Hutan Gunung Kinabalu


Pagi sudah menjelang di Kundasang. Jam di telpon genggam menunjukkan waktu pukul setengah tujuh pagi. Semalam, tidur saya rasanya kurang nyenyak. Tapi pagi ini, saya tak boleh bermalas-malasan dulu di kasur. Saya harus segera bersiap untuk memulai hari. Pendakian ke Gunung Kinabalu akan dilakukan beberapa saat lagi.


Di Kantor Kinabalu Park

Usai sarapan dengan bihun yang seadanya, dan tak habis pula setengahnya, saya meninggalkan Mile 36 Lodge bersama Azura dan Lin. Berbagai barang bawaan yang tak saya perlukan selama pendakian nanti, seperti pakaian ganti untuk di kota, saya simpan di tas sendiri. Nanti tas tersebut bisa ditipkan di tempat penitipan di Kantor Kinabalu Park. Sementara segala kebutuhan pendakian, semuanya sudah masuk ke dalam carrier ukuran tanggung, yang akan saya gendong sepanjang perjalanan nanti.

Menjelang pukul delapan pagi, saya tiba kembali di Kantor Kinabalu Park. Suasananya ramai. Banyak pendaki yang berdatangan dalam kelompok-kelompok kecil. Rasanya pendakian hari ini akan ramai. Dan itu sudah biasa. Berdasarkan informasi di taman nasional, setiap harinya hanya ada 163 pendaki yang diizinkan untuk naik. Itu adalah batas kuota harian yang telah ditetapkan oleh pihak taman nasional demi alasan keselamatan dan konservasi.

Oleh Azura, saya diberikan sebuah id card lengkap dengan tali gantungannya yang bermotif bendera Malaysia. Bertuliskan nama lengkap saya, tanggal pendakian, serta sebuah variasi angka dan huruf sebagai nomor identitas. Saya pun mengenakannya. Saya melihat pendaki-pendaki lain juga sama, mengenakan kalung kartu identitas. Rasanya kami seperti karyawan yang akan masuk kantor dengan gantungan kartu-kartu identitas itu.

Di meja registrasi di dalam gedung kantor taman nasional, seorang petugas mendata saya. Tas yang tak saya perlukan dititipkan dan diurus olehnya. Biayanya lima belas ringgit untuk dua hari, sesuai jumlah hari dari pendakian ini. Jika dikonversi, sekitar enam puluh lima ribu rupiah. Yang penting pastikan tas yang dititipkan tak berisi barang berharga untuk keamanan.

Kinabalu Park Office ramai oleh pendaki di pagi hari.

Menimbang tas-tas yang akan dibawa oleh para porter.


Pemandu dan COT di Gunung

Saya kemudian melihat empat teman Malaysia saya di luar. Rupanya mereka telah tiba dan siap untuk mendaki. Tak berselang lama, Azura dan Lin datang. Mereka memperkenalkan dua perempuan yang bisa dibilang belum tua, tapi tidak muda juga. Namanya Margarreth dan Airin. Dua orang ini yang akan menjadi pemandu pendakin. Margareth akan menemani Hamdan, Zainab, Afzan, dan Raja. Sementara Airin dengan saya.

Kenapa dibedakan dan hanya saya seorang yang ditemani pemandu sendiri? Itu karena saya mendaki Gunung Kinabalu dengan menggunakan jalur via Ferrata. Sesuai ketentuan yang ada, pendaki yang menggunakan jalur menyusuri tebing curam di gunung ini wajib tiba di tempat bermalam hari pertama sebelum pukul empat sore. Kalau di dunia olahraga lari, seperti ada COT alias cut of time.

Adanya COT ini juga demi alasan keamanan. Bagi pendaki yang melalui jalur via ferrata, batas pukul empat sore itu adalah waktu dimulainya briefing dan latihan panjat tebing. Pendaki yang melewati waktu tersebut dianggap kurang sigap untuk bergerak menepati target waktu. Juga tentu tak layak melewati jalur via ferrata karena tak sempat mengikuti pembekalan.

