Keliling Perth CBD

Hari kedua saya di Perth.

Pagi-pagi sekali saya sudah terbangun, meski masih meringkuk di balik selimut yang hangat. Di luar jendela, langit masih remang-remang cenderung gelap. Asa terdengar sibuk di kamar mandi. Ia sudah bersiap memulai hari pertamanya di kampus.

Saya pun ikut bangun dan bergegas, walaupun kantuk rasanya masih enggan pergi.

Spanda: instalasi seni ikonik yang berbentuk lengkungan melingkar di Elizabeth Quay, di kawasan Perth CBD.


Koorak Kings Park

Hotel tempat kami menginap, tidak memiliki restoran sendiri. Sebagai gantinya, hotel bekerja sama dengan beberapa restoran di sekitarnya untuk menyediakan sarapan bagi para tamu. Salah satunya adalah Koorak Kings Park, sebuah restoran yang berada di dalam kawasan Kings Park, taman kota dan ruang hijau paling ikonik di Perth. Jaraknya sekitar lima ratus meter.

Kami keluar dari hotel sekitar pukul setengah tujuh pagi. Suasana belum terang benar dan udara terasa sangat dingin. Tercatat: empat derajat Celcius. Saya yang sudah mengenakan jaket bulu angsa pun masih sedikit menggigil. Asa bahkan sempat kembali ke kamar untuk mengambil jaket tambahan karena sebelumnya hanya mengenakan sweater.

Bersama Asa, Andre, Candra, dan Rosa, kami berjalan kaki menuju Koorak. Angin dingin menerpa wajah dan menyusup ke sela-sela pakaian. Setiap kali mengembuskan napas, uap putih tampak keluar dari mulut. Rasanya seperti baru keluar dari tenda saat berkemah di gunung.

Ketika kami tiba, waktu bahkan belum menunjukkan pukul tujuh pagi. Restoran masih tutup. Kami berdiri di jalan setapak di depannya sambil mengobrol. Di sekitar taman, beberapa orang tampak sedang berolahraga. Ada yang berlari, ada pula yang bersepeda. Mereka hanya mengenakan pakaian olahraga tipis berupa jersey dan celana pendek. Membayangkan dinginnya saja sudah membuat saya semakin menggigil.

Tak lama kemudian, datang dua perempuan yang menghampiri rombongan kami. Mereka adalah Kristine Dugeon dan Jean dari Yayasan Biopixel di Brisbane, rekan Asa dan teman-temannya yang juga mengikuti kegiatan di The University of Western Australia. Mereka telah tiba di Perth dua hari yang lalu.

Di sela-sela obrolan tentang penelitian, Kris dan Jean bercerita bahwa kemarin mereka sempat mengunjungi Pulau Rottnest, sebuah pulau kecil di lepas pantai Perth yang terkenal sebagai rumah bagi quokka. Itu adalah marsupialia atau mamalia mungil seperti tikus yang berkantung. Kerap dijuluki sebagai hewan paling bahagia di dunia, karena ekspresi wajahnya yang selalu tampak tersenyum. 

Mengetahui saya datang ke Perth untuk berwisata, mereka pun menyarankan agar saya menyempatkan diri berkunjung ke sana. Menarik juga, pikir saya.

Tepat pukul tujuh pagi, restoran mulai dibuka. Kami menjadi tamu pertama hari itu. Tiga meja disusun menjadi satu untuk rombongan kami. Saya memilih duduk di pojok, tepat di dekat heater. Hangatnya langsung terasa. Rasanya seperti duduk di dekat api unggun kala malam saat berkemah di gunung.

Saya memesan Koorak Breaky, menu sarapan yang berisi bacon, telur setengah matang, salad, dan dua potong roti. Porsinya bagi saya cukup besar untuk menu sarapan. Lalu minumnya satu teko kecil teh jahe dan serai hangat. Sebenarnya saya berharap ada menu yang disajikan bersama nasi, tetapi ternyata tidak tersedia. Ya sudah, inilah saatnya mencoba sarapan ala Australia.

Sementara kami menikmati sarapan, hujan mulai turun di luar restoran. Tidak terlalu deras, tetapi juga bukan sekadar gerimis. Jaket anti air, payung, atau jas hujan memang menjadi perlengkapan yang wajib dibawa jika berkunjung ke Perth pada musim dingin.

Usai sarapan, kami kembali berjalan menuju hotel. Asa dan rekan-rekannya akan memulai kegiatan di kampus pukul setengah sembilan pagi. Setelah mereka berangkat, saya kembali ke kamar.

Rencana untuk langsung menjelajahi Perth di pagi hari akhirnya kalah oleh hujan, udara dingin, dan rayuan kasur lengkap dengan selimut hangatnya. Saya pun kembali rebahan.

