Di Bawah Khatulistiwa

Waktu seolah bergerak dengan caranya sendiri di Pontianak. Matahari setia di atas kepala, panas terasa seperti tak pernah benar-benar pergi, dan lalu-lalang kehidupan berjalan begitu adanya. Sekilas terasa seperti pola dunia yang sama: cahaya, cuaca, dan langkah manusia yang terus bergerak, entah menuju ke mana. 

Berkumpul di bawah Tugu Khatulistiwa Pontianak.


Choipan

Dalam perjalanan di atas motor roda dua bersama Ferli, saya dikabari oleh Kafitri dan kawan-kawan, bahwa mereka sedang singgah di sebuah kedai khas Pontianak. Tanpa banyak pikir, kami yang sudah melaju jauh pun berbalik arah. Menuju posisi sesuai titik Google Maps yang diinformasikan. Tak sulit menemukannya. Nama kedai itu: Chaikue Siantan Tian Melly.

Mendengar namanya, maka mudah ditebak bahwa di sana menjual makanan khas Tionghoa. Bunito ternyata mentraktir kami. Sebagai orang Pontianak, ia terlihat bersemangat menjelaskan tentang kudapan di depan kami. Namanya: choipan. Atau disebut juga chaikue. Bentuknya seperti pangsit atau pastel yang dikukus. Tersaji dalam satu loyang besar di meja.

Saya belum tertarik mencoba saat teman-teman saya tampak doyan mengunyahnya. Saya lebih memilih minum segelas es bunga telang yang berwarna biru menggoda. Terlihat sejuk dingin menyegarkan. Kontras dengan hawa udara di luar kedai. Maklum, cuaca lagi panas-panasnya, di hari yang menjelang sore, di bawah terik matahari khatulistiwa.

"Ayo! Cobalah!" desak Bunito ketika melihat saya bengong saja. Saya pun mencoba choipan itu. Cara makannya dengan mencocol si choipan ini ke dalam saus dan sambal cair pedas-asam-manis yang ditaburi bawang putih goreng. Dan, wuih! Ternyata enak, pakai banget. Isiannya kemudian saya ketahui adalah bengkuang parut, dengan rasa manis gurih. Kata Bunito, ada juga yang isiannya kucai, talas, atau rebung.

Nikmatnya choipan ini akhirnya menjadi pengganjal perut usai makan siang kami tadi. Benar kata orang, jika berkunjung ke suatu kota, jangan lupa mencicipi kuliner lokalnya. Makanan yang menjadi penanda kuat budaya Tionghoa di Kalimantan Barat ini salah satunya. Lidah saya belum pernah mengecap kudapan semacam ini sebelumnya. Kini, saya merasa beruntung bisa merasakannya untuk pertama kali. Dan saya jadikan ia sebagai salah satu makanan favorit.

Choipan isi bengkuang atau kucai.

Makan choipan di Kedai Tian Melly.


Tugu Khatulistiwa 

Usai choipan terakhir habis dan gelas-gelas minuman dikosongkan, kami pun bergerak. Taksi dan motor yang kami gunakan meninggalkan kedai menuju satu titik yang sejak lama menjadi penanda kota ini. Jaraknya tak jauh. Hanya beberapa menit berkendara. Di sanalah kami akan bertemu seluruh tim pendakian, di bawah satu monumen yang pasti tak akan terlewatkan jika berkunjung ke ibu kota Kalimantan Barat: Tugu Khatulistiwa.

Pontianak adalah salah satu kota di Indonesia yang dilalui garis khatulistiwa. Sebuah garis imajiner yang saya pelajari ketika bersekolah dasar, dan mungkin Anda juga. Digambarkan membelah bumi tepat di tengah, memisahkan belahan utara dan selatan, sekaligus menjadi patokan nol derajat lintang. Garis ini tentu tidak terlihat, tak bisa disentuh, dan tak meninggalkan bekas apa pun di tanah. Namun manusia, dengan segala kebutuhannya untuk menandai, memutuskan untuk membuat sebuah tugu. Sebagai simbol agar yang tak kasatmata itu tetap bisa dirasakan keberadaannya.

Dari berbagai sumber informasi yang ada, tugu ini pertama kali didirikan oleh ekspedisi Belanda pada tahun 1928. Kala itu, para ahli geografi kolonial menandai lintasan garis nol derajat ini dengan patok sederhana dari kayu. Seiring waktu, patok itu digantikan bangunan yang lebih permanen. Ia juga mengalami beberapa kali renovasi dan pengembangan, hingga ketika saya mengunjunginya, ia berbentuk seperti sekarang.

Secara geografis, posisi di garis khatulistiwa membuat daerah yang dilaluinya mengalami siang dan malam yang nyaris sama panjang sepanjang tahun. Matahari terbit dan tenggelam hampir selalu tepat waktu, tanpa musim dingin dan panas yang ekstrem seperti di lintang-lintang lain. Tak ada musim semi yang romantis atau musim gugur yang indah seperti di luar negeri. Yang ada hanyalah matahari yang setia di atas kepala, dan hujan yang datang dengan ritme tropisnya sendiri. Pontianak, dan Indonesia pada umumnya, cenderung konsisten itu-itu saja: kalau tak panas karena kemarau, ya dingin karena hujan.

Kadang aneh membayangkan, orang-orang di negeri kita, sengaja berlibur jauh-jauh mencari negeri yang memiliki salju. Ke Eropa, Amerika, atau Australia; misalnya. Padahal mereka yang hidup di sana mungkin kedinginan ketika matahari beredar di arah berlawanan. Daerahnya pun susah ditumbuhi pepohonan. Jangankan menanam padi untuk bisa menghasilkan beras lalu dimasak jadi nasi, buah dan sayur beraneka ragam juga tak seperti di negeri kita yang gemah ripah loh jinawi, yang tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman.

