Kota Kuntilanak

Kota Kuntilanak? Ya, benar. Yang saya maksud adalah Pontianak, nama ibu kota provinsi di Kalimantan Barat ini memang berasal dari kosa kata Melayu. Artinya memang demikian: setan perempuan yang selalu digambarkan berpakaian putih, rambut panjang terurai, kakinya menjejak tanah, serta tentu saja dengan wajah menyeramkan yang kadang bisa berkamuflase menjadi cantik jelita nan menggoda.

Tepian Kapuas Kecil.


Delta Sungai Kapuas

Kalimantan, pulau terbesar ketiga di dunia, terpartisi menjadi tiga negara berbeda: Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Topografinya dominan datar dan luas sejak manusia belum mendiaminya. Curah hujannya tinggi dengan hutan tropis yang tumbuh subur dari waktu ke waktu. Kondisi itu menghasilkan banyak air; membentuk sungai-sungai yang menjadi vital kala peradaban manusia makin berkembang di dalamnya. 

Termasuk di bagian barat pulau, Sungai Kapuas mengalir lebih dari seribu kilometer—menjadi yang terpanjang di Indonesia—, dari pedalaman yang jauh hingga bertemu laut. Meliuk-liuk bagai ular raksasa jika dilihat dari jendela pesawat yang terbang di atasnya. Ia membawa lumpur, nutrien, serta kisah masa lalu hingga kini dari hulu ke hilir. Di ujung perjalanannya, aliran besar ini melambat, bercabang, dan menghasilkan endapan demi endapan. Dari sanalah delta luas terbentuk dan kehidupan menemukan jalannya untuk tumbuh.

Delta itu tentu tidak segera menjadi kota. Mula-mula ia hanyalah rawa, hutan riparian, dan jalur air yang pasang-surut. Namun bagi manusia, tempat semacam ini adalah persimpangan. Kapuas menjadi nadi, sementara anak-anak sungainya—Kapuas Kecil dan Landak—menjadi urat-urat yang menghubungkan pedalaman dengan pesisir. Lambat laun, di atas tanah aluvial yang makin padat, permukiman muncul. Delta pun beralih rupa: dari bentang alam gambut menjadi kota yang ramai.

Sejarah mencatat, pada 1771 Masehi, Syarif Abdurrahman Alkadrie, seorang ulama keturunan Arab, membuka hutan di titik temu sungai itu. Pilihan lokasinya tidak kebetulan. Di Nusantara, peradaban selalu tumbuh dari sungai.  Seperti Eufrat dan Tigris yang melahirkan Mesopotamia, Nil yang membentuk Mesir kuno, atau Indus yang membuat Harapa di India. Tempat perahu singgah, barang ditukar, dan kabar berpindah tangan. Dari delta Kapuas inilah Kesultanan Pontianak berdiri dan kota mulai dibangun dengan sungai sebagai urat nadinya.

Selain dari perhitungan geografis, kota di delta luas ini juga tumbuh dari cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Orang-orang menuturkan legenda tentang kuntilanak yang menghuni hutan dan rawa. Memantik jenis setan asli dari Nusantara itu, menjadi asal-muasal nama yang disematkan padanya. Konon, makhluk-makhluk tersebut mengganggu rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie, hingga sang sultan memerintahkan meriam ditembakkan. Dentuman-dentuman meriam itu dipercaya mengusir mereka, menandai wilayah yang kemudian aman bagi manusia.


Zona Waktu yang Berbeda

Cahaya pagi langsung menyeruak masuk ketika saya menyibak tirai jendela kamar hotel tempat menginap. Tepat di seberang, berdiri megah Gereja Kristen Kalimantan Barat, dengan segitiga tinggi lancip yang menopang sebuah salib raksasa. Pagi pertama saya di Pontianak bertepatan dengan hari libur Natal. Saya melihat kendaraan-kendaraan berdatangan masuk ke halaman gereja itu, menurunkan para jemaat yang hendak beribadah hari raya. Satpam dan polisi berjaga di beberapa sudut.

