Quest Kings Park, hotel apartemen tempat saya tinggal, lokasinya berada tepat di seberang Kings Park and Botanic Garden. Ini adalah taman kota yang bukan saja terbesar di Western Australia, tetapi juga terbesar di seluruh Australia. Sudah beberapa hari saya lalui di Negeri Kanguru, saya belum sempat mengunjunginya lebih serius. Maka dari itu, di hari kelima saya akan menjelajahinya.
Suasana di Kings Park
Restoran tempat saya sarapan setiap pagi selama menginap di Perth adalah Koorak. Letaknya berada di dalam kawasan Kings Park and Botanic Garden. Selama beberapa hari terakhir, langkah saya selalu berhenti di sana. Sarapan, lalu kembali beraktivitas ke tempat lain. Saya belum pernah benar-benar menjelajahi taman kota terbesar di Australia ini.
Tepat tengah hari, saya kembali lagi ke Koorak. Kali ini bukan untuk sarapan, melainkan makan siang. Setelah selesai, saya sengaja tidak terburu-buru pergi. Cuaca sedang cerah. Matahari musim dingin bersinar terang, udara terasa sedikit sejuk. Saya pun mulai berjalan kaki santai menyusuri jalur pedestrian. Tujuan saya adalah State War Memorial yang berada di sisi sebelah timur.
Saya melangkahkan kaki santai di sepanjang trotoar sisi utara. Sesekali saya berpapasan dengan orang-orang. Ada yang berjalan kaki, ada yang bersepeda. Lalu saya melewati deretan lapangan tenis yang tampak sunyi, tak ada kegiatan. Tidak jauh dari sana, perhatian saya tersita oleh sebuah patung perunggu yang unik di pinggir jalan.
Patung itu menggambarkan seorang pria yang sedang berdiri bersama seekor anjing di sisinya. Setelah mendekat dan membaca papan informasinya, barulah saya tahu bahwa itu adalah monumen untuk menghormati Dr. Arnold Cook, seorang profesor ekonomi asal Western Australia yang kehilangan penglihatannya.
Patung anjing di sebelahnya bukan sekadar peliharaan biasa. Itu adalah anjing pemandu pertama yang ia bawa dari Inggris ke Australia. Berkat dedikasinya, tercipta gerakan anjing pemandu untuk tunanetra.
Setelah melewati patung tersebut, jalur pedestrian mulai membawa saya keluar dari rimbunnya pepohonan. Di hadapan saya, terhampar padang rumput hijau yang sangat luas dan tertata rapi. Begitu kaki melangkah masuk ke area terbuka ini, belaian sinar matahari musim dingin langsung menyentuh kulit. Ada sedikit rasa hangat yang lembut, yang segera menggantikan hawa dingin selama saya berjalan di bawah kerindangan pohon.
Tak lama kemudian saya tiba di tepi Fraser Avenue Street, jalan utama yang membelah Kings Park. Dari sinilah salah satu panorama paling terkenal di Perth mulai terbentang. Di kejauhan, deretan gedung pencakar langit kawasan Perth CBD terlihat jelas di seberang Sungai Swan. Perpaduan hutan kota, sungai, dan latar gedung-gedung modern menciptakan pemandangan yang menjadi ikon Kota Perth.
Saya pun melanjutkan langkah menuju State War Memorial yang berdiri tidak jauh dari sana. Saya berhenti sejenak di sebuah gardu pandang. Menikmati pemandangan kota yang memukau. Banyak kendaraan melintas di jalan utama di bawah sana. Lalu sesekali, kereta komuter juga terlihat menyeberangi jembatan.
Kursi taman di Kings Park.
Di gardu pandang Kings Park.
State War Memorial
Berjalan lagi, saya akhirnya tiba di State War Memorial. Kawasan ini terasa lebih ramai dibandingkan bagian Kings Park yang telah saya lewati. Rupanya banyak wisatawan datang ke sini. Sebagian sibuk berfoto dengan latar Kota Perth dan Sungai Swan. Yang lain duduk santai di hamparan rerumputan. Ada yang membaca buku, mengobrol bersama, atau berjemur menikmati hangatnya matahari musim dingin.