Berada tepat di bawah garis khatulistiwa seharusnya menjadi berkah. Matahari hadir nyaris sepanjang tahun, hujan turun teratur, tanah subur, hutan tumbuh rapat, sungai-sungai besar mengalir membawa kehidupan. Namun di negeri ini, berkah itu sering terasa seperti paradoks. Kekayaan alam yang melimpah justru dikelola dengan serampangan. Hutan ditebang tanpa perhitungan, sungai dikotori, tanah dijual murah pada para mafia. 

Di atas kertas, negeri khatulistiwa ini tampak kaya raya; di lapangan, apakah kita merata menikmatinya? Rasanya lebih banyak kekayaan itu bocor di mana-mana melalui korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan keputusan-keputusan para pemegang kuasa yang berebut kuasa, rakus dan berlomba di atas sana mengorbankan masa depan. Seolah-olah kita hidup di lumbung pangan yang pintunya dibiarkan terbuka, sementara isinya dihambur-hamburkan tanpa rasa bersalah.

Di bawah Tugu Khatulistiwa Pontianak.


Kawan-kawan Sependakian

Kami berkumpul di sekitar Tugu Khatulistiwa ini, di pelataran taman yang dinaungi pepohonan rindang. Ada sedikit rasa canggung yang kemudian cepat mencair. Saling menyapa dan berjabat tangan. Dari total kami semua yang berjumlah delapan belas orang, wajah-wajah lama muncul di antara kerumunan. Dua yang tak asing di mata saya adalah Adul dan Ahong.

Adul, yang bernama lengkap Abdul Kholik, adalah team leader dalam kelompok kami. Ia pemilik Shelter Garut, agen perjalanan yang melayani pendakian-pendakian gunung di Indonesia, yang juga sudah merambah ke gunung-gunung lain di mancanegara. Beberapa bulan sebelumnya, ia telah sukses melakukan pendakian perdana ke Carstensz Pyramid di Papua, puncak gunung tertinggi di Indonesia yang juga menjadi salah satu puncak dari seven summits dunia.

Menemani Adul sebagai bagian dari Shelter Garut adalah Ahong. Namanya Tionghoa banget, mentang-mentang di Pontianak. Tapi itu panggilan. Nama aslinya: Renaldi Fauzi. Jajaka Sunda dari Bogor. Saya mengenalnya sejak pendakian ke Gunung Leuser di Aceh. Jika belum kenal, kemungkinan besar kita akan kecele. Tubuhnya yang sedikit kurus mungkin terkesan lemah. Tapi ia sangat kuat dan tangguh di gunung. Sangat sigap dalam kerja-kerja sebagai tim pendukung pendakian.

Selain dua dedengkot Shelter Garut ini, dua nama lain juga tak asing bagi saya. Yaitu: Farid dan Bu Dian. Dua pendaki ini juga bareng saya ke Leuser sebelumnya. Kini bersama Asyraf, juga Adul dan Ahong; kami merasakan reuni kecil di bawah Tugu Khatulistiwa, di pinggiran Kota Pontianak.

Farid Widya, yang berasal dari Malang di Jawa Timur, sudah mendaki banyak gunung setahun belakangan ini usai dari Leuser. Satu gunung yang paling menantang dan paling bersemangat diceritakannya adalah Gunung Tolangi Balease di Sulawesi Selatan. Gunung ini tergolong gunung yang memiliki jalur pendakian tersulit di Indonesia, kurang lebih butuh tujuh hingga sembilan hari. Tetapi Farid bisa mendakinya lebih cepat, bahkan ia melakukannya sendiri dengan ditemani dua pemandu lokal setempat.

Sementara Bu Dian, yang bernama lengkap Dian Andayani, berasal dari Lombok. Sama seperti Asyraf, saya mengenal Bu Dian sejak mendaki ke Binaiya dua tahun sebelumnya. Seperti yang bisa saya tebak semenjak pertama bertemu, asap rokok selalu ngebul dihembuskannya kala istirahat. Ditambah kopi, yang di Kalimantan Barat mudah ditemukan, nongkrong dengannya menjadi makin asyik.

Dan tentu saja kemudian ada teman-teman saya lainnya yang baru saya temui di Tugu Khatulistiwa ini, yang mungkin belum bisa saya tuliskan tentang mereka lebih banyak pada catatan kali ini. Ada Mbok Ketut Ariani dari Bali; ada Caroline Maretha alias Olin dari Cirebon; Putri Indah Marina dari Palembang; Rusdy Anshary dari Medan; serta Haryo Bimo, Soemarno Ang, Isoen, dan Sushiani yang semuanya dari Jakarta. Wuih! Ramai, ya? Semoga perjalanan saya kali ini dengan mereka cukup seru.

Bertemu dan briefing dengan rekan-rekan sependakian.


Ke Nanga Pinoh

Maka ketika sore menjelang dan matahari mulai meredakan panasnya di titik penanda khatulistiwa, kami pun bergerak meninggalkan Pontianak. Satu minibus, dan dua mobil kapasitas sedang membawa kami dan berbagai peralatan serta logistik.

Di depan, terbentang jalan panjang menuju Nanga Pinoh, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Dari sanalah kami akan masuk lebih dalam, menuju salah satu hulu Sungai Kapuas. Ke rimba dan kaki gunung yang sejak awal memanggil. Dari titik nol derajat lintang ini, langkah kami pun bergeser ke perjalanan berikutnya. [] 


I Komang Gde Subagia | Pontianak, Desember 2025


Terkait:
Bukit Raya (Bagian 5: Ke Nanga Pinoh)

Comments