Kota Kuching. Begitulah namanya. Apakah ada kaitannya dengan kucing? Iya atau tidak, bisa diperdebatkan. Tapi salah satu ikon kota ini adalah patung-patung kucing. Usai mendaki Gunung Kinabalu di Sabah, saya akhirnya singgah di Sarawak, ke kotanya yang sering dijuluki sebagai The Cat City.
Kolo Mie dan Teh Cipeng
Pagi hari pertama saya di Kuching. Di bawah langit yang kelabu, saya berjalan-jalan menyusuri kota. Tujuan pertama saya adalah mencari sarapan. Dalam kepala saya, sudah terpatri beberapa daftar menu kuliner khas kota ini. Tapi saya belum tahu, akan mencari dan mencoba yang mana dulu. Yang pasti, saya berjalan saja.
Di sebuah ruas pertokoan, sebuah kafe kecil yang ramai menarik perhatian. Di depannya tergantung lampion-lampion merah dengan berbagai pernak-pernik aksara Tionghoa. Namanya Sin Ban Chong Cafe. Di dalamnya, ada beberapa konter-konter makanan. Salah satunya bernama Shirley Traditional Kolo Mie.
Ok. Saya pun masuk. Bertanya ini itu pada penjualnya, layaknya wisatawan asing yang penuh rasa ingin tahu. Dengan ramah, perempuan muda yang melayani itu memberikan penjelasan. Yang ini gurih, yang ini asam manis. Bisa pakai mi, bisa pakai bihun. Ini pakai daging babi, itu pakai daging bebek. Dan saya pun mencoba salah satunya yang dari gambarnya tampak paling menarik.
Kolo mie sendiri adalah salah satu hidangan yang banyak dikenal di Sarawak, terutama di Kuching. Ada yang menyebut nama kolo berasal dari dialek Tionghoa, ko-lok. Berkaitan dengan cara penyajiannya: mi yang diaduk dalam keadaan kering. Itu merujuk pada penyajiannya tanpa kuah kental, melainkan diolesi minyak dan bumbu, biasanya minyak babi. Untuk versi halal, katanya menggunakan minyak bawang.
Ketika disajikan, uap mi kriting mengepul menggugah selera. Di atasnya, ada daging babi panggang berbumbu merah manis. Juga sayuran hijau dan semangkuk kecil sambal cabai asam manis. Saya gunakan sumpit untuk mengangkat dan mengaduknya. Ada aroma yang gurih, yang rasanya seperti terpancar dari kilau mi. Suapan pertama saya, "Maknyusss", meniru jargon tokoh kuliner masa lalu yang terkenal di televisi.
Sebagai teman makan, saya memesan segelas es teh cipeng. Saya suka menuliskannya dengan tulisan cipeng. Karena mantap saja menyebutnya demikian, lidah tak belepotan. Sebenarnya, nama yang betul adalah Teh C Peng. Ia adalah minuman es teh tiga lapis khas Sarawak. Lapisan bawah adalah gula nipah cair yang memberikan rasa manis beraroma karamel, seperti gula jawa atau gula bali. Lapisan tengah adalah susu evaporasi. Dan lapisan atasnya adalah teh itu sendiri yang agak pekat. Jika diaduk dan semua lapisan bercampur, tampak seperti teh thai. Rasanya: segar. Maklum, Kuching lagi panas.
Klenteng Tua Pek Kong
Usai perut kenyang, saya berniat ke tepian Sungai Sarawak. Sepanjang pedestriannya dikenal sebagai Kuching Waterfront. Tempat yang bagi saya, sayang untuk dilewatkan atau tak dikunjungi saat memiliki kesempatan di kota ini.
Tapi baru melangkah beberapa puluh meter dari kafe tempat saya sarapan, ada klenteng. Warnanya dominan merah dan terlihat sangat mencolok dari jauh. Saya dekati, tembok sekelilingnya berukirkan gambar naga. Saya masuk ke sana. Penjaganya mempersilakan saya untuk melihat-lihat ke dalam.
Nama klenteng ini adalah Tua Pek Kong.
