Aliran Kapuas Kecil di depan saya terus mengalir. Entah berapa juta kubik air itu melimpah dari hulu. Saya duduk termenung di tepian taman, memperhatikan gelombangnya yang kecil, keruh, dan kecoklatan. Lalu, refleks, tangan saya merogoh kantong dan mengambil hape. Kebiasaan kecil yang entah sejak kapan melekat. Setiap kali bengong, dorongan untuk memeriksa layar di benda kecil itu muncul seperti candu.
Salah satu sisi Rumah Radakng di Pontianak.Rumah Rakdang
"Bang! Posisi di mana? Kami mau ke Radakng"
Sebaris pesan WhatsApp masuk. Dari Kafitri. Ia bersama Ferli, berburu kuliner di seputaran Pontianak kala saya luntang-lantung di Kapuas Waterfront.
Radakng yang disebutnya itu adalah salah satu jenis rumah adat Dayak di Kalimantan Barat. Di daerah lain, seperti pada masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, disebut Betang. Tapi secara umum, Radakng atau Betang ini adalah rumah panggung yang panjang. Karena bentuknya yang panjang itulah, ia juga disebut rumah panjang. Tersekat-sekat menjadi beberapa bagian dan bisa dihuni banyak orang. Tiang penopang panggungnya tinggi, yang ditujukan untuk mengantisipasi banjir dan menghindari bahaya binatang buas. Dan untuk memasukinya, ada tangga berupa kolom memanjang yang harus dititi.
Di Pontianak, rumah adat ini dibangun oleh Pemerintah Kalimantan Barat pada tahun 2013 sebagai destinasi wisata. Lalu sempat pula digadang-gadang oleh Menparekraf, Sandiaga Uno, yang mengatakan bahwa rumah adat semacam ini adalah bagian dari cultural tourism, tempat para pejalan merasakan pengalaman, kenangan, sekaligus belajar tentang kebudayaan.
Di kampung-kampung masyarakat Suku Dayak di hulu-hulu Kapuas yang bermuara di Pontianak, setahu saya, rumah-rumah panjang seperti ini masih ada dan dihuni, walaupun banyak kabar yang mengatakan rumah-rumah itu sudah mulai ditinggalkan. Mungkin karena alasan inilah Rumah Radakng di kota dibangun, demi tujuan kenang-kenangan, sementara manusianya tak lagi cocok untuk menempatinya. Adat dan tradisi masa lalu terlihat indah hanya sebagai nostalgia, bukan untuk dijalani sebagai bagian yang menyatu dalam cara hidup masa kini. Seperti membolak-balik kisah kenangan akan mantan kekasih di masa lalumu, bukan? Cieh!
Melayu di Kalimantan Barat
Tak jauh dari Rumah Radakng ini, ada rumah adat lain. Yaitu Rumah Melayu.
Di Kalimantan Barat, etnis terbesar setelah Dayak adalah Melayu. Mereka menghuni wilayah-wilayah pesisir seperti di Pontianak ini. Kisahnya berawal dari didirikannya kesultanan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie dari Arab di abad ke-18, seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya: Kota Kuntilanak. Tapi pertanyaannya, kenapa kesultanan ini kemudian dikenal sebagai Kesultanan Melayu, bukan Arab?
Di Nusantara, walaupun "Melayu" adalah istilah untuk merujuk pada suku atau ras, secara lebih luas ia merupakan kategori budaya-politik. Seseorang dianggap Melayu jika ia beragama Islam, menggunakan bahasa Melayu, mengikuti adat Melayu, dan hidup dalam struktur politik atau Kesultanan Melayu. Maka jika seseorang itu dari Arab, lalu ia menganut Islam dan beradat Melayu, ia adalah orang Melayu. Jika Minang, Islam, beradat Melayu, maka ia orang Melayu. Jika Bugis, Islam, beradat Melayu, maka ia juga orang Melayu.
Saya, Ferli, dan Kafitri berjalan sekitar dua ratusan meter menuju Rumah Adat Melayu yang berlokasi di satu area yang sama dengan Rumah Radakng. Rumah adat yang didominasi warna cokelat dan kuning itu terlihat sepi. Ia tutup. Sepertinya karena kunjungan kami bertepatan dengan hari libur. Kami hanya berfoto-foto saja di pelatarannya, lalu celingak-celinguk seperti kucing tetangga yang masuk ke halaman rumah orang, melihat-lihat sekeliling di lorong-lorong yang tak banyak memiliki petunjuk informasi.
Tak hanya di Pontianak, di banyak kota di Indonesia, museum dan rumah adat seperti ini terlihat serupa. Jarang ramai dan cenderung tampak tak menarik. Bangunan dan isinya dibangun dengan niat baik, walaupun banyak kekurangan, lalu perlahan ditinggalkan usai diresmikan.
Di kota, tempat-tempat yang seharusnya bisa dijadikan sebagai sarana belajar itu rasanya sering kalah bersaing dengan mal dan kafe. Apalagi di bawah terik matahari yang panas, berada di ruang-ruang terang berpendingin udara, penuh pilihan kuliner, harga-harga barang yang didiskon; tentu lebih menarik. Ngapain ke museum atau rumah adat? Jangan-jangan di sana ada hantu atau kuntilanaknya.