Begitu juga pada pendakian hari kedua, ketika perjalanan menuju puncak gunung. Ada COT lagi di titik tertentu. Ada pondok dengan gerbang yang dijaga oleh petugas pemeriksaan. Ada batas waktu yang tak boleh dilanggar. Ada juga cuaca yang menentukan perjalanan ke puncak bisa tetap dilanjutkan atau tidak. Di titik pemeriksaan itulah keputusannya ditentukan. 

Jauh-jauh terbang dari Bali untuk mendaki Kinabalu, juga membayar biaya yang bisa dibilang tak sedikit, saya hanya berharap semoga bisa tepat waktu. Dan semoga pula cuaca selalu mendukung. Jangan sampai saat sudah siap ke puncak, kondisi alam berubah buruk, seperti terjadi hujan badai, misalnya. Itu tentu akan membuat seluruh pendakian akan dihentikan, tak peduli kita tepat waktu atau tidak. Sekali lagi, semuanya demi alasan keamanan.


Naik Bas Pesiaran ke Timpohon Gate

Titik awal jalur pendakian Gunung Kinabalu ada di sebuah gerbang yang bernama Timpohon Gate. Berlokasi di dalam hutan pegunungan, di ketinggian seribu delapan ratusan meter di atas permukaan laut. Jaraknya sekitar empat kilometer dari kantor taman nasional. Untuk ke sana, para pendaki akan diangkut oleh sebuah shuttle minibus. Kendaraan yang pergi pulang setiap hari itu disebut dengan bas pesiaran, seperti yang tertulis di badannya.

Perjalanan naik bas ini biasa saja. Berkelak-kelok di jalan yang mendaki, yang hanya satu-satunya dan tidak terlalu lebar. Hutan di sekitarnya, dengan pepohonan yang besar dan tinggi, diselingi semak dan belukar hijau di bagian bawah. Semuanya terlihat di semua sisi sepanjang mata memandang. Seperti hutan-hutan pada umumnya di Indonesia yang sama-sama di daerah tropis, juga sama di satu pulau yang sama juga.

Hanya sekitar lima belas menit duduk di dalam bas yang melaju santai, kami akhirnya tiba di Pondok Timpohon. Di sinilah check point pertama dilakukan. Kami memasuki pondok tersebut yang di sekelilingnya dipagari terali logam bak jeruji besi. Cukup dengan menunjukkan kartu identitas yang saya kalungkan, lalu menandatangi formulir pengecekan, pemeriksaan pertama ini pun saya lalui dengan lancar.

Bas pesiaran yang akan membawa pendaki dari Kinabalu Park Office ke Timpohon Gate.

Dalam perjalanan di bas pesiaran.

Tiba di Timpohon gate.


Pendakian Dimulai

Saya berpisah dengan Hamdan, Zainab, Afzan, dan Raja di titik awal pendakian ini. Mereka bersama Margareth akan berjalan belakangan. Sementara saya dan Airin berjalan lebih dulu untuk mengejar batas COT. Perhitungan di atas kertas, seharusnya lewat tengah hari saya bisa tiba di tempat bermalam di atas, yang namanya dikenal dengan sebutan Panalaban.

Oh ya. Azura dan Lin tidak ikut serta dalam pendakian ini. Mereka adalah officer dari Ohana Travel, agen perjalanan yang saya gunakan. Mereka hanya membantu urusan administrasi, termasuk transportasi dari hingga kembali nanti di Kota Kinabalu. Selebihnya, dalam perjalanan di gunung, tanggung jawab berikutnya diambil alih oleh pihak taman nasional. Yang dalam hal ini adalah Kinabalu Park. 

