Gunung Kinabalu sudah saya tinggalkan. Dua hari saja mencumbu hutan dan bebatuannya di ketinggiannya. Kini, saya sudah kembali ke Kota Kinabalu. Bersiap-siap meninggalkan Sabah. Saya akan melanjutkan perjalanan ke negeri tetangganya: Sarawak. Namun, masih jelas terngiang di pikiran tentang Gunung Kinabalu. Bagaimana gunung tertinggi di Malaysia ini dikelola? Pelajaran apa yang bisa diambil untuk Indonesia?
Apa yang dipelajari dari Kinabalu?
Jauh sebelum mendaki, saya sudah sering mendengar tentang pengelolaan pendakian Gunung Kinabalu. Dan ketika kemudian mendakinya, mengalami sendiri apa yang diceritakan oleh orang-orang yang pernah ke sana, saya melihat banyak hal.
Yang pasti, pengelolaannya tidak sembarangan. Pendaki dibatasi jumlahnya. Ada kuota harian. Saat saya mencocokkan waktu yang ada, kuota yang ada jadi rebutan. Tercatat, enam bulan sebelumnya saya sudah mendaftar. Ada izin, asuransi, dan berbagai proses administrasi yang harus dilalui dan ditunggu hasilnya dengan sabar. Kalau sudah bayar, kuota yang kita dapat tidak bisa dialihkan atau diganti ke orang lain. Artinya setelah kita terdaftar, lalu kita berhalangan, maka otomatis biaya yang sudah kita bayarkan hangus.
Pun ketika waktu pendakian sudah tiba. Semua pendaki wajib ditemani oleh pemandu. Bisa satu pemandu untuk satu pendaki. Atau bisa juga satu pemandu untuk beberapa pendaki dengan batas jumlah tertentu. Walaupun jalur pendakian jelas, pemandu tidak hanya memandu jalan, tetapi juga memastikan pendaki mengikuti peraturan yang ada. Seperti tak boleh buang sampah dan buang air sembarangan. Bahkan di sepanjang jalur, terutama area puncak, dilarang merokok. Hanya di beberapa titik pondok istirahat disediakan tempat khusus untuk itu. Ada sanksi yang menunggu jika dilanggar.
Yang unik adalah adanya COT atau cut off time. Ada batas waktu pendakian yang harus dipatuhi. Pendaki via ferrata, misalnya, harus sudah tiba di Pendant Hut pada waktu yang ditentukan agar bisa mengikuti pembekalan. Saat menuju puncak, ada lagi COT di Sayat-sayat Check Point. Pendaki yang lambat dan melewati batas waktu, dilarang melanjutkan pendakian. Pun jika cuaca buruk, titik check point ini akan menutup gerbang, tak boleh ada satu pun pendaki yang naik.
Bahkan waktu makan malam pun sudah diatur, sehingga pendaki tidak bisa seenaknya kapan akan makan. Di Indonesia, walaupun mungkin di beberapa gunung sudah diterapkan aturan waktu tertentu, saya lebih banyak menemukan pendaki yang relatif bebas. Pendaki bisa menentukan kapan mau makan malam atau memulai pendakian menuju puncak.
Jalur dilengkapi berbagai fasilitas. Di Panalaban tersedia tempat menginap, makanan, air, listrik, hingga air panas. Semua itu berada di gunung, jauh dari kota.
Barang-barang kebutuhan di atas sana harus diangkut naik. Makanan, minuman, gas, bahan bakar, dan berbagai perlengkapan lainnya tidak muncul begitu saja di ketinggian tiga ribuan meter.
Siapa yang membayar harga dari kenyamanan tersebut? Tentu saja pendaki. Semakin lengkap fasilitas yang disediakan, semakin besar biaya yang harus dikeluarkan. Secara tidak langsung, sistem seperti ini juga menjadi semacam penyaring sejak awal. Hanya orang yang memang bersedia membayar lebih yang akan datang mendaki.
Melihat hal itu, mungkin terasa tidak adil jika akses ke gunung harus dibatasi oleh kemampuan membayar. Tetapi jika harga yang dibayar itu ikut menjaga kelestarian alam, serta membuat kawasan tidak dipenuhi pendaki tanpa batas, rasanya ada alasan untuk menerimanya. Kelestarian alam punya nilai yang jauh lebih mahal daripada sekadar murahnya biaya untuk bisa naik gunung.
