Di pesisir barat Australia, yang jauhnya sekitar dua puluh kilometer dari Perth, ada sebuah kota kecil yang menarik. Namanya: Fremantle. Ia dikenal dengan suasananya yang berhias bangunan bergaya kolonial, kafe, pasar tradisional, dan seni jalanan. Dalam berbagai rujukan wisata, kota ini selalu masuk menjadi destinasi. Saya pun mengalokasikan waktu untuk berkunjung ke sana.
Sebuah gereja tua di samping Pasar Fremantle.Kereta Komuter ke Fremantle
Pukul sembilan pagi yang dingin, di hari keempat saya di Perth, saya meninggalkan Quest Kings Park hotel untuk menuju ke stasiun commuter line terdekat: West Leederville Station. Untuk menuju ke sana, tak ada Bus CAT yang gratis. Adanya bus yang berbayar saja.
Oh, ya. Selama di Perth, berbagai jenis transaksi termasuk membayar tiket bus, menggunakan kartu. Saya sendiri menggunakan kartu debit Mastercard keluaran salah satu bank di Indonesia. Di mana fitur contactless dan transaksi internasionalnya harus diaktifkan. Juga memiliki kantong valas Dollar Australia di dalamnya, sehingga setiap kali tap, yang dipotong adalah saldo Dollar Australia, tanpa perlu takut perubahan nilai tukar mata uang di tengah melemahnya nilai rupiah yang terjadi setiap hari.
Saat duduk di halte, Google Maps menujukkan waktu kedatangan bus berikutnya adalah lima menit. Tapi lewat dari waktu itu, bus bernomor yang saya tunggu itu tak kunjung datang. Akhirnya saya memutuskan jalan kaki saja. Toh stasiun yang saya tuju itu jaraknya sekitar satu kilometer saja. Hitung-hitung jalan-jalan lagi melihat suasana sekitar.
Baru saja puluhan meter meninggalkan halte, ternyata bus yang ditunggu itu datang. Yah! Saya pun tak bisa naik bus itu. Nantinya, setelah beberapa kali naik transportasi umum, saya baru menyadari bahwa aplikasi Transperth lebih akurat dibandingkan Google Maps dalam memperkirakan kedatangan bus atau kereta. Soalnya aplikasi khusus transportasi di Perth itu memiliki fitur posisi real time.
Setelah menyusuri trotoar jalanan yang nyaman, saya pun tiba di Stasiun West Leederville. Berbeda dengan bus, di mana kita tap in kartu sesaat setelah masuk bus, di kereta kita tap in kartu setelah masuk stasiun. Rasanya sama saja seperti warga Jakarta yang naik Trans Jakarta atau kereta komuter dalam keseharian.
Tak perlu menunggu lama, kereta yang tujuan akhirnya di Stasiun Fremantle pun tiba. Saya naik dan mendapatkan tempat duduk dengan mudah. Tak ada desak-desakan. Penumpangnya tak banyak-banyak amat. Mungkin karena jam kerja di mana sebagian warga Perth beraktivitas di lokasi kerjanya masing-masing. Dan mungkin pagi tadi atau sore nanti, suasanya lebih padat.
Stasiun Fremantle
Aroma laut, udara dingin, dan kesan oldies langsung terasa ketika saya melangkahkan kaki keluar dari gerbong. "Fremantle Station", begitu tulisan yang saya baca. Tertempel di tiang bangunan stasiun berlatar dinding bata yang terkesan tua. Saya mengambil gambar selfie sejenak di sana.
Kereta dari Perth yang saya tumpangi hanya sampai di sini. Karena stasiun ini merupakan ujung akhir jalur Fremantle yang dioperasikan oleh Transperth. Saya mengecek jam di tangan. Sekitar tiga puluh menit perjalanan, rupanya.
