Kundasang. Ia adalah kawasan perbukitan di kaki Gunung Kinabalu, tempat Taman Kinabalu berada sebagai titik awal pendakian. Menjelang siang, saya akan menuju ke sana. Tapi tidak sendiri. Saya akan bergabung dengan beberapa teman yang juga akan mendaki gunung tertinggi di Malaysia ini. Kami akan berangkat bersama dari Bandara Kota Kinabalu.
Kumpul di Bandara
Saya ke bandara kembali dengan menumpang Grab. Duduk di depan, di samping Pak Sopir yang sedang bekerja, mengendali setir supaya baik jalannya. Tuk ti tak tik tuk. Eh? Saya malah menulis sambil bernyanyi. Mungkin karena sedang menyusuri jalanan utama kota yang tampak meriah.
Saya melihat ada banyak kelompok yang sedang berlatih gerak jalan. Persis seperti di Indonesia ketika hari-hari menjelang peringatan kemerdekaan. Di Sabah, Malaysia, sama juga. Banyak bendera berkibar, banyak pula orang yang bersiap merayakannya. Dengan gerak jalan tentunya. Barisan dan nyanyian mereka menarik perhatian warga di sekitarnya. Termasuk saya pelancong asing dari negeri tetangga.
Menjelang siang, sesuai waktu yang disepakati, saya sudah tiba di pintu kedatangan terminal bandara. Saya bertemu dengan Azura dan Lin. Mereka adalah dua perempuan muda dari Ohana Travel. Itu penyelenggara wisata yang saya gunakan jasanya untuk mengurus pendakian ke Kinabalu. Katanya, mereka baru magang untuk menangani tamu pendaki seperti saya.
Tak berselang lama setelahnya, saya bertemu dengan tiga sekawan dari Pahang, salah satu negara bagian Malaysia di Semenanjung Malaya. Mereka adalah Hamdan, Zainab, dan Afzan. Lalu berikutnya ada Raja, pemuda Malaysia keturunan India dari Kuala Lumpur. Jadi total kami adalah berlima.
Tapi walaupun berlima, ternyata hanya saya sendiri yang berbeda. Bukan karena satu-satunya dari Indonesia, maksudnya. Melainkan karena dalam pendakian ini, saya mengambil jalur via ferrata. Yaitu jalur yang dilengkapi kabel baja dan perlengkapan pengaman untuk melewati tebing curam. Gunung Kinabalu terkenal dengan via ferrata-nya ini, yang merupakan salah satu jalur via ferrata tertinggi di dunia.
Singkat cerita, tanpa banyak basa-basi, kami semua berlima, ditambah pengemudi, pun berangkat. Naik minibus meninggalkan Bandara Kota Kinabalu. Sementara Azura dan Lin mengendarai kendaraan sendiri yang nantinya akan menyusul. Kami akan bertemu lagi di Kundasang, di kantor taman nasional untuk mengurus perizinan.
Sekilas Pandangan di Jalanan
Kundasang, di kaki Gunung Kinabalu yang menjadi titik awal pendakian, lokasinya berada di sebelah timur kota. Berjarak kurang lebih sembilan puluh kilometer dari Kota Kinabalu.
Perjalanan keluar kota cukup menyenangkan. Jalan raya utama yang kami lintasi di Sabah ini cukup luas. Seperti jalan tol berbayar. Tapi ini bukan jalan tol. Tak ada jalan tol di Sabah. Berbeda dengan Semenanjung Malaya, jaringan jalan raya di Malaysia Timur, Sabah dan juga Sarawak, bebas dari biaya. Itu sudah menjadi kebijakan pemerintah setempat.
Sistem jalan bertol tidak diterapkan di Sabah karena ketiadaan jalur alternatif. Juga dinilai tidak adil karena warga tidak mempunyai pilihan jalan lain. Pembangunan infrastruktur jalan raya utama dibiayai sepenuhnya oleh negara. Itu tentu adalah bentuk pelayanan dasar untuk publik.