Sebagai pendaki, saya tinggal datang dan menggunakan fasilitas yang sudah tersedia. Saya hanya perlu memikirkan bagaimana caranya sampai ke puncak dan kembali turun dengan selamat. Namun setelah melihat para pekerja membawa berbagai barang, termasuk sampah-sampah pendaki, melewati jalur pendakian, saya mulai melihat sisi lain dari kenyamanan tersebut.
Hal-hal seperti ini membuat saya teringat pada gunung-gunung di Indonesia. Kita memiliki begitu banyak gunung, yang juga menjadi tujuan pendakian. Beberapa di antaranya bahkan jauh lebih ramai. Tetapi pengelolaannya tentu berbeda-beda.
Saya tidak tahu apakah sistem di Kinabalu bisa diterapkan begitu saja di Indonesia.
Gunung Semeru tentu berbeda dengan Kinabalu. Rinjani berbeda dengan Argopuro. Gunung yang berada di taman nasional juga mempunyai persoalan yang berbeda dengan gunung yang dikelola oleh pemerintah daerah atau masyarakat setempat.
Namun, dari pengalaman di Kinabalu, saya melihat ada satu hal yang semakin terasa penting: pendakian gunung, yang kegiatan ini makin hari makin diminati, membutuhkan pengelolaan yang serius. Pihak berwenang seharusnya tidak hanya menyediakan jalur, lalu kemudian membiarkan pendaki berjalan sendiri. Ada keselamatan yang harus dipikirkan. Ada juga batas daya dukung kawasan. Ada penginapan dan sanitasi. Ada sampah. Ada logistik. Ada pemandu dan pekerja yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan pendakian.
Di Kinabalu, semua itu terlihat sebagai satu kesatuan. Sebuah gunung, yang bentang alamnya menjadi ikon negara, diperlakukan sebagai kawasan wisata alam yang dikelola dengan baik.
Sabah Maju Jaya
Saya sering mendengar nama Sabah bersanding bersama Sarawak. Keduanya sama-sama merupakan negeri bagian Malaysia yang berada di Pulau Borneo. Kalau melihat peta, Sabah berada di bagian utara dan timur pulau, sementara Sarawak berada di sebelah baratnya.
Sabah Maju Jaya. Tulisan itu beberapa kali saya temui selama berada di Sabah. Kalimat itu adalah slogan negeri ini. Terasa seperti jargon-jargon ormas, kalau di Indonesia, yang sering dikumandangkan dengan teriakan "Jaya! Jaya! Jaya!", hingga menggema ke seantero dunia.
Tapi untuk di Malaysia, "Maju Jaya" rasanya cocok-cocok saja. Tak kedengaran aneh. Bahkan itu cukup menggambarkan kesan yang saya tangkap selama beberapa hari tinggal.
Kota Kinabalu, yang saya kira awalnya kota kecil yang tak menarik, ternyata adalah kota maju dan berkembang. Ada pusat perbelanjaan besar, hotel dan penginapan untuk berbagai kalangan, transportasi daring yang mudah digunakan, hingga kawasan wisata yang tertata. Jalan menuju Kundasang juga cukup lebar dan ramai dilalui kendaraan. Termasuk di Gunung Kinabalu sendiri, saya merasakan sendiri bagaimana kawasan pendakian dikelola dengan sistem dan fasilitas yang cukup lengkap.
Selama berada di Sabah, saya memang lebih banyak melihat sisi yang berkaitan dengan perjalanan: Kota Kinabalu, jalan menuju Kundasang, Kinabalu Park, hingga Gunung Kinabalu. Saya belum banyak menjelajahi wilayah Sabah lainnya yang sangat luas. Tetapi beberapa hari sudah cukup untuk membuat saya berkenalan dan memahami. Bahwa Sabah bukan sekadar tempat Gunung Kinabalu berada. Sabah adalah salah satu wilayah besar di Borneo dengan bentang alam, masyarakat, dan keunikannya sendiri.
Kini waktunya meninggalkan Sabah.
Dari Kota Kinabalu, saya akan terbang ke Kuching.
Kalau Sabah adalah pengalaman pertama saya di Malaysia Timur, Sarawak akan menjadi bagian berikutnya.
Saya ingin melihat sendiri seperti apa negeri yang selama ini selalu saya dengar namanya bersanding bersama Sabah itu.
Kabut Asap di Negara Tetangga
Pesawat Air Asia terbang tepat waktu meninggalkan Kota Kinabalu. Dari balik jendela, perlahan pemandangan laut dan pulau samar-samar ditutup awan kala ketinggian terus bertambah. Hingga akhirnya pesawat mendarat di Bandara Kuching. Hanya satu jam dan dua puluh menit waktu yang ditempuh. Tak jauh berbeda dengan waktu tempuh udara dari Jakarta ke Denpasar.
