Tepian Sungai Swan

Hari ketiga saya di Perth.

Pagi itu saya memutuskan mengisi waktu dengan berolahraga lari. Dengan rute menyusuri tepian Sungai Swan. Beberapa hari sebelum berangkat ke Australia, ketika menyusun rencana perjalanan, saya sudah menandai jalur pedestrian di sepanjang sungai ini sebagai salah satu tempat yang wajib saya jelajahi. Dari citra satelit dan foto-foto yang saya lihat, lintasannya tampak panjang, rapi, dan menawarkan pemandangan kota yang menarik.

Tepian Sungai Swan.


Berawal dari Elizabeth Quay

Belajar dari pengalaman sehari sebelumnya, ketika udara musim dingin terasa begitu menusuk, saya mengenakan beberapa lapis pakaian. Untuk atasan, saya memakai dua lapis jersey yang dilapisi jaket windproof. Untuk bawahan, saya mengenakan base layer panjang yang dipadukan dengan celana pendek lari. Lumayan hangat.

Tak lupa, saya juga mengoleskan sunscreen ke wajah dan memakai lip balm. Kemarin, saat berkeliling Perth CBD, saya lupa membawa dan menggunakannya. Akibatnya, ketika kembali ke hotel, bibir saya terasa sangat kering. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Musim dingin ternyata cukup ekstrem bagi kulit, terutama pada bagian yang sensitif seperti wajah dan bibir. Setelah selesai memakainya, lip balm itu saya masukkan ke saku celana lari. Siapa tahu nanti saya membutuhkannya lagi di tengah perjalanan.

Titik awal rute lari saya hari itu adalah Elizabeth Quay, kawasan pelabuhan yang menjadi ikon Kota Perth dan telah saya kunjungi sehari sebelumnya. Saya berangkat dari hotel menggunakan Purple CAT Bus, layanan bus gratis yang beroperasi di pusat kota. Kali ini saya bahkan tidak perlu lagi membuka Google Maps. Saya sudah hafal dengan jalurnya. Saya tinggal turun di pemberhentian terakhir, di Terminal Elizabeth Quay.

Jam tangan menunjukkan pukul sebelas siang ketika saya tiba. Angin dingin masih berembus pelan. Meskipun matahari sudah cukup tinggi, udara tetap terasa sejuk. Rasanya seperti berada di sebuah ruangan berpenyejuk udara yang suhunya sengaja disetel terlalu rendah. Mau lari di siang hari saja kedinginan, apalagi lari pagi. Saya masih saja merasa belum beradaptasi dengan musim dingin ini.

Setelah melakukan pemanasan secukupnya, saya mulai berlari dengan santai. Rute pertama membawa saya menyusuri sisi barat teluk Elizabeth Quay, kemudian berbelok ke arah timur menuju kawasan The Bell Tower. Dari sana saya melanjutkan langkah melewati deretan kafe dan restoran yang berdiri berdampingan dengan dermaga.

Di permukaan Sungai Swan, seekor burung besar tampak asyik berenang sambil sesekali mengepakkan sayapnya hingga memercikkan air ke segala arah. Saya menduga itu adalah burung pelikan. Entah sedang membersihkan bulunya atau sekadar bermain air, tingkahnya begitu tenang. Saya pun berhenti sejenak menikmati pemandangan itu sebelum kembali melanjutkan lari.







Pedestrian yang Panjang

Keluar dari kawasan Elizabeth Quay, saya menyusuri jalur pedestrian di sisi utara Sungai Swan, tepat di samping Riverside Drive, berhadapan dengan hamparan Langley Park di seberang jalan. Permukaan jalurnya halus dan lebar, sehingga pejalan kaki, pesepeda, maupun pelari dapat berbagi ruang dengan nyaman. 

Dari lintasan ini, gedung-gedung bertingkat di pusat Kota Perth tampak menjulang megah di kejauhan. Di sisi lainnya, permukaan Sungai Swan yang tenang memantulkan cahaya matahari musim dingin. Perpaduan keduanya membuat suasana terasa damai sekaligus menyegarkan.