Di hari yang lain, saya bersama Asa di depan Koorak Restaurant.

Di suatu hari yang lain, saya dan Asa sarapan ala Australia.


Elizabeth Quay

Pukul sebelas siang, saya akhirnya menuntaskan acara bermalas-malasan di kamar. Saya pun keluar hotel dan berjalan menuju halte Red CAT, salah satu layanan bus gratis di Perth, dengan tujuan kawasan CBD atau Central Business District. Titik pertama yang ingin saya kunjungi hari itu adalah Elizabeth Quay.

Elizabeth Quay merupakan kawasan ruang publik sekaligus pengembangan multifungsi di tepian Sungai Swan, tepat di jantung Kota Perth. Baru selesai dikembangkan sekitar satu dekade terakhir dan kini menjadi wajah baru Kota Perth. 

Belum lengkap berkunjung ke Perth jika belum singgah ke Elizabeth Quay ini. Kawasan yang dinamai untuk menghormati Ratu Elizabeth II ini memadukan ruang terbuka, pelabuhan, restoran, gedung-gedung modern, dan pemandangan Sungai Swan dalam satu kawasan yang menjadi ikon kota.

Jika berselancar di internet atau bertanya kepada aplikasi kecerdasan buatan, nama Elizabeth Quay hampir selalu muncul sebagai salah satu tempat yang paling direkomendasikan untuk dikunjungi selama berada di Perth.

Saya turun di pemberhentian terakhir Red CAT, sebuah terminal yang juga terhubung dengan Stasiun Elizabeth Quay. Setelah mengucapkan terima kasih kepada sopir bus dan petugas keamanan, saya naik ke lantai atas terminal yang dipenuhi berbagai pilihan restoran.

Saya memilih makan siang di salah satu restoran yang menjual makanan Asia. Sepiring nasi goreng dengan beberapa potong ayam dibanderol sembilan dolar Australia, atau sekitar seratus dua puluh ribu rupiah jika dikonversikan ke mata uang Indonesia. Akhirnya bisa makan nasi juga hari ini, batin saya sambil tersenyum sendiri.

Usai makan siang, saya melanjutkan perjalanan menuju kawasan utama Elizabeth Quay. Baru beberapa langkah menyusuri tepian Sungai Swan, saya langsung disambut kawanan burung camar yang beterbangan sambil bersahut-sahutan. Burung-burung ini tidak begitu umum dijumpai di Indonesia. Entah mengapa, melihat mereka membuat saya langsung teringat pada film Finding Nemo, terutama adegan ketika Marlin dan Dory bertemu sekawanan burung camar yang terus-menerus berteriak, "Mine! Mine! Mine!"

Dan ya, Elizabeth Quay memang merupakan sebuah pelabuhan. Dari sini, berbagai kapal feri melayani penyeberangan menuju kawasan di seberang Sungai Swan maupun pelayaran menyusuri sungai ke beberapa tujuan lain. Dari kawasan ini pula wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menuju Pulau Rottnest, pulau yang pagi tadi sempat direkomendasikan oleh Kris dan Jean.

Salah satu daya tarik kawasan ini adalah jembatan pejalan kaki yang melintasi teluk kecil di tengah pelabuhan. Bentuknya unik, melengkung dua kali membentuk huruf 'S'. Dari sisi barat, siluet jembatan itu tampak semakin cantik dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit Perth.

Di salah satu ujung jembatan berdiri sebuah patung berjudul First Contact. Karya seni ini memiliki dua penafsiran yang berbeda. Bagi masyarakat Noongar, suku Aborigin yang mendiami kawasan Perth, patung tersebut melambangkan leluhur mereka yang datang dari laut pada masa mitologi. Sementara bagi masyarakat modern, patung itu juga dimaknai sebagai simbol pertemuan pertama antara penduduk asli dengan para pendatang Eropa yang tiba di pesisir Australia Barat.

Saya sempat tersenyum sendiri membaca penjelasan itu.

Kalau dibaca sekilas tanpa memahami konteksnya, orang bisa saja salah mengira bahwa yang dimaksud sebagai leluhur orang Aborigin adalah orang-orang Eropa yang datang dengan kapal. Padahal kedua makna tersebut berasal dari dua tradisi dan sudut pandang sejarah yang berbeda.

Burung camar di sekitar Elizabeth Quay.

Jembatan sebagai jalur pedestrian di Elizabeth Quay.



Patung First Contact.

Saya dan The First Contact.

The Bell Tower

Tak jauh dari Elizabeth Quay berdiri sebuah menara bernama The Bell Tower. Bentuknya menyerupai layar kapal yang sedang mengembang tertiup angin. Bangunan ini juga dikenal sebagai Swan Bells karena menjadi rumah bagi kumpulan lonceng bersejarah yang menjadi daya tarik utamanya.