Hutan Kota
Hari makin beranjak siang dan panas. Kami meninggalkan kawasan rumah adat. Selanjutnya, mencari yang segar-segar adalah ide yang paling masuk akal. Tapi tawaran Kafitri, untuk istirahat minum es krim di sebuah kedai es legendaris kota ini, langsung buyar. Tutup. Lagi-lagi hari libur penyebabnya. Lagipula siapa suruh jalan-jalan di hari libur? Pemilik kedai dan karyawannya juga butuh libur, untuk sekadar melepas lelah atau berdoa di Hari Natal.
Kami pun berpisah, kembali ke hotel dan kamar masing-masing. Sambil minum segelas jus buah di sebuah gerai toko samping hotel yang sejuk, saya membuka-buka layar hape, bertanya pada ChatGPT, mencari rekomendasi tempat menarik lain di Pontianak. Rekomendasi yang saya dapatkan adalah Taman Digulis. Itu adalah ruang terbuka hijau yang sejuk dan asri di tengah kota. Sebuah hutan buatan dengan monumen peringatan tokoh-tokoh lokal yang pernah dibuang ke Digul, yang jika kita ke pusat kota dari bandara, pasti melaluinya.
Sebentar, tunggu dulu! Hutan kota di Pontianak. Apa ini tidak salah? Jauh-jauh ke Kalimantan, kamu menyarankan untuk berwisata ke hutan kota? Bukankah kotanya sendiri ada di tengah hutan, wahai ChatGPT sang pemberi informasi? Saya jadi berpikir lagi. Pertanyaan saya itu mungkin relevan jika ditanyakan di masa yang lampau. Sekarang ini, bukankah Pontianak tidak lagi berada di dalam hutan yang dihuni banyak kuntilanak? Melainkan ia berada di tengah kebun-kebun sawit dan lahan-lahan pertambangan?
Kala luasan hutan di Kalimantan kian hari kian menyusut, saat pemanasan global jadi isu di mana-mana, ketika banjir bandang dan tanah longsor sering terjadi di lereng-lereng gunung, bersamaan dengan berita tentang satwa-satwa liar yang terusir dari rumahnya di rimba belantara dan kemudian punah; adanya hutan kota ini seperti media penanda sisa-sisa saja. Betapa pintar dan bijaksananya manusia. Kita punya hutan asli yang kaya raya dengan beragam isinya, kini membuat hutan buatan di kota. Mantap sekali!
Saat melewati Taman Digulis, saya memang melihat pepohonan yang tumbuh di sana begitu rindang. Lokasinya di dekat Kampus Universitas Tanjungpura, perguruan tinggi tertua di provinsi ini. Monumen yang lebih dikenal dengan nama Tugu Digulis itu berposisi di tengah perempatan jalan, berbentuk bambu-bambu runcing raksasa. Melintas sekilas di sampingnya, sejenak seperti melambatkan detak jantung dari hiruk-pikuk kota yang ramai.
Bu Yayah dan Bunito
Tepat tengah hari, saya mulai check-out dari hotel. Bersama Asyraf, Ferli, dan Kafitri, kami bertemu dengan dua rekan sependakian lainnya di lobi: Yayah Purwaningsih dan Bunito Wen.
Yayah Purwaningsih, yang saya panggil Bu Yayah, adalah kenalan lama saya. Kami pernah mendaki bareng beberapa tahun sebelumnya, yaitu ke Gunung Argopuro di Jawa Timur. Kini dipertemukan lagi dalam perjalanan ke Bukit Raya, gunung tertinggi di Kalimantan bagian Indonesia.
"Apa kabar?" sapanya dengan ramah ketika kami berjabat tangan. Seru juga rasanya, di kota yang baru kita jejaki dan masih terasa asing, kita berjumpa dengan orang-orang yang sudah tak asing. Ada rasa aman yang sulit dijelaskan, mungkin karena disatukan rasa senasib sebagai pendaki dan akan berkegiatan yang sama untuk beberapa hari ke depan.
Satu lagi yang saya jumpai di lobi adalah Bunito Wen. Ia seorang Tionghoa yang sebenarnya berasal dari Pontianak. Hanya saja, ia sudah lama menetap di Jakarta.
Pontianak sejak lama memang kota yang multikultural. Selain Melayu dan Dayak yang menjadi lapisan utamanya, komunitas Tionghoa juga telah hadir dan menetap turun-temurun, terutama di kawasan perdagangan, pasar, dan tepi-tepi sungai. Jika Dayak dominan di pedalaman, maka Tionghoa dan Melayu banyak di kota-kota pesisir.
Dibandingkan kami yang lain, Bunito terlihat sedikit pendiam dan kalem. Itu mungkin karena kami baru saling mengenal. Tapi nantinya, saya mengetahui bahwa ia sudah banyak berkelana. Satu ceritanya yang membuat saya paling antusias adalah kisahnya ke Lobuche East, salah satu puncak gunung di Himalaya yang berselimut es. Sebagai pendaki, tempat-tempat seperti itu tentu sangat memikat untuk diziarahi.
