Serawai. Tepatnya bernama Nanga Serawai. Seperti artinya, adalah sebuah kota kecamatan tempat bermuaranya Sungai Serawai. Secara administratif, menjadi bagian dari Kabupaten Sintang di Kalimantan Barat.
Nanga Serawai
Waktu tepat tengah hari. Saya dan teman-teman seperjalanan baru saja turun dari speedboat setelah sekitar empat jam menyusuri Sungai Melawi. Kami berjalan beriringan meninggalkan dermaga, melewati deretan rumah kayu yang bagian belakangnya menghadap ke sungai. Bau lumpur sesekali menguap terhirup samar-samar bersama tumpukan sampah-sampah yang tersangkut.
Suasana Nanga Serawai cukup ramai. Orang-orang dan sepeda motor berlalu-lalang. Toko kelontong, toko pakaian, penjual sembako, warung makan, hingga kedai kopi berderet di kanan-kiri jalan utama. Bangunannya berdiri dengan susunan yang tak begitu teratur.
Semrawut. Rasanya itu kata yang paling tepat untuk menggambarkan kesan pertama saya melihat kota kecil di tepian sungai ini. Sampah plastik bertebaran di beberapa tempat. Udara panas dan gerah, khas siang hari di wilayah Kalimantan yang berada dekat garis khatulistiwa. Jalanan berlubang dan berdebu. Semuanya membuat suasana kota terasa semakin kusam.
Namun, di balik kesan itu, saya menemukan keramahan dari orang-orangnya. Ada pedagang nasi Padang yang ramah, tempat saya makan siang sekaligus memesan nasi bungkus untuk bekal makan malam. Ada ibu-ibu paruh baya yang menyajikan kopi susu di kedainya. Ada pula seorang bapak yang mempersilakan saya menggunakan kamar kecil di masjid setelah salat Jumat, meskipun saya tidak ikut beribadah di sana.
Tak jauh dari masjid, saya melihat sebuah puskesmas. Sebuah mobil ambulans terparkir di depannya. Ketika memperhatikan sekeliling, saya juga melihat beberapa kendaraan roda empat lainnya, seperti truk dan mobil engkel. Sepeda motor pun terus berlalu-lalang di jalanan.
Pemandangan itu membuat saya sadar. Serawai tidak hanya bisa dicapai melalui sungai, seperti perjalanan yang telah saya tempuh. Ada jalur darat yang menghubungkannya dengan Nanga Pinoh. Hanya saja, kondisi jalannya tidak selalu baik. Menurut pedagang nasi Padang yang sempat saya ajak mengobrol, perjalanan darat bisa memakan waktu sangat lama, bahkan pada musim kemarau. Apalagi ketika musim hujan, jalanan sudah pasti dipenuhi lumpur dan makin sulit dilalui.
Untuk urusan komunikasi, jaringan telepon seluler yang tersedia di Serawai hanya Telkomsel. Sinyal di sini adalah monopoli satu operator plat merah. Karena saya bukan penggunanya, saya pun meminta akses tethering dari Ferli, teman seperjalanan yang juga berasal dari Bali. Lumayan, setidaknya saya masih bisa mengirim kabar ke rumah dan sesekali scrolling media sosial.
Bagi orang-orang yang hendak menuju desa-desa di bagian hulu, Serawai menjadi satu titik persinggahan penting. Perjalanan menuju desa-desa yang lebih jauh, termasuk desa terpencil di kaki Bukit Raya yang menjadi tujuan kami, biasanya dimulai dari sini.
Bagi para pendaki, Serawai juga menjadi tempat terakhir untuk melengkapi berbagai kebutuhan sebelum melanjutkan perjalanan. Mulai dari makanan ringan, air mineral, hingga perlengkapan kecil lainnya. Karena itulah, usai makan siang dan ngopi, kami memanfaatkan waktu yang ada untuk memastikan semua bekal sudah cukup.
Naik Perahu Kotok
Menjelang pukul satu siang, kami kembali ke dermaga. Kali ini, perjalanan dilanjutkan menggunakan tiga perahu kayu tradisional yang sudah kami sewa. Tas dan berbagai barang bawaan mulai dimasukkan ke dalam perahu.
Di Kalimantan, perahu semacam ini biasa disebut perahu klotok atau kotok. Namanya konon berasal dari suara mesin ketika perahu berjalan: "kotok, kotok, kotok". Coba saja ucapkan dengan cepat, berulang-ulang, dan tanpa jeda. Kira-kira seperti itulah bunyi mesinnya.