Di sepanjang jalur ini tumbuh deretan pohon palem yang menjadi tempat bertengger burung-burung nuri berwarna-warni. Ada kakatua galah berwarna merah muda juga. Saya kembali bertemu mereka yang sehari sebelumnya juga saya lihat di pusat kota. 

Sayangnya, dalam perjalanan kali ini saya tidak membawa kamera dengan lensa tele. Kamera ponsel saya pun tidak cukup mumpuni untuk menangkap objek yang berada jauh di atas pepohonan, sedangkan kamera aksi yang saya bawa lebih cocok untuk pengambilan gambar bersudut lebar. Akhirnya, saya hanya bisa menikmati keindahan burung-burung itu dengan mata telanjang.

Sesekali saya membatin, andai pemandangan seperti ini berada di Indonesia, mungkin sebagian burung itu sudah lebih dahulu ditangkap untuk dipelihara atau diperjualbelikan. Di Perth, mereka justru menjadi bagian dari keseharian kota. Bebas beterbangan dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa terusik oleh manusia.

Jalur pedestrian itu terus memanjang hingga memasuki kawasan Point Fraser Park. Di sana saya sempat berhenti di sebuah tempat penyewaan sepeda. Saya mengobrol sebentar dengan penjaganya, menanyakan jam operasional serta biaya sewanya. Rasanya menarik juga menjelajahi Perth dengan bersepeda.

Namun, niat itu akhirnya saya urungkan. Saya sudah mengenakan pakaian lari, dan ritme langkah kaki terasa terlalu sayang untuk dihentikan. Lagi pula, menikmati tepian Sungai Swan dengan berlari santai membuat saya merasa lebih jeli menikmati suasana. Juga lebih leluasa berhenti kapan saja ketika menemukan pemandangan yang menarik perhatian.








Kanguru di Pulau Heirisson

Di sisi taman membentang Jembatan Boorloo. Itu adalah jembatan yang menghubungkan tepian Sungai Swan dengan Pulau Heirisson sekaligus ke sisi selatan sungai. Jembatan dapat dilalui pejalan kaki maupun pesepeda. Pulau kecil, seluas sekitar tujuh puluh hektar di tengah Sungai Swan itu, dikenal sebagai salah satu habitat satwa liar di dalam kawasan Kota Perth. Salah satu penghuni yang paling terkenal tentu saja kanguru, satwa ikonik Australia yang sejak lama menjadi simbol negara ini.

Sesuai rencana, saya akan mengelilingi pulau tersebut sambil berlari santai. Namun, baru beberapa langkah menuruni jalur menuju pulau, saya melihat sepasang wisatawan sedang berdiri. Mereka sedang berdekatan dengan seekor kanguru.

Rasa penasaran langsung mengalahkan keinginan untuk terus berlari.

Saya pun masuk melalui gerbang berpagar kawat yang menggunakan sistem pintu ganda. Pintu seperti ini memang dirancang agar pengunjung dapat keluar masuk tanpa memberi kesempatan kanguru berkeliaran ke luar kawasan.

Kanguru itu tampak sangat tenang. Saya mendekatinya perlahan sambil menjaga jarak. Hewan berkantung tersebut sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terganggu. Ia tetap asyik berbaring di atas rerumputan, menikmati hangatnya sinar matahari musim dingin. Sesekali ia meraih rumput di dekatnya, lalu mengunyahnya perlahan tanpa sedikit pun menghiraukan saya yang memperhatikannya.

Pulau Heirisson dihuni belasan hingga puluhan kanguru liar. Sebagian memang sudah terbiasa melihat manusia, tetapi bukan berarti mudah dijumpai setiap saat. Banyak pengunjung datang tanpa sempat melihat seekor pun karena kanguru-kanguru itu sering beristirahat di balik semak atau berpindah ke bagian pulau yang lebih sepi. Karena itu, bisa langsung bertemu dengan salah satunya sesaat setelah tiba terasa seperti keberuntungan bagi saya.

