Asa, istri saya, mendapat penugasan ke Kota Perth, Australia Barat, selama satu minggu. Ia, yang seorang peneliti di bidang biologi molekuler, akan belajar tentang pendalaman ilmu baru bersama rekan-rekannya di Minderoo Institute, sebuah lembaga di bawah naungan The University of Western Australia. Saya? Tentu tak menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut serta.
Kota di Australia
Tak pernah terlintas dalam pikiran bahwa saya akan berkunjung ke Perth, Australia Barat, salah satu negara bagian di Australia. Sebelumnya, jika ada keinginan untuk berkunjung ke negeri kanguru, kota-kota yang sejak lama terbayang di benak saya adalah Sydney dan Melbourne di bagian timur. Atau setidaknya Brisbane, tempat beberapa rekan kerja saya berkantor.
Tapi Perth? Boleh juga. Rasanya kota ini sedikit underrated sebagai tujuan wisata. Letaknya bahkan lebih dekat ke Bali dibandingkan ke kota-kota besar di pesisir timur Australia. Penerbangan Denpasar–Perth dapat ditempuh dalam waktu sekitar tiga setengah jam. Sementara itu, menuju Canberra yang menjadi ibu kota negara, maupun Sydney yang merupakan kota terbesar di Australia, membutuhkan waktu lebih dari empat jam penerbangan dari Perth.
Posisi Perth di peta.Tantangan Mendapatkan Visa
Untuk bisa berkunjung ke Australia, syarat pertama tentu harus memiliki visa. Di sinilah tantangannya. Saya hanya memiliki waktu sekitar satu setengah bulan sejak memastikan akan ikut berangkat. Istri saya beserta rekan-rekannya mendapatkan persetujuan visa hanya satu hari setelah penyerahan dokumen. Sementara saya harus menunggu selama dua puluh sembilan hari.
Apa pasalnya? Istri saya dan rekan-rekannya mengajukan visa Visitor dengan kategori Business Purpose. Sementara saya juga mengajukan visa Visitor, tetapi dengan kategori Tourist. Seminggu pertama menunggu, saya masih santai. Memasuki minggu kedua dan ketiga tanpa kabar apa pun, saya mulai resah dan pasrah. Tidak jadi berangkat pun tidak apa-apa, batin saya. Tepat menjelang satu bulan penantian, akhirnya muncul kabar yang ditunggu-tunggu: visa saya granted.
Selama menunggu kepastian itu, saya sempat membaca berbagai pengalaman para pemohon visa di forum-forum media sosial. Dari sana saya mendapat kesan bahwa pengajuan visa dari Indonesia memang sedang diperiksa lebih ketat. Petugas imigrasi Australia melakukan pemeriksaan lebih teliti terhadap dokumen yang diajukan. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya penyalahgunaan visa oleh sebagian orang Indonesia yang datang menggunakan visa wisata, tetapi kemudian bekerja secara ilegal di Australia.
Dari pengalaman tersebut, satu hal yang saya simpulkan agar peluang visa disetujui lebih besar adalah memastikan seluruh dokumen yang kita ajukan mampu menunjukkan bahwa kita memiliki keterikatan yang kuat dengan Indonesia. Dengan begitu, petugas dapat yakin bahwa kita benar-benar akan kembali ke tanah air setelah kunjungan selesai dan tidak akan menjadi beban di negara mereka. Sungguh berbeda sekali dengan negeri kita, yang banyak warga asing masuk seenaknya tanpa syarat ketat.
Dokumen yang saya serahkan meliputi surat pengantar, paspor yang masih berlaku beserta paspor lama yang memuat riwayat perjalanan, kartu identitas, akta nikah dan kartu keluarga, rekening koran yang memperlihatkan riwayat transaksi selama tiga bulan terakhir sekaligus menunjukkan kecukupan dana, bukti potong pajak atau SPT tahunan, surat keterangan kerja dari perusahaan, kartu identitas karyawan, surat undangan untuk istri saya, serta rencana perjalanan selama berada di Australia.
