Malam telah turun kala saya melangkah keluar dari pesawat di Bandara Internasional Kota Kinabalu. Udara dingin yang tadi saya rasakan di dalam kabin pesawat segera berubah menjadi gerah. Terminal bandara utama di Sabah ini tak seramai Ngurah Rai di Bali, apalagi Changi di Singapura.
Naik Taksi ke Pusat Kota
Sebelum berangkat ke Malaysia, saya sudah lebih dulu mencari tahu banyak hal tentang Kota Kinabalu. Salah satunya tentu saja soal bagaimana cara paling mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dari berbagai informasi yang saya dapatkan, jawabannya: Grab.
Aplikasi itu sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi saya. Grab yang sudah terpasang di ponsel bahkan sudah terhubung dengan kartu debit Mastercard saya. Juga sudah lengkap dengan kantong mata uang Ringgit Malaysia di dalamnya.
Jadi, setibanya di Kota Kinabalu, saya tidak perlu repot mencari loket taksi atau menukar uang terlebih dahulu. Tinggal membuka aplikasi, memasukkan tujuan, dan menunggu.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil datang menjemput. Pengemudinya seorang pemuda Melayu bernama Husni. Setelah memastikan tujuan saya, ia segera membawa mobil meninggalkan kawasan bandara.
Malam telah sepenuhnya turun. Jalanan Kota Kinabalu terlihat rapi, diterangi pendar lampu kendaraan dan lampu-lampu jalan yang memantul di permukaan aspal.
Seperti lazimnya perjalanan singkat bersama pengemudi taksi, percakapan kami basa-basi saja. Dari mana saya datang, berapa lama berada di Sabah, dan ke mana tujuan saya setelah ini. Husni kemudian mengatakan bahwa ia sudah tahu tempat saya menginap.
“Saya sering mengantar tamu orang putih ke sana. Di sana banyak backpacker,” katanya.
Orang putih yang ia maksud tentu saja wisatawan asing. Dalam istilah yang lebih lazim di Indonesia: bule.
Saya tersenyum mendengarnya. Mungkin dari ransel besar yang masih menempel di punggung, penampilan saya sudah cukup menjelaskan bahwa saya bukan datang ke Kota Kinabalu untuk urusan bisnis.
Tujuan kami adalah kawasan Warisan, salah satu kawasan komersial di pusat Kota Kinabalu. Lokasinya berada tidak jauh dari waterfront. Dekat laut. Nama Warisan sendiri sudah cukup dikenal sebagai salah satu kawasan tempat wisatawan, termasuk backpacker, mencari penginapan, makanan, dan berbagai kebutuhan perjalanan.
Mobil terus melaju menembus jalanan kota. Tidak ada kemacetan yang membuat perjalanan terasa terburu-buru. Tidak ada pula hiruk-pikuk berlebihan yang biasanya langsung menyambut seseorang ketika baru keluar dari bandara kota besar.
Kesan pertama saya terhadap Kota Kinabalu terasa hangat. Udara malamnya begitu kentara menyimpan hawa tropis. Suasananya sekilas terasa santai.
Berbeda dengan kota-kota besar di Indonesia, terutama di Jawa, seperti Jakarta atau Surabaya. Di sana, perjalanan dari bandara menuju pusat kota sering kali langsung membawa kita ke dalam irama kota yang serba cepat. Kendaraan berdesakan, orang seperti selalu mengejar waktu, dan kemacetan seolah menjadi bagian dari salam pembuka sebuah kota.
Kota Kinabalu terasa berbeda. Rasanya karena ukurannya yang tidak sebesar Jakarta atau Surabaya. Mungkin juga karena malam sudah larut sehingga sebagian aktivitas kota mulai mereda. Atau mungkin karena saya sendiri datang sebagai pelancong, tanpa kewajiban apa pun selain mencari tempat tidur untuk beristirahat. Bagaimanapun juga, kesan pertama itu menyenangkan.
Saya duduk di kursi belakang sambil melihat kota yang perlahan lewat di balik kaca. Lampu-lampu toko, kendaraan, dan bangunan di sepanjang jalan menjadi pemandangan pertama Kota Kinabalu yang saya kenal. Belum banyak yang saya lihat, tetapi untuk malam pertama, itu cukup sebagai perkenalan.