Meski terlihat jinak, mereka tetaplah satwa liar. Di beberapa titik terdapat papan peringatan yang mengingatkan pengunjung agar tidak memberi makan, menyentuh, atau mendekati kanguru terlalu dekat. Pada musim kawin atau ketika merasa terancam, kanguru liar dapat bersikap agresif dan menyerang. Rasa hormat terhadap ruang hidup mereka jauh lebih penting daripada keinginan mendapatkan foto dari jarak dekat.

Saya pernah melihat kanguru di televisi, buku pelajaran, majalah, dan internet. Namun, menyaksikannya langsung di alam bebas menghadirkan perasaan yang sama sekali berbeda. Ada kegembiraan yang sulit dijelaskan ketika akhirnya bertemu salah satu satwa yang selama bertahun-tahun hanya saya kenal melalui gambar. Begitulah jika kita bepergian seperti ini, ada sesuatu yang sebelumnya hanya ada dalam imajinasi berubah menjadi pengalaman yang benar-benar nyata. 

Selain kanguru, Pulau Heirisson yang dikelilingi lahan basah ini juga menjadi habitat berbagai jenis burung air maupun burung darat. Yang banyak saya jumpai kemudian adalah angsa hitam dan bebek liar. Ketika saya sengaja berjalan mendekati sekelompok bebek, mereka langsung beterbangan serempak. Pemandangan itu tiba-tiba mengingatkan saya pada permainan Duck Hunt, gim klasik Nintendo yang dulu sering saya mainkan semasa kecil menggunakan pistol mainan.







Air Minum dan WC Umum

Berlari belasan hingga puluhan kilometer di sepanjang jalur pedestrian tepian Sungai Swan tentu membuat saya harus sering minum. Itu berarti botol air perlu beberapa kali diisi ulang. Belum lagi urusan sederhana yang tak bisa dihindari setiap pelari: mencari toilet. Karena itulah, sebelum memulai lari, saya sudah menandai titik-titik drinking fountain dan public toilet di sepanjang rute menggunakan Google Maps.

Di Perth, seperti halnya di banyak kota di negara maju, mendapatkan air minum bukan perkara sulit. Cukup ketik drinking fountain atau water fountain di Google Maps, maka lokasi-lokasinya langsung bermunculan. Dan bisa ditentukan lalu dicari yang posisinya terdekat dari kita. Air dari keran-keran tersebut dapat diminum langsung tanpa perlu dimasak lagi.

Menariknya, fasilitas ini bukan hanya dibuat untuk manusia. Pada bagian atas terdapat keran yang dapat ditekan sehingga air menyembur ke atas dan bisa langsung diminum. Yang di atas agak menyamping, bisa digunakan mengisi botol. Di bagian bawahnya terdapat mangkuk kecil untuk anjing peliharaan maupun satwa lain yang sedang kehausan. Sebuah rancangan sederhana yang menunjukkan bahwa ruang publik juga memikirkan makhluk hidup selain manusia.

Setiap kali menemukan water fountain seperti ini, saya selalu teringat Indonesia. Fasilitas seperti ini ada, tapi tak banyak. Itu hanya di tempat-tempat tertentu saja. Kita memiliki PDAM, yang harusnya bertanggung jawab akan fasilitas seperti ini. PDAM, adalah singkatan dari Perusahaan Daerah Air Minum. Menariknya, huruf "M" itu berarti "Minum", bukan "Mandi". Namun hampir semua orang Indonesia memahami bahwa air yang keluar dari keran belum layak diminum secara langsung. Air itu tetap harus dimasak, atau lebih sering lagi, kita membeli air galon dan air minum kemasan.