Saya menggeliat mengambil gawai. Jam di layarnya menunjukkan waktu pukul enam lewat. Sempat merasa kesiangan, tapi ternyata tidak. Belum pukul tujuh, itu masih awal hari. Pontianak satu jam lebih lambat dari Denpasar yang tentu saja sudah jelang pukul delapan. Itu menyebabkan pagi saya kali ini terasa bergeser. Sangat berbeda jika kita di Ambon atau Ternate, misalnya. Di kota-kota Indonesia bagian timur itu kebalikannya. Hari yang masih pagi tetapi waktu di jam selalu lebih cepat, alias sudah siang. Selisih satu atau dua jam di Indonesia, yang terbagi menjadi tiga zona waktu berbeda, ternyata membuat saya sedikit jetlag juga.

Perbedaan waktu sebenarnya adalah hasil kompromi antara geografi dan tata kelola sebuah negara kepulauan. Indonesia membentang lebih dari lima ribu kilometer dari barat ke timur, jarak yang secara astronomis melintasi hampir tiga zona matahari. Maka sejak awal abad ke-20, wilayahnya dibagi menjadi tiga zona waktu: Waktu Indonesia Barat, Tengah, dan Timur. Pembagian itu dimaksudkan agar aktivitas manusia—bekerja, beribadah, beristirahat—tetap selaras dengan pergerakan matahari.

Menariknya, negara-negara yang secara geografis berdekatan dengan Indonesia tidak selalu mengikuti logika yang sama. Singapura dan Kuala Lumpur, kota-kota di negara tetangga kita misalnya. Mereka memilih satu zona waktu tunggal yang setara dengan WITA, meski sebagian wilayahnya sejajar bahkan lebih barat dari Pontianak yang memakai WIB. Aneh bukan?

Tapi keputusan penetapan zona waktu di suatu negara tidak didorong oleh posisi matahari semata, melainkan pertimbangan ekonomi, efisiensi administrasi, dan keterhubungan dengan pusat-pusat perdagangan regional. Jam disatukan agar ritme bisnis, transportasi, dan komunikasi bergerak serempak. Meski itu ada konsekuensinya, matahari terkadang sudah tinggi ketika hari baru secara resmi dimulai. Seperti saya di kota yang dulu banyak dihuni kuntilanak ini: bangun kesiangan, tapi hari masih begitu pagi.


Pasar Flamboyan

Saya memutuskan untuk keluar hotel tanpa sarapan, karena kamar yang saya tempati memang dipesan tanpa sarapan. Jalan-jalan ke pasar sepertinya adalah pilihan yang menarik. Sekalian melihat-lihat menu makanan lokal yang mungkin dijual di sana untuk dinikmati. Asyraf, yang sekamar dengan saya, menolak ikut. Jadinya, saya keluyuran sendiri saja. 

Saya berjalan kaki menuju Pasar Flamboyan, pasar tradisional terbesar sekaligus pasar induk utama di Pontianak. Saya menyusuri Jalan Gajah Mada yang ramai. Lokasi pasar berada di sudut perempatan jalan utama kota, di mana salah satu ruasnya terhubung dengan jembatan penyeberangan Sungai Kapuas.

Bagi saya, pasar selalu menjadi tempat terbaik untuk membaca wajah sebuah kota. Ia lebih jujur dibandingkan objek-objek wisata yang telah dipoles untuk pengunjung. Denyut kota terasa paling nyata dalam rutinitas yang berulang di tempat warganya bertemu untuk bertransaksi, tanpa riasan dan tanpa panggung yang sengaja diciptakan untuk pertunjukan. Tapi bukankah belakangan ini, hampir semua tempat didandani untuk menggaet banyak wisatawan? Kadang dengan tulisan tempat selfie dengan umbul-umbul warna-warni, dan sejenisnya. 

Di Pasar Flamboyan, Pontianak memperlihatkan dirinya apa adanya: suara tawar-menawar yang bersahutan, timbangan sayur yang naik turun, meja-meja tempat menggelar ikan dan daging dengan lorongnya yang becek serta berbau amis, tempat parkir kendaraan yang bercampur-aduk dengan lapak-lapak jualan, hingga wajah-wajah pedagang dan buruh pasar yang memulai hari jauh sebelum matahari sepenuhnya terbit.