Di bagian dalam, saya melihat altar utama yang dipenuhi dupa berukuran besar. Asapnya mengepul. Wewangian dupa semerbak memenuhi ruangan. Di atas meja persembahyangan, tersusun berbagai persembahan, terutama buah-buahan seperti jeruk. Beberapa orang datang silih berganti. Ada yang menyalakan dupa, berdiri sejenak di depan altar, lalu memanjatkan doa. Sebagian lainnya tampak begitu khusyuk di hadapan altar.
Saya hanya berdiri dan melihat-lihat. Tak ingin mengganggu mereka yang sedang berdoa. Katanya, tak harus berkeyakinan tertentu yang boleh berdoa di sini. Siapa pun juga bisa. Tapi saya nggak paham caranya berdoa di klenteng. Saya berdoa dalam hati saja.
Eh? Dalam hati? Iya. Bukankah doa itu universal? Pun demikian juga tempat ibadah. Klenteng, pura, wihara, pun gereja atau masjid; bukankah itu semua adalah tempat suci di luar diri kita? Rasanya kuil yang paling tinggi dan menakjubkan ada di dalam hati kita sendiri. Kita bisa berdoa dari sana selamanya, bukan?
Di salah satu bagian dalam klenteng, saya menemukan sebuah plakat yang menjelaskan sedikit tentang sejarah klenteng ini. Saya kemudian tahu bahwa Tua Pek Kong merupakan salah satu klenteng tua di Kuching. Keberadaannya berkaitan dengan sejarah masyarakat Tionghoa yang sudah lama bermukim dan berkembang di kota ini.
Bangunannya memang tidak besar. Tetapi melihat orang-orang datang berdoa di dalamnya, saya merasa klenteng ini bukan sekadar bangunan tua yang dipertahankan karena nilai sejarahnya. Ia masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sampai sekarang.
Saya bersantai sejenak di salah satu kursi yang ada di luar bangunan utama. Berteduh di bawah pohon yang rindang sambil mengamati gedung-gedung di sekitarnya. Saya lalu pamit untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan awal saya tetap sama. Kuching Waterfront masih menunggu di depan sana.
Museum Sejarah Cina
Yang menyambut saya ketika menuju tepian sungai adalah sebuah museum: Muzium Sejarah Cina Sarawak.
Dari luar, bangunannya tidak terlalu besar. Berlokasi tepat di seberang jalan dari Tua Pek Kong. Saya pun masuk ke dalam museum untuk melihat-lihat. Di dalamnya, jalur kunjungan seperti lorong yang membawa saya berkeliling dari satu bagian ke bagian lainnya. Semakin masuk, semakin banyak cerita yang ada tentang masyarakat Tionghoa di Sarawak.
Kisahnya dimulai dari kedatangan mereka ke wilayah ini. Peta-peta di dinding menggambarkan itu semua. Ada yang datang sebagai pedagang, pekerja, maupun perantau yang kemudian menetap. Mereka datang dari berbagai daerah di Tiongkok dan membawa bahasa serta kebudayaan masing-masing. Karena berasal dari latar belakang yang berbeda, masyarakat Tionghoa di Sarawak pun tidak hanya menggunakan satu jenis dialek.
Itu diterangkan kemudian di dinding, tentang kelompok bahasa dan dialek yang berkembang di Kuching. Ada Hokkien, Hakka, Teochew, Kantonis, Hainan, Foochow, dan kelompok lainnya. Sebuah kota ternyata bisa menjadi tempat bertemunya para perantau dari berbagai daerah di negara yang sama, dalam hal ini Tiongkok, dengan begitu banyak ragam bahasa dan dialek.
Saya kemudian beralih pada sejarah kepemimpinan masyarakat Tionghoa di Kuching. Ada tokoh-tokoh yang dipercaya memimpin dan mewakili komunitas mereka dari masa ke masa. Peran mereka berkembang seiring bertambahnya jumlah penduduk dan semakin kuatnya aktivitas perdagangan serta kehidupan sosial masyarakat Tionghoa di kota ini.