Perjalanan dari bandara akhirnya berakhir di kawasan Warisan.
Saya turun, mengambil ransel, lalu berdiri sejenak di tepi jalan. Inilah Kota Kinabalu. Kota yang beberapa jam sebelumnya hanya berupa nama di itinerary, kini menjadi tempat saya benar-benar berdiri.
Malam pertama saya di Sabah pun dimulai. Alunan musik hingar-bingar terdengar dari beberapa sudut. Tak salah jika kawasan ini jadi pusat hiburan malam, seperti kata Husni tadi.
Tapi bukan keramaian yang menggoda saya saat ini. Setelah perjalanan jauh, satu hal yang paling saya butuhkan: bisa mandi lalu segera bersantai dan beristirahat.
Homy Seafront Hostel
Ada sebuah hostel yang sudah saya pesan jauh-jauh hari. Berlokasi di tengah kawasan yang ternyata memang ramai oleh para pelancong. Namanya Homy Seafront Hostel. Ke sanalah saya melangkah.
Untuk penginapan jenis ini, Homy Seafront di Kota Kinabalu ini paling direkomendasikan oleh aplikasi Hostelworld. Harganya terjangkau, bersih, nyaman, dan aman. Saya yang tak banyak cingcong untuk urusan tempat menginap merasa tak salah pilih ketika masuk dan melakukan check-in.
Saya mendapatkan fasilitas loker jumbo yang sanggup menampung ransel saya yang besar. Tempat tidur dengan sprei dan selimut yang bersih. Ruang istirahat kedap suara dan cukup sunyi. Para penghuninya seperti saling mengerti untuk tidak berisik berlebihan. Kamar mandi ada air panasnya. Dapur bersama tentu lengkap dengan air minum panas atau normal, dengan pilihan kopi dan teh serta roti-roti dan selai berbagai rasa. Semua itu sudah termasuk menjadi fasilitas yang didapatkan.
Desain hostel bergaya industrial dengan pencahayaan yang hangat. Ia ada di lantai empat dengan jendela kaca yang lebar menghadap ke laut. Pagi-pagi ketika memulai hari, sarapan ringan sambil minum teh di ruang istirahatnya, kita bisa melihat pemandangan laut lepas. Kapal-kapal yang berseliweran serta mengapung di atas perairan tampak jelas. Juga pulau-pulau kecil yang tampak di kejauhan.
Saya suka suasananya. Terlebih juga sikap kebanyakan tamu yang menghuninya. Mungkin sebagian besar dari tamu adalah orang-orang yang introvert. Saat saya duduk menikmati sarapan, begitu juga dengan yang lain, kami hanya tersenyum sebagai tanda menyapa. Tak ada obrolan basa-basi yang melelahkan. Kecuali dengan petugas jaga hostel yang iseng menanyai, “Gimana istirahatnya semalam, Bang?”
Menginap di hostel, dengan ruang istirahat bersama, dengan sekat-sekat tempat tidur seperti ini, sebenarnya tidak seaneh yang kita bayangkan. Ada orang lain di sekitar kita, tetapi masing-masing seperti memiliki dunianya sendiri. Tidak perlu saling mengenal, tidak perlu pula memaksakan percakapan. Cukup saling menghormati ruang masing-masing.
Biayanya tidak semahal hotel, tetapi fasilitas dasarnya sudah cukup untuk membuat tubuh yang lelah setelah seharian berjalan kembali nyaman. Kita juga mendapatkan sesuatu yang tidak selalu ada di hotel: kesempatan berbagi ruang dengan pelancong lain dari berbagai tempat. Kadang hanya sebatas berpapasan di dapur, saling tersenyum di meja makan, atau bergantian menggunakan kamar mandi.
Tentu saja, model penginapan seperti ini bukan untuk semua orang. Kalau bepergian bersama keluarga, apalagi dengan anak-anak, saya kira hostel seperti ini bukan pilihan yang ideal. Ruang tidur bersama, kamar mandi yang digunakan bergantian, serta kebutuhan untuk menjaga volume suara dan privasi tentu membuat hotel atau penginapan dengan kamar sendiri jauh lebih nyaman. Tetapi untuk seorang solo traveler seperti saya, hostel terasa pas.
