Pontianak adalah titik temu. Di kota inilah, saya bertemu dengan teman-teman yang datang dari berbagai arah. Untuk berhenti sejenak, saling menunggu, lalu menyatukan tujuan: ke Bukit Raya, titik tertinggi di Pulau Kalimantan bagian Indonesia. Dari berbagai kota yang berbeda, kami tiba dengan latar dan cerita masing-masing. Ibu kota Kalimantan Barat ini menjadi tempat untuk menata ulang rencana, sebelum perjalanan benar-benar membawa kami menembus sungai, hutan hujan tropis, dan jalur pendakian panjang di jantung Borneo.
Satu Pesawat dengan Ferliyan Tahir
Langit telah gelap kala kaki saya melangkah keluar dari gedung terminal Bandara Supadio. Udara malam terasa lembap, dengan sisa bau aspal landasan dan aroma kabin pesawat yang belum sepenuhnya hilang. Penerbangan saya dari Bali sebenarnya berjalan lancar. Kecuali satu hal: keterlambatan dari jadwal yang sudah ditetapkan. Maskapai Super Air Jet—satu-satunya pilihan transportasi udara murah yang langsung tanpa transit—menjadi penyebabnya. Sebuah pola pengalaman yang kembali terulang. Maskapai yang merupakan bagian dari Grup Lion Air ini, barangkali telah menjadikan ketidakpastian jadwal sebagai budaya mereka.
Saya berjalan bersama Ferli, seorang lelaki paruh empat puluhan yang baru saya kenal sejak di ruang tunggu Bandara Ngurah Rai. Nama lengkapnya Ferliyan Tahir. Penampilannya dengan daypack dan sepatu trail bermerek Hoka yang mentereng saat duduk di seberang saya, memancing naluri detektif dadakan. Hanya dengan mengetikkan namanya di Instagram—yang saya ketahui dari grup pendakian—melihat foto-fotonya, lalu memastikan beberapa mutual friends, saya yakin tak salah orang. Ia Ferli yang akan ke Bukit Raya bersama saya.
Ia kaget lalu tertawa saat 'ditangkap basah'. Dari obrolan yang berlanjut saat menunggu delay yang delay lagi, diselingi suara pengumuman yang tak pernah benar-benar menjanjikan apa pun, saya mengetahui bahwa Ferli adalah anggota Mandala Giri: Kelompok Pecinta Alam Smansa Denpasar. Kini ia berprofesi sebagai guru di Green School, sekolah yang dikenal dengan murid-muridnya yang mayoritas merupakan anak-anak ekspatriat di Bali. Dari dua latar belakang ini, beberapa nama saya sodorkan sebagai topik basa-basi. Hampir semua ia kenal, atau setidaknya ia tahu. Bahkan ia sempat melakukan panggilan video dengan salah seorang yang juga menjadi teman saya.
Dunia ini kadang memang terasa sempit. Orang yang tak kita kenal, atau baru saja dikenal, ternyata terhubung dengan orang-orang yang telah kita kenal. Di ruang tunggu bandara, di antara kursi-kursi dan pengumuman dari pengeras suara, saya seperti diingatkan bahwa perjalanan bukan hanya soal jarak yang ditempuh, melainkan juga tentang simpul-simpul manusia yang tanpa sadar kita lewati. Gunung-gunung mungkin berdiri jauh di pedalaman, tetapi jalannya sering kali sudah dibentangkan sejak lama: melalui pertemanan, komunitas atau organisasi, dan cerita masa lalu yang saling bersilangan.
Bersama Ferliyan Tahir di ruang tunggu bandara.Asyraf Azman dari Malaysia
Di keramaian pintu keluar terminal, seorang berbadan tegap sudah menunggu. Ia Asyraf Azman, seorang pemuda kekar dari Kuala Lumpur, Malaysia. Ia tiba di Bandara Supadio hampir bersamaan dengan kedatangan saya dan Ferli. Dua tahun sebelumnya, saya mengenalnya saat mendaki Binaiya di Maluku. Setahun setelahnya, kami kembali bertemu di Leuser, Aceh. Kini, kami bertemu lagi untuk tujuan yang sama: Bukit Raya di Kalimantan.
Biasanya, Asyraf mendaki gunung-gunung di Indonesia bersama teman-temannya dari Malaysia—sebagian besar juga saya kenal—seperti dua pendakian sebelumnya. Namun kali ini, mereka berhalangan. Mau tak mau, Asyraf berangkat seorang diri. Ia terbang ke Pontianak dengan transit di Kuching, kota di Kalimantan Malaysia yang berjarak sekitar enam jam perjalanan darat dari Pontianak.
Keberangkatannya seorang diri sempat ia guraukan di grup WhatsApp kami. “Jangan bully aku, ya,” tulisnya, setengah bercanda, setengah pasrah. Tak ada balasan panjang dari saya. Hanya mengirimkan gambar dua bendera kecil: Merah Putih dan Jalur Gemilang—nama resmi bendera nasional Malaysia—, berdampingan dengan simbol jabat tangan. Isyarat sederhana, namun cukup untuk menegaskan bahwa di rimba Kalimantan nanti, tak ada yang lebih penting dari rasa saling percaya dan persaudaraan, walaupun kami berbeda kewarganegaraan.
