yang sangat ketat. Besok subuh, setelah dari puncak, kami harus sudah bisa tiba kembali di titik awal masuk jalur via ferrata sebelum batas waktu yang ditentukan. Jika terlambat satu menit saja, izin melintas otomatis hangus demi alasan keselamatan. Maka pendaki yang harusnya lewat jalur ferrata itu terpaksa harus turun lewat rute normal.
Setelah seluruh peserta dinyatakan lulus simulasi dan paham cara bergerak dalam ikatan tali kelompok, sesi latihan pun dibubarkan. Jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan waktu makan malam. Nafsu makan yang belum pulih benar, rasanya mulai sedikit berkompromi. Otak mulai mengirim sinyal untuk mencari bubur atau sup hangat. Saatnya turun sedikit ke area bawah, menuju tempat semua pendaki berkumpul untuk mengisi energi.
Laban Rata
Saya turun beberapa belas meter dengan menapaki anak tangga dari Pendant Hut. Menuju bangunan utama di kawasan Panalaban. Bangunan dua lantai yang kokoh berdiri di atas fondasi batu gunung ini adalah Laban Rata Resthouse. Di lantai dasarnya, terdapat satu-satunya tempat makan dan minum terbesar di ketinggian ini: Restoran Laban Rata.
Begitu membuka pintu, keramaian pengunjung serta aroma masakan langsung menyambut. Suasananya sangat kontras dengan Pendant Hut yang tenang. Suara obrolan ratusan pendaki, yang rasanya dari berbagai belahan dunia, bersahutan mengiringi denting sendok dan garpu. Ada antrean di depan meja prasmanan yang menyajikan hidangan hangat melimpah. Saya pun berkeliling melihat-lihat menu. Tergoda juga melihat kepulan asap dari makanan yang disajikan.
Saya memperhatikan sekeliling ruangan yang padat ini. Momen makan malam ini jelas memperlihatkan betapa rumitnya ekosistem tata kelola di atas Gunung Kinabalu. Tempat kami makan saat ini, merupakan bagian dari kompleks penginapan utama di bangunan ini. Ia dikelola oleh perusahaan swasta bernama Sutera Sanctuary Lodges. Mereka bertindak sebagai mitra yang ditunjuk resmi untuk mengurus fasilitas komersial kelas atas bagi para turis.
Namun, seluruh wilayah hutan, gunung, hingga urusan perizinan resmi pendakian mutlak berada di bawah wewenang otoritas setempat. Dalam hal ini, otoritas itu dipegang oleh Sabah Parks, sebuah badan resmi pemerintah di bawah Kementerian Pariwisata Sabah yang menjaga kelestarian Kinabalu Park atau Taman Nasional Kinabalu.
Keramaian di dalam restoran ini juga mencerminkan isi dari seluruh pondok yang tersebar di Panalaban. Selain kami yang menginap di Pendant Hut kelolaan Mountain Torq, sebagian besar pendaki di ruangan ini menginap di kamar komersial Laban Rata milik Sutera Sanctuary Lodges. Mereka adalah pendaki-pendaki lain yang akan mendaki menggunakan jalur normal tanpa ferrata.
Selain Pendant Hut dan Laban Rata Resthouse yang dikelola perusahaan swasta, di Panalaban juga terdapat pondok-pondok lain. Yaitu Panalaban Hostel dengan Blok Mokodou dan Kinotoki, serta Lemaing Hut. Yang ini adalah pondok-pondok terpisah di luar dan dikelola langsung oleh Sabah Parks dengan harga yang lebih bersubsidi. Tapi hanya bisa ditempati oleh warga lokal Malaysia. Meskipun kamar tidur dan pengelolaan pondok berbeda-beda, seluruh paket pendakian dari instansi mana pun sudah otomatis di-bundling dengan hak makan di tempat ini.
