Namanya Sungai Melawi. Semua warga lokal menyebutnya demikian. Mengalir dari pegunungan. Hulunya di wilayah Kabupaten Melawi, di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Tengah. Tetapi di peta, ia tertulis sebagai Kapuas Kanan atau Kapuas saja. Di Kota Sintang, alirannya bertemu dengan Kapuas satunya lagi: Kapuas Kiri. Dua nama Kapuas Kanan dan Kiri ini sedikit membingungkan saya.
Naik Speedboat
Saya melangkahkan kaki dengan sedikit berjinjit ketika melintasi batang kayu yang tergenang air. Menghindari sepatu basah. Dermaga sungai di pinggiran Kota Nanga Pinoh ini tak tampak istimewa. Hanya gubuk-gubuk kayu sederhana yang mengapung di atas air, dengan berbagai sampah yang tersangkut di tepiannya. Terkesan kumuh dan kotor. Sementara perahu-perahu speedboat terparkir di sekitarnya.
Kami menyewa empat speedboat. Termasuk pengemudi, masing-masing speedboat terisi lima hingga enam orang. Ditambah tas dan barang-barang bawaan juga tentunya. Saya di dalam speedboat bersama Mbok Ketut, Ibu Dian, Putri, dan Bunito. Pengemudinya bernama Junaedi, tampak dingin dan tak banyak bicara. Tapi ia terlihat lihai memajukan speedboat ke tengah sungai, melakukan sedikit manuver membuat satu putaran penuh.
"Wuih...! Ini nih serunya kalau ke Bukit Raya" ujar Ibu Dian ketika mesin sudah menyala dan speedboat mulai bergerak ke arah hulu. Riak yang ditimbulkan mesin di permukaan air membentuk gelombang. Seperti ombak yang bergulung-gulung membuyarkan sungai yang awalnya tenang. Jika speedboat berpapasan dengan speedboat lain, maka guncangan karena gelombang itu pun tak terelakkan. Awalnya kaget, tapi lama-lama jadi terbiasa.
Empat speedboat yang kami tumpangi ini pun melaju beriringan. Kecepatannya: mantap! Ngebut semua. Saya tak melihat ada speedometer. Tapi perkiraan saya, rasanya masing-masing dari kami melaju lebih dari enam puluh kilometer per jam. Hembusan angin pun otomatis menjadi begitu kencang. Topi yang saya kenakan, saya tutup dengan penutup kepala jaket windproof. Jika tidak, ia akan mudah diterbangkan.
Sepuluh menit berselang, keseruan menaiki speedboat menyusuri Sungai Melawi mulai berubah jadi membosankan. Suasananya begitu-begitu saja. Air sungai yang kecoklatan, angin berhembus kencang, dan matahari pagi yang berajak siang makin terik. Selain itu, ruang tempat duduk di dalam speedboat begitu sempit. Tak ayal, beberapa kali saya mengalami kram. Dan perjalanan dengan speedboat ini harus ditempuh kurang lebih selama empat hingga lima jam.
Anak Kapuas
Guncangan mesin speedboat dan pemandangan air kecokelatan terus berulang. Lama-lama, suasana ini terasa membosankan. Pikiran saya pun mulai mengembara. Di tengah pegal yang menjalar, saya mencoba mengingat kembali cerita tentang Sungai Melawi. Sebagian pernah saya pelajari sebelum perjalanan dimulai. Sebagian lagi saya baca ulang ketika menyempurnakan catatan ini.
Melawi bukan sekadar jalur transportasi air yang membelah Kalimantan Barat. Sungai ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di sepanjang alirannya. Sejarah dan legenda tumbuh di tepian sungai ini. Menurut cerita rakyat setempat, nama Melawi berkaitan dengan asal-usul suatu suku dan kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di wilayah tersebut.
Konon, kisah itu bermula dari sepasang suami istri bernama Kumang dan Kelin. Mereka hidup sederhana di tepi hutan, dekat sebuah sungai di Kalimantan Barat. Suatu ketika, keduanya menyusuri sungai dengan sampan. Sang suami kemudian membelah rotan untuk memperbaiki tangguk ikannya.