Pemandu, porter atau pembawa beban jika dibutuhkan, makan dan minum, serta tempat istirahat nanti di atas; semuanya sudah masuk dalam layanan jasa wisata dari Kinabalu Park. Hal-hal seperti inilah yang menarik saya untuk ke Kinabalu. Melihat sendiri bagaimana prosesnya dijalankan. Konon di Asia Tenggara, pengelolaan pendakian gunung di Sabah inilah yang terkenal profesional. Pendaki seperti dimanjakan dan keamanan perjalanannya dijamin.

Memulai pendakian, melewati jembatan kecil.


Menyusuri jalur pendakian di Hutan Kinabalu.


Airin Pindi

Airin, pemandu yang menemani saya memiliki nama lengkap Airin Pindi. Usianya lebih muda dua tahun dari saya. Sudah menikah. Suaminya ada di Timpohon Gate tadi, juga bekerja di taman nasional ini. Penampilan Airin tomboy dengan rambut pendek seperti laki-laki. Ia orang Dusun, warga asli Kundasang. 

Saat pertama kali diperkenalkan padanya, saya cukup kaget. Tumben saya melihat ada pemandu gunung perempuan. Biasanya laki-laki. Tapi di Gunung Kinabalu, kata Airin ada beberapa perempuan yang menjadi pemandu. Mereka memiliki lisensi dan terdaftar secara resmi. Dan kebetulan, saat gilirannya tiba, saya adalah pendakinya.

Kehadiran perempuan sebagai pemandu gunung di Kinabalu tak lepas karena faktor ekonomi lokal, warisan budaya, serta kesetaraan peluang kerja yang didukung oleh pengelola taman. Penduduk asli, terutama dari suku Kadazan maupun Dusun, tinggal di desa sekitar kaki gunung. Mereka terbiasa mendaki sejak kecil, baik untuk mencari hasil hutan maupun bertani.

Kehadiran pemandu gunung perempuan, seringkali dibutuhkan secara khusus. Utamanya bagi pendaki yang juga perempuan. Biasanya merasa nyaman dengan pemandu perempuan. Mungkin karena dianggap bisa lebih mengerti karena sama-sama perempuan, dibanding didampingi pemandu laki-laki. Tapi rasanya itu lebih pada gaya mendaki kita juga.

Saya dan Airin Pindi.


Jalur dan Fasilitas yang Terkelola Apik

Jalur di rute pendakian tertata cukup apik. Jalan setapak jelas terbentang. Di beberapa bagian, ada tali pembatas. Ada tangga-tangga dari kayu yang kokoh. Di titik yang ada sungainya, terbangun jembatan dari baja yang aman untuk dilalui. Dan sewajarnya hutan di gunung, pepohonan raksasa di mana-mana. Kanopinya yang tinggi dan berdesakan secara alami meneduhkan.

Beberapa ratus meter dari Timpohon Gate, ada satu jembatan yang dari sana bisa terlihat sebuah air terjun kecil. Namanya Carson Fall. Di dekatnya, ada papan peringatan bahaya longsor, rawan terpeleset, dan larangan berenang.

Kata Airin, ada petugas khusus yang melakukan monitoring jalur secara berkala. Mereka melihat dan mencatat jika ada bagian dari jalur mengalami kerusakan atau memiliki potensi bahaya, yang akan diteruskan dengan tindak lanjut perbaikan sehingga kembali layak untuk dilalui.

Jalur pendakian resmi, yang biasa disebut Jalur Timpohon ini, memiliki pos-pos pendakian. Saya sebutkan berurutan dari bawah hingga puncak: Timpohon Gate - Pondok Kandis - Pondok Ubah - Pondok Lowii - Pondok Mempening - Pondok Layang-layang - Pondok Vilosa - Pondok Paka - Basecamp Panalaban - Sayat-sayat Check Point - Low's Peak atau Puncak Gunung.

Setiap pos atau pondok memiliki bangunan tempat berlindung dari hujan. Lengkap dengan papan-papan informasi, tempat sampah organik dan non organik yang terpisah, kursi-kursi untuk duduk melepas lelah, serta kamar kecil yang terawat dengan sumber air. Dengan catatan, tidak semua pondok memiliki sumber air bersih. Sebagian besar di antaranya adalah air mentah atau air tampungan hujan.

