Skip to main content

Pegunungan Sembilan

Bagi masyarakat di Pulau Seram, Gunung Binaiya lebih dikenal dengan sebutan Pegunungan Sembilan. Hal itu dikarenakan puncak yang berjumlah sembilan. Apa saja? Beberapa di antaranya saya ceritakan di tulisan ini.


Pagi merekah di Binaiya.
Tampak salah satu puncakan dari Pegunungan Sembilan.


Dini Hari

Pukul satu dini hari, saya sudah bangun. Udara dingin mendera. Ketinggian Isiali, yang melebihi 2000 meter di atas permukaan laut, membuat suhu lebih rendah dari malam sebelumnya. Saya harus bersiap. Rencana harus ditepati. Hari ini, adalah jadwal kami menuju Puncak Binaiya.

Dengan perasaan berat, saya kembali mengenakan pakaian lapangan. Sepatu masih basah. Kaos kaki belum betul-betul kering dari hujan semalam. Kondisi baju dan celana lumayan, karena semalam saya jemur di atas api unggun.

Dalam perjalanan mendaki gunung, saya selalu membawa dua set pakaian. Untuk memaksimalkan beban. Apalagi saya tak menggunakan porter pribadi. Pakaian set pertama adalah pakaian lapangan, yang dipakai saat bergerak di alam terbuka. Set kedua, adalah pakaian istirahat, yang dijaga untuk selalu kering. Hanya digunakan untuk tidur dan beraktivitas ringan.

Kalau ada lebih, itu adalah set pakaian lain yang ditinggal di desa terakhir. Yaitu pakaian ganti setelah turun gunung atau untuk beraktivitas di kota. Itu saja. Minimalis, ya? Berbeda dengan kebanyakan pendaki sekarang. Yang kadang membawa kostum tersendiri, khusus untuk berfoto di puncak.

Setelah mengisi perut dengan sepotong roti dan teh hangat, kami berkumpul. Melakukan briefing ulang dan berdoa. Juga memastikan perlengkapan yang diperlukan tak ada yang ketinggalan. Hari ini, kami akan tektok atau pergi pulang ke puncak dalam sehari. Sebelum sore, kami harus tiba kembali dan bermalam lagi di Pos 4 atau Isiali ini.


Peta perjalanan dari Pos 4 Isiali ke Puncak Binaiya.
(klik gambar untuk memperbesar)


Puncak Bintang

Kami berjalan beriringan. Mendaki ke arah sadelan gunung. Lalu menyusuri punggungan utama. Karena gelap, saya tak melihat dengan jelas semua teman pendakian. Hanya lampu-lampu senter yang bergerak seperti kunang-kunang. Sesekali, kami yang berdekatan saling memastikan keadaan satu sama lain.


Bejalan dalam gelap. Lampu-lampu senter di kejauhan terlihat seperti kunang-kunang.



Beristirahat sambil memastikan keadaan satu sama lain.


Seperti yang saya ceritakan di awal tulisan, ada sembilan puncak di pegunungan ini. Jika kemarin sudah melalui Puncak Manukupa, maka puncak selanjutnya yang akan dituju adalah Puncak Bintang. Ketinggiannya 2.265 meter dari permukaan laut (mdpl). Jaraknya sekitar dua kilometer dari Isiali, dengan beda ketinggian lima ratusan meter.

Jalur yang kami lalui cukup terjal dan sempit. Medannya berbatu. Dalam gelap, saya melihat jurang di sisi kanan. Karena jarak pandang terbatas, kedalamannya terlihat mengerikan. Belum lagi angin yang berhembus cukup kencang. Saya merasa was-was saat berjalan. Takut terpeleset atau terperosok ke sana. Saya mepet ke sebelah kiri jalur sebisa mungkin.

Di salah satu titik pemberhentian untuk istirahat, saya mendengar kabar dari belakang. Bahwa Ibu Liany tak melanjutkan perjalanan ke puncak. Kondisinya kurang fit. Sepertinya kelelahan karena harus mendaki tengah malam. Ia kembali ke selter, ditemani Ical Gondrong. Wah! Sayang sekali. 