Dalam bahasa setempat, kegiatan membelah rotan itu disebut melahwi. Dari kata inilah, konon, nama Sungai Melahwi berasal. Seiring waktu, pelafalannya berubah menjadi Melawi.
Dari penelusuran tentang sungai-sungai di Kalimantan Barat, saya juga menemukan hal lain yang cukup menarik. Sungai Melawi ternyata merupakan anak Sungai Kapuas. Saya sempat bertanya-tanya. Bukankah keduanya sama-sama sungai besar? Lalu, mengapa di Google Maps nama yang tercantum justru Kapuas?
Usut punya usut, penentuan sungai induk dan anak sungai dalam geografi tidak dilakukan asal tunjuk. Ukuran atau lebar sungai saja tidak cukup menjadi patokan. Bahkan ketika dua sungai tampak sama-sama besar di titik pertemuan, tetap ada dasar untuk menentukan mana yang menjadi induk dan mana yang menjadi anak sungai.
Penentuannya mempertimbangkan sejumlah karakteristik fisik, seperti panjang aliran dan debit air. Dalam hal ini, Sungai Kapuas memiliki aliran yang lebih panjang dan debit yang lebih besar daripada Sungai Melawi. Karena itu, Kapuas ditetapkan sebagai sungai induk, sedangkan Melawi menjadi anak sungainya.
Suasana di Perjalanan
'Speedboat' melaju kencang. Saya duduk meringkuk, merasakan sensasi “ngeri-ngeri sedap”. Sungai Melawi begitu luas. Airnya kecokelatan, sementara kedalamannya tak bisa saya perkirakan. Yang membuat saya heran, tak ada fasilitas pelampung yang bisa digunakan penumpang. Jika terjadi sesuatu, misalnya perahu terbalik atau tenggelam, kemampuan berenang menuju tepian mungkin menjadi penentu keselamatan.
Di negeri kita, masih banyak sarana transportasi umum yang tampaknya belum menempatkan keselamatan sebagai prioritas. Ketersediaan pelampung di speedboat ini salah satu contohnya. Fungsinya sama seperti helm saat kita mengendarai sepeda motor. Keduanya merupakan perlindungan jika terjadi kecelakaan. Memang, rasanya seperti rugi ketika alat keselamatan itu sudah dibawa, tetapi tidak pernah terpakai. Namun, bukankah justru itu yang kita harapkan? Perjalanan berjalan lancar dan kita tiba dengan selamat.
Saya mencoba mengobrol dengan Junaedi, sang pengemudi. Wajahnya tetap tampak dingin. Ia hanya menjawab seperlunya setiap kali saya mengajukan pertanyaan. Junaedi berasal dari Serawai, sebuah kecamatan di sepanjang aliran Sungai Melawi. Daerah itulah tujuan kami pagi ini. Setiap hari, ia menyusuri sungai ini untuk mencari nafkah sebagai pengemudi speedboat.
Ada satu hal yang cukup mengganggu perjalanan. Sesekali, Junaedi mematikan mesin untuk membersihkan sampah yang melilit baling-baling. Kadang, sampah itu sulit dilepaskan sehingga mesin mati cukup lama. Perahu pun bergoyang dan perlahan terbawa arus. Saya sempat deg-degan. Namun, lama-kelamaan saya mulai terbiasa. Dalam satu jam saja, baling-baling bisa tersangkut sampah empat hingga lima kali.
Sampah memang menjadi salah satu persoalan yang terlihat jelas di Sungai Melawi. Selain membuat baling-baling tersangkut, sampah-sampah besar berupa kayu-kayu gelondongan yang hanyut juga menjadi ancaman. Speedboat yang melaju kencang berisiko menabrak benda-benda itu jika pengemudinya terlambat menghindar. Dalam situasi seperti ini, kelihaian Junaedi bermanuver patut diacungi jempol. Matanya seperti selalu awas membaca rintangan di kejauhan.
Di sepanjang perjalanan, tepian sungai menampilkan pemandangan yang silih berganti. Perkampungan muncul, kemudian berganti hamparan pepohonan hijau. Saya tak selalu bisa membedakan mana hutan dan mana perkebunan. Tak lama kemudian, perkampungan lain kembali terlihat. Begitu seterusnya.