Dari semua pos penting itu, Pondok Layang-layang berada di tengah. Biasanya pendaki tiba di titik ini pada tengah hari untuk istirahat makan siang. Di Pondok Layang-layang ini pula ada pertemuan dengan jalur pendakian lain yang tidak resmi, jalur yang hanya digunakan warga lokal. Disebut sebagai Jalur Mesilau, karena berawal dari sebuah kampung di dekat sungai yang bernama Mesilau.

Titik lokasi penting berikutnya adalah Panalaban. Sebuah dataran tinggi yang menjadi area peristirahatan utama para pendaki. Di Panalaban ini lah ada banyak pondok pendakian yang lebih besar dan lengkap dengan berbagai fasilitas. Ada kamar-kamar penginapan layaknya hotel dengan kamar mandi air panas. Ada restoran dengan menu prasmanan untuk seluruh pendaki. Ada sumber listrik untuk mengisi ulang daya baterai.

Di Pondok Layang-layang dan Basecamp Panalaban, masing-masing dilengkapi pula dengan helipad atau landasan khusus yang digunakan untuk tempat mendarat dan lepas landas helikopter. Tapi adanya helipad ini bukan berarti semua pendaki mendapat jaminan evakuasi dengan helikopter jika mengalami kecelakaan. Wilayah Gunung Kinabalu ditetapkan sebagai zona larangan terbang. Ia hanya dipakai untuk alasan khusus seperti evakuasi medis skala prioritas tinggi.

Jalur pendakian di Gunung Kinabalu.

Jalur pendakian di Gunung Kinabalu.

Para Penghuni Hutan

Saat beristirahat di pondok pertama, ada beberapa makhluk mungil yang berkeliaran. Hewan-hewan kecil itu seperti sudah terbiasa dengan kehadiran manusia. Awalnya, saya kira tikus. Tetapi setelah diperhatikan dengan seksama, jelas bukan. Itu tupai. Perilaku mereka sedikit mirip seperti anjing atau kucing rumahan yang menunggu tuannya sedang makan. Berharap ikut mendapatkan bagian.

Saya melihat satu kelompok pendaki bule, yang sepertinya satu keluarga, memberi beberapa potong roti pada tupai-tupai tersebut. Yang segera dilahap habis. Bahkan tupai-tupai itu tanpa rasa takut menaiki tas-tas yang disandarkan ketika pemiliknya beristirahat. Seperti mengendus bebauan mencari-cari jika ada makanan lain yang mungkin masih bisa diminta.

Melihat kelakuannya, saya secara otomatis membuat kesimpulan dangkal. Bahwa satwa-satwa liar di hutan, di sepanjang jalur pendakian Gunung Kinabalu ini, rasanya sudah berubah sifat. Dalam ilmu lingkungan, memberi makan pada satwa liar sebenarnya adalah hal yang tidak baik.

Memberi makan dapat membuat mereka kehilangan perilaku alaminya dalam mencari makanan. Jika terlalu sering mendapatkan makanan dari manusia, satwa bisa belajar bahwa manusia adalah sumber makanan yang mudah didapat. Akibatnya, mereka menjadi lebih berani mendekati manusia dan semakin bergantung pada makanan yang diberikan.

Dalam jangka panjang, kebiasaan seperti ini dapat mengubah perilaku dan pola hidup. Mereka bisa menjadi kurang waspada terhadap manusia, lebih sering mendatangi tempat-tempat yang ramai oleh pengunjung. Atau bahkan mulai berebut makanan dengan satwa lainnya. Makanan yang diberikan manusia juga belum tentu sesuai dengan kebutuhan alami mereka.

