Akhir pekan sepulangnya dari Perth, saya dan Asa makan ke Warung Pande Egi. Ini adalah nama tempat kuliner babi guling yang cukup terkenal di Bali. Kami memesan dua nasi campur, seporsi sate yang isinya enam tusuk, semangkuk jukut ares, segelas es kelapa muda, dan sebotol air mineral. Total yang kami bayar untuk berdua itu tak sampai seratus ribu rupiah.
Beberapa hari sebelumnya, saya memesan makan untuk satu orang senilai dua puluh dollar Australia. Jika dikonversi, harganya sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah. Menunya roti tawar dengan telur omelet serta irisan stik bacon, lengkap dengan daun kale dan irisan tomat. Juga disertai semangkuk kecil saus dan mayones. Minumnya air putih saja.
Sambil mengunyah sate lilit di pojokan Pande Egi, mengingat pengalaman membeli makanan di Perth, mendadak saya merasa menjadi orang kaya bak bule Australia. Serius. Walau tinggal hanya sebentar di Perth, saya seperti dihentak dengan kenyataan: betapa kayanya Indonesia.
Di Denpasar, saya masih sering membeli sarapan nasi bungkus lima ribu rupiah. Jajanan lokal seribu hingga tiga ribu rupiah. Itu tidak sampai satu dollar Australia. Bahkan tidak sampai setengahnya.
Dan bule-bule di Bali yang sering saya temui, baik di jalanan atau yang sudah jadi tetangga di komplek perumahan, rasanya sudah tahu itu lebih dulu daripada kita.
Pantas saja, dalam penerbangan dari Perth ke Bali, sebagian besar penumpangnya adalah orang-orang Australia. Banyak di antaranya berpenampilan slengean saja: hanya berkaos oblong, bercelana pendek, dan memakai sandal. Berjalan santai ketika turun di Bandara Ngurah Rai. Seperti orang yang baru saja kabur dari musim dingin Australia menuju kawasan tropis.
Saya teringat obrolan dengan Andre ketika kami berjalan menuju tempat pengambilan bagasi. Kami sama-sama memperhatikan begitu banyaknya warga Australia yang datang bersama kami ke Bali.
"Kalau mereka tinggal di sini sampai sebulan atau dua bulan, mungkin bukan hotel dengan rate harian yang mereka pilih, tapi vila dengan sewa bulanan," kata Andre.
Masuk akal juga.
Di Perth, saya merasakan sendiri betapa mahalnya biaya akomodasi. Apartemen dan tempat tinggal sewa bisa sangat menguras kantong. Hotel yang cocok dengan harga rendah tidak mudah ditemukan, sementara pilihan yang ekonomis biasanya berupa hostel dengan fasilitas sederhana dan kamar bersama. Dibandingkan itu, Bali seperti menawarkan beragam pilihan tempat tinggal yang jauh berbeda.
Dengan dua atau tiga ratus ribu rupiah di Bali, kita masih bisa mendapatkan kamar hotel yang nyaman, lengkap dengan kamar mandi sendiri, berbagai fasilitas, bahkan sarapan. Pilihannya pun berlimpah. Dari hotel sederhana sampai vila yang bisa membuat seseorang merasa sedang menjadi tuan rumah di negeri tropis.
Dan untuk wisatawan Australia yang sengaja datang menghindari musim dingin, vila sewaan untuk sebulan atau dua bulan tentu menjadi cerita lain lagi. Jika biaya sewanya dibagi berdasarkan jumlah hari, mungkin terasa jauh lebih murah daripada menginap di hotel setiap malam. Pun fasilitas vila biasanya lengkap, dengan pembantu dan tukang kebun. Jangan bayangkan harga jasa seperti ini di negeri mereka.
Sebuah kemewahan yang di Australia tentu akan jauh lebih sulit didapatkan dengan harga yang sama.
Mungkin itulah sebabnya Bali terasa begitu menarik bagi mereka. Bukan cuma karena makanannya murah.
Cuacanya juga.
Bagi kita yang hidup di daerah tropis, matahari terik kadang terasa seperti musuh. Baru keluar rumah sebentar, keringat sudah bercucuran. Kita mencari tempat teduh. Atau masuk ke dalam rumah lalu menyalakan kipas angin atau pendingin ruangan.
Bagi orang Australia yang baru saja melewati musim dingin, matahari Bali bisa jadi hal yang menakjubkan.
Pantai, laut, langit biru, udara hangat, dan sinar matahari hampir sepanjang tahun. Sesuatu yang bagi kita mungkin biasa saja, tetapi bagi mereka bisa menjadi alasan utama untuk memperpanjang masa tinggal.
Lalu ada satu hal lagi yang tidak bisa dihitung dengan kalkulator: keramahan.
Di Australia, orang-orangnya juga ramah. Tetapi saya merasakan ada jarak yang lebih jelas dalam interaksi sehari-hari. Tak banyak basa-basi. Di Indonesia, orang yang baru dikenal beberapa menit bisa tiba-tiba mengajak makan, bertanya asal, menawarkan bantuan, atau mengobrol seolah sudah kenal lama.
Barangkali hal-hal kecil semacam itu pula yang membuat wisatawan, khususnya dari Australia, merasa nyaman berada di sini.
Belum lagi keanekaragaman alam dan budaya yang dimiliki Indonesia. Dari Bali, seseorang bisa melanjutkan perjalanan ke Jawa, Lombok, Flores, Sulawesi, Kalimantan, Papua, dan entah berapa banyak tempat lain. Pantai, gunung, hutan, kota tua, budaya, kuliner, sampai tradisi masyarakatnya berbeda-beda.
Bahkan kita sendiri sering kali belum sempat mengunjungi semuanya.
Orang Australia yang datang ke Bali mungkin melihat semua itu dari sudut pandang yang berbeda. Dengan mata yang baru pertama kali melihatnya. Mereka rela mengeluarkan uang untuk menikmati sesuatu yang bagi kita kadang justru terasa biasa karena terlalu sering berada di sekitarnya.
Dan tiba-tiba saya berpikir: mungkin selama ini kita memang terlalu terbiasa dengan kekayaan yang kita punya sendiri.
Kita menganggap nasi murah sebagai sesuatu yang biasa. Matahari yang panas sebagai sesuatu yang menyebalkan. Pantai sebagai tempat yang bisa didatangi kapan saja. Keramahan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahkan keberagaman budaya dan alam Indonesia sering terasa seperti sesuatu yang akan selalu ada.
Sementara bagi orang yang datang dari tempat lain, semua itu bisa menjadi kemewahan.
Maka, setelah beberapa hari tinggal di Perth dan kemudian kembali duduk menyantap seporsi nasi babi guling di Bali, saya mendapatkan perspektif yang agak lucu.
Di Perth, dengan dua puluh dollar Australia, saya hanya mendapatkan sepiring makanan sederhana.
Di Bali, dengan uang yang sama, saya bisa makan jauh lebih banyak dan lebih mewah. Juga dapat kembalian.
Ternyata, kaya atau miskin tidak ditentukan oleh berapa banyak angka di dalam rekening kita. Ini tentang di mana kita berdiri, bagaimana kita memandangnya, dan seberapa pandai kita mensyukuri apa yang sudah kita punya.
Jadi kalau kita kadang merasa rumput tetangga lebih hijau, ingat bahwa tetangga itu juga merasa rumput kitalah yang lebih hijau. []
I Komang Gde Subagia | Perth - Denpasar, Juni 2026

Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.