Hampir setiap kampung memiliki tangga yang mengarah ke sungai. Beberapa perahu terparkir di sekitarnya. Pemandangan ini terasa wajar. Sungai seolah menjadi jalan raya bagi masyarakat Kalimantan. Perahu-perahu kecil yang tertambat di tepian berperan seperti sepeda motor dan mobil di jalan darat. Sungai bukan sekadar bentang alam yang kami lewati. Ia juga menjadi bagian dari keseharian penduduknya.
Di antara rumah-rumah warga, saya melihat bangunan tinggi dengan jendela seadanya. Sekilas, bentuknya tampak berbeda dari rumah tinggal biasa. Belakangan saya mengetahui bahwa bangunan seperti itu merupakan rumah walet.
Bagi sebagian masyarakat di tepian Melawi, budi daya walet menjadi salah satu sumber penghasilan. Bangunan tersebut dirancang untuk menarik burung walet agar bersarang di dalamnya. Sarang yang terbentuk kemudian dipanen dan dijual. Sarang walet memiliki nilai ekonomi. Ia bisa digunakan sebagai bahan pangan. Harganya bisa cukup tinggi. Burung-burung walet secara alami mencari makan berupa serangga kecil. Mungkin lalat, nyamuk, atau serangga bersayap lainnya. Di aliran sungai ini, areanya cocok untuk itu: dekat dengan ekosistem perairan terbuka yang berpadu dengan hutan.
Tambang dan Sawit
Selain perkampungan, saya melihat banyak lokasi penambangan di tepian sungai. Peralatan dan mesin-mesin tambang tampak berserakan. Tali-tali membentang di antara tanah terbuka. Di beberapa tempat, bekas galian menyisakan permukaan tanah berwarna cokelat kemerahan.
Dari bentuknya, saya menduga sebagian lokasi itu merupakan tambang emas. Aktivitas pertambangan emas memang dikenal di sejumlah wilayah pedalaman Kalimantan Barat, termasuk kawasan Kabupaten Melawi dan daerah aliran sungainya. Sebagian kegiatan berlangsung secara tradisional atau menggunakan peralatan sederhana. Entah berizin yang sudah melalui amdal atau tidak. Sepertinya sih, tidak.
Bagi masyarakat, tambang emas bisa menjadi sumber penghasilan. Hasilnya mungkin lebih cepat dirasakan daripada menunggu kebun menghasilkan panen. Namun, ada harga yang harus dibayar ketika kegiatan itu mengabaikan lingkungan. Penggalian tentu bisa mengubah bentang alam. Bisa mempercepat erosi. Lumpur serta sedimen yang masuk ke sungai meningkatkan kekeruhan air. Dalam pengolahan emas, penggunaan merkuri juga menjadi persoalan serius. Jika terlepas ke lingkungan, zat beracun ini dapat mencemari air dan rantai makanan.
Dari atas speedboat, saya hanya bisa melihat jejak aktivitasnya. Saya tidak tahu bagaimana setiap lokasi beroperasi, siapa pemiliknya, atau apakah kegiatan tersebut legal atau tidak. Namun, tanah terbuka dan peralatan yang berserakan itu cukup membuat saya bertanya-tanya tentang dampaknya terhadap sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Saya sering menjelajahi Google Maps melalui citra satelit. Salah satu yang kerap saya amati adalah tutupan hutan Kalimantan. Dari sana, saya menemukan banyak bidang tanah terbuka yang tampak seperti bopeng. Mirip bekas luka pada wajah manusia. Semakin diperbesar, semakin banyak pula bagian permukaan bumi yang terlihat terkoyak. Apa yang saya saksikan di sepanjang Sungai Melawi ini terasa seperti potongan kecil dari perubahan bentang alam yang lebih luas.