Saya pun bertanya-tanya. Mengapa negara lain mampu menyediakan air minum siap konsumsi di ruang publik, sementara kita yang sama-sama memiliki perusahaan air minum daerah belum mampu mewujudkan hal serupa? Bayangkan jika suatu hari pemerintah kota-kota di Indonesia benar-benar menyediakan air minum gratis yang aman di taman, stasiun, terminal, jalur pedestrian, kawasan olahraga, hingga ke rumah-rumah. Betapa banyak pengeluaran rumah tangga yang bisa dihemat. Betapa banyak pula sampah botol plastik yang dapat dikurangi.

Lalu muncul pertanyaan lain yang lebih mengganggu. Siapa yang sebenarnya akan dirugikan jika masyarakat tidak lagi bergantung pada air minum kemasan? Dalam buku Reset Indonesia karya para ekspeditor Indonesia Biru, penulis mengemukakan dugaan adanya keterkaitan kepentingan bisnis air minum kemasan dengan kebijakan yang membuat kondisi tersebut tetap bertahan. Saya tentu tidak dalam posisi membuktikan tuduhan itu. Namun pertanyaannya tetap layak diajukan: mengapa sampai hari ini air PDAM di sebagian besar kota Indonesia masih belum bisa langsung diminum?

Hal lain yang saya apresiasi adalah keberadaan public toilet. Hampir setiap taman kota atau ruang publik menyediakan toilet yang bersih dan gratis, termasuk fasilitas bagi penyandang disabilitas. Tidak ada kotak amal bertuliskan, "Buang air kecil dua ribu rupiah, buang air besar lima ribu rupiah." Pengunjung cukup datang, menggunakan fasilitasnya, lalu pergi.

Rasanya banyak kebutuhan dasar warga kota memang disediakan pemerintah di sini tanpa pungutan tambahan. Jalur pedestrian yang nyaman, taman kota, transportasi umum tertentu, air minum, hingga toilet umum. Mungkin karena masyarakat telah membayar pajak, lalu pajak itu benar-benar kembali kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan publik. Sebuah pemandangan yang membuat saya kembali teringat pada negeri yang oleh warganet sering dijuluki sebagai Negeri Konoha.


Jembatan Matagarup

Usai berkeliling Pulau Heirisson, saya melanjutkan lari menyusuri tepian sungai di sisi seberangnya. Jalur pedestrian yang saya lewati membelah kawasan hijau Charles Paterson Park dan Burswood Park. Pada beberapa bagian, lintasannya berada di antara Sungai Swan dan danau-danau kecil di sekitarnya. Rasanya seperti berlari di atas jembatan alami yang diapit dua hamparan air sekaligus.

Tak lama kemudian, saya tiba di salah satu ikon Kota Perth, Jembatan Matagarup. Jembatan pejalan kaki dan pesepeda ini menjadi penghubung antara kawasan Burswood, tempat berdirinya Optus Stadium, dengan kawasan East Perth di seberang sungai. Sebelum berangkat ke Australia Barat, saya hampir selalu menemukan foto jembatan ini setiap kali mencari informasi tentang Perth di internet. Tak heran jika akhirnya saya memasukkannya ke dalam rute lari hari itu.

Desain Jembatan Matagarup sangat khas. Dua lengkungan baja berwarna hitam dan putih melengkung dari kedua sisi, lalu bertemu di bagian tengah. Dari kejauhan, bentuknya mengingatkan saya pada dua ekor angsa yang saling mendekat hingga lehernya hampir bersentuhan. Elegan, sederhana, tetapi mudah dikenali.

Nama Matagarup sendiri berasal dari bahasa Noongar, masyarakat Aborigin yang merupakan penduduk asli kawasan Perth. Konon, kata tersebut merujuk pada tempat dangkal di Sungai Swan yang dahulu menjadi lokasi aman untuk menyeberang sebelum jembatan-jembatan modern dibangun. Saya sempat tersenyum sendiri membaca penjelasan yang tertulis di sebuah lempengan baja. Melihat lebar dan dalamnya Sungai Swan saat ini, rasanya sulit membayangkan bahwa tempat ini pernah cukup dangkal untuk diseberangi dengan berjalan kaki.