Di ranting-ranting pepohonan, dan di ketinggian celah pohon-pohon palem, kawanan burung nuri berwarna-warni tampak bertengger riuh. Di atas tanah, beberapa burung sejenis bebek dengan santainya berjalan mondar-mandir di atas rumput. Hewan-hewan itu seolah sudah sangat terbiasa dan tidak asing dengan kehadiran manusia di sekitar mereka.
Pandangan mata saya kemudian terfokus sepenuhnya pada monumen utama: State War Memorial. Komposisi arsitekturnya terlihat begitu megah sekaligus khidmat: sebuah tugu obelisk. Dari keterangannya, ia memiliki tinggi 18 meter. Berdiri kokoh dengan tanda salib di salah satu sisinya. Tugu ini diapit oleh dua tiang bendera, tempat bendera Australia berkibar ditiup angin.
Tepat di belakang monumen, yang berlokasi di ketinggian bukit kecil bernama Eliza, terbentang panorama ikonik. Yaitu Sungai Swan dengan deretan gedung pencakar langit kawasan Perth CBD. Tak heran jika hampir setiap orang yang datang menyempatkan diri mengabadikan pemandangan dari titik ini.
State War Memorial sendiri dibangun untuk mengenang warga Australia Barat yang gugur dalam berbagai peperangan, terutama Perang Dunia I. Peresmiannya dilakukan pada tahun 1929. Sejak itu, tempat ini menjadi lokasi utama penyelenggaraan upacara ANZAC Day. Hari sakral untuk mengenang pengorbanan anggota Australian and New Zealand Army Corps, yang disingkat ANZAC, yang bertugas dalam berbagai konflik bersenjata.
Mengetahui kisahnya, dan mendengar kosakata 'ANZAC', saya jadi teringat kisah perjalanan saya di Ambon: Jejak Perang Dunia Kedua. Waktu itu, saya mengunjungi sebuah kawasan pemakaman tempat yang asri dan teduh: Ambon Commonwealth War Cemetry. Yang mana dulu dikelola oleh Australian and New Zealand Army Corps atau ANZAC juga.
Lalu di bagian depan monumen, membentang jalan setapak lurus. Mengarah ke kolam refleksi kecil. Di tengah kolam itu, ada api yang menyala. Katanya itu adalah api abadi, Flame of Remembrance. Nyalanya terus dijaga sebagai lambang penghormatan kepada mereka yang gugur.
Saya berdiri beberapa saat menikmati pemandangan dari tepi memorial ini. Puas meresapi atmosfer magis dan historisnya, saya pun melangkah lagi. Meninggalkan kawasan State War Memorial. Menyusuri jalan setapak taman yang teduh. Melanjutkan perjalanan berjalan kaki ke arah selatan.
Monumen State War Memorial.Flame of Remembrance.
Menyusuri Swan River
Di satu titik, saya berbelok. Ada jalur pejalan kaki yang menurun di sisi selatan taman. Tangga dan jalan setapak itu di Google Maps bernama 'Kokoda Track Memorial Steps and Walk'. Jalurnya cukup curam, tapi aman. Berkelok di antara pepohonan. Lalu perlahan membawa saya turun dari Perbukitan Kings Park menuju kawasan di tepi Sungai Swan.
Ada papan informasi. Nama setapak ini diambil untuk mengenang Kokoda Track, lintasan pegunungan di Papua Nugini. Katanya, pegunungan itu menjadi salah satu medan pertempuran paling berat bagi tentara Australia pada Perang Dunia Kedua. Mungkin karena berada tidak jauh dari State War Memorial, rasanya jalur ini juga menjadi bagian dari kawasan peringatan tersebut.
Beberapa menit kemudian saya tiba di Mounts Bay Road. Ia ini adalah salah satu jalan utama. Menghubungkan pusat Kota Perth dengan kawasan barat. Lalu lintas kendaraan di ruas ini sangat ramai. Saya celingukan mencari tempat menyeberang. Tetapi tidak menemukannya. Google Maps mengarahkan saya untuk berjalan sekitar lima ratus meter ke arah utara. Di sanalah tempat menyeberang yang benar bagi pejalan kaki.