Saya tak habis pikir melihat begitu banyak lokasi penambangan. Bagaimana kegiatan seperti ini bisa berlangsung, terutama jika sebagian di antaranya tidak memiliki izin? Saya sedikit pesimis dengan penegakan hukum. Aturan saja tidak cukup jika pelanggaran terus berulang. Jika hukum hanya tegas di atas kertas, sementara kerusakan terus berlangsung di lapangan, siapa yang sebenarnya diuntungkan?
Tak hanya tambang, sesekali saya juga melihat deretan pohon sawit. Dari sungai, tepian daratan tampak hijau dan rimbun. Namun, di balik lapisan pepohonan itu, terlihat area yang lebih terbuka. Saya menduga ada perkebunan sawit di sana. Beberapa bagian tepian bahkan memiliki bukaan yang memungkinkan kapal merapat. Mungkin untuk mengangkut hasil perkebunan. Dugaan itu kemudian saya cocokkan dengan citra Google Maps. Dari sana, terlihat bahwa sebagian kawasan di sekitar sungai memang berupa perkebunan sawit.
Membayangkan bentang alam ini pada masa lalu membuat saya bertanya-tanya. Sebelum perkebunan meluas, kawasan tersebut tentu memiliki tutupan hutan yang berbeda. Hutan yang menjadi habitat beragam satwa dan sumber penghidupan masyarakat Dayak, termasuk untuk berburu serta berladang. Kini, di sejumlah tempat, pepohonan hutan telah berganti menjadi barisan sawit yang teratur.
Perkebunan sawit memang menghasilkan komoditas bernilai ekonomi. Dan setahu saya, kebanyakan dimiliki dan dikelola oleh perusahaan-perusahaan besar milik konglomerat-konglomerat di kota. Sebagian kecilnya mungkin jadi sumber penghidupan warga sekitar. Namun, dampaknya terhadap hutan harus diperhitungkan. Hutan alam memiliki keragaman tumbuhan dan satwa serta fungsi ekologis yang tidak bisa begitu saja digantikan oleh perkebunan monokultur.
Lalu, saya teringat pernyataan Presiden Prabowo. Ia mengatakan, "Kan sawit pohon juga" sewaktu ditanya deforestasi di Kalimantan. Haha! Tentu saja sawit memang pohon. Namun, persoalan tidak sesederhana itu. Yang jadi pertanyaan bukan sekadar apakah sawit termasuk pohon. Tetapi apa yang tumbuh sebelumnya? Apa yang hilang ketika hutan dibuka? Bagaimana perubahan itu berpengaruh pada lingkungan serta kehidupan masyarakat di sekitarnya?
Rest Area Tepi Sungai
Setelah beberapa lama melaju, speedboat kami menepi di sebuah dermaga, di sebuah wilayah yang bernama Nanga Luang. Ini adalah tempat mengisi bensin. Juga tempat memberi kesempatan pada penumpang untuk beristirahat. Berupa bangunan terapung sederhana. Drum-drum menjadi pelampung, sementara kayu-kayu disusun sebagai lantai dan bagian bangunannya. Di tengah perjalanan panjang menyusuri Sungai Melawi, tempat seperti ini menjadi persinggahan yang penting.
Saya sebenarnya sudah membawa bekal sarapan berupa nasi kuning yang dibeli di Nanga Pinoh. Namun, begitu melihat warung di tempat pengisian bensin ini, selera makan saya muncul lagi. Beberapa menu yang tersaji tampak menggugah selera. Ada ikan patin khas Kapuas, juga sayur-sayuran yang terlihat segar. Rasanya sayang kalau dilewatkan begitu saja. Akhirnya, saya memutuskan makan lagi meskipun bekal masih ada.
Saya menikmati hidangan di warung itu sambil mengisi ulang tumbler dengan teh hangat. Sambil ngobrol cekakak-cekikik bersama teman-teman seperjalanan. Hal-hal sederhana semacam ini terasa menyenangkan, apalagi setelah berjam-jam duduk di ruang speedboat yang sempit, diterpa angin, dan sesekali terguncang gelombang.
Selesai makan, saya mencari toilet. Dan jangan bayangkan toilet seperti yang biasa kita temui di kota. Tidak ada urinoir atau kloset keramik. Fasilitasnya hanya sebuah bilik kecil berlantai kayu. Di bawah lantainya, air Sungai Melawi mengalir seperti biasa.
