Ke Nanga Pinoh

Matahari perlahan meredup di langit Pontianak. Tiga kendaraan roda empat melaju beriringan, meninggalkan Tugu Khatulistiwa dan keramaian kota yang sejak kemarin saya singgahi. Pada peta yang tampil di layar ponsel, penanda titik lokasi saya bergerak stabil. Kami menyusuri jalanan utama antarkabupaten di pulau ini ke arah timur. 

Suatu pagi di Nanga Pinoh.


Terlelap

Saya duduk di kursi depan, di samping Faisal, seorang pemuda Melayu yang menjadi pengemudi kendaraan yang saya tumpangi. Di kursi tengah, Kafitri dan Bu Yayah duduk berdampingan. Sementara bagian belakang mobil dimaksimalkan sebagai bagasi. Tas-tas berbagai ukuran tertumpuk rapat di sana.

Tujuan kami malam ini adalah Nanga Pinoh, sebuah kota di Kabupaten di Melawi. Jaraknya dari Pontianak hampir empat ratus kilometer, yang biasanya ditempuh sekitar delapan hingga sembilan jam. Jika tak ada hambatan, kami baru akan tiba esok pagi.

Membayangkan panjangnya perjalanan, saya mencoba memejamkan mata. Sandaran kursi saya rebahkan sedikit, mencari posisi yang paling mungkin untuk beristirahat. Obrolan tentang Bukit Raya yang tadi sempat mengisi ruang mobil perlahan mereda. Yang tersisa hanya dengung mesin dan hembusan dingin penyejuk udara.

Menoleh ke belakang, Bu Yayah dan Kafitri tampak telah terlelap. Sementara di depan, jalan terus membentang dalam gelap, diterangi lampu kendaraan yang melaju berpapasan tanpa banyak suara. Saya yang mulai mengantuk, mulai ikut memejamkan mata. Sesekali kepala saya terangguk, terbangun sejenak, lalu kembali jatuh dalam setengah tidur.

Perjalanan kala sore dari Pontianak ke Nanga Pinoh.


Rehat di Simpang Ampar

"Ayo, kita istirahat makan malam dulu" seru Faisal membangunkan saya. Ia baru saja usai memarkir kendaraan.

Jam di tangan menunjukkan waktu jelang sembilan malam. Saya pun turun, diikuti Bu Yayah dan Kafitri. Dua mobil lain yang membawa teman-teman kami juga terlihat menurunkan penumpangnya satu per satu.

Lampu-lampu neon dari warung makan dan toko-toko di sekitarnya menyala terang, memantul di aspal yang tampak lembap oleh embun malam. Suara kendaraan yang melintas terdengar sesekali, memecah sunyi jalan lintas yang tadi panjang dan gelap.

Kami berhenti di sebuah rumah makan padang. Di plangnya tertulis: RM Tiga Putri. Yang dari luar, tampak ramai.  Di balik etalase kaca, lauk-lauk tersusun bertingkat: rendang yang hitam pekat, ayam goreng dengan kulit kecokelatan, gulai yang berminyak kuning kemerahan. 

“Akhirnya makan juga,” celetuk salah satu dari mobil belakang sambil meregangkan badan. Yang lain hanya tertawa kecil, mungkin sama-sama sudah lapar sejak tadi menahan diri di dalam mobil. 

Sebelum masuk, kami antri di depan kamar kecil. Mengeluarkan apa yang telah ditahan-tahan dalam tiga jam perjalanan tadi. Supaya makan dan minum nanti terasa lebih lega dan nikmat. Haha!

Dari Google Maps, saya menandai titik pemberhentian ini. Namanya Simpang Ampar, sebuah persimpangan penting yang memisahkan jalur menuju Sintang di Kalimantan Barat dan Pangkalan Bun di Kalimantan Tengah.