Saya juga menemukan berbagai benda yang merekam kehidupan mereka. Ada informasi tentang hari raya, dokumen, foto, pakaian, peralatan sehari-hari, hingga alat musik tradisional. Benda-benda itu mungkin terlihat sederhana. Tetapi ketika ditempatkan bersama dengan cerita dan foto orang-orang yang pernah menggunakannya, semuanya menjadi semacam potongan kecil dari kehidupan masyarakat masa lalu.
Sampai akhirnya saya kembali mendekati pintu keluar. Rasanya seperti baru saja berjalan menembus beberapa lapisan waktu. Datang sebagai orang yang sama sekali tidak tahu banyak tentang sejarah masyarakat Tionghoa di Kuching, lalu keluar dengan sedikit gambaran tentang bagaimana mereka. Di masa lampau mereka datang, menetap, membangun komunitas, dan menjadi bagian dari kota ini.
Sebelum keluar, saya diminta mengisi buku tamu. Saya mengambil pena dan menuliskan beberapa baris di sana. Sebuah tanda kecil bahwa saya pernah mampir. Tapi selalu ada pertanyaan di hati ketika mengisi buku tamu manual seperti ini. Apakah buku ini akan diarsipkan secara digital atau hanya sekadar datanya disimpan hingga buku penuh dan rusak?
Tepian Sungai Sarawak
Keluar dari museum, saya langsung berada di tepian Sungai Sarawak. Karena Museum Sejarah Cina memang berada di Kuching Waterfront. Jalur pedestriannya membentang mengikuti aliran sungai. Pepohonannya banyak, membuat suasana siang hari terasa teduh.
Saya berjalan perlahan menyusuri tepian sungai. Tidak ada tujuan khusus. Hanya luntang-lantung di sepanjang jalur, melihat-lihat apa yang ada di sekitar.
Beberapa bulan sebelumnya, saya juga berjalan di waterfront lain di Pulau Borneo. Di Pontianak. Letaknya memang cukup jauh dari Kuching. Tetapi secara geografis, keduanya berada di pulau yang sama. Juga sama-sama memiliki sungai sebagai urat nadi kehidupan kotanya. Namun suasananya berbeda.
Di Pontianak, sampah-sampah plastik relatif mudah ditemukan di tepian sungai. Botol air mineral, bungkus makanan, dan berbagai sampah kecil kadang terselip di antara tepian air. Di Kuching, bukan tidak ada. Tetap ada beberapa sampah yang terlihat. Tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit. Jalurnya juga terasa lebih rapi dan tertata.
Saya tidak tahu persis bagaimana pengelolaan keduanya dilakukan. Tetapi sebagai seorang pejalan, perbedaan itu cukup mudah terlihat.
Sungai memang sering menjadi tempat terakhir dari sampah yang dibuang manusia. Ketika masuk ke aliran air, sampah tidak lagi berada di satu tempat. Ia bisa terbawa arus, tersangkut di tepian, atau terus bergerak menuju laut. Sampah plastik yang terlihat kecil di pinggir sungai sebenarnya bisa menjadi bagian dari persoalan lingkungan yang jauh lebih panjang.
Beberapa perahu tambang hilir mudik. Saya melihat ada wisatawan yang menyewanya, sekadar untuk berkeliling dan melihat Kuching dari atas air. Tidak lama. Hanya beberapa menit menyusuri sungai, kemudian kembali lagi ke tepian.
Ada pula yang tampaknya memang warga lokal. Mereka naik perahu untuk menyeberang ke sisi lain Sungai Sarawak. Saya sendiri tak tertarik naik perahu itu walau ditawari. Saya lebih memilih duduk santai dan mengamati.
Perahu tambang bukan sesuatu yang baru. Di berbagai kota tepian sungai, perahu penyeberangan sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Dahulu fungsinya murni sebagai sarana transportasi sehari-hari. Sekarang, ketika akses jalan dan jembatan sudah berkembang, sebagian peran itu memang berkurang. Tetapi di tempat tertentu, perahu masih bertahan karena lebih praktis, terutama untuk menyeberangi sungai tanpa harus memutar ke jembatan yang jauh.