Orang-orang berjalan tertib menuju pintu keluar. Saya berbaur dengan mereka. Toko makanan kecil di dekat pintu tampak menggoda. Di bagian depan etalasenya, terpajang roti-roti yang menggugah selera. Ada roti kroisan dan bakpao berbagai rasa. Saya lihat-lihat sekilas, tapi kemudian saya urungkan niat membelinya. Belum lapar. Penjualnya hanya tersenyum saja.
Dari depan stasiun, jalanannya lebar. Berupa pertigaan. Ada bus-bus berbagai nomor rute parkir yang salah satu ruas jalannya seperti berfungsi sebagai terminal kecil. Saya kemudian menyusuri zebra cross yang menjadi tempat penyeberangan di depan stasiun ini.
Toko Buku
Saya kemudian melanjutkan jalan kaki menyusuri salah satu sisi trotoar. Melalui taman kecil yang ada patung anjing besar, lalu berjalan di sepanjang pertokoan. Suasananya asyik sekali. Bangunan-bangunannya terkesan tua, tetapi terawat. Terasa begitu berbeda dengan Perth yang banyak gedung bertingkat.
Barang-barang yang dijual di toko-toko itu pun beragam dan menarik. Ada toko kelontong, toko yang menjual peralatan dapur, toko peralatan elektronik, toko roti, buah, dan sayur, serta kafe dan restoran. Bersih dan rapi. Tak ada motor yang parkir sembarangan di depannya. Juga tak ada lapak-lapak kaki lima yang seenaknya mengambil tempat di trotoar.
Tak berapa lama kemudian, sebuah toko buku bekas menarik perhatian saya. Namanya Elizabeth's Secondhand Bookshop. Saya masuk. Ribuan buku terpajang rapi di dalamnya. Entah kenapa, saya makin merasa nyaman berada di sekitar buku. Rasanya seperti menemukan harta karun yang melimpah.
Iseng saya lihat harga-harga bukunya, tertera nominal yang wajar untuk ukuran Australia. Yang kondisinya baik, antara lima hingga sepuluh dolar. Jika dibandingkan dengan di Indonesia, sebenarnya tak jauh berbeda. Di Gramedia, harga buku rata-rata di atas seratus ribuan rupiah. Padahal dengan nilai tukar yang signifikan antara AUD dan IDR, artinya buku di Australia bisa dibilang lebih murah dari di Indonesia.
Perempuan yang menjaga toko itu sangat ramah. Saya lupa menanyai namanya. Mungkin ia Elizabeth. Ia mempersilakan saya merekam gambar dan video di tokonya walaupun tak membeli satu buku pun di sana. Bahkan, saat akan meninggalkan tokonya, ia memberikan saya peta wisata di Fremantle. Menyarankan saya ke titik-titik tertentu yang bisa dikunjungi.
Oh, ya. Darinya pula, saya tahu bahwa Pasar Fremantle, salah satu daya tarik utama kota kecil di pesisir barat Australia ini, tutup di hari kerja. Pasar hanya buka di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Sayang sekali, saya terlewat akan informasi penting seperti ini sebelum berkunjung. Dengan sedikit kecewa, saya pun melangkah lagi. Tetap menuju ke arah pasar yang ada di tengah kota.
Toko Suvenir
Toko lain yang kemudian menarik perhatian saya adalah toko suvenir alias tempat berbelanja oleh-oleh. Saya masuk dan melihat-lihat. Ada beberapa pernak-pernik yang menarik perhatian: magnet tempelan kulkas serta tempat pensil yang berhiaskan koala Australia. Rasanya cocok jika beberapa saya beli untuk dibawa pulang nanti.
Asyik melihat-lihat di dalam toko yang pengunjungnya hanya saya seorang, penjaga tokonya menyapa ramah dalam bahasa Indonesia. Wah, tanpa menanyakan asal. Ia langsung tahu saya dari Indonesia. Sepertinya karena saya mengenakan jersey lari yang ada logo sponsor perusahaan Indonesia. Apalagi berwajah Asia, gampang sekali mungkin untuk ditebak. Haha!