Ada rasa kebebasan di dalamnya. Kita datang sendiri, pergi sendiri, mengatur waktu sendiri. Tidak ada ruang makan hotel yang terlalu formal, tidak ada petugas yang harus selalu menyapa, dan tidak ada keharusan untuk berbasa-basi dengan siapa pun. Namun pada saat yang sama, kita juga tidak benar-benar sendirian.
Setelah menuntaskan sarapan dan secangkir teh, juga mandi, saya pun bersiap keluar. Kota Kinabalu sudah menunggu di luar sana. Kali ini, saya akan berjalan kaki keliling kota. Mau melihat-lihat suasana kota dengan lebih dekat.
Makan Nasi Lemak
Keluar dari gedung hostel, lalu berjalan beberapa ratus meter, saya menemukan sebuah rumah makan yang tampak menarik. Menjual nasi lemak. Hari sudah menjelang siang sebenarnya. Itu karena saya memulai hari ini dengan lambat. Jadi makan siang dulu sepertinya menjadi ide yang brilian.
Maka masuklah saya ke dalam rumah makan. Memesan seporsi nasi lemak dengan memilih lauk serta sayurnya. Nasi lemak ini sendiri adalah menu favorit saya. Saya mengenalnya ketika pertama kali berkunjung ke Singapura beberapa tahun lalu. Pas dengan lidah saya yang orang Indonesia.
Nasi lemak pada dasarnya adalah nasi yang dimasak dengan santan dan biasanya diberi aroma daun pandan. Rasanya gurih dan sedikit harum, berbeda dengan nasi putih biasa. Penyajiannya bisa ditemani berbagai macam lauk, mulai dari sambal, telur, ikan bilis atau teri, kacang tanah, ayam, daging, hingga sayuran, tergantung tempat dan selera.
Bagi saya, nasi lemak terasa sudah dikenal. Ada nasi, sambal, lauk, dan pelengkap yang rasanya tidak terlalu jauh dari makanan sehari-hari di Indonesia. Mungkin itu sebabnya saya selalu cocok pada makanan ini.
Sementara minumnya adalah es teh. Yang rupanya di Malaysia disebut teh ais. Bukan es teh seperti di Indonesia yang biasanya berupa teh dengan gula dan es, melainkan teh susu yang disajikan dingin.
Saya sempat sedikit salah memahami ketika pertama kali memesan. Dalam bayangan saya, es teh ya es teh: teh manis yang diberi es batu. Ternyata di sini ada susu yang ikut bermain.
Menyusuri Kota
Dari rumah makan, saya menyusuri trotoar kota. Di banyak tempat, saya melihat bendera Malaysia dan bendera Sabah berkibar. Rupanya, hari-hari saya berada di sini adalah hari-hari menjelang peringatan kemerdekaan Malaysia. Suasana menjelang Hari Kebangsaan memang mulai terasa di berbagai sudut kota.
Di Malaysia, bendera nasional, Jalur Gemilang, bukanlah satu-satunya bendera yang sering berkibar di ruang-ruang publik. Setiap negara bagian juga memiliki benderanya sendiri. Sabah, misalnya, mempunyai bendera dengan warna dan lambangnya sendiri. Maka di sepanjang jalan Kota Kinabalu, saya tidak hanya melihat Jalur Gemilang, tetapi juga bendera Sabah yang berkibar berdampingan dengannya.
Bagi saya yang datang dari Indonesia, pemandangan ini cukup menarik. Di Indonesia, tentu saja kita sangat akrab dengan Merah Putih, tetapi tidak ada bendera provinsi yang penggunaannya terasa begitu menonjol dalam suasana kota, seperti yang saya lihat di Sabah.
Saya terus berjalan. Pertokoan berjajar di sepanjang jalan. Ada money changer, toko obat, toko pakaian, kedai makanan, minimarket, dan berbagai toko kecil lainnya. Tidak semuanya tampak baru. Beberapa bangunan memperlihatkan wajah Kota Kinabalu yang sudah lama menjadi kota perdagangan.