Obrolan Makan Malam
Saya membawa semangkuk sup hangat menuju salah satu meja. Saya bergabung dengan beberapa pendaki yang tampaknya adalah warga Malaysia, karena kebetulan di meja itu ada satu kursi kosong. Saat iseng merekam video untuk membuka makan malam, salah satunya menyapa.
"Dari mana, Bang?" sapanya sambil tersenyum ketika melihat saya berbicara sendiri di depan kamera.
"Dari Bali, Indonesia" balas saya.
Lalu perbincangan berlanjut. Namanya Nazriel, dua puluh tiga tahun. Yang kemudian disusul perkenalan dengan rekannya yang lain: Amirul, dua puluh enam tahun. Mereka dari Terengganu, salah satu provinsi atau negara bagian Malaysia di Semenanjung Malaya. Hanya saja, mereka memang sudah tinggal di Sabah. Tepatnya di Sandakan, kota di pesisir timur laut Borneo. Mereka sedang cuti bekerja dan mengisi liburannya dengan mendaki ke Kinabalu.
Saat tahu saya mendaki sendirian tanpa rombongan dari rumah, mata mereka berdua sedikit melebar. "Wah, jalan sorang," celetuk Nazriel seolah sedikit tak percaya. Reaksi mereka semakin menjadi seruan "Wow!" ketika saya menambahkan bahwa besok akan turun melalui rute ekstrem via ferrata. Bagi mereka yang mengambil jalur normal, membayangkan bergelantungan di tebing granit Kinabalu dengan harness rasanya jelas merupakan keputusan yang harus diambil matang.
Saya tersenyum kemudian mengingat bahwa ini bukan kali pertama saya berinteraksi akrab dengan pendaki asal negeri jiran. Beberapa tahun lalu, saya kenal sekelompok pendaki Malaysia saat menjelajahi Gunung Binaiya di Maluku. Hubungan itu berlanjut hingga kami akhirnya pergi mendaki bersama ke Gunung Leuser di Aceh, dan menembus jantung Kalimantan di Gunung Bukit Raya.
Dari obrolan ketika mendaki bersama itulah, saya menyimpulkan satu hal. Bahwa banyak pendaki Malaysia sangat menyukai gunung-gunung di Indonesia. Bagi mereka, Indonesia adalah surga karena memiliki pilihan gunung yang luar biasa beragam. Ada gunung dengan jalur ekspedisi super panjang menguji mental. Ada yang jalurnya pendek dan santai. Ada gunung berapi aktif dengan kawah yang megah, padang sabana yang luas, hingga rimba belantara yang masih lebat.
Sembari asyik mengobrol, pandangan saya menyapu seisi restoran dan menangkap sosok Hamdan, Zainab, dan Afzan. Mereka teman-teman satu rombongan trip organizer dengan saya dari Kota Kinabalu. Namun, pandangan saya tak menemukan keberadaan Raja. Saya sempat bertanya, dan mereka mengonfirmasi bahwa hingga menjelang malam ini, Raja memang belum tiba di Panalaban.
Rasa khawatir seketika merayap di dada. Menembus jalur menanjak Kinabalu dalam kondisi gelap tentu bukan hal yang mudah. Namun, kekhawatiran itu sedikit mereda, mengingat bahwa setiap pendaki di sini selalu didampingi oleh pemandu lokal yang andal. Di atas sini pun, pondok penginapan yang hangat dan suplai makanan sudah siap menyambutnya begitu ia tiba.
Tapi ada satu masalah. Waktu terus berjalan dan jam operasional prasmanan di Restoran Laban Rata ini diatur dengan sangat ketat. Pengelola memberlakukan batas waktu buka-tutup dengan sangat disiplin. Itu agar seluruh pendaki memiliki waktu istirahat yang cukup sebelum dibangunkan untuk summit attack dini hari nanti. Jika Raja terlambat terlalu lama, ia terancam melewatkan waktu makan malam penting ini.