Saat menyeberangi jembatan, angin musim dingin bertiup semakin kencang. Jaket windproof yang saya kenakan cukup membantu menahan udara dingin, tetapi hembusan angin tetap terasa menusuk. Saya pun mengencangkan tudung jaket dan memastikan topi yang saya kenakan tidak diterbangkan angin ke sungai.

Di bagian atas jembatan tampak kabel-kabel baja yang membentang tinggi. Di salah satu sisi terdapat papan informasi mengenai atraksi wisata petualangan Matagarup Bridge Climb. Pengunjung dapat memanjat hingga ke puncak lengkungan jembatan, lalu turun menggunakan wahana zipline atau flying fox yang meluncur melintasi sungai. Sayangnya, mungkin karena musim dingin atau memang belum waktunya beroperasi, siang itu tak terlihat satu pun aktivitas di wahana tersebut.










Claise Brook Cove

Melanjutkan lari setelah meninggalkan Jembatan Matagarup, saya tiba di sebuah teluk kecil yang menjadi bagian dari kawasan Sungai Swan, bernama Claise Brook Cove. Pemandangannya terasa begitu tenang dan asri. Untuk mencapainya, saya menyeberangi sebuah jembatan kecil yang membelah kawasan perairan. Di sekelilingnya berdiri deretan rumah tinggal, apartemen, dan bangunan bergaya Mediterania yang menghadap langsung ke tepian air.

Air sungai kecil yang bermuara ke teluk ini tampak jernih. Dari atas jembatan saya bisa melihat gerombolan ikan berenang di dekat permukaan. Tak tampak sepotong sampah plastik pun hanyut mengikuti arus. Di sepanjang tepian teluk, berdiri beberapa kafe dan restoran. Saya melihat beberapa pengunjung menikmati makan siang, sementara yang lain duduk santai dengan secangkir kopi hangat di tengah udara musim dingin. Rasanya menyenangkan menghabiskan sore di tempat setenang ini.

Sulit membayangkan bahwa kawasan yang kini tampak begitu rapi dan indah ini dahulu bukanlah kawasan rekreasi. Claise Brook pada awalnya merupakan anak Sungai Swan yang dikelilingi lahan basah alami. Seiring berkembangnya Kota Perth pada abad ke-19 dan ke-20, kawasan ini mengalami reklamasi dan perubahan fungsi menjadi kawasan industri, jalur kereta api, hingga pelabuhan kecil. Kondisinya sempat mengalami penurunan kualitas lingkungan akibat pembangunan kota.

Baru pada akhir abad ke-20 dilakukan program revitalisasi besar-besaran. Saluran air dibersihkan, kawasan tepian sungai ditata ulang, ruang terbuka hijau diperluas, dan lingkungan sekitarnya dikembangkan menjadi kawasan hunian sekaligus ruang publik. Claise Brook Cove yang saya lihat merupakan hasil dari upaya tersebut. Sebuah contoh bagaimana kawasan perkotaan yang pernah terdegradasi dapat dipulihkan menjadi ruang hidup yang nyaman bagi manusia maupun satwa liar.

Saya berdiri beberapa menit di atas jembatan kecil sambil menikmati suasana. Riak-riak air memantulkan bayangan bangunan di sekelilingnya. Beberapa burung air sesekali melintas rendah di atas permukaan sungai sebelum kembali menghilang di balik rimbunnya pepohonan. Tidak ada suara bising selain percakapan pelan dari teras-teras kafe dan langkah kaki para pejalan kaki yang menikmati sore. Rasanya sulit percaya bahwa tempat setenang ini masih berada di tengah sebuah kota besar.

Tak lama kemudian saya kembali berlari. Jalur pedestrian masih memanjang mengikuti tepian Sungai Swan. Di kejauhan, bangunan besar Optus Stadium mulai tampak semakin jelas. Itulah tujuan saya berikutnya.