Rutenya terlihat memutar jauh. Tetapi saya tidak ingin mengambil risiko menyeberang sembarangan. Kendaraan di Australia melaju cukup cepat. Saya juga tidak ingin merusak kedisiplinan, yang selama beberapa hari begitu dijaga oleh masyarakat di Perth. Akhirnya saya mengikuti saja petunjuk Google Maps.
Setelah berhasil menyeberang, rute kemudian menggiring saya masuk ke jalur pedestrian khusus yang membentang rapi tepat di tepian Sungai Swan. Angin sungai yang sejuk dan dingin berembus lembut, menemani pemandangan alam yang begitu hidup.
Di beberapa bagian, burung-burung air dan bebek liar tampak berenang lalu sesekali beterbangan rendah melintasi permukaan air. Dan jalur ini seperti menjadi ruang publik favorit bagi warga Perth. Karena saya berpapasan dengan banyak pelari yang melintas dengan pakaian musim dingin. Juga pesepeda datang silih berganti dari arah berlawanan.
Angsa di tepian sungai.
Patung Eliza
Menjelang titik tujuan yang sudah saya tandai, terlihat sebuah patung. Tampak aneh berdiri di permukaan sungai. Berdiri dengan tangan membentang. Tetapi ia berbalut kain semacam selendang berwarna biru di pinggangnya. Juga kain warna-warni merah dan putih di dadanya.
Usut punya usut, saya cari tahu di internet, ternyata itu adalah Patung Eliza. Ia dibangun untuk menandai bekas pemandian bersejarah di Kota Perth. Kain warna-warni itu adalah hasil didandani oleh para pelajar dan pelaku iseng. Dan konon, karena keisengan itu sering terjadi, menjadikan tindakan-tindakan tersebut dianggap sebagai aksi kreatif.
Perlahan, keisengan-keisengan itu menjadi tradisi lokal yang diterima oleh publik. Penampakannya seperti membuatnya layak menyandang predikat sebagai patung paling modis di Perth. Dan nama Eliza sendiri berasal dari Mount Eliza, bukit tempat Kings Park dan State War Memorial berdiri, yang tadi saya kunjungi.
Patung Eliza.Blue Boat House
Saya makin bersemangat menuju target destinasi berikutnya. Di kejauhan, permukaan air Sungai Swan yang luas mulai memperlihatkan sebuah bangunan kecil yang sangat familiar. Sebuah rumah kayu biru ikonik dan legendaris. Tempat yang menjadi alasan utama mengapa saya rela berjalan kaki sejauh ini: Blue Boat House.
Sebenarnya, jauh sebelum berangkat ke Australia, saya sudah mengenal Blue Boat House. Saat menyusun rencana perjalanan, hampir semua artikel dan video wisata tentang Perth selalu menampilkan rumah kecil ini. Bahkan, di kamar hotel tempat saya menginap, terdapat sebuah foto Blue Boat House yang dipasang rapi dalam bingkai sebagai hiasan dinding. Rasanya seperti pengingat setiap hari bahwa saya harus datang melihatnya secara langsung.
Begitu tiba, suasananya persis seperti yang saya bayangkan. Cukup banyak wisatawan berkumpul di sana. Sebagian duduk di tepian sungai menikmati pemandangan, sementara sebagian lain rela mengantre untuk berjalan ke ujung dermaga dan berfoto dengan latar rumah kayu biru tersebut. Pemandangannya memang sangat indah. Air Sungai Swan yang tenang, langit musim dingin yang cerah, serta siluet Kings Park di belakang berpadu menjadi komposisi yang sederhana, tetapi sangat fotogenik.
Saya pun ikut mengantre. Tidak terlalu lama. Semua orang tampaknya saling pengertian. Setelah selesai berfoto, mereka menyerahkan giliran kepada orang berikutnya tanpa perlu diingatkan. Paham bahwa setiap pengunjung juga ingin membawa pulang satu atau dua foto terbaik dari tempat ini. Setelah giliran tiba, saya berjalan perlahan. Menyusuri dermaga kayu hingga mendekati rumah kecil itu. Rasanya menyenangkan. Akhirnya saya bisa berdiri di salah satu lokasi yang selama ini hanya saya lihat melalui foto di layar komputer.