Proses mendapatkan visa Australia bisa dilakukan secara mandiri melalui online.immi.gov.au.Kunjungan Musim Dingin
Kunjungan saya ke Perth pada pertengahan tahun bertepatan dengan musim dingin Australia. Bagi saya, mengunjungi Australia secara perdana juga berarti mengunjungi daerah yang memiliki empat musim untuk pertama kalinya. Banyak informasi yang saya dapatkan bahwa suhu di sana akan sangat rendah jika dibandingkan dengan negara kita yang berada di rentang khatulistiwa.
Karena itu, saya menyiapkan pakaian musim dingin: sweater, jaket bulu angsa, jaket parka yang windproof, pakaian base layer, sarung tangan, kaus kaki, serta kupluk penutup kepala. Semua itu merupakan perlengkapan yang biasa saya gunakan saat beristirahat ketika mendaki gunung. Kini, perlengkapan tersebut mendapat tugas baru sebagai pakaian tambahan untuk berwisata di kota.
Musim dingin di Australia:Berangkat
Singkat cerita, kami pun berangkat. Selain bersama istri saya, turut serta pula rekan-rekannya dari Indonesia: Andrianus Sembiring, Candra Aprilia, dan Komang Rosa. Total kami berlima, dengan saya menjadi tim hore di antara mereka yang membawa misi belajar ke The University of Western Australia.
Penerbangan dari Denpasar ke Perth kami lalui dengan lancar selama sekitar tiga setengah jam. Sedikit membosankan karena langit dipenuhi awan. Ketika pesawat mulai melintas di atas Benua Australia, pemandangan di bawah didominasi hamparan tanah kering yang tampak gersang. Benar juga kata orang, sebagian besar wilayah benua yang hanya dihuni oleh satu negara ini memang berupa gurun yang tandus.
Walaupun telah memiliki visa, saya tetap menyimpan sedikit kekhawatiran sesaat setelah mendarat dan akan melewati pemeriksaan imigrasi Australia. Dari formulir kedatangan yang saya isi, ada dua pertanyaan yang saya jawab "Ya" dan berpotensi membuat saya diperiksa lebih lanjut. Pertama, mengenai membawa obat-obatan. Kedua, mengenai aktivitas luar ruang yang saya lakukan dalam satu bulan terakhir. Selain itu, saya juga membawa beberapa bungkus makanan dari Indonesia.
Namun ternyata semuanya berjalan tanpa halangan berarti. Obat-obatan pribadi yang saya bawa tidak menjadi masalah. Petugas biosekuriti yang memeriksa sepatu saya pun hanya memastikan tidak ada lumpur yang menempel. Walaupun beberapa hari sebelumnya saya sempat mendaki gunung, tentu saja tidak mungkin saya membawa sepatu yang masih kotor bekas pendakian untuk dipakai berkunjung ke Australia. Beberapa energy bar yang saya bawa pun lolos pemeriksaan tanpa kendala.
Sebelah Kings Park
Keluar dari gedung terminal Bandara Perth, hembusan angin dingin dan rintik hujan langsung menyambut. Walaupun saya sudah mengenakan hoodie, hawa dinginnya tetap terasa menusuk. Kami berteduh di sebuah halte sambil menunggu jemputan.
Tak lama kemudian, seorang pengemudi taksi datang. Ia mengantar kami menuju hotel di pusat kota. Sepanjang perjalanan meninggalkan bandara, suasananya mengingatkan saya pada jalan keluar dari Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng. Menyusuri jalan mulus lebar dengan pemandangan terbuka, lalu memasuki kota dengan gedung-gedung pencakar langit.
Kami menginap di Quest Kings Park, sebuah hotel dengan kamar-kamar bertipe apartemen studio. Di dalamnya tersedia dapur kecil, ruang tamu minimalis, kamar mandi dengan mesin cuci, serta berbagai fasilitas standar lainnya. "Bisa memasak untuk menghemat biaya makan nih," batin saya. Masing-masing peserta mendapatkan satu kamar. Dan tentu saja saya sekamar dengan Asa, menempati salah satu kamar di lantai tiga.