Di lantai kayu itu terdapat sebuah lubang. Itulah tempat untuk membuang hajat. Ada pula ember yang diikat dengan tali, digunakan untuk mengambil air dan membasuh diri setelahnya. Tali itu bukan sekadar hiasan. Tanpanya, ember bisa terlepas dan hanyut terbawa arus sungai.
Jujur saja, awalnya saya merasa agak canggung. Ada sensasi aneh ketika menggunakan toilet dengan sungai yang mengalir tepat di bawah kaki. Fasilitasnya jauh dari standar toilet perkotaan. Namun, di tempat seperti ini, orang memanfaatkan apa yang tersedia dan menyesuaikan diri dengan kondisi sekitar.
Meski begitu, saya jadi berpikir tentang ke mana limbah dari toilet semacam ini berakhir. Sungai Melawi yang merupakan bagian penting kehidupan masyarakat di sepanjang alirannya, ternyata ya begini. Airnya menjadi sumber kehidupan, juga menjadi tempat pembuangan. Fasilitas sederhana mungkin bisa dimaklumi karena keterbatasan tempat. Tetapi membiarkannya kotor seperti ini, tentu harus dipikirkan solusinya.
Setelah beristirahat, makan, dan mengisi ulang bekal minum, kami bersiap melanjutkan perjalanan. Bensin sudah terisi. Penumpang kembali ke speedboat masing-masing. Sungai Melawi masih terbentang di depan, dan Serawai belum juga kami capai.
Persimpangan
Selepas beristirahat di Nanga Luang, kami kembali melanjutkan perjalanan. Pemandangannya masih serupa. Air sungai kecokelatan, perkampungan yang sesekali muncul di tepian, lalu hamparan pepohonan yang memanjang mengikuti aliran sungai. Tak banyak yang berubah. Bedanya, matahari semakin tinggi. Pagi beranjak siang, dan sengatannya mulai terasa lebih menyengat.
Untungnya, speedboat yang kami tumpangi dilengkapi atap yang bisa dibuka dan ditutup. Sejak pagi, atap itu dibiarkan terbuka. Namun, ketika terik mulai terasa, Junaedi memasangnya untuk melindungi kami dari sinar matahari. Ada satu konsekuensi: udara di dalam perahu menjadi lebih gerah. Angin yang sejak tadi menerpa wajah kini tertahan oleh penutup tersebut.
Saya mencari cara untuk mengatasinya. Sesekali, saya memiringkan kepala ke samping dan membuka sedikit celah pada penutup. Angin pun menyusup masuk, mengusir gerah meski hanya sebentar. Lumayan. Perjalanan masih berlangsung, sementara duduk berjam-jam di ruang sempit membuat tubuh semakin pegal.
Setelah beberapa jam menyusuri sungai, akhirnya kami tiba di Serawai. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Sebelum perahu merapat, menara-menara telekomunikasi terlihat di antara bangunan di tepian. Penanda yang cukup jelas bahwa kami telah mendekati sebuah permukiman yang lebih ramai.
Speedboat perlahan mendekati dermaga. Mesinnya melambat, lalu perahu merapat ke tepian. Satu per satu, kami melangkah keluar. Lalu bekerja sama menurunkan dan membawa barang-barang bawaan. Setelah perjalanan panjang di atas air, rasanya begitu lega bisa kembali berdiri di daratan.
Adul, sang koordinator tim, kemudian memberi tahu rencana kami. Kami akan beristirahat sekitar dua jam di Serawai. Waktunya bisa digunakan untuk makan siang, menunaikan salat Jumat bagi anggota tim yang muslim, atau sekadar berjalan-jalan melihat suasana sekitar.
Untuk sementara, perjalanan menyusuri Sungai Melawi berhenti di sini, di Serawai. Perjalanan menuju Bukit Raya masih menunggu di depan, dengan menyusuri sungai lagi. Hanya saja kali ini bukan dengan speedboat, tetapi dengan perahu klotok sederhana yang lebih kecil. []
I Komang Gde Subagia | Melawi, Desember 2025

Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.