Di tepian sungai, saya juga menemukan papan peringatan tentang adanya buaya. Rupanya, Sungai Sarawak yang jadi tempat perahu hilir mudik dan wisatawan menikmati pemandangan, ada penghuni lain yang tidak mungkin diajak bercanda. Saya memperhatikan tepian air sedikit lebih hati-hati. Namanya juga buaya. Kita yang datang ke sungai, bukan dia yang datang ke kota.
Kawasan Pemerintah dan Parlemen
Dari tempat saya berdiri di tepi sungai, ada satu bangunan dengan atap berbentuk kubah. Sangat mencolok. Saya mengenalnya dari gambar-gambar Kuching. Itu adalah gedung parlemen Sarawak.
Beberapa tahun lalu, seorang kawan pernah memberikan saya sebuah magnet tempelan pintu kulkas. Sebuah oleh-oleh dari Sarawak. Bergambar bangunan dengan atap kubah tersebut. Sekarang, saya melihat bangunan aslinya dari seberang sungai. Rasanya gimana gitu, sebelumnya hanya lihat sebagai suvenir, kini nyata di depan mata.
Tak jauh dari gedung parlemen itu, berdiri sebuah tiang bendera yang sangat tinggi. Bendera Sarawak berkibar di atasnya. Saya berdiri beberapa saat di waterfront, melihat sungai, perahu yang menyeberang, bangunan parlemen, dan bendera Sarawak yang berkibar di kejauhan.
Dari sana, saya kemudian memutuskan menyeberangi Sungai Sarawak melalui Jembatan Darul Hana. Jembatan ini khusus untuk pejalan kaki dan menjadi salah satu jalur yang menghubungkan sisi waterfront dengan kawasan di seberangnya.
Saya berjalan perlahan. Jembatannya melengkung dan cukup tinggi dari permukaan sungai. Sesekali saya melihat ke bawah. Uh! Ngeri-ngeri sedap.
Air Sungai Sarawak terlihat jauh di bawah sana. Saya tidak tahu seberapa dalam sungai ini. Tapi melihat posisi saya yang cukup tinggi di atasnya, rasanya tidak perlu juga mencari tahu. Cukup berjalan dan jangan macam-macam.
Setelah sampai di seberang, saya melanjutkan langkah menuju kawasan di sekitar Gedung Parlemen. Tidak jauh dari sana terdapat kompleks The Astana, kompleks bangunan bersejarah di tepi Sungai Sarawak. Bangunan ini dahulu dikenal sebagai kediaman resmi dari dinasti yang memerintah Sarawak selama beberapa generasi. Sekarang, The Astana digunakan sebagai kediaman resmi Yang di-Pertua Negeri Sarawak.
Dari kejauhan, bangunannya tampak berada di kawasan yang cukup hijau dan tenang. Saya tidak masuk ke dalam. Saya hanya melihatnya dari kawasan sekitar, sebagai seorang pejalan yang sedang mencoba mengenali kota yang baru pertama kali saya datangi.
Mampir di Kedai Minuman
Tak jauh dari kawasan itu, saya menemukan sebuah kios makanan dan minuman. Saya mampir sebentar untuk membeli sesuatu. Yang menjaga kios ternyata seorang pemuda asal Sambas.
"Orang Indonesia?" tanya saya. Dan ternyata benar. Namanya Arazi.
Seperti biasa kalau bertemu sesama orang Indonesia di negeri tetangga, obrolan pun langsung mengalir. Basa-basi soal asal daerah, sudah berapa lama tinggal di Kuching, lalu berkembang ke hal-hal lain. Termasuk soal kabut asap yang beberapa hari ini menyelimuti kota.
Kami kembali membicarakan kebakaran hutan di Indonesia, yang asapnya terus terbawa sampai ke Kuching. Saya hanya bisa manggut-manggut. Persoalan yang beberapa jam sebelumnya saya dengar dari pengemudi Grab, sekarang kembali muncul dalam obrolan dengan orang Indonesia yang tinggal di sini.
Di kios itu saya juga bertemu dengan seorang lelaki Melayu warga Kuching. Namanya Mohammad Hatta. Sama seperti nama Wakil Presiden Indonesia yang pertama, ya? Ia malah terlihat kagum ketika tahu saya datang jauh-jauh dari Bali hanya untuk jalan-jalan ke Kuching.