Kings Park sendiri merupakan taman kota yang menjadi salah satu ikon Perth. Luasnya mencapai lebih dari empat ratus hektare dan sering disebut sebagai salah satu taman kota terbesar di dunia. Saat menjelajahi Perth melalui Google Maps sebelum keberangkatan, kawasan hijau inilah yang paling mencuri perhatian saya. Letaknya memisahkan hotel tempat kami menginap dengan kawasan The University of Western Australia.
Baru saja tiba di lobi hotel yang hangat dan sedang memproses check-in, hujan yang sebelumnya hanya gerimis mendadak turun semakin deras. Angin bertiup kencang, menerbangkan dedaunan yang berguguran. Iseng saya melangkah keluar dari lobi untuk benar-benar merasakan suhu udaranya. Wuih... dinginnya semakin menjadi. Begini rupanya musim dingin itu. Seperti kena hujan angin di ketinggian tiga ribuan mdpl saat mendaki gunung. Sepertinya memang lebih nyaman berada di dalam ruangan.
Tiba di kamar dan rebahan sejenak, Asa kemudian memesan makan siang yang sudah terlambat melalui Uber Eats. Di Perth, itulah layanan pesan-antar makanan yang kami gunakan. Karena kami datang pada hari Minggu, banyak restoran tutup sehingga pilihan yang tersedia tidak terlalu banyak. Harga seporsi makanan pun tampak cukup mahal, terlebih setelah ditambah ongkos kirim.
Di Australia, khususnya di wilayah barat seperti Perth, banyak restoran tutup lebih awal atau memiliki jam operasional yang terbatas pada akhir pekan. Salah satu penyebabnya adalah tingginya biaya upah lembur bagi para pekerja. Di sisi lain, masyarakat setempat juga cenderung menghargai waktu di luar jam kerja. Hari libur benar-benar dimanfaatkan untuk beristirahat di rumah atau berkumpul bersama keluarga.


Berfoto dengan latar belakang Quest Kings Park.
Jalan-jalan Malam
Pukul enam sore, ketika langit sudah mulai gelap, kami memutuskan untuk berjalan-jalan keluar hotel. Hujan tinggal menyisakan gerimis. Dengan mengenakan pakaian berlapis—saya sendiri memakai jaket bulu angsa yang masih dilapisi lagi dengan jaket parka windproof—kami berjalan menyusuri Outram Street menuju pusat kota yang lebih dikenal sebagai CBD atau Central Business District.
Satu komentar pertama saya setelah berjalan beberapa ratus meter adalah: sepi.
Tak banyak orang yang saya lihat, entah yang lalu-lalang ataupun sekadar berjalan di trotoar seperti kami. Hanya beberapa kendaraan roda empat yang sesekali melintas, baik bus maupun mobil pribadi. Saya sempat berpikir, mungkin ini karena sedang musim dingin. Orang-orang tampaknya lebih memilih berdiam di dalam rumah yang hangat daripada menghabiskan waktu di luar.
Begitu tiba di sebuah convenience store—kurang lebih seperti Alfamart atau Indomaret di Indonesia—kami mendapati suasananya juga tidak terlalu ramai. Bahkan saat itu hanya kami yang sedang berbelanja. Saya mencari konverter colokan listrik, Andre membeli kartu SIM lokal untuk paket internet di ponselnya, sementara Asa dan rekan-rekan perempuan membeli beberapa bungkus Indomie.
Oh ya, Australia menggunakan colokan listrik standar tipe I, dengan tiga pin pipih yang tersusun menyerupai huruf V dan satu garis tegak. Berbeda dengan Indonesia yang umumnya menggunakan tipe C atau F dengan dua pin bulat. Saya yang sudah cukup percaya diri membawa konverter dari rumah ternyata hanya membawa adaptor untuk tipe A dan G.