Di sisi lain, satwa yang sudah terbiasa diberi makan dapat menimbulkan masalah bagi manusia. Mereka berpotensi berubah menjadi pengganggu. Mereka bisa mulai mengendus tas, membuka kantong makanan, atau mengambil barang bawaan pendaki. Pada kondisi tertentu, satwa yang merasa terancam karena tidak mendapatkan makanan juga bisa menjadi agresif.

Jadi, meskipun memberi sedikit makanan kepada tupai terlihat seperti tindakan kecil dan tidak berbahaya, kebiasaan tersebut buruk untuk hubungan antara satwa liar dan manusia. Di alam, sebaiknya satwa tetap mencari makan dengan cara mereka sendiri. Kita cukup melihat, memotret kalau mau, lalu membiarkan mereka kembali ke hutan.

Jembatan di jalur pendakian.

Suasana di salah satu pondok istirahat atau pos pendakian.

Banyak tupai di sekitar pondok tempat istirahat.

Orang Utan yang Tak Terlihat

Di jalur pendakian Gunung Kinabalu, saya menemukan sebuah lokasi yang diberi nama Orang Utan View Point. Namanya tentu saja langsung menarik perhatian saya. Saya pun berharap bisa melihat satwa yang namanya dipakai sebagai penanda tempat tersebut.

Tetapi harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Saya tidak melihat orang utan di sana. Yang ada hanya orang kota, yang kebetulan melintas di jalur sebagai pendaki gunung. Tidak tampak ada mamalia berbulu yang bergelantungan di pepohonan. Tidak ada pula jejak yang bisa saya kenali sebagai tanda keberadaannya. Saya hanya menemukan sebuah titik di jalur pendakian dengan nama Orang Utan View Point.

Beberapa tahun lalu, ketika mendaki Gunung Leuser di Aceh, saya pernah melihat orang utan liar. Saya beruntung bisa berpapasan dengan orang utan yang hidup bebas di dalam hutan. Pengalaman itu masih saya ingat sampai sekarang. Melihat satwa tersebut di habitat alaminya, bukan di kebun binatang atau tempat penangkaran. Itu menjadi salah satu pengalaman berharga dalam perjalanan saya di alam.

Karena itu, ketika menemukan Orang Utan View Point di Kinabalu, saya kembali berharap bisa mendapatkan pengalaman serupa. Ternyata tidak.

Entah memang sedang tidak ada orang utan di sekitar lokasi, atau mereka berada jauh di dalam hutan dan memilih tidak memperlihatkan diri. Saya juga tidak punya cukup pengetahuan untuk membaca tanda-tanda keberadaan mereka. Jadi, saya hanya bisa lewat sambil melihat-lihat pepohonan di sekitar.

Ada air terjun.

Acute Mountain Sickness

Saya tiba di Pondok Layang-layang pukul sebelas siang lewat. Saya tak merasa lapar. Jadi di pos yang biasanya digunakan sebagai tempat istirahat makan siang ini, saya hanya makan sepotong biskuit. Entah kenapa selera makan saya hilang.

Tadi pagi sebelum memulai pendakian, saya hanya makan beberapa suap bihun, dua butir telur rebus, serta sepotong roti. Sebenarnya asupan pagi itu tak terlalu cukup untuk mendaki yang perlu tenaga ekstra. Masalahnya: saya tak lapar.

Dan keputusan melewatkan makan siang adalah kesalahan yang fatal. Jarak dari Layang-layang ke Panalaban sebagai tempat bermalam dua kilometer lagi, dengan elevasi lima ratusan meter. Kalau melihat fakta tersebut dari sudut pandang trail runner atau pelari lintas alam, itu tak seberapa. Tapi sebagai pendaki gunung tanpa bantuan porter, itu jadi masalah ketika istirahat semalam tak cukup dan asupan karbo tidak ada.

Benar saja. Setelah mendaki sejauh satu kilometer meninggalkan Pondok Layang-layang, saya mulai sempoyongan. Kepala pusing. Nafas terasa berat. Seperti sedang tidak enak badan alias sakit. Baru berjalan beberapa puluh meter menapaki jalan berbatu dan tangga kayu, tubuh saya meronta minta berhenti. Memaksa untuk istirahat. Entah berapa kali saya berhenti dan duduk. Tumben saya seperti ini.