Jeruk Besar Jeruk Kecil
Saya, Asyraf, Kafitri, dan Bu Yayah kemudian menyewa taksi daring untuk beberapa jam ke depan. Sementara Ferli dan Bunito naik motor. Kami sepakat untuk makan siang bersama. Dengan berbagai halangan karena tempat kuliner tujuan utama tutup, yang lagi-lagi disebabkan oleh hari libur, kami merapat di sebuah restoran lalu memesan makanan serta minuman untuk melepas dahaga.
Satu hal baru yang terdengar di telinga saya adalah tentang pilihan minuman jeruk. Di Pontianak dan daerah sekitarnya, saya mendengar pertanyaan yang sama ketika memesan es jeruk. "Es jeruk besar atau kecil?" tanya pramusaji. Karena dahaga yang begitu sangat, pilihan saya adalah yang besar.
Namun yang datang ternyata disajikan dalam gelas biasa yang tak besar-besar amat. Pengalaman serupa terulang saat saya melanjutkan perjalanan ke kaki gunung dan kelak ketika singgah ke Singkawang. Di setiap tempat itu, es jeruk besar yang disajikan selalu tampil dengan ukuran yang sama: standar, nyaris tak memberi kesan “besar”.
Belakangan saya baru paham. Usut punya usut, besar dan kecil yang dimaksud bukanlah ukuran gelas, melainkan ukuran buah jeruknya: jeruk besar atau jeruk kecil. Ketika sudah jadi minuman, ukurannya tak terlihat lagi. Saya benar-benar salah paham karenanya.
Kopi Asiang
Dari restoran, saya bertukar tempat dengan Bunito. Saya berboncengan naik motor bersama Ferli. Sementara yang lain masih ngadem di ruang restoran ber-AC dan akan lanjut ke titik pertemuan, saya dan Ferli nyari kopi.
Di Pontianak, ada banyak kedai kopi legendaris. Salah satunya adalah Kopi Asiang. Dari logo kedainya tertulis: sedjak 1958. Kedai ini jadi terkenal karena peracik kopinya bertelanjang dada. Gaya yang unik. Itu dilakukan karena alasan kenyamanan di tengah udara yang panas. Lama-lama malah menjadi ciri khas yang diingat pelanggan.
Saat menikmati secangkir kopi susu, Ferli berkelakar, "Kopi legendaris nikmat yang ada rasa asem-asemnya." Kami tertawa seolah sama-sama paham apa maksud pernyataannya itu. Dalam seruputan seteguk dua teguk ke mulut, saya membayangkan Koh Asiang yang gerah dengan tubuhnya bercucuran peluh keringat.
Berbicara tentang kopi, satu hal lain yang membuat saya kagum akan Pontianak adalah kegemaran ngopi masyarakatnya. Tiba di kota ini sejak semalam, kedai-kedai kopi di pinggir jalan tak ada yang sepi. Apalagi yang katanya legendaris seperti Kopi Asiang ini, untuk dapat meja saja dari kapasitasnya yang banyak, sedikit kesulitan. Tua muda, laki perempuan, larut dengan kopi, dengan obrolan satu sama lain, atau dengan scrolling hape masing-masing.
Jika kita tak pernah mendengar Kopi Pontianak seperti mendengar kopi dari Gayo atau kopi dari Bajawa maupun Toraja, itu memang terasa benar. Di Kalimantan, kebun kopi bukan tak ada. Memang tak terkenal. Walaupun kalah jauh dari kebun sawit, beberapa jenis tumbuhan penghasil kafein ini cukup dikenal dihasilkan di pulau ini, seperti kopi-kopi liberika dari perkebunan lahan-lahan gambut dataran rendah di Kayong Utara.
Lahan gambut? Iya. Konon, itu membuatnya memiliki cita rasa yang unik. Saya mungkin bukan peminum kopi yang fanatik. Asal nikmat, apalagi diminum usai sarapan atau makan siang, ditambah obrolan hangat, cita rasa kopi apa pun pasti unik. Lagi pula, setiap kali saya atau siapa pun menulis pengalaman ngopi, yang tertulis pasti tak jauh-jauh dari penyebutan “cita rasa yang unik”. Apakah menekankan pada keunikannya jadi membuat hobi ngopi bertambah melankolis?
Panggilan Berkumpul
Saya membuka layar hape. Beberapa rekan pendaki kami mulai meramaikan percakapan di grup WhatsApp, mengabarkan kedatangan mereka di Pontianak. Sore ini, kami semua sudah harus berkumpul. Jelang malam nanti, kami akan memulai perjalanan, meninggalkan Pontianak menuju Sintang, ke kaki Bukit Raya di salah satu hulu Sungai Kapuas.
Usai membayar dua cangkir kopi, Ferli yang membonceng saya pun menarik kopling motor. Kami melaju di atas dua roda. Menyusuri jalanan kota, memenuhi panggilan teman-teman yang juga sudah bergerak menuju titik pertemuan. []
I Komang Gde Subagia | Pontianak, Desember 2025

Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.