Hubungan Indonesia–Malaysia kerap dikenal lewat meja diplomasi atau rivalitas olahraga. Namun jauh dari sorotan itu, di pertemuan-pertemuan kecil warganya seperti kali ini—dari diskusi rencana pendakian, dari tenda yang nanti mungkin rembes, atau dari makanan yang dibagi saat rehat—kisah-kisah lain tercipta. Seperti Bukit Raya, yang pegunungannya sambung-menyambung tanpa mengenal garis batas negara, hubungan antar manusia pun bisa tumbuh alami, lintas paspor, lintas logat, dan lintas sejarah.
Di tengah dinamika hubungan dua bangsa yang naik-turun di ruang publik, pertemuan seperti ini terasa kecil, nyaris tak tercatat. Namun justru di sanalah maknanya. Asyraf datang sendiri, tetapi ia tak pernah benar-benar sendiri. Ia datang membawa cerita dari seberang, bertemu kami, lalu kelak pulang dengan kisah serupa: bahwa di jantung Kalimantan, kami berjalan sebagai sesama manusia, disatukan oleh gunung dan hutan, serta oleh keyakinan bahwa alam selalu lebih luas daripada batas-batas yang dibuat manusia.
Asyraf yang selalu rajin mandi dan sholat di gunung.Bertemu Ika Fitri
Di keriuhan pintu terminal yang tak kunjung sepi, di sela tawaran sopir taksi dan tukang ojek, beberapa pesan WhatsApp masuk ke telepon genggam saya. Pesan-pesan yang rasanya dikirim saat saya masih terbang di udara. Pengirimnya adalah Ika Fitri, salah seorang rekan pendakian kami dari Gresik, Jawa Timur. Ia tampaknya masih berada di udara ketika saya membalas pesannya, karena pesan saya hanya tercentang satu, alias tak sampai.
Saya dan Asyraf telah sepakat dengan seorang sopir taksi, sementara Ferli telah menyewa sepeda motor untuk sehari ke depan. Bimbang dengan kedatangan Ika Fitri yang mungkin masih lama, ditambah rasa gerah dan lapar, kami bertiga memutuskan bergerak lebih dulu ke pusat kota, meninggalkannya yang pesawatnya belum kunjung mendarat.
Ada sedikit rasa bersalah, tetapi perjalanan sering kali menuntut keputusan yang tak bisa menunggu semua orang siap bersamaan. Tak semua pertemuan bisa disambut tepat waktu, dan tak semua orang tiba pada saat yang sama. Saya hanya berharap Ika Fitri akan menyusul dengan selamat, dan rasa lelahnya nanti terbayar lunas.
Setibanya di kota, setelah mandi dan rehat sejenak, saya, Asyraf, dan Ferli akhirnya bertemu dengan Ika Fitri di sebuah warung kopi sambil makan malam. Lampu neon di atas meja membuat warna kopi tampak pucat, sementara kipas-kipas penyedot udara di sudut ruangan bergerak pelan seiring waktu yang bergulir.
Ika Fitri bercerita tentang kesulitannya mendapatkan taksi setibanya di Supadio, akibat membludaknya penumpang yang datang bersamaan dari beberapa kota di Jawa. Katanya, untung saja kami berangkat lebih dulu ke kota. Kalimat itu sedikit mengobati rasa bersalah saya.
Saya kemudian memanggilnya Kafitri, untuk mempersingkat penulisan sekaligus meniru nama akun media sosialnya. Dari obrolan di warung kopi, Kafitri menyodorkan banyak rekomendasi kuliner Pontianak: beberapa kedai kopi legendaris, bubur ikan, es krim, hingga berbagai jenis makanan Tionghoa khas. Sementara saya menawarkan gagasan untuk mengunjungi beberapa tempat yang rasanya akan menarik untuk disinggahi.
Bersama di satu meja: Gejor, Ferli, Asyraf, dan Kafitri.Malam Larut di Pontianak
Malam di Pontianak seperti menemani kami dengan cara yang bersahaja. Saya merasa nyaman dengan dengan suasana dan keriuhannya. Meski waktu terus bergerak, kota ini terasa tak terburu-buru. Warung-warung kopi yang jumlahnya tak terhitung justru kian ramai pengunjung. Di sela wangi kopi susu dan rencana-rencana kuliner, esok hari terasa menjanjikan. Hari-hari berikutnya pun tampak akan diisi oleh beragam cerita.
Sebelum kaki kami melangkah jauh ke pedalaman Kalimantan, saya ingin memaksimalkan waktu yang ada: berwisata rasa, melihat ikon kota, atau sekadar menyaksikan kehidupan keseharian warganya. Juga menyiapkan diri dengan melengkapi perbekalan mendaki. Sebab setelah ini, yang menunggu kami bukan lagi lampu-lampu kota, melainkan hutan hujan tropis, sungai-sungai panjang, dan Bukit Raya yang berdiri sunyi di kejauhan.
Namun sebelum itu, saya yakin, Pontianak bukan sekadar tempat singgah untuk bertemu saja. Kota ini pasti menyimpan cerita lain. Yang mungkin berkelindan dengan sungai, sejarah, dan nama yang telah lama menempel padanya. Kisah itulah yang akan saya dengar dan catat berikutnya, sekadar untuk mengabadikan ingatan akan perjalanan mengunjunginya. []
I Komang Gde Subagia | Pontianak, Desember 2025




Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.