Orang-orang yang berlalu-lalang juga beragam. Kebanyakan adalah warga lokal, dengan wajah-wajah Melayu dan India yang cukup mudah saya kenali. Di antara mereka, ada pula para wisatawan yang berjalan dengan gaya yang hampir sama dengan saya: pakaian santai, ransel kecil, kamera atau ponsel di tangan, sesekali berhenti untuk melihat sesuatu.
Ada orang-orang kulit putih. Ada pula banyak wisatawan dari Tiongkok. Saya sempat mencoba menebak beberapa di antaranya mungkin berasal dari Korea atau Jepang. Tetapi untuk yang satu ini saya menyerah. Mata saya belum cukup terlatih untuk membedakan orang Asia Timur berdasarkan wajah saja. Saya hanya bisa melihat mereka sebagai sesama pelancong yang sedang menikmati Kota Kinabalu.
Di antara bangunan-bangunan pertokoan yang tampak modern dan aktivitas kota yang biasa, saya mulai menemukan jejak-jejak masa lalu. Ada bangunan lama, dinding yang sudah dimakan usia, dan beberapa bagian kota yang menyimpan cerita sejarah. Dari masa ketika Kota Kinabalu belum menjadi kota seperti sekarang.
Di ujung sebuah jalan, pandangan saya tertuju pada sebuah bangunan tinggi yang bentuknya meruncing ke sudut jalan. Dinding di sekitarnya dipenuhi mural dan tulisan grafiti. Ada tulisan yang menyebut Australia, juga beberapa catatan dan potongan informasi sejarah. Seperti sebuah buku yang halamannya terbuka untuk dibaca oleh orang-orang yang lewat.
Di depan gedung itu, di seberang jalannya, ada sebuah menara. Dengan jam besar yang menunjukkan waktu. Saya berhenti sejenak.
Menara Jam Atkinson
Waktu menunjukkan sekitar pukul dua siang. Matahari sedang terik-teriknya. Udara Kota Kinabalu terasa panas dan gerah setelah saya berjalan kaki menyusuri pertokoan. Saya berteduh sejenak sambil memperhatikan menara yang berdiri di hadapan saya.
Namanya jelas tertera di Google Maps yang saya jadikan acuan: Atkinson Clock Tower. Sekilas, bentuknya mengingatkan saya pada Jam Gadang di Bukittinggi, meskipun saya sendiri belum pernah ke sana.
Menara ini dibangun pada 1905 untuk mengenang Francis George Atkinson. Ia adalah seorang pejabat Inggris yang pernah menjadi District Officer di Jesselton. Ketika itu, Kota Kinabalu masih bernama Jesselton. Ketika itu, Jesselton berada di bawah pemerintahan Inggris di North Borneo.
Menara itu telah melewati banyak perubahan kota, termasuk masa pendudukan Jepang pada Perang Dunia II. Pada 1945, pasukan Australia datang ke Borneo dalam kampanye Sekutu untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Jepang. Jesselton menjadi salah satu kawasan yang kembali dikuasai Sekutu.
Membayangkan peristiwa masa lalu itu, sambil berdiri di tempat yang sekarang begitu tenang, terasa agak ganjil. Orang-orang dan kendaraan berlalu-lalang, toko-toko tetap buka. Tak banyak yang menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi bagian dari medan perang.
Bukit Sinyal
Tujuan saya berikutnya adalah Bukit Sinyal. Ini adalah bukit di tengah kota.
Dari bukit ini, kita bisa melihat pemandangan Kota Kinabalu dari ketinggian. Jaraknya dari Menara Jam Atkinson tak begitu jauh, hanya saja kita perlu berjalan dengan sedikit mendaki. Bisa menyusuri jalan utama di belakang menara, atau menaiki tangga yang menembus hutan kecil. Saya memilih menggunakan tangga.
Ada pepohonan yang menaungi tangga curam sepanjang sekitar dua ratus meter menuju puncak bukit. Membuat kita yang menapakinya mendapatkan keteduhan, terlindung dari teriknya matahari Sabah. Tak banyak orang melintas di sini. Saya hanya berpapasan dengan tiga orang wisatawan asing yang, sama seperti saya, sedang jalan-jalan di bukit ini.
Salah satu titik paling menarik di bukit ini adalah Observatory Tower. Tapi sayang, saat saya tiba di sana, kawasan menara pandang tersebut sedang direnovasi. Saya celingak-celinguk. Ternyata masih ada celah untuk masuk ke dalam meskipun sudah dipagari seng. Hehe! Saya masuk saja.