Tapi ada yang aneh dengan pemandangan di luar bandara, kala kaki saya melangkah turun dari pesawat. Hari memang telah sore. Belum gelap. Tapi langit tak ada sedikit pun berwarna biru. Kelabu semua. Berkabut. Tak ada terik mentari.
Hingga kemudian, sebuah grab menjemput saya untuk mengantar ke pusat kota. Ia memakai masker penutup hidung dan mulut. Tadi, sekilas saya juga melihat petugas ground handling dan marshal di bandara yang memakai masker semua. Kalau yang ini, saya tak banyak curiga. Tapi pengemudi taksi dan orang-orang lalu lalang di bandara memakai masker seperti zaman covid, saya sudah menebak-nebak apa yang terjadi.
"Banyak jerebu, Kak. Jangan lama-lama buka jendela" seru pengemudi pada saya ketika jendela saya buka untuk memotret sebuah klenteng di pinggir jalan. Saya pun buru-buru menutupnya.
"Sudah beberapa minggu ini macam ni terus. Buat batuk," sambungnya.
"Pasti asap dari kebakaran hutan di Indonesia, ya?" tanya saya balik padanya.
"Iya. Kenapa orang-orang di Indon sana suka bakar-bakar hutan? Takkan polis tak tangkap pulak?"
Dan begitulah. Sambutan yang saya dapat ketika tiba di Kuching.
Ada rasa malu juga sebagai orang Indonesia. Percakapan pertama di kota ini langsung menyenggol isu asap kebakaran hutan lintas batas.
Saya harus jawab apa ketika ditanya, kenapa polisi tidak menangkap pelaku pembakaran? Atau kalau lebih jauh, kenapa aparat atau pihak berwenang membiarkan hutan-hutan di Kalimantan dibakar besar-besaran? Apakah saya harus menelepon Presiden Prabowo dan menyampaikan keluhan pengemudi taksi di negara tetangga ini?
Kuching di Sarawak, hanya berjarak tiga ratusan kilometer dari Pontianak di Kalimantan Barat. Provinsi tempat di mana Sungai Kapuas mengalir ini, beberapa bulan yang lalu saya kunjungi. Di sepanjang alirannya, saya memang menyaksikan sendiri bagaimana rimba tropis makin terdesak oleh alih fungsi lahan dan ekspansi perkebunan skala besar.
Maka, ketika musim kemarau tiba dan api membakar gambut, jerebu tidak pernah mengenal batas negara. Sarawak yang bertetangga langsung harus ikut menanggung akibatnya.
Usai Hujan Angin
Ketika taksi sudah memasuki kota, saya melihat ada banyak dedaunan bertebaran di jalan. Juga ranting-ranting dan batang-batang pohon bertumbangan. Rupanya beberapa saat sebelumnya, Kuching dilanda hujan badai. Untung saja saat saya tiba, cuaca sudah membaik.
Tapi jalan masuk ke hotel tempat saya menginap rupanya terblokir. Sebuah atap bangunan roboh dan menimpa beberapa kendaraan yang parkir di pinggir jalan. Alhasil, saya pun turun dan memilih untuk jalan kaki ke hotel, yang hanya tinggal beberapa meter saja.
Jadi, begitulah Kuching menyambut kedatangan saya. Kabut asap di langit dan sisa-sisa hujan badai di jalan. Dua hal yang sebenarnya tidak terlalu menyenangkan untuk menjadi kesan pertama sebuah kota.
Tapi mungkin tidak semuanya harus dilihat dari sisi buruk. Jika ditatap dari sudut pandang pejalan, apa saja yang ditemui tentunya adalah pengalaman. Kabut asap membuat kita bisa melihat persoalan lingkungan dari sudut pandang tetangga, yang selama ini hanya dilihat dari jauh. Sementara hujan badai mengingatkan bahwa alam memang tidak selalu sesuai rencana perjalanan manusia.
Saya menyeka keringat tipis di dahi saat melangkah masuk ke lobi hotel. Apa pun yang terjadi pada kota ini, setidaknya saya tiba dengan dua cerita: kabut asap dan hujan badai, bahkan sebelum saya sempat melihat seperti apa kota ini sebenarnya.
Besok, saya akan mulai melihat Kuching dari dekat. []
I Komang Gde Subagia | Kota Kinabalu - Kuching, Agustus 2026

Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.