"Pak, sate rembiga mana yang recommended di Lombok?" tanya saya pada Abdulah, sopir taksi yang menjemput di lobi Epicentrum mall.
Sebelum ke Lombok, saya sudah menargetkan bahwa salah satu kuliner khas Lombok ini wajib dicoba. Namanya sate rembiga. Sate dari daging sapi yang pedas, manis, dan gurih meresap. Dagingnya dimarinasi dengan bumbu rempah seperti cabai, terasi, gula merah, dan lain-lain selama berjam-jam. Itu membuat teksturnya sangat empuk dan lembut.
Rembiga sendiri adalah nama sebuah desa atau kelurahan di Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Asal katanya diserap dari rembug yang diasosiasikan dengan istana atau pondok sebagai tempat berkumpulnya pejabat dan keluarga kerajaan. Awalnya sate ini merupakan hidangan istimewa yang hanya disajikan pada acara adat dan ritual keagamaan.
Seiring waktu, ia keluar dari lingkup adat dan mulai dijual secara lebih luas. Di Rembiga, kini ada dua warung terkenal dan legendaris yang menjual sate pedas manis ini. Yang pertama adalah Warung Sate Rembiga Utama Ibu Ririn. Yang kedua adalah Warung Sate Rembiga Ibu Sinnaseh. Saya sempat ragu mau makan di warung mana. Apalagi ketika tiba di warung yang saling bersebelahan itu, sama-sama ramai.
Dulu, hanya ada satu warung sate yang lokasinya di sudut perempatan yang mempertemukan Jalan Adi Sucipto dan Jalan Dr. Wahidin. Namanya warung sate saja, tidak ada embel-embel lain. Karena lokasinya di Desa Rembiga, makin dikenal dengan sebutan Warung Sate Rembiga. Pemiliknya adalah Ibu Sinnaseh yang bekerja sama dengan Ibu Ririn sebagai penyedia tempat.
Berdasarkan cerita Abdulah, sepeninggal Ibu Sinnaseh, kontrak warung tersebut tak bisa diperpanjang. Ibu Ririn pun kemudian melanjutkan membuka warung sate rembiga yang makin terkenal itu. Sementara, penerus Ibu Sinnaseh membuka warung di sebelahnya. Bisa dibilang pecah kongsi.
Namun bagi saya sebagai pejalan, perdebatan bisnis itu tidak terlalu penting. Yang lebih menarik adalah bagaimana kedua warung ini sama-sama menjadi bagian dari cerita kuliner Rembiga. Mencoba keduanya di satu kesempatan tentu tak mungkin. Apalagi kata Abdulah, cita rasa sate rembiga dari kedua warung tersebut sama-sama enak.
Saya memilih mencoba di Warung Ibu Sinnaseh dulu. Lain kali, kalau ada kesempatan lagi, tentu akan mencoba sate rembiga juga di warung satunya, Warung Ibu Ririn. Saat tiba, ada banyak pengunjung—rombongan karyawan dan pegawai negeri, keluarga lengkap, pasangan muda, dan juga pengemudi ojek daring yang mengambil pesanan. Juga para pegawai warung yang hilir mudik bekerja, salah satunya yang menonjol tentu yang memanggang sate.
Saya yang datang bersama Asa, istri saya, pun mendapatkan meja di bagian dalam. Di dinding, terpasang beberapa piagam penghargaan kuliner dari berbagai pihak, seperti dari Kecap Bango dan Idea Life. Kami pun memesan dua porsi sate rembiga dengan tambahan sayur beberok terung, nasi putih, dan es teh manis. Ada aroma rempah yang samar, perpaduan cabai dan terasi, yang terasa bahkan sebelum sate menyentuh lidah. Setelah digigit dan dikunyah, rasanya maknyus.
Setelah menyantapnya, barulah saya memahami mengapa sate ini cukup unik. Bukan hanya rasanya, tetapi pada proses pembuatannya juga. Yang membedakan sate rembiga ini dengan sate-sate jenis lain terletak pada proses marinasinya. Ia tidak berbahan daging halus seperti sate lilit Bali, tidak berbumbu kacang seperti sate Padang, juga tidak seperti sate Madura. Sedikit lebih mirip dengan sate plecing, salah satu sate khas Bali yang manis pedas dan jadi kesukaan saya.
Perbedaan itu menjadikan sate rembiga memiliki karakter sendiri. Dan karakter itulah yang membuatnya bertahan dan menyebar ke berbagai tempat. Kini sate rembiga, yang bisa awet hingga tiga hari tanpa kulkas serta seminggu lebih jika disimpan di freezer, tidak hanya bisa ditemukan di Desa Rembiga. Ia sudah hadir di berbagai sudut Kota Mataram dan berbagai tempat di Lombok, dengan berbagai merek dan pemilik masing-masing. Bahkan ada hingga keluar pulau.
Di setiap perjalanan, saya percaya selalu ada satu rasa yang menjadi penanda yang mengikat ingatan dengan tempat. Dan itu adalah cita rasa. Kuliner lokal seperti sate rembiga adalah semacam arsip budaya yang bisa kita cicipi: ia menyimpan cerita tentang Lombok yang sejenak kami kunjungi. Hidangan sederhana mampu menjadi identitas sebuah daerah.
Bagi pejalan, pengalaman seperti ini melengkapi peta perjalanan dan pengalaman. Bahwa setiap perjalanan ada pertemuan dengan manusia dan budaya yang berbeda. Kota-kota mungkin berubah, warung-warung bisa berganti pemilik, tetapi ingatan tentang satu rasa yang pernah kita nikmati akan tetap tinggal. Ia menjadi cerita yang kita bawa pulang dan kita ceritakan kembali di lain waktu. []
I Komang Gde Subagia | Mataram, Februari 2026

Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.