Berbeda dengan di Indonesia, sebagian besar jalan utama dibangun berdasarkan skema konsesi swasta yang memerlukan pengembalian investasi dari pengguna jalan. Rakyat yang sudah membayar pajak harus membayar biaya lagi untuk menggunakan jalan. Padahal, membuat jalan yang layak adalah kewajiban penyelenggara negara. Apa karena dananya tidak ada sehingga dibuat oleh investor? Atau apakah dana yang sebenarnya ada lebih banyak dikorupsi? Eh?
Singgah di Tamparuli
Sekitar satu jam perjalanan, kami tiba di Tamparuli. Ini adalah sebuah kota kecil atau subdistrik di Sabah. Kalau di Indonesia, sekelas kota kecamatan. Kami mampir di sebuah rest area yang tak jauh dari jembatan utama. Yang jelas tampak membentang menyeberangi sungai besar. Katanya, sungai di Tamparuli ini sering digunakan sebagai tempat berwisata arung jeram.
Waktu memang sudah lewat tengah hari. Kami mau istirahat makan siang. Sekaligus berbelanja tambahan logistik untuk bekal pendakian nanti. Kami memilih salah satu kios untuk makan dan minum.
Saat mau membayar, kios tidak menerima pembayaran dengan tap kartu Mastercard. Hanya bisa tunai atau dengan QR. Sementara telepon genggam saya, entah kenapa tidak mendapatkan sinyal di kota ini. Alhasil, saya malah dibayari oleh Hamdan. Padahal saya sudah siap mengeluarkan uang ringgit yang sudah saya siapkan beberapa lembar di dompet. Saya jadi berutang, nih.
Kejadian seperti ini menjadi pengingat. Bahwa ketika naik gunung atau berkelana ke luar negeri, selalu ada baiknya membawa uang tunai dalam mata uang setempat. Di masa sekarang, pembayaran digital memang semakin mudah ditemukan, bahkan sampai ke tempat-tempat yang jauh dari kota besar. Tetapi jangan menganggap semuanya sudah bisa dilakukan secara digital. Di kota-kota kecil atau daerah yang lebih pelosok, bisa saja hanya uang tunai yang diterima. Sinyal telepon juga belum tentu tersedia ketika kita membutuhkannya.
Apalagi dalam perjalanan ke gunung. Kita tidak pernah benar-benar tahu di mana pembayaran berikutnya bisa dilakukan. Beberapa lembar uang tunai di dompet mungkin terlihat sepele. Ketersediaannya bisa sangat berguna ketika kartu tidak bisa digunakan, QR tidak dapat diakses, atau ponsel kehilangan sinyal.
Setelah urusan makan dan belanja tambahan logistik selesai, perjalanan pun kami lanjutkan. Dari Tamparuli, kami kembali menyusuri jalan menuju kawasan pegunungan. Jalan yang awalnya datar saja, kini mulai banyak menanjak dan berkelak-kelok. Tujuan berikutnya adalah Kinabalu Park, tempat kami akan melapor pertama kali untuk mendaki.
Kinabalu Park
Perlahan, udara dingin pegunungan mulai terasa menyusup melalui celah-celah jendela kendaraan. Rasanya ketinggian yang kami tempuh sudah mencapai seribuan meter di atas permukaan laut. Di peta yang sebelumnya saya pelajari, kantor Kinabalu Park berada di ketinggian sekitar 1.500 meter.
Dan benar saja. Tak butuh waktu lebih lama setelah dingin yang saya rasakan, kami pun akhirnya tiba.
Kantor Kinabalu Park berada beberapa ratus meter dari jalan utama. Dari jalan raya, terdapat jalan kecil yang menanjak menuju kawasan perkantoran dan fasilitas taman nasional. Jika hanya melintas di jalan utama, keberadaan kompleks Kinabalu Park sudah terlihat jelas. Bangunannya bertingkat dengan tulisan besar, “Kinabalu Park World Heritage Site”, menghadap ke arah jalan.
Begitu turun dari kendaraan, suasana langsung terasa berbeda. Udara sejuk dan cenderung dingin dari hawa pegunungan menggantikan panas Kota Kinabalu dan Tamparuli yang sebelumnya saya rasakan. Di sekitar kompleks, terlihat banyak pendaki dan wisatawan yang datang dan pergi silih berganti. Sebagian besar tampaknya wisatawan mancanegara. Atau orang putih, kalau menggunakan istilah yang lazim saya dengar di Malaysia.