Petunjuk ketinggian sudah memperlihatkan posisi di atas tiga ribu meter di atas permukaan laut. Ini sudah tinggi. Siang sehari sebelumnya, saya masih di Kota Kinabalu, di dekat laut. Artinya, belum genap dua puluh empat jam, saya sudah berpindah ketinggian yang ekstrem. Rasanya, selain kekurangan kalori, saya juga terkena penyakit ketinggian. Dikenal sebagai AMS atau Acute Mountain Sickness.

AMS adalah gangguan yang dapat terjadi ketika tubuh belum mampu beradaptasi dengan cepat terhadap ketinggian. Gejalanya bisa berupa sakit kepala, pusing, mual, lemas, kehilangan selera makan, sampai sesak atau sulit tidur. Dalam kondisi ringan mungkin masih bisa ditoleransi, tetapi penyakit ketinggian tidak boleh dianggap sepele. Jika kondisi terus memburuk, gangguan akibat ketinggian dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius dan mengancam nyawa. Salah satu penanganan paling penting ketika gejala memburuk adalah segera turun ke ketinggian yang lebih rendah.

Masalahnya, saya masih harus naik. Dan Panalaban belum terlihat. Saya pun berjalan pelan-pelan, berhenti setiap kali tubuh terasa tidak sanggup melanjutkan. Sampai kemudian dari sela-sela pepohonan terlihat sebuah bangunan besar. Sepertinya sedang dibangun sebagai pondok pendakian baru. Saya sempat mengira tujuan sudah dekat. Ternyata belum. Bangunan itu masih berada beberapa ratus meter di bawah Panalaban.

Ya sudah. Berarti masih harus berjalan lagi. Saya kembali mengatur langkah. Tidak lagi memikirkan jarak yang masih tersisa, apalagi ketinggian yang harus ditambah. Yang penting bergerak sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya, setelah perjuangan yang terasa jauh lebih berat dari perkiraan, bangunan-bangunan Panalaban mulai terlihat.


Tiba di Panalaban

Akhirnya saya tiba di Panalaban. Pukul dua siang waktu setempat.

Di hadapan saya, terbentang tanah datar yang cukup luas. Di salah satu pojoknya ada sebuah papan merah dengan tulisan Panalaban yang dibuat secara vertikal. Persis seperti yang saya lihat di gambar-gambar di internet tentang Gunung Kinabalu. 

Setelah berjalan dalam kondisi yang cukup sempoyongan, melihat tulisan itu membuat saya lebih tenang. Saya tahu bahwa perjalanan hari ini selesai dan saya segera bisa beristirahat

Di hadapan saya berdiri pondok-pondok pendakian. Saya belum tahu yang mana yang akan menjadi tempat saya beristirahat.

Lebih jauh lagi di belakang, Gunung Kinabalu berdiri gagah. Dinding-dinding batu yang terjal tampak menjulang. Dari tempat ini, gunung yang sejak beberapa hari sebelumnya hanya saya lihat dari kejauhan akhirnya berdiri tepat di hadapan saya.

Saya berhenti sejenak. Menarik napas. Melihat sekeliling. Airin, yang menunggu saya mengambil beberapa foto, mengajak saya untuk bergerak lagi.

Tiba di Panalaban.

Menaiki jalur tangga menuju Pendant Hut.

"Kita ke Pendant Hut", katanya. Itu pondok istirahat yang lokasinya paling tinggi di kawasan ini. Baiklah. Saya pun berjalan lagi mengikuti Airin. Menyusuri anak tangga setapak demi setapak, masuk lalu keluar melalui satu pondok yang lain. Hingga kemudian, saya pun tiba. Lega rasanya. []


I Komang Gde Subagia | Gunung Kinabalu, Agustus 2026


Terkait:

Comments