Sesuai namanya, menara ini dibangun untuk menyimpan sekaligus membunyikan berbagai lonceng bersejarah. Koleksi utamanya adalah dua belas lonceng dari Gereja St Martin-in-the-Fields di London yang telah berusia ratusan tahun dan pernah dibunyikan dalam berbagai peristiwa penting di Inggris, termasuk penobatan beberapa raja dan ratu. Kini, lonceng-lonceng tersebut menjadi bagian dari salah satu rangkaian change ringing bells bersejarah yang masih aktif digunakan di dunia.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya justru bukan berasal dari Inggris, melainkan dari Bali. Dari beberapa unggahan komunitas masyarakat Bali di Western Australia, saya mengetahui bahwa di kawasan ini juga terdapat sebuah kulkul atau kentongan tradisional Bali. Kulkul itu dihadiahkan sebagai simbol persahabatan sekaligus penanda keberadaan komunitas masyarakat Bali di Perth dan Western Australia. Peresmiannya juga dibarengi dengan upacara melaspas khas Pulau Dewata. Sayangnya, saat saya berkunjung, saya tidak sempat mencarinya lebih jauh.

Saya kemudian berjalan mengelilingi halaman depan menara yang cukup luas. Di sisi kanan dan kirinya terdapat bangku-bangku yang dinaungi tanaman rambat. Saya memilih duduk sejenak sambil menikmati suasana dan mengamati bangunan yang menjulang di hadapan saya. Beberapa wisatawan Asia, yang saya duga berasal dari Tiongkok dan India, juga tampak berkunjung pada waktu yang hampir bersamaan.

Tepat di bawah menara terdapat sebuah kolam kecil yang dipagari rantai. Pada rantai-rantai itulah bergantungan puluhan, mungkin ratusan, gembok cinta. Sebagian besar sudah mulai berkarat, tetapi nama-nama pasangan beserta gambar hati masih terlihat jelas pada beberapa di antaranya.

Tradisi memasang love locks seperti ini ternyata ada di mana-mana. Melihat begitu banyak gembok bergelantungan di sana, saya jadi bertanya-tanya sendiri. Siapa sebenarnya yang pertama kali punya ide memasang gembok cinta seperti ini? Jangan-jangan, yang paling diuntungkan justru toko perkakas yang menjual gembok.

The Bells Tower alias Menara Lonceng.

Love locks yang banyak tergantung di pagar The Bells Towers.


Perth Mint

Perjalanan saya lanjutkan ke tujuan berikutnya: Perth Mint. Museum sekaligus tempat pemurnian emas yang menjadi salah satu ikon sejarah Kota Perth. Dari kawasan Elizabeth Quay, jaraknya sekitar satu kilometer. Saya menyeberangi jalan raya, lalu menyusuri trotoar yang rapi di tengah udara musim dingin.

Sesampainya di Perth Mint, saya cukup kagum. Bangunannya tampak tua, tetapi sangat terawat. Sekilas saya seperti terbawa ke bayangan film-film koboi yang berlatar masa demam emas. Seorang petugas keamanan berparas India yang berjaga di pintu gerbang mempersilakan saya masuk. Sambil tersenyum, ia menjelaskan bahwa Perth Mint bukan hanya museum, tetapi juga toko perhiasan dan logam mulia yang masih beroperasi hingga sekarang.

Saya pun melangkah masuk. Di dalamnya cukup ramai. Dengan wajah penuh keyakinan, saya ikut mengamati berbagai perhiasan di dalam etalase satu per satu, seolah-olah menyeleksi dan akan membeli setengah isi toko. Kalung, gelang, cincin, hingga berbagai suvenir berbahan emas dan perak tersusun rapi di balik kaca. Para petugas tampak sigap mengawasi setiap sudut ruangan. Beberapa pengumuman bahwa kawasan ini diawasi ketat oleh CCTV juga terpampang di dinding, mengingatkan setiap pengunjung bahwa benda-benda yang dipamerkan bukanlah barang sembarangan.

Sekitar sepuluh menit saya berkeliling ruangan. Setelah puas cuci mata melihat barang-barang mahal, saya pun keluar tanpa membawa apa-apa. Tak ada satu pun yang saya beli. Tak ada yang cocok dengan selera saya. Dan terutama, tak ada yang cocok dengan persediaan uang di kantong. Untung melihat-lihat itu tidak dipungut biaya apa pun. Kalau setiap kali melirik emas-emas itu harus membayar, mungkin saya sudah memilih keluar dari toko sejak satu menit pertama. 