Sesampainya di kantor, kami mengurus berbagai perizinan untuk pendakian. Azura dan Lin ternyata tiba hampir bersamaan dengan kami. Mereka kemudian membantu mengurus keperluan kelompok, sementara kami menunggu dan memperhatikan suasana di sekitar.
Karena saya satu-satunya pendaki dalam kelompok yang mengambil jalur via ferrata, pengaturan untuk saya sedikit berbeda. Hamdan, Zainab, Afzan, dan Raja mendapatkan penginapan untuk malam itu di sekitar Kinabalu Park. Mereka juga mendapatkan makan malam prasmanan di restoran setempat yang dikelola oleh Sutera Sanctuary Lodges, pengelola akomodasi dan fasilitas wisata di kawasan Kinabalu Park.
Pengaturan semacam ini memang menjadi bagian dari layanan pendakian yang mereka ambil. Setelah seharian menempuh perjalanan dan sebelum memulai pendakian keesokan harinya, para pendaki mendapatkan tempat beristirahat dan makan malam sebelum melanjutkan perjalanan menuju gunung.
Sementara saya, karena mengambil paket dengan via ferrata, akan ditempatkan di penginapan lain yang lokasinya lebih jauh. Makan malam saya akan dibawakan. Ya sudah. Saya terima-terima saja.
Ada hal lain yang kemudian membuat saya sedikit bertanya-tanya. Mengapa empat kenalan baru saya dalam pendakian ini tidak ada satu pun yang mengambil jalur via ferrata?
“Tak berani dengan ketinggian dan curam,” kata mereka.
Saya jadi garuk-garuk kepala.
Dalam hati saya mulai berpikir, apakah seseram itu nanti jalur via ferrata di Kinabalu?
Dari informasi yang saya dapatkan, jalur ini memang akan membawa saya menyusuri tebing-tebing curam di sisi gunung. Pada beberapa bagian, kemiringannya bisa sangat terjal, bahkan mendekati vertikal. Di bawahnya terdapat jurang yang dalam. Tetapi tentu saja, jalur tersebut dilengkapi kabel pengaman dan berbagai perlengkapan keselamatan. Semuanya wajib digunakan sepanjang perjalanan.
Saya kemudian teringat pengalaman berkegiatan panjat tebing.
Dulu, di Astacala, saya mengikuti sekolah panjat tebing sebagai salah satu bagian dari kurikulum wajib bagi anggota pecinta alam. Kami tidak hanya belajar teori dan teknik di dinding latihan, tetapi juga pernah memanjat tebing alam yang sebenarnya.
Saya sudah lama tak pernah memanjat tebing dalam arti yang serius. Maksudnya lengkap dengan tali kermantle, karabiner, dan berbagai alat pengaman lain. Mungkin pengalaman masa lalu itu akan berguna sekarang.
Setidaknya, saya sudah pernah merasakan berdiri di atas tebing, melihat ke bawah, lalu mempercayakan keselamatan diri pada tali dan peralatan yang terpasang. Saya merasa seharusnya bisa melewati via ferrata ini dengan baik.
Hingga kemudian, setelah berbagai urusan perizinan selesai, Azura dan Lin mengantar saya menuju sebuah penginapan. Lokasinya lebih jauh dari tempat menginap teman-teman saya yang lain.
Saya belum tahu seperti apa tempatnya. Juga tidak terlalu mempermasalahkan, apakah penginapannya berlabel bintang lima atau bintang satu. Yang saya tahu, malam ini saya harus beristirahat dengan baik. Besok pagi, perjalanan yang sebenarnya baru akan dimulai.
Mile 36 Lodge
Nama penginapan saya malam ini adalah Mile 36 Lodge.
Dari namanya, saya menebak-nebak. Mungkin karena lodge atau pondok ini berada di mil ke-36 dari titik acuan tertentu. Atau bisa jadi berkaitan dengan penanda jarak dari titik nol jalan utama dataran tinggi ini.
Mile 36 Lodge ini sendiri merupakan penginapan kecil. Bangunannya dominan menggunakan kayu. Suasananya jauh berbeda dari penginapan di tengah Kota Kinabalu. Saya mendapatkan sebuah kamar dengan dua tempat tidur. Padahal saya datang seorang diri. Lumayan. Salah satu tempat tidur saya jadikan tempat packing perlengkapan untuk besok.