Usai menghabiskan sup hangat, juga tambahan karbo berupa nasi dengan daging ayam dan sayur-sayuran, saya pun beranjak. Saya berjalan keluar melintasi pintu kaca, melangkah menuju area teras luar restoran. Angin gunung yang sangat dingin langsung menerpa tubuh. Saya bertemu dengan Nazriel dan Amirul yang sedang foto-foto.
Di luar, kabut dan kegelapan malam makin pekat menyelimuti tebing-tebing granit raksasa Kinabalu. Menikmati setiap embusan angin di tengah riuhnya ruangan di belakang kami membuat saya membayangkan esok hari. Dini hari nanti, ratusan orang di kawasan ini akan melangkah dalam kegelapan menuju puncak tertinggi pulau ini.
Hujan
Obrolan di teras luar terpaksa kami akhiri lebih cepat. Langit yang sudah gelap mendadak menumpahkan tetesan air. Saya berpamitan dengan Nazriel dan Amirul. Lalu bergegas memisahkan diri untuk kembali menuju Pendant Hut. Hujan yang turun terasa lebih dari sekadar gerimis, meski belum bisa dibilang sebagai hujan lebat. Tetap saja, air yang mengguyur konstan ini membuat saya harus berjalan buru-buru.
Untung saja saya sudah membawa headlamp di dalam saku jaket. Cahaya lampunya yang terang menjadi penyelamat. Sangat berguna menembus kabut tipis yang memperlihatkan jalur anak tangga dengan bebatuan terjal yang mulai basah dan licin.
Sembari melangkah cepat, pikiran saya mulai tidak tenang. Hujan ini benar-benar membuat saya khawatir. Di Gunung Kinabalu, cuaca buruk adalah musuh utama bagi mimpi para pendaki. Jika hujan ini terus berlanjut atau intensitasnya memburuk hingga dini hari nanti, pihak Sabah Parks dipastikan akan menutup gerbang check point. Itu artinya, tidak ada satu pun pendaki, termasuk saya, yang diperkenankan untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak.
Langkah kaki yang terburu-buru akhirnya membawa saya tiba di depan pintu masuk Pendant Hut. Napas saya memburu. Saya ingin segera masuk. Saya mendorong pintu kayu itu demi mendapatkan kehangatan ruang tengah. Namun, begitu telapak tangan saya menekan gagang pintu, benda itu sama sekali tidak bergerak.
Pintunya terkunci rapat dari dalam.
Saya tertegun sejenak. Dengan dahi yang berkerut, saya mendekatkan wajah ke jendela kaca yang besar di samping pintu. Saya mencoba mengintip ke dalam. Di ruang tengah yang beberapa jam lalu ramai, kini tampak sangat sunyi. Tidak ada satu pun orang yang terlihat beraktivitas di sana.
Jantung saya seketika berdesir hebat dan dada saya tercekat. Pikiran buruk langsung berkecamuk. Apakah pondok ini telah dikunci total karena sudah memasuki jam malam dan waktu istirahat? Bagaimana bisa mereka mengunci tamu yang baru saja turun makan malam dari Laban Rata?
Panik mulai menguasai saya. Di bawah guyuran hujan, saya celingak-celinguk menatap ke sekeliling luar pondok yang gelap gulita. Saya berharap ada jalan masuk lain. Saya bahkan naik agak tinggi di jendela ruang tengah. Nihil. Dengan tangan yang mulai gemetar menahan dingin, saya mulai menggedor-gedor pintu kayu itu dengan keras.
"Halo! Tolong buka pintunya! Ada orang di dalam?" seru saya setengah berteriak, memanggil siapa saja yang mungkin mendengar dari balik dinding kayu.
Namun, tidak ada jawaban. Suara gedoran saya tenggelam begitu saja di antara deru angin malam. Hujan masih terus mengguyur tubuh saya yang kedinginan di luar. []
I Komang Gde Subagia | Gunung Kinabalu, Agustus 2026

Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.