Sedih juga rasanya, ketika mengetahui ada satu teman tak melanjutkan perjalanan bersama kita. Ibu Liany mungkin sedih juga. Tapi keselamatan adalah yang paling penting. Itu nomor satu. Walaupun tujuan mendaki gunung adalah mencapai puncak, kita tidak boleh lupa bahwa pulang ke rumah dan tetap sehat adalah yang utama.

Dalam kondisi gelap, akhirnya saya sampai di Puncak Bintang. Bersama Ical Pelu, Irfan, Fifi, dan Asyraf. Lalu disusul oleh Kak Ad, Fitri, dan Mak. Saya tak melihat pemandangan apa pun. Hanya pohon-pohon cantigi dalam sorotan lampu senter. Juga sebuah plakat bertuliskan nama puncak ini, yang dibuat oleh Komunitas Ambon Trail Runner.


Di Puncak Bintang.
(Foto oleh Adrena Sicilza)



Nasapeha

Kami cukup lama beristirahat di Puncak Bintang. Menunggu teman-teman lain. Duduk diam membuat saya kedinginan. Padahal jaket windproof, yang mampu menahan angin, begitu rapat membungkus tubuh. Ini puncak gunung. Waktu menjelang subuh adalah suhu terendah di muka bumi. Jadi wajar jika kedinginan.

Bergerak lebih baik. Itu membuat tubuh tak menggigil lagi. Hangat tercipta karena tubuh membakar kalori lebih banyak. Karenanya, kami memutuskan melanjutkan perjalanan saja. Walaupun belum semuanya sampai di Puncak Bintang. Sepertinya kami akan berkumpul lagi di titik pemberhentian selanjutnya. Yaitu di Nasapeha.

Nasapeha adalah sebuah lembahan. Cukup luas. Lokasinya di bawah Puncak Bintang, searah ke Puncak Binaiya. Biasanya digunakan sebagai tempat bermalam.Bahkan, rencana awal pendakian adalah bermalam di lembahan ini. Dengan berbagai pertimbangan, rencana itu diganti dengan bermalam dua kali di Isiali.

Saat langit yang gelap mulai memerah kekuningan, pertanda matahari telah terbit, saya menuruni lembahan Nasapeha. Penampakannya seperti rawa-rawa. Walaupun pagi telah merekah dan langit makin terang, suasananya cenderung gelap. Banyak genangan air. Berlumut, berlumpur, dan dipenuhi ganggang kecil kehijauan.

Tiba di Nasapeha, mengingatkan saya akan film Jungle Book. Saat tokoh utamanya, yang bernama Mowgli, tersesat di hutan rawa berlumpur. Ia yang kabur dari kejaran harimau jahat Shere Khan, bertemu Kaa si ular raksasa. Ilustrasi latar film itu persis seperti apa yang saya lihat di satu sudut Binaiya ini. Semoga saja, saya tak bertemu Kaa atau saudara-saudaranya.


Matahari merekah. Sinarnya menyusup di sela-sela pepohonan.


Salah satu genangan air di Nasapeha.



Mowgli versi KW.
(Foto oleh Asyraf Azman)


Bendera Selangor di Binaiya

Kami berkumpul semua di Nasapeha. Mengambil beberapa foto di satu pohon besar bergantian. Saya melihat ke sekeliling. Andai saja bermalam di sini, tentu tak nyaman. Tak ada selter. Walaupun luas, tempat mendirikan tenda tak banyak amat. Musim hujan, areanya kebanyakan basah, lembab, dan berlumpur.

Perjalanan dilanjutkan lagi. Matahari perlahan meninggi. Menyinari hutan dan bebatuan Binaiya. Di salah satu tempat terbuka, pemandangan semakin jelas. Ada sebuah puncakan di sebelah timur laut dari posisi jalur. Sepertinya, itu adalah salah satu puncak dari sembilan puncak yang ada. Yang tak saya ketahui namanya.

Dan jalur perjalanan saya juga menuju ke sebuah puncakan kecil. Yang di peta juga tak ada namanya. Di puncakan itu, saya melihat Asyraf dan Kak Ad mengibarkan bendera. Walaupun mereka dari Malaysia, bendera yang dikibarkan lain. Yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Berwarna kuning dan merah, dengan gambar bulan sabit dan bintang. Ternyata itu adalah bendera Selangor, salah satu negara bagian di Negeri Jiran.