Di kawasan ini tersedia pula tur sejarah berpemandu. Kalau tidak salah, harga tiketnya sekitar lima belas dolar Australia. Dari halaman depan, saya sempat melihat seorang pemandu mengajak sekelompok wisatawan berkeliling. Dengan bantuan pengeras suara, ia menceritakan bagaimana penemuan emas pada akhir abad ke-19 mengubah wajah Australia Barat. Di sampingnya terdapat replika bongkahan batuan emas, lengkap dengan kereta dorong dan cangkul yang dahulu digunakan para penambang.

Perth Mint sendiri didirikan pada tahun 1899, tidak lama setelah demam emas melanda Australia Barat. Pada masa itu, ribuan orang datang dari berbagai penjuru dunia dengan harapan menemukan emas dan mengubah nasib mereka. Gelombang para pencari emas inilah yang kemudian mendorong pertumbuhan Perth menjadi salah satu kota terpenting di wilayah barat Australia.

Saya sebenarnya sempat tergoda mengikuti tur tersebut. Namun, melihat masih banyak tempat yang ingin saya kunjungi pada hari ini, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Toh, sejarah memang selalu menarik. Hanya saja, waktu sering kali memaksa seorang pelancong memilih cerita mana yang ingin didengarkan lebih dahulu.

Gedung Perth Mint.

Patung yang menjadi ilustrasi demam emas di Perth pada masa lalu.


Saint Mary Cathedral

Tujuan saya berikutnya adalah Saint Mary Cathedral. Saat menyusun rencana perjalanan menyusuri pusat Kota Perth, penampakan gereja ini dari citra udara langsung menarik perhatian saya. Atapnya yang besar dengan gaya arsitektur Gotik tampak mencolok di antara bangunan-bangunan modern di sekitarnya. Karena itulah saya memasukkannya ke dalam daftar tempat yang wajib dikunjungi.

Saya tiba sekitar pukul dua siang. Matahari bersinar cukup terik, tetapi udara musim dingin masih terasa menggigit. Di halaman depan gereja yang ditumbuhi hamparan rumput hijau, lengkap dengan beberapa bangku beton, saya melihat beberapa orang duduk santai sambil berjemur. Rasanya memang menyenangkan. Di musim dingin seperti ini, sinar matahari terasa lebih seperti selimut hangat daripada sengatan yang harus dihindari.

Saya kemudian masuk ke dalam gereja. Seorang petugas keamanan yang berjaga dengan ramah mempersilakan saya masuk sekaligus mengizinkan saya mengambil foto maupun video. Di beberapa tempat ibadah atau bangunan bersejarah, izin seperti ini memang penting untuk dipastikan terlebih dahulu sebagai bentuk penghormatan kepada pengelola maupun pengunjung lainnya.

Suasana di dalam gereja jauh lebih sunyi. Hanya ada satu atau dua orang yang duduk terpencar di deretan bangku kayu. Mereka tampak khusyuk dalam doa, masing-masing larut dalam kesunyiannya sendiri.

Saya sempat bertanya-tanya dalam hati. Apakah mereka sedang memohon jalan keluar atas persoalan hidup yang sedang dihadapi? Ataukah justru sedang mengucap syukur atas segala kebaikan yang telah mereka terima? Saya tentu tidak pernah tahu rahasia-rahasia hati terdalam manusia, yang mungkin hanya diutarakan pada Sang Pencipta.

Yang saya tahu, keheningan sebuah rumah ibadah selalu memiliki bahasa yang sama, agama apa pun dan di mana pun ia berada. Orang datang membawa harapan, kecemasan, rasa syukur, atau sekadar mencari ketenangan. Tenang, damai, juga magis. Saya berjalan perlahan agar tidak mengganggu kekhusyukan mereka.

Altar utama gereja tampak megah. Rangkaian bunga tersusun rapi di sepanjang jalur menuju ke sana. Langit-langitnya menjulang tinggi dengan panel-panel berwarna yang membiaskan cahaya matahari ke dalam ruangan. 

Di bagian depan berdiri patung Yesus dengan salib besar sebagai pusat perhatian. Sementara di salah satu sisi gereja terdapat patung Bunda Maria, dikelilingi miniatur bangunan dan ornamen-ornamen kecil yang tampaknya menggambarkan rangkaian kisah tertentu dalam tradisi Gereja Katolik.

Saya menghabiskan beberapa saat menikmati keheningan itu sebelum akhirnya kembali melangkah ke luar gereja.

Saint Mary Cathedral.

Saya berjemur di depan Saint Mary Cathedral.


Tuna Wisma di Jalanan

Keluar dari gereja, suasana kembali berubah. Deru kendaraan kembali terdengar. Beberapa orang berlalu-lalang dengan langkah cepat, headset terpasang di telinga, seolah masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Saya pun kembali menyusuri trotoar, mengikuti rute yang sudah saya tandai di peta digital sejak malam sebelumnya.