Stadion Optus

Dari Claise Brook, pandangan saya langsung tertuju pada sebuah bangunan raksasa di seberang Sungai Swan. Sebuah stadion berbentuk oval dengan fasad berwarna perak yang tampak berkilau diterpa sinar matahari musim dingin. Itulah Stadion Optus, stadion terbesar di Perth dan salah satu stadion terbesar di Australia. Di hari pertama ketika dalam perjalanan dari bandara ke hotel, saya sudah melihatnya.

Stadion ini menjadi markas berbagai pertandingan olahraga besar, mulai dari Australian Rules Football, kriket, hingga sepak bola, serta kerap menjadi lokasi penyelenggaraan konser berskala internasional. Kapasitasnya mencapai sekitar enam puluh ribu penonton. Dari kejauhan saja, ukurannya sudah terlihat begitu mendominasi lanskap kota.

Untuk menuju ke sana, saya melanjutkan lari santai ke arah Windan Bridge, salah satu jembatan utama yang menghubungkan pusat Kota Perth dengan kawasan timur dan jalur menuju bandara. Selain dilalui kendaraan bermotor, jembatan ini juga menjadi lintasan kereta. Jalur pejalan kaki dan pesepeda berada terpisah di sisi bawah struktur utama jembatan sehingga tetap aman dan nyaman dilalui.

Saat menyeberangi jembatan, embusan angin kembali terasa jauh lebih kencang dibandingkan di tepian sungai. Mungkin karena kawasan ini lebih terbuka. Udara dingin seakan menembus lapisan jaket windproof yang saya kenakan. Saya pun kembali mengencangkan tudung kepala agar topi tidak diterbangkan angin.

Namun, rasa dingin itu perlahan terlupakan oleh pemandangan di depan mata. Semakin dekat, Stadion Optus tampak semakin megah. Jalur pedestrian yang saya lalui membelah beberapa laguna kecil dan kawasan rawa yang masih dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau. Airnya tenang, memantulkan siluet stadion yang berdiri anggun di kejauhan. Perpaduan antara arsitektur modern, hamparan air, dan vegetasi alami membuat kawasan ini terasa sangat fotogenik.

Saya sempat berhenti beberapa saat untuk menikmati pemandangan. Sulit rasanya membayangkan sebuah stadion berkapasitas puluhan ribu orang dapat berdiri berdampingan dengan ruang terbuka hijau yang begitu luas dan tertata. Ketika tidak sedang digunakan untuk pertandingan atau konser, kawasan di sekitarnya terasa tenang. Orang-orang berlari, bersepeda, berjalan santai, atau sekadar duduk menikmati tepian Sungai Swan.




Sisi Selatan Sungai

Selanjutnya, saya terus berlari santai menyusuri jalur pedestrian di sisi timur, lalu berbelok ke sisi selatan Sungai Swan. Saya kembali melewati Pulau Heirisson, kali ini dari sisi yang berlawanan. Selepas pulau itu, hampir seluruh jalur lari berada di dalam taman-taman kota yang membentang mengikuti tepian sungai. Hamparan rerumputan hijau, pepohonan rindang, dan gedung-gedung bertingkat di seberang sungai menjadi pemandangan sepanjang perjalanan.

Di kawasan ini, kehidupan satwa liar terasa begitu dekat dengan manusia. Saya melihat angsa, bebek liar, dan berbagai jenis burung mencari makan tanpa terusik oleh para pengunjung taman. Pada beberapa papan informasi, saya juga membaca bahwa kawasan aliran Sungai Swan menjadi habitat bagi berang-berang air dan beberapa jenis kura-kura air tawar. Sayangnya, hari itu saya tidak beruntung menjumpai keduanya. Hampir di setiap taman pula terpasang papan-papan yang mengingatkan pengunjung untuk menjaga kebersihan dan tidak mengganggu satwa liar beserta habitatnya.