Anton, lelaki paruh baya itu pun mengajak ngobrol. Katanya ia berasal dari Bandung. Sudah dua tahun lebih tinggal di Perth. Dan katanya lagi, di Perth, termasuk Fremantle, memang banyak orang-orang dari Asia, termasuk Indonesia. Maka tak heran jika setiap hari saat jalan-jalan seperti ini, saya selalu bertemu dengan orang-orang dari negara sendiri.
Bangunan Lama
Saya pun pamit pada Anton. Keluar lagi, menyusuri trotoar kota. Fremantle dalam udara musim dingin, terasa hangat. Bangunan-bangunan di sepanjang rute yang saya lalui, memberikan kesan yang jauh ke masa silam. Seperti dibawa kembali ke abad ke-19. Deretan arsitektur batu pasir berwarna krem, saya serasa melangkah di dalam museum terbuka yang hidup. Sekilas, seperti latar film-film koboi.
Setiap sudut jalan memamerkan kemegahan era kolonial yang dirawat dengan terhormat. Pandangan saya tertuju pada fasad megah hotel-hotel tua beranda kayu dengan pagar besi tempa yang rumit, seperti Esplanade Hotel Fremantle yang anggun. Tidak jauh dari sana, kedai-kedai kopi modern bersanding mesra di dalam bangunan beratap tinggi peninggalan masa lalu di sepanjang Cappuccino Strip. Rasanya seperti kontras yang indah antara gaya hidup modern dan kota yang kuno.
Langkah kaki saya akhirnya membawa rute terus menuju ke arah pantai. Sebuah bangunan batu berbentuk melingkar yang unik mulai tampak di ujung jalan. Round House, sebuah benteng dengan struktur tertua yang masih berdiri kokoh di Australia Barat, seolah menjadi gerbang pelabuhan. Ia seperti menyimpan sejuta misteri masa lalu kota ini. Berdiri di hadapannya membuat saya sejenak terpaku, bersiap untuk menapakkan kaki lebih dalam. Lalu menjelajahi setiap sudut sejarah yang tersembunyi di balik dinding bundarnya.
The Round House
Begitu tiba di lokasi, pandangan saya langsung tertuju pada struktur batu pasir kapur yang berdiri anggun di atas bukit kecil. Karena letaknya yang lebih tinggi dari permukaan jalan, saya harus melangkah menaiki deretan anak tangga batu untuk mencapainya.
Namun, rasa kagum sempat teralihkan oleh panggilan alam yang mendesak. Setelah memeriksa Google Maps, saya mendapati ada toilet umum yang terletak tidak jauh dari sana. Dalam perjalanan kilat menuju toilet tersebut, langkah saya melambat saat melewati seorang pelukis yang tengah asyik menggoreskan kuasnya. Di sekelilingnya, beberapa orang tampak tekun menyerap ilmu, sepertinya sedang belajar melukis bersama di bawah sengatan terik matahari musim dingin.
Setelah urusan toilet selesai, saya memilih jalan kecil di bagian belakang untuk kembali menuju Round House. Saya melangkah naik ke bagian atas benteng, di mana embusan angin laut langsung menerpa wajah. Di atas sana, beberapa wisatawan lain tampak sibuk mengagumi pemandangan dan berfoto. Mata saya terpaku pada meriam hitam yang moncongnya mengarah ke laut lepas. Dari titik pandang ini, Samudra Hindia membentang tanpa batas, menyajikan perpaduan warna biru yang magis dengan cakrawala Australia Barat yang bersih.
Puas menikmati pemandangan dari atas, saya turun dan melangkah masuk ke bagian dalam area Round House yang berbentuk segi dua belas unik, yang dari luar terlihat bulat sempurna. Di sana, saya disambut hangat oleh seorang petugas relawan perempuan bernama Cecilia. Keramahan Cecilia membuat kami larut dalam obrolan santai yang berbobot.