Namun, belum jauh meninggalkan kawasan gereja, saya mulai melihat sisi lain Kota Perth. Di balik gedung-gedung tinggi, taman yang tertata rapi, atau bangunan-bangunan bersejarah, ada orang-orang yang sedang berjuang dengan kehidupannya di sudut-sudut jalan. Pemandangan tentang wajah lain kota yang bersih dan makmur: ada kisah yang tidak banyak terlihat oleh para wisatawan.

Di bawah lampu lalu lintas, tepat di persimpangan jalan di depan gereja, saya melihat seseorang sedang berbaring di atas trotoar, tiduran begitu saja bermandikan sinar matahari musim dingin. Seolah tak peduli orang-orang atau kendaraan melintas di dekatnya, Saya menduga ia adalah seorang homeless, atau tunawisma.

Sebelum berangkat ke Australia, saya memang cukup sering membaca bahwa kota-kota besar di negara-negara maju memiliki banyak persoalan tunawisma.

Selama berada di Perth, saya menjumpai beberapa orang dengan kondisi serupa. Sebagian duduk diam di sudut jalan, sebagian berjalan pelan tanpa tujuan yang jelas, ada yang mengorek tempat sampah. Salah satunya saya lihat memungut puntung rokok lalu mengisapnya. Pakaiannya tampak lusuh. Ada pula yang sesekali mengangkat satu jari atau melambaikan tangan kepada orang yang lewat, seolah berharap mendapat sedikit perhatian, uang receh, atau mungkin hanya sapaan. 

Saya sendiri beberapa kali berpapasan dengan mereka. Ketika saya menggeleng pelan sambil mengucapkan, "No, sorry," mereka umumnya tidak memaksa dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Setidaknya, begitulah pengalaman saya selama berada di Perth.

Saya tidak tahu apa kisah hidup mereka sehingga berkondisi demikian.

Mungkin ada yang kehilangan pekerjaan, mengalami persoalan kesehatan mental, terjerat penyalahgunaan narkoba, atau sekadar sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Apa pun penyebabnya, pemandangan itu menyiratkan bahwa kemakmuran sebuah kota tidak selalu berarti semua orang yang tinggal di dalamnya menikmati kehidupan yang sama.


Saint George Cathedral

Dari Saint Mary Cathedral, saya melanjutkan perjalanan menuju gereja berikutnya, Saint George Cathedral. Jalur menuju ke sana melewati kawasan pusat kota yang dipenuhi gedung-gedung bergaya kolonial. Bangunan-bangunannya tampak tua, tetapi terawat dengan baik. Berjalan kaki di kawasan ini rasanya seperti sedang menyusuri halaman-halaman sebuah buku sejarah yang masih hidup.

Gerimis mulai turun ketika saya tiba. Saint George Cathedral berdiri anggun di tengah kota. Dindingnya yang tersusun dari batu berwarna cokelat keabu-abuan memberi kesan kokoh, mengingatkan saya pada benteng-benteng tua di Eropa. Sekilas, bangunan ini juga mengingatkan saya pada kastil-kastil dalam film Robin Hood.

Di puncak salah satu menaranya berkibar bendera Australia. Di bawah langit yang mendung dan rintik hujan musim dingin, pemandangan itu terasa semakin syahdu. Batu-batu tua yang membentuk dinding gereja tampak lebih gelap karena basah oleh hujan, menghadirkan suasana yang tenang sekaligus sedikit melankolis.

Saya kemudian masuk ke halaman gereja. Berbeda dengan Saint Mary Cathedral yang terasa lebih megah, Saint George Cathedral memberi kesan lebih sederhana. Gereja bergaya Kebangkitan Gotik ini merupakan gereja katedral Gereja Anglikan di Perth dan telah berdiri sejak akhir abad ke-19. Hingga kini, bangunan tersebut masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah sekaligus menjadi salah satu bangunan bersejarah yang cukup dikenal di pusat kota.

Saya tidak masuk ke dalam gereja. Saya memilih berdiri beberapa saat di sekitar halamannya yang masih basah oleh sisa-sisa gerimis. Lantai batu memantulkan bayangan dinding gereja yang menjulang, sementara rumput dan dedaunan di sekitarnya masih meneteskan butiran air hujan. 

Dari sudut tempat saya berdiri, bangunan tua bergaya Gotik itu tampak berpadu dengan gedung-gedung bertingkat modern di belakangnya. Pemandangan itu terasa kontras, tetapi tidak saling berebut perhatian. Bangunan-bangunan dari dua zaman berdiri berdampingan, seolah saling mengingatkan tentang kota yang dibangun di atas jejak masa lalunya.