Bentuk perahu jenis ini memanjang dan relatif sempit. Semuanya terbuat dari papan kayu, dengan ruang penumpang terbuka di bagian tengah. Kami bisa duduk berhadapan. Atau duduk berbaris sepanjang badan perahu. Sementara barang-barang bawaan diselipkan merata di sela-sela ruang yang ada.
Karena ada tiga perahu, rombongan kami pun dibagi menjadi tiga kelompok. Saya berada di perahu yang sama dengan Mbok Ketut, Ibu Dian, Putri, Bimo, dan Rusdi. Dua orang lainnya bertugas mengemudikan perahu.
Sama seperti perjalanan sebelumnya menggunakan speedboat dari Nanga Pinoh, tidak tersedia perlengkapan keselamatan standar bagi penumpang di perahu ini. Tidak ada pula pelampung yang bisa kami gunakan jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu. Semoga saja aman.
Begitu perahu mulai bergerak, kami harus pandai-pandai mengatur posisi duduk. Ruang di dalam perahu cukup terbatas. Posisi penumpang perlu diatur agar beban tidak bertumpu pada satu sisi dan perahu tetap seimbang. Ada semacam kesadaran bersama untuk menjaga posisi masing-masing selama perjalanan.
Dan benar saja, sesuai namanya, suara mesin perahu ini terdengar seperti "kotok, kotok, kotok". Derunya keras dan terus-menerus, sampai terasa memekakkan telinga. Kami yang hendak berbicara satu sama lain harus berteriak. Seperti orang yang sedang bertengkar rasanya. Dan jika dibandingkan dengan speedboat, si perahu kotok ini jauh lebih lambat pergerakannya.
Ketika konvoi tiga perahu kami mulai beriringan membelah sungai, satu di depan dan lainnya mengikuti dari belakang, muncul persoalan lain. Asap knalpot beraroma bensin dari perahu di depan cukup kuat tercium oleh kami yang berada di belakang. Untung saja juru mudi sadar dan berpengalaman dengan hal ini, jarak antar perahu pun dijaga agar tak berdekatan.
Pemandangan Sepanjang Serawai
Ternyata menyusuri sungai dengan perahu kotok cukup menyenangkan. Kami bergerak di antara bentang alam hutan Kalimantan. Di kiri dan kanan sungai, pepohonan tumbuh rapat hingga ke tepian air. Sesekali, perjalanan membawa kami melewati kampung-kampung yang dihuni masyarakat Dayak.
Bagi warga yang tinggal di sepanjang sungai, tepian air sepertinya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kami beberapa kali melihat orang-orang beraktivitas di sana. Ada yang mencuci pakaian, mandi, atau sekadar duduk-duduk di depan rumah. Anak-anak pun tampak bermain di tepian sungai, seolah air dan perahu yang melintas adalah hal yang biasa.
Sesekali, kami juga berpapasan dengan pemandangan yang membuat penumpang salah tingkah. Beberapa gadis yang sedang mandi di sungai, dengan kain menutupi tubuh mereka. Mereka tampak malu-malu ketika menyadari perahu kami melintas. Mereka buru-buru menutupi dada sambil menyapa. Kami pun hanya bisa membalas sapaan itu dari atas perahu yang posisinya belasan meter dari mereka.
Perjalanan cukup panjang. Tidak ada tempat istirahat dengan warung makan atau pom bensin seperti saat menggunakan speedboat sebelumnya. Jadi, ketika beberapa orang di antara kami mulai tidak tahan ingin buang air kecil, juru mudi menepikan perahu. Kami berhenti di sebuah tepian berpasir. Lalu dipersilahkan mencari tempat aman masing-masing di sekitar hutan untuk menuntaskan urusan masing-masing. Hahaha! Rupanya, di perjalanan sungai seperti ini, toilet umum paling praktis adalah alam terbuka.
Namun, pemandangan hutan dan kehidupan kampung warga Suku Dayak bukan satu-satunya yang kami temui. Di beberapa bagian tepian sungai, saya masih melihat aktivitas penambangan emas. Menurut informasi umum yang kami dengar, kegiatan itu dilakukan oleh warga setempat. Pemandangannya mengingatkan saya pada aktivitas serupa yang sebelumnya terlihat di sepanjang Sungai Melawi.