"Orang Kuching banyak yang mau jalan-jalan ke Bali," katanya. Saya tertawa. Ia juga tertawa.
Ia kemudian berpesan, kalau selama di Kuching saya mengalami sesuatu atau butuh bantuan, datang saja ke sini dan kabari dia. Saya mengiyakan saja.
Saya tidak terlalu paham kenapa sampai ditawari bantuan seperti itu. Saya juga tidak bertanya lebih jauh. Mungkin karena kebetulan kami sedang berada di kawasan pemerintahan, dan ia memang mengenal banyak orang di sekitar sini. Atau mungkin memang begitulah keramahan orang yang baru berkenalan. Saya tidak tahu. Yang jelas, tawaran itu saya ingat.
Hari-hari saya di Kuching bertepatan dengan rangkaian perayaan Hari Kebangsaan Malaysia. Pak Hatta juga bercerita bahwa di lapangan di belakang kawasan dewan, ada festival musik pada malam hari. Beberapa band akan tampil.
Sore hari, ketika saya masih berada di sisi seberang sungai, suara musik mulai terdengar dari kejauhan. Menariknya, lagu-lagu yang berkumandang justru banyak lagu dari Indonesia. Ada lagu-lagu Noah, Peterpan, Dewa 19, ST12, dan beberapa lagu Indonesia lainnya. Saya tersenyum sendiri.
Dulu sewaktu di Kuala Lumpur, lagu-lagu yang berkumandang kebanyakan memang lagu-lagu hits dari Indonesia. Sudah jauh-jauh datang ke Sarawak, malah mendengar lagu Indonesia. Kenapa bukan lagu "Isabella" atau "Suci dalam Debu", ya? Atau saya yang ketinggalan zaman dengan dua lagu ini, yang memang sudah sangat lawas?
Keluarga Brooke
Matahari mulai condong ke barat. Terik siang perlahan mereda. Saya memutuskan kembali ke sisi sungai tempat saya tadi datang. Saya ke sebuah tempat yang kini jadi restoran. Ke sebuah rumah yang di depannya ada tugu memorial. Berketerangan: Keluarga Brooke. Siapa ini?
Saya mendekat. Di depan bangunan itu berdiri beberapa ukiran lukisan timbul, menggambarkan orang Dayak, Melayu, dan Tionghoa. Dari tampilannya, tempat ini seperti menyimpan cerita lama yang masih sengaja dipertahankan.
Saya kemudian membaca sedikit keterangan yang ada di sana. Baru saya memahami. Keluarga Brooke adalah dinasti yang pernah memerintah Sarawak selama lebih dari seratus tahun. Salah satu kediaman resmi keluarga Brooke adalah The Astana yang saya kunjungi tadi.
James Brooke adalah orang pertama dari keluarganya yang menjadi Rajah pada abad ke-19. Pemerintahan keluarga tersebut berlangsung hingga 1946, setelah sempat terhenti ketika Sarawak diduduki Jepang dalam Perang Dunia II. Ia dan penerusnya dikenal sebagai White Rajahs atau Rajah Putih. Selama beberapa generasi, keluarga Brooke membangun pemerintahan sendiri di Sarawak dengan Kuching sebagai pusatnya.
Saya bukan datang ke Kuching sebagai sejarawan. Bukan untuk mempelajari sejarah keluarga Brooke secara mendalam. Tetapi berdiri di depan memorial ini membuat sejarah menjadi menarik untuk diketahui. Hanya dari bacaan di sebuah memorial, kisah masa lalu itu tiba-tiba memiliki bentuk dalam pikiran.
Kota terus berubah. Bangunan berganti fungsi. Orang-orang datang dan pergi. Tetapi cerita tentang mereka yang pernah berkuasa masih tersisa di beberapa sudut kota. Saya pun meninggalkan memorial itu.
Hari makin sore. Perjalanan saya menyusuri Kuching masih berlanjut. []
I Komang Gde Subagia | Kuching, Agustus 2026

Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.