Di satu sisi pasar, saya melihat penjual bubur: kacang hijau dan ketan hitam. Sekaligus juga menyediakan: kembang tahu. Saya tak pernah makan menu yang ditulis terakhir ini. Penasaran, saya pun memesannya semangkok. Itung-itung sebagai sarapan. Isinya: lapisan-lapisan tipis sari kedelai yang lembut, air tahu, dan beberapa sendok gula merah cair. Saya aduk perlahan sambil berucap "helikopter... helikopter...", menirukan video-video kuliner ala India yang sering muncul di beranda media sosial. Dan rasa kembang tahu ini: enak. Saya beri nilai delapan koma lima dari skala sepuluh.


Tepi Sungai

Usai menuntaskan sarapan sederhana, langkah saya bergerak lagi, menjauh dari hiruk-pikuk lorong-lorong pasar. Riuh tawar-menawar perlahan tertinggal di belakang, digantikan suara kendaraan yang melintas di jalan raya. Di ujung jalan, rangka-rangka baja Jembatan Kapuas mulai terlihat. Belasan meter di sampingnya, jalur pedestrian terbentang. Dari sebuah setapak kecil, saya memotong arah ke sana.

Air sungai mengalir melimpah, berwarna kecoklatan. Secara visual jauh dari kata menarik. Tepian sungai dipagari logam kuning, mengingatkan pada pagar jembatan pada umumnya. Lantainya disusun dari paving batu, dengan taman-taman kecil dan tempat duduk-duduk melepas lelah. Di sisi dalam pedestrian, rumah-rumah warga berdiri lebih rendah, dihubungkan oleh kali-kali sempit yang bermuara ke sungai utama. Beberapa perahu motor terikat malas di tepi, seperti sedang beristirahat dari tugas hariannya.

Pagi sudah menjelang siang, dan jalur ini tak ramai. Saya hanya berpapasan dengan satu dua orang yang berjalan santai atau berolahraga ringan. Yang lebih banyak terlihat justru para penghuni tepian sungai itu sendiri. Ada yang mandi, menyiramkan air coklat kekuningan ke tubuh mereka dengan ember plastik, sesuatu yang bagi saya: pasti enggan untuk dilakukan. Ada pula yang memancing, duduk diam menunggu hasil tangkapan. Ada tukang perahu bersiap menyeberang mengantar seorang penumpang.

Sambil berjalan, saya membayangkan bagaimana tempat ini dulu bekerja jauh sebelum menjadi ruang publik. Perkembangan Pontianak tidak bisa dilepaskan dari sungai dan delta yang membesarkannya. Sungai Kapuas, bersama cabang-cabangnya, menyediakan akses alami ke jalur perdagangan antar bangsa menghubungkan pedalaman Kalimantan dengan Selat Karimata dan Laut Natuna. 

Jauh sebelum ada jalan darat beraspal, sungai adalah jalan raya utama di Kalimantan: tempat manusia, barang, dan kabar berpindah tempat.  Pedagang Melayu, Tionghoa, Arab, serta masyarakat Dayak dari pedalaman berjumpa dalam lanskap air yang sama. Rumah panggung, pelabuhan kayu, pasar tepian sungai, dan jalur perahu membentuk kota yang terus berkembang.

Delta Sungai Kapuas kini telah dipenuhi bangunan, jalan raya, dan jembatan. Namun proses yang sama masih bekerja. Sungai tetap hidup dan menjadi nyawa peradaban. Berjalan di tepi Kapuas Kecil, saya merasa sedang menapaki kisah kota ini. Sambil menyadari bahwa sungai ini lebih tua dari semua manusia yang kini hidup berdampingan dengannya, termasuk saya yang sejenak berdiri di tepiannya, memandangi air yang terus bergerak seperti membawa lebih banyak cerita daripada yang sanggup saya pahami. []


I Komang Gde Subagia | Pontianak, Desember 2025


Terkait:



Comments