Berbeda dengan puluhan kilometer sebelumnya semenjak dari Pontianak yang cenderung sepi, di sini cukup banyak ada warung makan dan toko. Suasananya lebih hidup dan ramai. Rupanya orang-orang yang melakukan perjalanan jauh, seperti kami ini, banyak yang istirahat makan malam di sini.

Rehat perjalanan malam di Simpang Ampar.


Seiring Kapuas

Usai makan malam di Simpang Ampar, perjalanan kami kembali berlanjut. Kali ini saya tak lagi mengantuk. Perut yang terisi membuat badan terasa lebih segar, dan mata pun enggan kembali terpejam.

Malam di jalan lintas Kalimantan terasa kelam. Gelapnya pekat, sebagian besar tanpa lampu. Selain cahaya dari rumah-rumah yang jarang, sisanya hanya sorot lampu kendaraan yang memecahnya, memanjang di aspal seperti tembakan laser jarak jauh. Di luar itu, gelap seakan menyembunyikan apa pun yang tak terlihat di baliknya.

Laju kendaraan cukup kencang. Duduk di kursi depan membuat saya ikut merasakan setiap akselerasi dan pengereman. Kaki menegang tanpa sadar, dan rahang sedikit mengeras tiap kali berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan yang melaju sama cepatnya. Bukan takut pada sesuatu yang tak kasatmata, tapi pada hal yang jauh lebih nyata: satu kesalahan kecil di kecepatan seperti ini bisa mengakhiri perjalanan sebelum benar-benar dimulai.

Lewat tengah malam, kami sempat berhenti di sebuah toko kelontong berjejaring. Para sopir turun untuk minum kopi dan merokok. Beberapa teman saya juga turun. Mereka menuju kamar kecil. Sebagian lagi memilih duduk santai atau membeli camilan. Sebagian yang lain di dalam kendaraan, tetap terlelap dengan mimpinya masing-masing. Di sudut lain, beberapa pemuda lokal tampak nongkrong, menghabiskan malam dengan cara mereka sendiri.

Dari penanda lokasi di ponsel, saya tahu kami sudah sampai di Sanggau, satu kota kabupaten lagi di Kalimantan Barat ini. Perjalanan hampir separuh terlewati.

Setelah itu, jalan kembali kami telusuri. Di peta, jalur yang kami ambil mulai sejajar dengan alur Sungai Kapuas. Sungai terpanjang di Indonesia itu tak selalu terlihat dalam perjalanan ini. Ia tersembunyi dalam gelap malam. Tapi sesekali, di sela pepohonan atau saat melintasi jembatan, bayangannya muncul.

Saya membayangkan alirannya yang panjang, dari hulu jauh di pedalaman hingga bermuara di Pontianak yang telah kami tinggalkan. Di saat kami melaju di atas jalan darat, sungai itu tetap mengalir, setia pada jalurnya sendiri. 

Dulu, Kapuas ini adalah “jalan raya utama” yang alami, tempat perahu-perahu hilir-mudik membawa manusia dari satu tepian ke tepian lain. Kini, peran itu diambil alih oleh jalan beraspal yang kami lintasi. Namun arah tak pernah berubah. Seperti kami malam ini, sama-sama bergerak menuju ke hulu, hanya melalui jalur yang berbeda.

Peta area perjalanan dari Pontianak ke Nanga Pinoh.

Peta perjalanan: dari Pontianak, singgah di Simpang Ampar dan Sanggau, lalu ke Nanga Pinoh.

Pasti nggak aneh, jika toko kelontong berjejaring seperti Alfamart atau Indomaret kerap dijadikan tempat mampir dalam perjalanan jauh. 


Jelang Subuh

Pukul tiga jelang subuh, kami sudah memasuki Kota Nanga Pinoh, ibu kota Kabupaten Melawi. Kendaraan kami berhenti di tepi jalan. Di kanan-kiri, deretan toko tampak tertutup rapat. Tak ada aktivitas yang signifikan. Kota ini masih terlelap.