Saya tidak menghabiskan waktu terlalu lama. Gerimis yang semakin rapat membuat saya kembali mengenakan tudung jaket. Setelah menikmati suasana beberapa saat dan mengambil beberapa foto, saya pun melanjutkan langkah menyusuri pusat Kota Perth.

Tampak depan dari bangunan Saint George Cathedral.

Tampak belakang dari bangunan Saint George Cathedral.

Kontras: bangunan dari dua zaman berdiri berdampingan.

City of Perth Library

Usai mengunjungi dua gereja di pusat Kota Perth, saya berniat kembali menyusuri keramaian kota. Namun, sebuah tulisan besar di dinding kaca gedung yang saya lewati tiba-tiba menarik perhatian: Perth Public Library.

Sebagai seseorang yang menyukai buku, tentu saya tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Saya pun masuk dan menghampiri petugas di front office. Dengan ramah, petugas yang melayani mempersilakan saya berkeliling melihat koleksi perpustakaan. Ia juga mengizinkan saya mengambil foto maupun video menggunakan kamera, dengan catatan tidak menyalakan lampu kilat dan tidak memotret pengunjung secara mencolok.

Perpustakaan ini terdiri atas beberapa lantai. Lantai pertama menjadi area penerima tamu sekaligus kafetaria. Lantai kedua berisi koleksi buku-buku fiksi. Lantai ketiga didedikasikan untuk buku-buku nonfiksi. Lantai berikutnya menyimpan koleksi film dalam bentuk VCD serta piringan hitam lengkap dengan perangkat pemutarnya. Sementara itu, lantai lima menjadi ruang baca anak-anak. Di lantai paling atas tersedia ruang bermain video game dan berbagai aktivitas kreatif untuk para pengunjung.

Yang paling menarik perhatian saya adalah suasananya yang hening dan nyaman. Pengunjung datang dari berbagai usia. Ada yang tenggelam dalam bacaan, ada yang sibuk bekerja dengan laptop, dan ada pula yang sekadar menikmati suasana tenang di sudut ruangan. Hampir setiap lantai dilengkapi meja dan kursi yang nyaman, menjadikan perpustakaan ini terasa lebih seperti ruang publik tempat orang belajar, bekerja, dan bertemu, daripada sekadar tempat meminjam buku.

Di beberapa sudut, cahaya matahari masuk melalui dinding-dinding kaca yang tinggi, membuat ruangan terasa terang dan hangat meskipun di luar udara musim dingin masih menyelimuti Kota Perth. Suasananya begitu tenang sehingga langkah kaki dan suara lembaran buku yang dibalik terasa lebih dominan daripada percakapan manusia.

Saya menghabiskan waktu cukup lama hanya dengan berjalan perlahan dari satu lantai ke lantai berikutnya. Sesekali berhenti membaca judul-judul buku yang terpajang di rak, meskipun sebagian besar tentu tidak mungkin akan saya baca dalam waktu sesingkat itu.

Buku memang selalu memiliki cara yang aneh untuk membuat seseorang betah berlama-lama. Bahkan di kota yang baru saya kunjungi, perpustakaan terasa seperti tempat yang akrab dan menyenangkan. Konon, peradaban sebuah kota sering kali dapat dilihat dari bagaimana kota itu merawat minat baca masyarakatnya. 

Keluar dari perpustakaan, saya kembali menyusuri trotoar pusat Kota Perth. Kali ini tujuan saya bukan lagi bangunan bersejarah atau museum lagi, melainkan kawasan tempat orang-orang berbelanja, makan dan menikmati kopi, atau menghabiskan sore mereka: Hay Street dan Murray Street. Kemarin malam, saya sudah ke sana, dan kini akan ke sana lagi.

Saya di depan City of Perth Library.

Salah satu sudut penampakan di dalam perpustakaan.

Salah satu genre favorit saya: buku-buku perjalanan.

Satu buku yang mencuri perhatian: Tour de Oz. 
Tentang petualangan bersepeda keliling Australia di masa lampau.


Hay dan Murray Street

Perpustakaan Kota Perth ini berada di Hay Street, salah satu ruas jalan utama di kawasan pusat bisnis Perth. Tepat di sebelahnya terdapat Murray Street. Kedua jalan ini menjadi jantung kawasan perbelanjaan kota. Di sepanjang jalurnya berjajar pusat perbelanjaan, toko-toko, restoran, hingga kafe. Menariknya, sebagian ruas Hay Street dan Murray Street ditutup bagi kendaraan bermotor sehingga kawasan ini nyaman dijelajahi dengan berjalan kaki.