Dengan penuh semangat, dikisahkan bahwa tempat ini dibuka pada tahun 1831, menjadikannya bangunan publik tertua yang masih berdiri di Australia Barat. Cecilia menjelaskan awal mula koloni Swan River dan bagaimana Fremantle berdiri sebagai kota pelabuhan pertama di bagian barat Australia, sebelum akhirnya wilayah peradaban itu melebar ke hulu sungai hingga membentuk Kota Perth yang modern sekarang.
Cecilia juga membuka mata saya bahwa bangunan ini sejatinya didirikan sebagai penjara pertama koloni untuk menahan narapidana lokal maupun suku Aborigin, jauh sebelum kapal-kapal pembawa narapidana dari Inggris berdatangan secara massal pada tahun 1850-an. Karena kapasitasnya yang hanya memiliki 8 sel kecil dan satu halaman tengah, bangunan ini segera menjadi sempit.
Dari penuturan sejarah inilah, Cecilia kemudian menyarankan saya untuk mengunjungi Fremantle Prison. Itu adalah kompleks penjara raksasa di pusat Kota Fremantle yang dibangun sendiri oleh para narapidana Inggris, untuk menggantikan fungsi Round House yang mulai sesak kala itu.
Suasana hening benteng tua mendadak berubah riuh ketika rombongan siswa sekolah masuk bersama guru-guru pendamping mereka untuk belajar sejarah. Melihat situasi yang mulai ramai, Cecilia dengan sigap memanggil seorang pemandu perempuan muda yang berada di dekat kami.
Pemandu muda itu tampak sedikit malu-malu saat diminta Cecilia untuk memimpin jalannya tur. Namun, dengan senyum simpul yang ramah, ia mulai mengumpulkan anak-anak sekolah tersebut, bersiap menuntun mereka menyusuri lorong-lorong di dalam benteng.
Wisatawan Tua di Shipwrecks Museum
Keluar dari Round House, saya melangkah santai menuju destinasi berikutnya yang terletak sangat dekat, yaitu WA Shipwrecks Museum. Museum ini masuk dalam daftar berkat rekomendasi ramah dari penjaga toko buku yang sebelumnya saya temui. Ditambah lagi, museum ini tidak memungut biaya tiket masuk alias gratis, yang terlalu sayang untuk dilewatkan.
Begitu tiba di halaman depan bangunan kuno berbahan batu kapur tersebut, langkah langsung terhenti saat melihat deretan jangkar raksasa berkarat. Besi-besi tua yang sudah dilapisi cat hitam itu dipajang dengan gagah, seolah menyambut setiap pengunjung dengan aura misteri laut dalam.
Saat sedang asyik mengamati detail jangkar-jangkar tersebut, pandangan saya beralih pada seorang wanita tua yang berjalan sendirian. Sedikit rasa khawatir melihatnya pelesiran tanpa pendamping di usia senja, mendorong saya untuk menyapanya dengan ramah. Namanya Victoria, seorang pelancong asal Melbourne yang ternyata sedang berkunjung ke Fremantle demi menengok anak dan cucunya yang menetap di sini.
Obrolan yang semula singkat mendadak mengalir panjang dan melebar ke mana-mana. Begitu tahu saya berasal dari Bali, matanya berbinar dan ia langsung berujar bahwa Bali adalah surga liburan bagi warga Australia. Katanya karena harganya yang sangat murah; mereka bisa menikmati kemewahan dengan biaya minim.
"Sangat kontras dengan Australia yang apa-apa serba mahal sekarang," keluhnya, seraya menambahkan bahwa ini terjadi merata dari Perth hingga ke Melbourne dan kota-kota bagian timur lainnya.
Karena penasaran, saya iseng bertanya berapa biaya normal untuk sekali makan dan minum di restoran sana yang dianggapnya mahal. Sambil menghela napas, ia menjawab sekitar 25 Dolar Australia, yang jika dikonversikan ke Rupiah langsung menyentuh angka sekitar tiga ratus ribu rupiah.