Taman-taman tampak sedikit ramai. Beberapa keluarga menggelar tikar di bawah pepohonan. Ada pasangan yang duduk santai di bangku taman, kelompok remaja yang mengobrol sambil menikmati bekal, hingga anak-anak kecil yang berlarian di atas rerumputan. Mereka tampaknya sedang menikmati akhir pekan sebagai warga kota: berpiknik, berjemur di bawah hangatnya matahari musim dingin, atau sekadar menghabiskan waktu bersama.

Di beberapa titik tersedia pancuran air untuk membilas badan setelah bermain air di sungai. Ruang ganti, bangku-bangku taman, tempat sampah, jalur pedestrian, jalur sepeda, air minum siap konsumsi, hingga toilet umum semuanya tersedia dan dapat digunakan tanpa dipungut biaya.

Ruang-ruang publik seperti ini di Perth benar-benar terasa sebagai milik masyarakat. Tidak ada loket masuk. Tidak ada karcis. Tidak ada biaya parkir yang tiba-tiba muncul dari orang yang entah siapa. Warga datang, duduk, berlari, berpiknik, lalu pulang begitu saja. Semuanya terasa wajar.

Saya jadi teringat berbagai ruang publik di Indonesia yang perlahan berubah menjadi sumber pemasukan. Masuk bayar. Parkir bayar. Toilet bayar. Bahkan terkadang sekadar duduk pun terasa seolah harus membeli sesuatu terlebih dahulu. Padahal ruang publik seharusnya menjadi hak setiap warga yang telah membayar pajak. Rasanya masyarakat tidak pernah keberatan membayar pajak. Yang sering dipersoalkan sepertinya ketika hasilnya sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. 

Di Perth Australia saya melihat dan merasakan contoh yang berbeda dari negeri tempat saya berasal. Pajak yang dibayarkan masyarakat kembali kepada masyarakat dalam bentuk fasilitas yang nyata, terawat, dan dapat dinikmati siapa saja. Mungkin inilah salah satu ukuran tentang bagaimana sebuah kota, atau juga negara, menghargai warganya.










Kembali ke Elizabeth Quay

Saya kembali menuju kawasan Elizabeth Quay.  Melintasi trotoar di Narrows Bridge, jembatan utama yang menghubungkan sisi utara dan selatan Perth. Saya berlari di jalur pedestrian di tepi jembatan, sementara kendaraan bermotor melaju tanpa henti di lajur-lajur di sampingnya. Selama berada di Perth, inilah ruas jalan yang menurut saya paling padat oleh lalu lintas kendaraan.

Sesampainya di sisi utara sungai, saya kembali menyusuri lorong-lorong pedestrian di bawah jalan raya hingga akhirnya tiba di Elizabeth Quay, tempat saya memulai lari beberapa jam sebelumnya. Jam di tangan menunjukkan pukul empat sore. Catatan aktivitas merekam jarak tempuh lebih dari dua puluh tiga kilometer dalam waktu sekitar lima jam. Cukup jauh untuk sebuah lari santai, tetapi rasanya tidak melelahkan.

Karena berlari, saya merasa mengenal Kota Perth dengan cara yang berbeda. Saya tidak hanya berpindah dari satu objek wisata ke objek wisata lainnya, melainkan benar-benar mengikuti denyut kehidupan kota: menyusuri tepian sungai, melintasi taman-taman, bertemu kanguru liar, mengamati burung-burung, hingga melihat bagaimana ruang publik dirancang untuk dinikmati siapa saja. 




Sungai Swan terasa menjadi ruang hidup yang menyatukan manusia, satwa liar, dan alam dalam satu harmoni. Bagi saya, menyusuri tepiannya merupakan salah satu cara terbaik mengenal Kota Perth. Lari santai dengan langkah pelan tak terburu-buru. Sesekali berhenti untuk mengamati dan menikmati. Melakukannya terasa memuaskan karena memberi cukup waktu bagi saya untuk benar-benar melihat. []


I Komang Gde Subagia | Perth, Juni 2026

Comments