Nama kedua jalan ini ternyata bukan diambil dari bentang alam atau nama lokal Australia Barat. Hay Street dinamai untuk menghormati Robert William Hay, seorang pejabat kolonial Inggris, sedangkan Murray Street diambil dari nama Sir George Murray, Menteri Koloni Inggris pada awal abad ke-19. Saya sempat mengira nama Murray ada hubungannya dengan burung murai, karena melihat banyak burung terbang. Ternyata dugaan saya meleset cukup jauh.

Di bawah rindangnya pepohonan di Hay Street, seorang musisi jalanan menggelar pertunjukan kecilnya. Ia duduk di emper sebuah toko yang telah tutup, memetik gitar sambil menyanyikan lagu-lagu country. Sebuah pengeras suara kecil mengalunkan suaranya ke sekitar. Sementara kotak gitar yang terbuka di depannya menunggu uluran tangan para pejalan kaki. 

Angin musim dingin berembus perlahan, menerbangkan beberapa helai daun yang gugur dari pepohonan di atasnya. Orang-orang terus berlalu-lalang, sebagian hanya melirik pengamen jalanan itu hanya sekilas. Sebagian lagi berhenti beberapa saat sebelum melanjutkan langkah. Tak ada keramaian yang berlebihan, membuat sore di pusat Kota Perth terasa begitu hidup.

Salah satu gang  atau lorong yang paling terkenal di kawasan ini adalah London Court. Sesuai namanya, lorong pertokoan ini memang dirancang menyerupai jalan-jalan sempit bergaya Inggris kuno. Bangunannya dipenuhi ornamen klasik, lengkap dengan jam besar di kedua ujung lorong serta fasad bergaya Tudor yang membuat suasananya terasa berbeda dibandingkan gedung-gedung modern di sekitarnya.

Begitu melangkah masuk ke London Court, saya serasa berpindah ke latar film Harry Potter. Lorongnya sempit, bangunannya tinggi, dengan deretan jendela dan ornamen yang mengingatkan saya pada kota-kota tua di Inggris. Tentu saja ini bukan Diagon Alley, jalan perbelanjaan fiktif dan pusat ekonomi bagi para penyihir imajinasi J.K. Rowling. Tetapi suasananya cukup untuk membuat imajinasi saya bekerja.

Saya mampir ke salah satu toko suvenir. Barangkali ada sesuatu yang cocok dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Rak-raknya dipenuhi gantungan kunci, magnet kulkas, mug, boneka kanguru dan koala, hingga berbagai pernak-pernik khas Australia. Saya melihat-lihat cukup lama, tetapi akhirnya keluar tanpa membawa apa pun.

Bukan karena barang-barangnya kurang menarik. Saya hanya belum menemukan yang benar-benar ingin saya bawa pulang. Lagi pula, perjalanan saya masih beberapa hari lagi. Saya masih punya waktu untuk kembali.

Saya selalu merasa bahwa membeli oleh-oleh bukan semata-mata soal membawa pulang barang. Atau menganggapnya menambah kerepotan. Lebih dari itu, membeli oleh-oleh adalah simbol sederhana untuk mengatakan kepada orang-orang terkasih di rumah, bahwa: sejauh apa pun kita pergi, mereka ikut hadir dalam ingatan sepanjang perjalanan.

Saya di depan pintu masuk  lorong London Court.

Penampakan lain dari bagian depan London Court.

Satu karya seni di kawasan Hay dan Murray Streets.


Kaktus Hijau Buatan

Di salah satu sudut persimpangan, tepat di tepi jalan yang memisahkan kawasan Hay dan Murray Street dengan Stasiun Perth, berdiri sebuah karya seni yang sulit luput dari perhatian. Sebuah patung kaktus raksasa berwarna hijau terang. Sebutannya: Grow Your Own.

Sebelum berangkat ke Perth, saya sempat mengunduh peta jalur wisata bertema seni yang disediakan pemerintah kota. Patung kaktus ini termasuk salah satu titik yang direkomendasikan. Mungkin bagi warga Perth yang setiap hari melewatinya, keberadaan patung ini sudah menjadi pemandangan biasa. Namun, bagi saya yang baru pertama kali datang ke kota ini, rasa penasaran justru muncul. Mengapa sebuah kaktus raksasa ditempatkan di tengah kawasan bisnis?

Dari keterangan yang saya baca, Grow Your Own merupakan karya seniman Patricia Piccinini yang mengangkat gagasan tentang hubungan manusia dengan alam, lingkungan, dan kehidupan modern. Judulnya juga dikaitkan dengan semangat menanam sendiri, yang mengingatkan pada berkembangnya gerakan pertanian organik serta pentingnya membangun hubungan yang lebih dekat dengan alam di tengah kehidupan perkotaan.