Di sekitar penginapan, beberapa ekor anjing terlihat berkeliaran. Mereka tampak seperti bagian dari kehidupan sehari-hari di tempat ini. Saya sempat memperhatikan suasana di sekitar. Lalu menyempatkan diri berbincang dengan petugas yang berjaga di lobi.
Dari percakapan itu, saya mengetahui sedikit tentang masyarakat di sekitar Kundasang. Banyak masyarakat setempat berasal dari suku Kadazan dan Dusun, yang sama-sama menjadi penduduk pribumi asli di Sabah. Secara antropologi, mereka adalah bagian dari rumpun Dayak di Borneo.
Sebagian besar masyarakat Kadazan dan Dusun beragama Kristen, terutama Katolik. Jejak keyakinan itu juga terlihat di pondok-pondok penginapan yang saya tempati. Di dinding lobi terdapat tanda salib. Beberapa perempuan muda yang bekerja di kebun di sekitar penginapan juga mengenakan kalung dengan gantungan salib.
Lembah Kundasang
Saya memang sedang berada di tempat yang berbeda dari Kota Kinabalu. Udara yang tadi siang saya rasakan gerah dan panas di kota, kini berubah menjadi begitu dingin. Suasana masyarakat lokal dan lanskap alamnya juga memberikan gambaran baru.
Di bagian belakang, terdapat jalan setapak. Di sampingnya terdapat sedikit ruang terbuka yang mengarah ke sebuah lembah dengan aliran sungai kecil. Dari sini, Gunung Kinabalu terlihat di kejauhan. Sayangnya, sebagian tubuh gunung tertutup awan tebal yang menggantung di atas puncaknya. Tetapi sebagian lain masih memperlihatkan dinding-dinding puncaknya yang curam.
Saya kemudian keluar dari area penginapan untuk melihat-lihat lebih jauh.
Saya menyeberang jalan yang sesekali dilalui kendaraan-kendaraan besar. Jalan raya di depan penginapan ternyata masih cukup ramai. Truk dan kendaraan lainnya melintas tanpa banyak hambatan. Begitu menyeberang, pemandangan lebih terbuka. Sebuah lembah terbentang luas.
Di lereng-lerengnya terlihat ladang pertanian yang dibuat bertingkat. Sebagian ditanami sayuran. Saya melihat sawi yang tampak memenuhi petak-petak lahan. Di bagian lain, hamparan rumput pakan ternak terlihat lebih dominan. Rumput-rumput itu menjadi bagian dari lanskap pertanian dan peternakan.
Kundasang dikenal sebagai salah satu sentra pertanian dataran tinggi di Sabah. Udara yang sejuk membuat berbagai jenis sayuran dataran tinggi dapat tumbuh dengan baik. Selain pertanian, kawasan ini juga dikenal dengan peternakan sapi. Bahkan, peternakan sapi perah menjadi salah satu bagian dari daya tarik wisata Kundasang.
Dari tempat saya berdiri, saya bisa melihat beberapa rumah di kejauhan, tersebar di seberang lembah. Tidak terlihat seperti sebuah kota. Lebih menyerupai permukiman yang mengikuti bentuk lereng dan lembah.
Kota Kundasang sendiri tidak terlihat dari tempat saya berada. Saya tahu kota itu ada di balik bukit. Dari peta, jaraknya hanya sekitar empat kilometer dari tempat saya menginap. Sayang, saya tidak sempat ke sana.
Saya hanya melihat Kundasang dari kejauhan, dari balik bukit di sebuah pondok di tepi jalan. Sambil berdiri di hadapan lembah yang perlahan diselimuti kabut dan awan di sore hari. Hanya demikian saja saya mengenal Kundasang untuk pertama kalinya.
Saya menghirup nafas dalam-dalam. Menikmati udara di sekitar. Perlahan, kabut mulai turun. Gunung Kinabalu kembali menghilang di balik awan. Sementara cahaya sore semakin redup. Lalu malam pun menjelang. []
I Komang Gde Subagia | Kundasang, Agustus 2026

Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.