Udara dini hari terasa sedikit dingin dari yang saya bayangkan. Kantuk menggantung di mata, tapi tubuh sudah terlalu lelah untuk benar-benar tidur. 

Saya turun perlahan, meregangkan badan, mencoba mengusir pegal setelah berjam-jam duduk di dalam mobil. Lalu menghampiri mobil lain, tempat Adul dan Ahong berdiskusi.

“Di sana dermaganya, Bli,” kata Adul, menunjuk ke sebuah lorong gelap. Sebuah gang kecil yang terselip di antara pertokoan, tampak sunyi dan sedikit usang.

Saya mengikuti arah tunjuknya. Dari kejauhan, tak terlihat apa-apa selain kegelapan. Sulit membayangkan bahwa dari lorong sempit itu, perjalanan berikutnya akan dimulai.

“Tapi kita cari warung kopi atau masjid dulu, deh, untuk istirahat,” sambungnya.

Perjalanan kami selanjutnya memang akan beralih ke air. Dari Nanga Pinoh, kami akan menyusuri sungai dengan kapal. Dermaga yang ditunjuk tadi adalah titik keberangkatan untuk perjalanan kami berikutnya.

Namun kami tiba terlalu cepat. Kapal pertama baru akan berangkat pukul tujuh pagi. Masihb beberapabjam lagi. Waktu menunggu yang cukup panjang, harusnya bisa kami gunakan untuk sekadar rebahan atau memejamkan mata. Beristirahat.

Kami kembali masuk ke dalam kendaraan, lalu berkeliling kota yang masih sepi. Sebuah masjid kami datangi, tapi pintunya terkunci. Warung kopi yang kami temui berikutnya pun belum siap menerima rombongan sebesar kami.

Pada akhirnya, kami kembali ke titik semula, ke deretan pertokoan dekat dermaga. Di tempat yang sunyi itu, kami harus berdamai dengan keadaan. Kami masing-masing mencari cara beristirahat seadanya, di mana pun selama memungkinkan, sambil menunggu pagi benar-benar datang.


Di Emper Toko

Kendaraan-kendaraan yang kami sewa kembali ke Pontianak setelah menurunkan kami beserta seluruh barang bawaan.

Di emperan toko, kami menyebar, mencari tempat untuk merebahkan badan. Ada yang selonjoran di bale-bale kayu yang tampaknya biasa digunakan untuk berjualan. Ada yang menyandarkan diri di tumpukan tas. Beberapa bahkan langsung terlelap sembari duduk di lantai teras toko tanpa banyak bicara.

Saya memilih membuka matras yang saya bawa. Juga mengebakan kantong tidur untuk selimut. Lantainya yang tak terlalu bersih terasa dingin dan keras. Beraroma pasar, bunyi dengungan nyamuk, juga satu dua kucing melintas. Tapi dalam kondisi seperti ini, itu bukan lagi persoalan. Tidur seadanya rasanya jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

Sebelum benar-benar terlelap, saya sempat tersenyum sendiri. Membayangkan diri terbaring di emperan toko seperti ini. Mengingatkan saya pada masa-masa mahasiswa dulu, ketika sering ngegembel tidur di terminal dan stasiun kereta, di musala pom bensin, atau di mana saja yang memungkinkan. Itu tentu saja karena saat itu tak cukup uang untuk bisa menginap di hotel.

Anehnya, suasana seperti ini justru terasa akrab. Seolah tubuh ini sudah pernah mengenalnya. Bahwa pada akhirnya, tempat beristirahat bagi seorang pejalan sejati adalah beralaskan tanah dan berataokan langit. Bukti bahwa kenyamanan sejati ada dalam pikiran, bukan pada empuknya kasur atau kamar yang mewah. 

Entah berapa lama saya terlelap. Ketika mata terbuka, suasana di sekitar sudah mulai berubah. Suara langkah kaki terdengar, obrolan-obrolan pelan mulai muncul, dan satu per satu pintu toko dibuka pemiliknya.