Tambang dan Sampah
Ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya setiap kali melihat aktivitas semacam ini. Sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat juga menjadi tempat berlangsungnya kegiatan yang merusak lingkungan.
Penambangan emas, terutama yang dilakukan tanpa tata kelola yang baik, dapat mengakibatkan kerusakan. Hancurnya tepian sungai berpotensi meningkatkan erosi dan membuat air semakin keruh. Penggunaan merkuri dalam proses pemisahan emas, risikonya bisa jauh lebih serius. Zat berbahaya itu dapat mencemari air dan terakumulasi dalam rantai makanan.
Saya tentu tidak tahu bagaimana persisnya proses penambangan yang berlangsung di tepian sungai yang kami lewati. Tidak semua kegiatan tambang pasti menggunakan cara dan bahan yang sama. Namun, sulit untuk tidak bertanya-tanya: sampai kapan sungai ini bisa menanggung beban dari aktivitas manusia di sepanjang alirannya?
Belum lagi sampah-sampah plastik. Ada saja di sepanjang sungai. Di mana-mana. Entah menyangkut di dahan pepohonan yang rendah, di bebatuan, juga di sekitar perkampungan. Pusing juga saya memikirkannya.
Tidur di Atas Perahu
Perjalanan dengan perahu kotok ternyata cukup panjang. Beberapa kali saya bahkan sempat tertidur. Berbaring di atas geladak kayu dengan gulungan terpal sebagai bantal, saya mencoba mencari posisi paling nyaman.
Suara mesin yang sejak tadi memekakkan telinga perlahan berubah menjadi musik pengantar tidur. Getaran perahu terasa seperti ayunan. Hanya saja, ini mungkin satu-satunya tempat tidur yang mengharuskan saya sesekali membuka mata. Sekadar memastikan kepala tidak terbentur barang bawaan atau badan tidak terguling keluar perahu.
Masuk ke Sungai Jelundung
Hingga kemudian, setelah saya terbangun, perahu kami berbelok di sebuah pertigaan sungai. Kami memasuki aliran yang lebih kecil. Namanya Sungai Jelundung. Perubahan suasana langsung terasa. Sungai yang sebelumnya cukup lebar kini menyempit. Alirannya juga lebih dangkal, dasarnya bahkan kelihatan. Hutan lebat tumbuh rapat di kedua tepinya.
Menurut cerita, pada musim kemarau, perahu kotok kerap kesulitan melewati sungai ini. Lambung perahu bisa tersangkut di dasar sungai yang berbatu. Tak jarang, nahkoda bersama penumpang harus turun untuk mendorongnya agar bisa kembali bergerak. Beruntung, kali ini debit air cukup besar. Perahu kami masih bisa melaju, meskipun sesekali terasa membentur batu di dasar sungai.
Pemandangan di sepanjang Sungai Jelundung terasa berbeda. Hutan tumbuh lebat di kedua sisi, jauh berbeda dengan Sungai Serawai. Ini menghadirkan suasana yang lebih teduh dan sejuk. Setelah berjam-jam terpapar panas matahari di sungai yang lebih terbuka, perjalanan di bagian ini terasa menyenangkan. Ada sensasi tersendiri ketika perahu kecil kami menyusuri aliran sungai yang semakin masuk ke pedalaman.
Tiba di Rantau Malam
Menjelang pukul setengah lima sore, akhirnya kami tiba di Desa Rantau Malam yang menjadi tujuan kami. Nama desa ini konon berkaitan dengan jauhnya perjalanan mencapainya. Warga yang merantau ke kota dan pulang kembali ke kampung biasanya baru tiba ketika hari sudah malam. Karena itulah, desa ini disebut Rantau Malam.
Namun, perjalanan kami kali ini ternyata tak sesuai nama desa ini. Setelah menempuh perjalanan panjang dari Nanga Serawai, kami tiba ketika sore yang belum sepenuhnya berganti malam. Kami tiba bukan di saat malam. Rantau Malam ternyata menyambut kami dengan sisa-sisa cahaya siang.
Kami akhirnya menjejakkan kaki di daratan. Saya memandangi suasana sekitar dan menarik nafas dalam-dalam. Sungai ternyata telah membawa kami sejauh ini. Desa Rantau Malam sudah di depan mata. Saya pun bergegas bersama yang lain, menurunkan barang-barang bawaan. Lalu melangkah ke tengah desa. []
I Komang Gde Subagia | Serawai, Desember 2025

Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.