Bendera Selangor terbentang di Binaiya.


Istana Bebatuan

Jalur makin dipenuhi bebatuan. Jumlahnya banyak sekali. Seperti melalui istana saja, ketika melaluinya. Bergerigi dan menonjol di berbagai tempat. Kita harus lebih awas dalam berjalan. Sela-sela bebatuan membentuk lubang. Jika tak hati-hati, terperosok ke sana cukup berbahaya. 

Bebatuan yang melimpah ini adalah satu kekayaan alam Pulau Seram. Bertipe batu gamping atau limestone. Secara geologis, telah mengalami proses-proses alamiah yang terus menerus. Dan berlangsung sampai kini. Bentang alam seperti itu, kita kenal dengan sebutan karst. 

Hutan yang telah saya lalui beberapa hari ini, rasanya tumbuh dengan menyesuaikan diri di atas batu. Bebatuan yang harusnya miskin air, bisa menampung air di lorong-lorong dan cerukan-cerukan di bawahnya. Itu bisa menjaga tetumbuhan di sekitarnya tetap menghijau.

Dari sebuah artikel yang saya baca, ada seorang ilmuwan pernah meneliti bebatuan di Pulau Seram. Ia menceritakan kisahnya menjelajah Taman Nasional Manusela, termasuk saat menjejak bebatuan yang membentuk Binaiya. Bahwa benda pertama yang rusak adalah sepatunya. Alas kaki tidak bertahan lebih dari dua minggu. Batu-batu, yang sebagian besar runcing dan tajam, menjadi penyebabnya.


Bebatuan Binaiya.


Bebatuan Binaiya.



Bebatuan Binaiya.



Bebatuan Binaiya.



Bebatuan Binaiya.



Chyathea Binayana

Selain karst, Binaiya juga memiliki kekayaan lain. Yaitu tanaman pakis. Bentuknya seperti pohon kelapa, tapi dengan batang yang lebih kecil. Nama latinnya Chyathea binayana. Hanya tumbuh di ketinggian tiga ribuan meter. Berjenis endemik, hanya ada di gunung ini, di Pulau Seram. Tak ada di tempat lain.

Saya melihatnya tumbuh acak di berbagai tempat. Hanya saja, kondisinya tidak terlihat begitu baik. Banyak yang rusak tak berdaun. Bahkan mati. Hanya menyisakan batang-batangnya saja. Seperti tiang yang tak berguna. Dulu, pakis-pakis masih terjaga baik. Apa gerangan yang melanda pohon-pohon itu?

Balai Taman Nasional Manusela pernah merilis temuan mereka. Dari hasil pemasangan kamera, pakis-pakis itu rusak karena aktivitas rusa mencari makan. Belakangan ini, hewan-hewan tersebut ada banyak di area puncak. Apakah rusa-rusa sudah ada di puncak dari dulu? Atau hanya baru-baru ini karena mereka kekurangan pakan di bawah? Tak ada datanya.

Yang pasti, tentu kita tak boleh membiarkan pakis-pakis itu punah. Dan itu tidak mudah. Tanaman itu hanya bisa hidup di ketinggian gunung. Merawat di tempat aslinya, tentu menyulitkan. Sedangkan jika dibudidayakan di bawah, tak bisa dilakukan. Serba salah. Semoga nanti ada kabar baik dari para pemangku kebijakan untuk memecahkan masalah ini.


Pakis Binaiya.


Pakis Binaiya.



Pakis Binaiya.


Pakis Binaiya.


Pakis Binaiya.


Puncak Waifuku

Saya yang awalnya berada dalam rombongan depan, kini makin ke belakang. Disalip oleh teman-teman yang lain. Saya menikmati suasana perjalanan ke puncak. Toh di puncak, kondisinya tak jauh berbeda. Eksotisme Binaiya sudah terhampar di depan mata. Jadi kenapa harus buru-buru? Begitu saya berpikir dalam hati.