Melihat Victoria yang tampaknya masih bersemangat mengobrol tanpa henti, saya pun perlahan mencari celah sopan untuk menyudahi percakapan dengan alasan kami berdua harus segera masuk agar tidak kehabisan waktu menjelajahi museum.
Kisah Kapal Batavia
Langkah kaki akhirnya membawa saya masuk ke dalam kesejukan ruang pameran museum yang tenang. Fokus utama saya langsung tertuju pada salah satu koleksi museum yang katanya adalah mahakarya arkeologi maritim paling tersohor di dunia: Kapal Batavia.
Replika sisa lambung kapal kayu asli abad ke-17 itu dipamerkan di dalam sebuah ruangan beratap tinggi yang sangat besar. Kondisinya memang sudah tidak lagi utuh, mungkin hanya tersisa sekitar seperempat bagian saja akibat hancur menabrak karang pada tahun 1629 silam. Namun sisa-sisa kayu ek hitam yang kokoh itu tetap memancarkan kegagahan sebuah kapal perang dan dagang masa lalu.
Sejarah mencatat bahwa pelayaran perdana Kapal Batavia dari Belanda ini sejatinya bertujuan menuju pusat pemerintahan VOC di Hindia Timur, sebuah pelabuhan yang bernama Batavia, yang tak lain adalah Ibu Kota Indonesia masa kini, Jakarta.
Mengapa kapal bisa berakhir mengenaskan di pesisir benua Australia yang tak bertuan kala itu? Jawabannya terletak pada rute pelayaran kuno VOC yang disebut Brouwer Route. Demi menghemat waktu berbulan-bulan, kapal-kapal Belanda sengaja memanfaatkan angin barat yang sangat kencang di belahan bumi selatan untuk melesat cepat menyeberangi Samudra Hindia sebelum berbelok ke utara menuju Jawa.
Namun, akibat keterbatasan teknologi navigasi masa itu untuk menghitung posisi garis bujur secara akurat, ditambah lagi dengan adanya plot rencana pemberontakan internal yang sengaja membuat kapal melenceng dari jalur armada, Kapal Batavia berlayar terlalu jauh ke timur hingga akhirnya terhempas dan hancur menabrak karang tajam di lepas pantai Australia Barat.
Menariknya lagi, di salah satu sudut galeri pameran yang mengulas sejarah kelam ekspedisi Belanda ini, pandangan saya terpaku pada informasi mengenai sosok Jan Pieterszoon Coen (J.P. Coen). Pikiran saya langsung melesat kembali ke memori masa lalu saat mengikuti sebuah tur sejarah di Kota Tua Jakarta. Di sanalah saya pertama kali mempelajari bahwa J.P. Coen merupakan Gubernur Jenderal VOC legendaris yang meruntuhkan Jayakarta dan membangun fondasi Kota Tua Jakarta menjadi kota parit bergaya Eropa bernama Batavia pada tahun 1619.
Berdiri di ribuan kilometer jauhnya dari tanah air dan melihat benang merah sejarah yang menyatukan bangkai kapal purba di pesisir Australia Barat ini dengan asal-usul ibu kota Indonesia, membuat saya merinding sekaligus takjub. Betapa luas dan saling terhubungnya penjelajahan manusia di masa lampau.
Restoran Vietnam
Sinar matahari Fremantle kembali menyambut. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul satu siang lewat. Perut berbunyi, mengingatkan bahwa rasa lapar sudah harus dicarikan solusi. Sambil berdiri di bawah keteduhan pohon, saya membuka Google Maps lagi. Mencari restoran terdekat yang memiliki ulasan dan rekomendasi terbaik di sekitar pelabuhan ini.