Yang ternyata di dalamnya, area publik tersebut sedang digunakan sebagai dapur dan tempat istirahat para pekerja renovasi.
Dari menara pandang ini, pemandangan Kota Kinabalu tampak jelas. Dengan latar depan pepohonan hijau, gedung-gedung dan bangunan kota tampak anggun. Di belakangnya, laut biru membentang. Sesekali, pesawat komersial terbang rendah melintas di atas kota, hendak mendarat atau baru lepas landas dari bandara yang lokasinya tak terlalu jauh.
Dari atas bukit ini, Kota Kinabalu terlihat seperti sebuah kota yang sedang tumbuh. Gedung-gedung, jalan raya, laut, dan pulau-pulau di kejauhan berpadu dalam satu pandangan. Tidak terlalu padat, tidak pula terasa sepi. Saya berdiri beberapa saat di sana, menikmati pemandangan sebelum kembali turun ke jalan kota.
Masjid Bandar Raya
Dari Bukit Sinyal, saya berjalan kaki kembali ke Menara Jam Atkinson. Kali ini saya tidak melalui tangga, melainkan menuruni bukit lewat jalan utama.
Panas Kota Kinabalu mulai terasa melelahkan. Saya pun memutuskan kembali ke hostel untuk beristirahat sejenak. Rencana saya berikutnya adalah mengunjungi masjid kota yang di Sabah lebih dikenal dengan sebutan Masjid Bandar Raya.
Istilah bandar raya sendiri digunakan di Malaysia untuk menyebut kota besar atau kota raya. Masjid Bandar Raya Kota Kinabalu berada cukup jauh dari pusat kota, sekitar lima kilometer. Rasanya akan lebih menyenangkan datang menjelang sore, ketika matahari mulai turun dan udara tidak lagi sepanas siang tadi. Sekalian berharap bisa melihat langit Kota Kinabalu berubah warna.
Maka, setelah cukup lama ngadem di ruangan ber-AC Homy Seafront, saya kembali memesan Grab. Perjalanan menuju masjid berlangsung sekitar beberapa puluh menit. Perlahan, bangunan-bangunan pusat kota berganti dengan kawasan yang lebih lapang. Sampai akhirnya saya tiba di halaman masjid.
Tetapi sebelum melihat-lihat masjid, saya justru tergoda oleh sesuatu yang merayu-rayu untuk dinikmati: es teler.
Di salah satu warung yang berada di area halaman masjid, saya membeli semangkuk es teler. Setelah seharian berjalan di bawah matahari Sabah, minuman dingin dengan potongan buah dan es itu terasa menyegarkan. Saya duduk sebentar, menikmatinya perlahan, sebelum mulai berkeliling.
Masjid Bandar Raya Kota Kinabalu merupakan salah satu masjid utama di kota ini. Bangunannya memiliki kubah dan ornamen bergaya Timur Tengah, dengan warna putih yang membuatnya terlihat mencolok. Tetapi yang paling menarik perhatian saya bukan bangunannya.
Masjid ini dikelilingi kolam yang cukup luas. Dari tepi kolam, bangunan masjid terlihat seolah mengapung di atas air. Menjelang sore, cahaya matahari tidak lagi menyengat. Pantulannya jatuh lembut di permukaan kolam. Sementara bayangan bangunan masjid ikut bergoyang mengikuti riak air.
Saya berjalan perlahan mengelilinginya. Suasana di sini juga jauh lebih tenang dibandingkan pusat kota. Beberapa orang datang untuk beribadah. Sementara sebagian lainnya tampak sekadar duduk atau menikmati suasana. Saya sendiri datang sebagai pelancong, menikmati suasana tempat ibadah di pinggiran kota.
Ketika gelap perlahan mulai turun, saya memesan Grab lagi. Tujuannya kembali ke pusat kota. Menuju sebuah kawasan yang sudah saya incar untuk makan malam: Todak Waterfront. Perjalanan dengan taksi daring sedikit terhambat akibat kemacetan jam pulang kerja. Pengemudi Grab mengambil jalan memutar, melintasi kembali Bukit Sinyal yang baru saja saya kunjungi beberapa jam lalu.