Jadi, kalau suatu hari berencana bepergian ke luar negeri, ada baiknya memastikan lebih dulu standar colokan listrik yang digunakan di negara tujuan. Hal kecil seperti ini sering kali terlupakan, padahal bisa cukup merepotkan jika baru disadari setelah tiba di sana. Kalau tidak bawa, resikonya tentu harus beli dengan harga standar Australia.
Jalan-jalan malam di Kota Perth.Bus Gratis Dalam Kota
Setelah berjalan lebih dari lima kilometer, akhirnya kami tiba di kawasan utama Perth CBD. Tepatnya di William Street, salah satu ruas jalan yang terhubung dengan Hay Street dan Murray Street, pusat keramaian Kota Perth. Rasanya, berkunjung ke Perth tanpa menyusuri kawasan ini ibarat memasak sayur tanpa garam.
Malam itu kami membeli burger untuk dibungkus dan dibawa kembali ke hotel. Kaki mulai terasa lelah setelah berjalan cukup jauh, sehingga rasanya enggan jika harus kembali berjalan kaki. Untungnya, Perth memiliki layanan bus gratis bernama CAT Bus. CAT merupakan singkatan dari Central Area Transit. Layanan ini cukup populer, baik di kalangan warga lokal maupun wisatawan, karena menghubungkan berbagai lokasi penting di pusat kota.
CAT Bus memiliki beberapa jalur yang dibedakan berdasarkan warna. Ada Red CAT yang melayani rute timur–barat, Blue CAT untuk rute utara–selatan, serta Yellow CAT, Green CAT, dan Purple CAT yang masing-masing memiliki lintasan tersendiri. Oh ya, busnya sendiri tidak berwarna seperti penamaannya. Hanya berupa tulisan saja. Penamaan warna itu sepertinya berasal dari warna jalur yang tercantum di peta transportasi, seperti yang saya lihat.
Untuk mengetahui rute maupun jadwal operasinya, kita bisa menggunakan aplikasi Transperth. Saya sudah mengunduhnya sebelum berangkat. Melalui aplikasi tersebut, kita bahkan dapat melihat posisi bus secara langsung dan real time sehingga lebih mudah memperkirakan waktu kedatangannya.
Kalau tidak ingin memasang aplikasi tambahan, Google Maps sebenarnya sudah lebih dari cukup. Tinggal pilih moda transportasi umum, lalu aplikasi akan memberi tahu bus mana yang harus dinaiki, lokasi halte terdekat, tempat transit jika diperlukan, hingga perkiraan waktu tiba di tujuan.
Cara menggunakannya pun sederhana. Kita tidak perlu melakukan tap in ataupun tap out kartu apapun. Cukup melambaikan tangan saat bus mendekati halte tempat kita menunggu, lalu menekan tombol sebelum halte tujuan. Dan tentu saja, jangan lupa mengucapkan terima kasih kepada sopir saat turun.
Menariknya, pada kesempatan lain ketika saya pulang ke hotel sekitar pukul sepuluh malam, bus yang saya tumpangi dikawal oleh mobil patroli polisi. Saya tidak tahu apakah memang itu prosedur rutin demi keamanan saat larut malam atau hanya sebuah kebetulan. Namun, pemandangan itu cukup menarik perhatian saya.
Penampakan di dalam CAT Bus.Menutup Hari
Dan hari pertama di Perth akhirnya saya tutup. Ditemani udara musim dingin yang dingin, gerimis yang datang dan pergi, serta rasa kagum sekaligus penasaran yang mulai tumbuh. Kesan pertama saya tentang kota ini masih sebatas permukaannya. Esok hari, ketika Asa dan rekan-rekannya mulai menjalankan agenda belajar mereka di kampus, giliran saya memulai petualangan sendiri menjelajahi Perth, setapak demi setapak. []
I Komang Gde Subagia | Perth, Juni 2026






Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.