Di ruas jalan yang terhubung langsung ke Round House, saya menemukan sebuah restoran Vietnam. Namanya High on 55. Reputasinya baik. Saya pun bergegas ke sana. Lalu melihat antrian orang yang memesan makan siang. Sepertinya tempat makan favorit warga lokal yang bekerja di Fremantle, karena sebagian besar saya lihat gaya mereka adalah orang-orang kantoran.
Saya ingat, bahwa hari di mana saya tiba di Fremantle ini adalah Hari Raya Galungan. Sebagai orang Bali, pikiran saya terbayang akan makanan di rumah. Pastinya ada tum lawar dan urutan. Dan di High on 55 ini, saya memesan seporsi nasi yang saya anggap paling mantap selama kunjungan ke Australia ini. Nasi yang lembut berpadu dengan sayur seperti lawar, ditambah beberapa potong daging babi goreng serta saus asam manis.
Mole Lighthouse
Puas melepas lelah dengan hidangan yang mengobati rasa rindu pada kampung halaman, saya melangkah keluar dari kehangatan restoran. Di bawah langit siang jelang sore yang masih benderang, saya memutuskan untuk berjalan kaki menuju destinasi berikutnya, yaitu South Mole House. Menyusuri rute ke arah salah satu mercusuar ikonik Fremantle ini menjadi petualangan kecil berikutnya untuk menikmati pesona pelabuhan dari sudut yang berbeda.
Di Fremantle, ada dua mercusuar di gerbang pelabuhan: sisi utara dan sisi selatan. Hanya saja, karena mercusuar di utara letaknya jauh lebih jauh, harus mengitari pelabuhan dan menyeberangi jembatan di muara Sungai Swan, saya memutuskan untuk ke mercusuar sebelah selatan saja. Posisinya jauh lebih dekat. Kedua menara suar ini sebenarnya memiliki bentuk arsitektur klasik yang sama persis, yang membedakan hanyalah warnanya. Mercusuar utara dicat dengan warna merah menyala, sedangkan mercusuar selatan yang sedang saya tuju ini berbalut warna hijau tua.
Untuk mencapainya, saya menyusuri kembali jalanan yang searah ke arah Round House. South Mole Lighthouse ini berdiri tegak tepat di ujung lidah pantai batu kapur, tepat di belakang benteng tua tersebut. Saya menyeberangi rel kereta api pelabuhan, lalu berjalan kaki perlahan di bawah terik matahari musim dingin yang benderang. Di sekitar, kawanan burung camar beterbangan rendah, sesekali hinggap di atas bebatuan pemecah ombak sambil mengeluarkan suara khas yang bersahut-sahutan dengan deru angin laut.
Sesampainya di titik ujung menara, suasana terasa begitu sunyi dan tenang. Tempat ini awalnya hanya milik saya sendiri, ya karena hanya ada saya yang berkunjung. Hingga akhirnya keheningan itu terpecah tipis saat dua orang wisatawan lain datang untuk menikmati panorama yang sama.
Mercusuar ini, berdasarkan informasi yang saya dapatkan, sudah berdiri sejak tahun 1903. Dirancang oleh insinyur legendaris Australia Barat, C.Y. O’Connor. Dibuat dan dikirim langsung dari Inggris untuk menjadi penanda bagi lalu lintas maritim dunia. Keduanya sebagai penanda bagi kapal-kapal kargo besar, feri, maupun kapal pesiar yang hendak masuk ke pelabuhan dalam Fremantle.
Kembali ke Perth
Tak sampai sejam saya menikmati ketenangan di ujung semenanjung, saya membalikkan badan. Melangkah lagi meninggalkan keanggunan menara hijau. Saya menuju Stasiun Fremantle guna mengejar kereta komuter yang akan membawa saya kembali ke pusat Kota Perth. Saya harus tiba tepat waktu. Malam nanti, undangan makan malam bersama Asa dan rekan-rekannya sudah menunggu. []
I Komang Gde Subagia | Perth, Juni 2026

Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.