Pasar Malam Todak
Malam Kota Kinabalu baru saja dimulai. Saya turun dari kendaraan di sebuah pertigaan di jalan utama tepi pantai. Patung ikan marlin menjadi penanda di tengah bundaran pertigaan. Sementara di seberangnya, dekat pantai, berdiri instalasi huruf bertuliskan “I Love KK”.
Suasananya ramai.
Sepanjang kawasan tepi pantai ini memang menjadi pusat keramaian sejak sore hingga malam. Tadi siang, saya sebenarnya sudah sempat berjalan-jalan di sekitar sini. Ada pasar raya, pasar suvenir dan kerajinan, hingga pasar malam yang menjual beraneka macam kuliner laut. Berbagai keripik dan kerupuk hasil laut juga mudah ditemukan. Ada ikan asin dan dendeng laut dalam berbagai ukuran.
Ya, Kota Kinabalu, selain gunungnya, juga dikenal dengan hasil lautnya.
Saya pun menyusuri lapak-lapak pedagang yang memajang berbagai jenis ikan segar. Hampir semua yang saya lewati menawarkan dagangan mereka, merayu saya untuk mampir.
Hingga seorang pedagang berhasil meluluhkan saya.
Awalnya ia mengajak ngobrol.
“Dari mana?”
“Indonesia.”
Di situlah jeratannya berhasil.
“Wah! Saya juga dari Indonesia. Dari Makassar,” sambungnya.
Saya tertarik melanjutkan percakapan. Dari obrolan singkat itu, tak ayal membuat saya mengambil keputusan: memilih seekor ikan untuk dibakar.
Jamal. Begitu namanya. Lelaki paruh baya yang mengaku berasal dari Makassar ini sudah menjadi warga Malaysia. Ia memang lahir dan berasal dari Sulawesi. Sanak saudaranya masih banyak di sana. Dalam waktu tertentu, ia masih sering berkunjung ke Indonesia untuk menemui keluarga dan kerabatnya.
Obrolan kami pun menjadi semakin akrab. Mungkin karena sama-sama orang Indonesia, meskipun kini hidup di dua negara yang berbeda.
Saya memilih sebuah meja. Meja-meja lain sebagian besar kosong. Hanya ada satu lainnya yang ditempati dua orang. Tak lama kemudian pesanan saya datang. Baru beberapa suapan, satu per satu pengunjung mulai berdatangan.
Warung Jamal yang semula terlihat sepi mendadak menjadi ramai.
Wah! Jangan-jangan saya membawa energi positif ke warung ini. Datang seorang, lalu pembeli lain ikut berdatangan. Hehe!
Entah kebetulan atau memang sedang ramai-ramainya waktu makan malam, saya memilih untuk menganggapnya sebagai keberuntungan Jamal.
Oh ya. Ikan bakar ini adalah salah satu yang terenak yang saya nikmati selama perjalanan selama ini.
Di warung Jamal, ikan segar itu dibakar dengan terlebih dahulu dibungkus daun pisang. Tanpa banyak bumbu. Sekilas seperti pepes. Setelah matang, dagingnya tetap putih bersih dan terasa manis alami. Ikan itu kemudian saya santap dengan mencocolnya ke sambal spesial yang disajikan.
Wuih! Nikmat sekali. Apalagi disantap bersama nasi putih yang masih mengepul hangat.
Saya memang suka ikan seperti ini. Tidak perlu terlalu banyak bumbu. Biarkan ikan segarnya yang berbicara. Sambal yang kemudian menyelesaikan urusannya.
Hingga kemudian, malam pun semakin larut. Saya meninggalkan warung Jamal dan kembali berjalan menyusuri tepi pantai. Lampu-lampu kota memantul di permukaan laut, sementara kawasan Todak semakin ramai oleh orang-orang yang menikmati malam.
Penutup Malam
Hari pertama saya di Kota Kinabalu akhirnya selesai. Saya Kembali ke Homy Seafront untuk beristirahat. Besok, perjalanan akan berlanjut meninggalkan kota. Menuju Kundasang, ke kaki Gunung Kinabalu. []
I Komang Gde Subagia | Kota Kinabalu, Agustus 2026
Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.