Meski dikenal dengan nama Blue Boat House, bangunan ini sebenarnya bernama Crawley Edge Boatshed. Dahulu, rumah kecil ini dibangun sebagai tempat menyimpan perahu milik sebuah keluarga yang tinggal di kawasan Crawley. Seiring waktu, bentuknya yang sederhana dengan cat biru mencolok, berpadu dengan latar Sungai Swan yang tenang, menjadikannya salah satu objek foto favorit. Kini, rasanya mungkin lebih banyak orang datang untuk berfoto daripada untuk menyimpan perahu.
Saya berdiri beberapa menit menikmati suasana. Angin bertiup pelan di atas permukaan sungai. Beberapa ekor burung air melintas rendah. Sementara wisatawan berikutnya tampak menunggu saya selesai.
Setelah beberapa kali mengambil foto dan menikmati pemandangan, saya kembali melanjutkan perjalanan. Jalur pedestrian masih membentang mengikuti tepian Sungai Swan. Tujuan saya berikutnya adalah kawasan Matilda Bay, yang letaknya tak jauh dari Blue Boat House.
The Blue Boat House.
Matilda Bay
Meninggalkan Blue Boat House, saya kembali menyusuri jalur pedestrian yang mengikuti tepian Sungai Swan. Matahari mulai condong ke barat. Langit masih cerah, tetapi warna cahayanya perlahan berubah menjadi lebih hangat. Tujuan saya berikutnya adalah Matilda Bay, teluk kecil yang menjadi salah satu ruang publik favorit warga Perth.
Di tengah perjalanan, muncul satu persoalan yang sangat manusiawi: saya kebelet buang air kecil.
Saya teringat bahwa di kawasan Matilda Bay terdapat public toilet. Google Maps juga menunjukkan lokasinya tidak jauh lagi. Saya pun mempercepat langkah. Sayangnya, sesampainya di sana, pintu bangunan toilet sudah terkunci rapat. Rupanya jam operasionalnya telah berakhir beberapa menit sebelumnya.
Saya sempat berdiri memandang pintu itu dengan wajah sedikit bingung. Selama beberapa hari berada di Perth, saya terbiasa melihat toilet umum yang bersih, gratis, dan mudah ditemukan. Namun saya tidak menyangka sebagian di antaranya ternyata memiliki jam operasional dan akan dikunci pada sore hari. Entah apa alasannya. Mungkin untuk mencegah penyalahgunaan fasilitas pada malam hari. Yang jelas, saat itu saya hanya bisa menghela napas dan mengurungkan niat.
Karena tak ada pilihan lain, saya memutuskan menahan rasa ingin buang air kecil sambil beristirahat sejenak di sebuah bangku taman yang menghadap Sungai Swan.
Suasana Matilda Bay sore itu begitu tenang. Permukaan air nyaris tanpa riak. Dari tempat saya duduk, deretan kapal yacht tampak berlabuh beberapa ratus meter dari bibir teluk. Beberapa di antaranya bergoyang perlahan mengikuti hembusan angin. Di kejauhan, seorang pengunjung tampak mendayung kayak dengan santai membelah permukaan sungai. Jika tidak tahu bahwa ini adalah Sungai Swan, mungkin saya akan mengira sedang duduk di sebuah pantai yang menghadap laut.
Perlahan, warna langit berubah menjadi kuning keemasan, lalu mulai diselimuti semburat jingga. Cahaya matahari musim dingin semakin redup. Orang-orang yang tadi memenuhi tepian sungai sedikit demi sedikit mulai beranjak pulang. Suasana menjadi semakin lengang.
Namun, saya tahu saya tidak bisa menikmati pemandangan itu lebih lama lagi. Kandung kemih saya sudah memberikan sinyal yang jauh lebih mendesak daripada keinginan menikmati matahari terbenam.
Untungnya, tak jauh dari Matilda Bay terdapat kawasan kampus The University of Western Australia (UWA). Di sana pula Asa mengabari bahwa ia bersama rekan-rekannya akan makan malam di sebuah restoran. Hari ini, saya juga diundang untuk bergabung. Tanpa berpikir panjang, saya segera melangkah menyusuri tepian kampus menuju restoran tersebut. Tentu saja bukan hanya demi makan malam, tetapi juga demi menemukan toilet secepat mungkin.