Sampai akhirnya saya tiba di bawah sebuah puncakan kecil. Kata Ical Pelu nantinya, puncakan kecil ini bernama Waifuku. Saya mengambil beberapa gambar. Termasuk foto saya dengan berlatar puncak gunung di seberang lembah. Menurut saya, ini adalah foto saya dengan pemandangan terbaik di Binaiya. Teman-teman saya, banyak melewatkan pemandangan di titik ini.


Bli Gejor di bawah Puncak Waifuku.
(Foto oleh Abdul Kholik)

Lalu saya melihat Adul duduk. Ia terdiam. Terlihat mengantuk. Atau mungkin lelah. Setelah saya tanyakan, ternyata kondisinya tak begitu baik. Ia sakit. Wah! Saya, yang sebelumnya sakit, malah lupa bahwa saya sempat sakit di hari pertama mendaki. Ternyata, dalam perjalanan ke puncak ini, saya sudah sembuh. Malah giliran sang ketua tim yang terkena flu.

Tapi Adul tak patah semangat. Ia kemudian berjalan lagi. Sepertinya ingin segera menuju Puncak Binaiya. Kami akan beristirahat dan makan siang di sana. Selepas tengah hari, baru akan kembali lagi turun ke Isiali. Jadi kami memiliki waktu yang cukup panjang. Adul yang kurang fit, lebih memilih untuk istirahat di sana.

Maka saya pun menyusulnya. Menyusuri jalur yang terbuka. Matahari yang makin tinggi membuat sinarnya makin menyengat. Panas. Tak banyak tempat untuk berteduh. Di kejauhan, saya melihat satu pohon besar berdiri. Teman-teman saya terlihat berteduh di bawah pohon itu. Puncak Binaiya, yang menjadi tujuan hari ini, juga terlihat di belakangnya.


Melanjutkan perjalanan ke arah Puncak Binaiya.



Jalur perjalanan masih panjang.



Mendaki menuju Puncak Binaiya.


Pohon Jomblo. Pohon satu-satunya di dekat Puncak Binaiya.



Puncak Binaiya

Pohon jomblo. Itu adalah pohon tempat kami berteduh, tak jauh dari Puncak Binaiya. Satu-satunya pohon besar dan rindang di sekitar jalur pendakian ke puncak ini. Disebut demikian oleh teman-teman saya. Mungkin karena sendiri dan kesepian, disematkan istilah 'tak punya pacar' itu.

Saya pun bergabung dengan beberapa teman yang sedang berteduh. Beberapa teman saya lainnya sudah di puncak. Di sana terlihat sangat panas. Tak ada saru pohon pun untuk berteduh. Membuat saya enggan untuk cepat-cepat menyusul. Tapi kan, pendakian ini harus ke sana. Masa tidak? Hanya dua ratusan meter lagi jaraknya.


Berisitirahat di bawah Pohon Jomblo.


Baiklah. Walaupun panas, saya bergerak ke puncak. Bersama Ical Pelu, Ical Gondrong, Fitri, Aldasir, Dion, Kak Dwi, Mazlan, Naomi, Rike, Pak Arif, dan Ibu Dian. Seperti biasa, kami berfoto ria. Dengan bendera Indonesia. Juga bendera Malaysia. Kami warga negara serumpun bersatu padu. Merdeka!

Sementara Irfan, Fifi, Asyraf, Kak Ad, Mak, dan Daus, yang sudah duluan ke puncak, kembali turun untuk berteduh. Jadinya kami tak memiliki foto full team di puncak. Adul malah tidak ke puncak sama sekali. Ia tertidur pulas di bawah Pohon Jomblo. Tapi tak apa. Ia sudah sering ke Binaiya. Tak ke puncak, tak masalah baginya.


Di Puncak Binaiya.
Berdiri kiri ke kanan: Ical Pelu, Bli Gejor, Dwi, Mazlan, Naomi, Rike, Asyraf.
Jongkok kiri ke kanan: Dion, Fitri, Alazier.
Fotografer: Ical Gondrong.



Di Puncak Binaiya.
In frame: Asyraf, Mazlan, Pak Arif.