Langit yang tadinya gelap perlahan memucat. Sebentar lagi, dunia di sekitar rasanya akan bertambah terang. Pagi datang pelan-pelan, membangunkan saya yang baru semalam menghabiskan waktu di sudut kota kecil ini.


Sekilas Nanga Pinoh

Nanga Pinoh, dalam bahasa setempat, menyebutkan bahwa “nanga” berarti pertemuan atau muara sungai. Sementara “Pinoh” diambil dari nama Sungai Pinoh, yang kemudian bermuara ke Sungai Melawi. Dan pada akhirnya mereka, Pinoh dan Melawi ini menjadi bagian dari aliran besar Sungai Kapuas. Dari namanya saja, kota ini sudah menunjukkan jelas asal-usulnya.

Sebagai kota kabupaten, Nanga Pinoh terasa cukup berkesan bagi saya. Salah satu bangunan yang paling mencolok adalah Gereja Paroki Santa Perawan Maria. Dari berbagai sudut kota, salib besar di puncaknya terlihat menjulang. Di depannya, berdiri patung Bunda Maria di atas tiang bermotif Dayak, diapit dua perisai di sisi kanan dan kiri. Tapak jelas menjadi sebuah pertemuan simbol kepercayaan dan budaya lokal dalam satu desain arsitektur.

Tak jauh dari sana, di sebuah persimpangan utama, berdiri tugu seorang pejuang. Sosoknya digambarkan berbadan kekar tanpa baju, bercelana loreng, mengibarkan bendera merah putih, dengan mandau terselip di pinggang. Saya membayangkan itu sebagai penghormatan terhadap para pejuang lokal. Barangkali dari suku Dayak, yang ikut dalam sejarah panjang perjuangan kemerdekaan di Indonesia.

Di sepanjang jalan utama, pertokoan berjajar rapat. Di jalan arteri yang tembus ke emperan toko tempat saya tidur tadi, pasar tumpah meluber hingga ke badan jalan. Terpal-terpal digantung seadanya, tali rafia melintang di sana-sini, dan jalanan yang tak sepenuhnya mulus tampak becek di beberapa bagian. Sampah-sampah plastik terlihat terselip di sela-sela aktivitas. Bagi sebagian orang, mungkin ini tampak semrawut.

Namun di balik itu, saya tetap dapat menemukan kehidupan yang hangat. Orang-orang bertransaksi, berbincang, dan menjalani hari memyambut pagi. Di dekat dermaga, warung kopi berderet, mulai dipenuhi pengunjung. Saya menyempatkan diri duduk di salah satunya, menikmati secangkir kopi susu dan kudapan ringan sebagai sarapan.

Gereja Paroki Santa Perawan Maria di Nanga Pinoh.

Patung Bunda Maria di depan gereja.

Tugu pejuang kemerdekaan di Kota Nanga Pinoh.


Menuju Sungai

Hingga akhirnya, tak perlu menunggu lebih lama lagi. Kopi susu terakhir diteguk, dan kabar itu datang: kapal pertama hari ini akan segera berangkat. Kami pun bergegas, memanggul tas dan merapikan barang, berjalan kembali ke arah dermaga yang tadi hanya saya lihat sekilas dalam gelap.

Lorong becek penuh sampah plastik membawa ke tepian sungai yang tampak mengalir tenang dan dalam. Warnanya yang kecoklatan seolah menyimpan cerita yang tak sepenuhnya bisa ditebak: antara kehidupan atau eksploitasi. Entah kisah perkebunan sawit dan tambang-tambang emas yang rumit, atau mungkin legenda-legenda yang magis dari pedalaman Kalimantan. []


I Komang Gde Subagia | Melawi, Desember 2025


Terkait:
Bukit Raya (Bagian 6: Melawi Anak Kapuas)



Comments