Matilda Bay.
Kings Park di Malam Hari
Usai makan malam bersama Asa dan rekan-rekannya di kawasan dekat Universitas Western Australia, kami kembali ke hotel. Saya bercerita tentang Kings Park yang baru saja saya jelajahi siang tadi. Tentang pemandangan Sungai Swan, gedung-gedung pencakar langit Perth CBD, hingga State War Memorial.
Mendengar cerita itu, Asa yang selama beberapa hari terakhir selalu sibuk mengikuti rangkaian kegiatan pekerjaannya, mengajak saya kembali ke sana. Malam masih cukup panjang. Jadilah kami berdua keluar lagi menuju Kings Park.
Suasana taman berubah jauh dibandingkan siang hari. Jalur-jalur pedestrian yang tadi ramai kini nyaris kosong. Lampu taman memang menyala di beberapa titik, tetapi cahayanya tidak terlalu terang. Rimbunnya pepohonan dan semak-semak membuat sebagian besar kawasan tenggelam dalam gelap. Sesekali angin musim dingin bertiup pelan, menambah suasana menjadi sedikit mencekam.
Asa mulai berjalan lebih dekat di samping saya. Beberapa kali ia menoleh ke arah pepohonan. Tiba-tiba ia berhenti. Di balik remang-remang cahaya tampak sesosok manusia berdiri diam tanpa bergerak sedikit pun.
Kalau saja saya tidak mengenalinya sejak siang tadi, mungkin saya juga akan ikut terkejut.
Sosok itu adalah patung Dr. Arnold Cook yang berdiri di salah satu sudut taman. Dalam cahaya minim, siluetnya memang cukup menyeramkan. Kami pun tertawa kecil setelah menyadari "orang" yang membuat kami waswas itu ternyata hanyalah sebuah patung.
Tak lama kemudian, suasana hening kembali terusik oleh bunyi, tak... tok... tak... tok... yang terdengar berulang dari arah pepohonan. Suaranya cukup jelas, tetapi sumbernya tidak langsung terlihat. Setelah kami berjalan sedikit lebih dekat, barulah tampak lampu-lampu lapangan tenis yang masih menyala. Rupanya beberapa orang sedang berlatih tenis pada malam hari. Pantulan bola ke raket itulah yang sejak tadi terdengar memecah kesunyian taman.
Semakin mendekati Fraser Avenue Street, suasana terasa lebih hidup. Cahaya lampu jalan mulai terang. Sesekali kendaraan melintas, sementara beberapa orang masih berjalan santai menikmati udara malam. Asa tampak jauh lebih tenang. Kami kemudian berhenti sejenak di gardu pandang dekat State War Memorial. Ternyata kawasan ini masih cukup ramai. Beberapa wisatawan bergantian berfoto dengan latar kerlip lampu gedung-gedung pencakar langit Perth CBD yang memantul di permukaan Sungai Swan.
Pemandangan malam itu benar-benar berbeda dengan siang hari. Kota Perth tampak jauh lebih tenang. Tidak banyak cahaya berlebihan, tidak pula terdengar hiruk-pikuk seperti kota-kota besar yang biasa saya temui di Asia. Hanya lampu-lampu gedung, jalan raya, dan sesekali kendaraan yang melintas, berpadu dengan gelapnya pepohonan Kings Park.
Kings Park di malam hari. Peace!Menutup Hari
Menjelang pukul sepuluh malam, kami pun berjalan kembali ke hotel. Saya menutup hari dengan dua kunjungan ke tempat yang sama, tetapi menghadirkan dua suasana yang benar-benar berbeda. Itulah Kings Park, taman kota terbesar di Australia, yang tepat berada di depan tempat saya tinggal beberapa hari ini. Walaupun hanya taman, ia bagai bentang alam sesungguhnya, di mana sejarah, modernitas kota, dan memori perjalanan saya terukir. Yang kemudian saya tuliskan menjadi satu catatan ini, yang kelak bisa dibaca ulang untuk dikenang. []
I Komang Gde Subagia | Perth, Juni 2026
















Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.