Puncak Siale

Dan Puncak Binaiya yang kami capai ini bukanlah puncak tertinggi. Di peta, tingginya 3.005 mdpl. Puncak utama dan tertinggi sebenarnya, yang berketinggian 3.027 mdpl, ada di sebelah barat. Kurang lebih, dua kilometeran lagi. Namanya Puncak Siale. Terlihat begitu jelas dari Puncak Binaiya, tempat kami berada sekarang.

Puncak Siale itu termasuk bagian dari kawasan inti taman nasional. Simaksi kami, yang berwisata, tak mengizinkan untuk ke sana. Hanya tujuan khusus diperbolehkan, seperti melakukan penelitian dan sejenisnya. Jadi sebagai seorang pejalan dan pendaki gunung yang baik, kami harus taat. Harus puas berfoto dengan plakat 3.027 mdpl di ketinggian 3.005 mdpl. 

Fitri, yang sudah beberapa kali ke Binaiya, berkisah tentang pengalamannya. Ia pernah mencapai puncak utama dalam kegiatan resmi Balai Taman Nasional Manusela. Ia yang seorang petugas kesehatan, juga pernah berkunjung ke desa-desa yang ada di pedalaman, di kaki-kaki gunung di hutan taman nasional. Yang aksesnya sulit dan hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki.


Lihat! Itu di belakang sana adalah Puncak Siale, puncak utama dan tertinggi di Taman Nasional Manusela.


Jalur Utara

Jauh di bawah sana, searah jam dua belas, terlihat sebuah desa terpencil. Namanya Negeri Kanikeh. Jika mendaki Binaiya dari sisi utara, maka kita akan melewati desa tersebut. Untuk mencapai Kanikeh, kita harus mendaki dan menyusuri sungai. Juga melalui desa lain lagi, bernama Negeri Roho, yang perlu mendaki juga untuk mencapainya.

Dibandingkan jalur selatan, jalur utara memerlukan waktu tempuh yang lebih lama. Paling sedikit, perlu bermalam empat kali sebelum ke puncak. Yaitu di Negeri Huaulu sebagai titik awal. Lalu di Negeri Roho. Kemudian di Negeri Kanikeh yang bisa kita lihat dari puncak. Selanjutnya bermalam lagi di hutan. Jika dihitung naik dan turun, berarti total butuh tujuh atau delapan hari pendakian dari titik awal. Sepertinya seru dan menantang.


Dilihat dari Puncak Binaiya.
Itu di kejauhan, ada Negeri Kanikeh.



Negeri Kanikeh dilihat dari Puncak Binaiya.



Negeri Kanikeh dilihat dari Puncak Binaiya.


Peta yang menunjukkan posisi Negeri Kanikeh dari Puncak Binaiya.
(klik gambar untuk memperbesar)

Tapi kini jalur utara ditutup. Padahal itu adalah jalur pendakian pertama ke Binaiya. Sebabnya karena ada perselisihan warga dengan pihak balai taman nasional. Beberapa tahun lalu, seorang remaja dari Roho ditangkap polisi. Ia menjadi penyelundup burung kaka tua. Warga desa meminta remaja tersebut dibebaskan. Tapi tak bisa, proses hukum jalan terus.

Kejadian itu membuat warga desa tersebut marah. Mereka menunjukkan sikap bermusuhan. Lalu mengancam. Tidak ada lagi yang boleh melintasi desa mereka, siapa pun itu. Ancaman ditujukan bagi pihak balai taman nasional, yang dianggap sebagai sumber masalah. Termasuk bagi para pendaki juga. Tak main-main, berani lewat, maka akan dipenggal.

Usaha pendakian terakhir melalui jalur utara tercatat dilakukan pada 2020 lalu. Oleh sekelompok mahasiswa pecinta alam, yang ditemani petugas balai taman nasional. Walaupun ada ancaman pembunuhan, syukurlah, tak ada hal buruk terjadi. Tapi kegiatan para mahasiswa itu pun batal, setengah jalan saja. Warga desa tetap bersikeras dengan pendirian mereka. Tak ada yang boleh melanjutkan pendakian. Duh! []


I Komang Gde Subagia | Maluku, Desember 2023


RELATED:

Comments