Warna hijaunya yang mencolok membuat patung ini begitu kontras dengan bangunan-bangunan batu berwarna krem dan abu-abu di sekelilingnya. Bentuknya sederhana, tetapi mengundang orang seperti saya untuk berhenti sejenak, mengamatinya, lalu bertanya-tanya mengenai maknanya. Mungkin memang itulah salah satu tujuan sebuah karya seni di ruang publik: bukan untuk dipahami dalam sekali pandang, melainkan untuk membangkitkan rasa ingin tahu.

Saya berdiri beberapa saat di depannya sambil memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang. Sebagian besar tampak berjalan begitu saja tanpa menoleh. Sebagian lainnya menoleh pada saya yang tampak seperti orang baru pertama kali ke Jakarta dan mengagumi Monas. Tidak setiap hari kita bertemu 'pohon kaktus' setinggi beberapa meter yang berdiri di tengah pusat Kota Perth, bukan?

Patung kaktus Grow Your Own.

Burung-burung di Tengah Kota

Satu hal yang membuat saya kagum adalah kehidupan burung-burung di pusat Kota Perth. Di lapangan terbuka dekat patung Grow Your Own, sekawanan merpati bergerombol mencari makan. Mereka tampak begitu tenang, seolah tidak terusik oleh orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya. Lucunya, manusia pun tampak sama acuhnya. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri.

Perhatian saya kemudian beralih ke pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan. Dari balik rimbun dedaunan terdengar kicauan yang riuh bersahutan. Ketika saya mendongak, tampak puluhan burung berwarna-warni bertengger di dahan-dahan. Bulu mereka didominasi warna hijau dengan semburat merah, biru, dan kuning yang menyala ketika terkena sinar matahari sore. Ada juga di pohon lain, burung seperti kakatua berwarna dominan merah muda berhiaskan warna abu. Saya tidak tahu pasti jenisnya, tetapi pemandangan itu begitu memikat.

Burung-burung itu hidup liar. Mereka beterbangan bebas dari satu pohon ke pohon lain, tanpa tampak takut pada manusia. Saya membatin, kalau pemandangan seperti ini ada di beberapa tempat di Indonesia, mungkin sebagian burung itu sudah ditangkap untuk dipelihara atau diperjualbelikan. Di Perth, mereka menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kota. Orang-orang tampaknya sudah terbiasa hidup berdampingan dengan mereka.

Saya kemudian mencari tahu. Australia memang memiliki perlindungan yang cukup ketat terhadap satwa liar sehingga banyak jenis burung asli masih mudah dijumpai, bahkan di tengah kawasan pusat kota.

Menariknya, bagi sebagian warga Perth, burung-burung ini tidak selalu dipandang sebagai penghias kota. Populasinya yang melimpah membuat beberapa jenis burung kerap dianggap mengganggu. Kotorannya mengotori bangunan dan kendaraan, atau pada beberapa jenis burung ada yang gemar merusak tanaman atau kabel. Apa yang bagi wisatawan tampak indah dan eksotis, bagi penduduk setempat kadang menjadi sumber masalah.

Makin senja, kawanan burung itu makin banyak beterbangan menuju pepohonan untuk bermalam. Orang-orang tetap berjalan dengan langkah cepat menuju rumah, halte bus, atau stasiun kereta. Burung-burung itu pun tetap berkicau riuh, seolah tak terganggu. Kota ini seakan memiliki dua kehidupan yang berjalan berdampingan: kehidupan manusia yang sibuk dan kehidupan satwa liar yang tetap mengikuti irama alamnya.

Sepasang burung yang saya jumpai di pinggir jalan.
Ada banyak burung berbagai jenis di jalanan Kota Perth.


Jelang Petang

Hari mulai merambat menuju petang. Udara musim dingin terasa semakin menggigit. Saya pun mengakhiri langkah kaki hari di seputaran Perth CBD dan berjalan menuju halte CAT Bus terdekat untuk kembali ke hotel. 

Tanpa terasa, sejak siang saya telah berkeliling menyusuri pusat Kota Perth, berpindah dari satu sudut ke sudut lainnya. Dari kawasan tepian Sungai Swan, menara lonceng, museum emas, dua gereja tua, perpustakaan umum, hingga jalan-jalan pusat perbelanjaan yang ramai. 

Saya menemukan potongan-potongan cerita tentang kota ini. Tentang sejarahnya, manusianya, dan alam yang tetap hidup berdampingan di tengah modernitas. Barangkali memang begitulah cara sebuah kota memperkenalkan dirinya. Bukan lewat tempat-tempat ikonik semata, melainkan melalui pengalaman-pengalaman kecil yang tanpa sadar menetap dalam ingatan seorang pejalan. []


I Komang Gde Subagia | Perth, Juni 2026

Comments