Saya ke Lombok untuk mengikuti satu lomba lari lintas alam, yaitu Merumatta Coast Trail. Saya berpartisipasi pada kategori 50K alias 50 kilometer. Lomba ini diadakan di Merumatta Resort, Senggigi, Lombok, pada tanggal 8 Februari 2026.
Merumatta Coast Trail 2026.Persiapan Seadanya
Beberapa bulan usai mendaftar secara berkelompok bersama Komunitas Bali Trail Running, saya seperti pasrah dan tak yakin. Hal itu karena jaraknya sudah berkategori ultra, alias lebih jauh dari jarak lari maraton. Dan saya belum pernah berlari sejauh itu. Di lain pihak, saya juga penasaran untuk bisa menyelesaikannya.
Latihan saya untuk ikut lomba ini bisa dibilang tak bagus-bagus amat. Hanya rutin slow run dua hari sekali tiap sore sejauh lima hingga tujuh kilometer, latihan kaki di rumah saja, serta mengikuti latihan reguler Bali Trail Running di akhir pekan. Ditambah latihan elevasi dengan tektok tiga kali mendaki Gunung Catur dua minggu sebelum lomba.
Race Pack Collection
Sehari setelah kedatangan saya di Senggigi, saya mengikuti race pack collection di Ballroom Merumatta. Saya bertemu banyak teman dari Bali Trail Running. Maklum, ada lebih dari enam puluh peserta dari Bali Trail Running yang ikut di berbagai kategori. Sebagian besar mengikuti kategori yang sama dengan saya, yaitu 50K. Sepertinya banyak yang menargetkan virgin ultra mereka di sini.
Karena tidak menyetorkan persyaratan lomba secara daring, di mana menurut saya situsnya kurang user friendly, saya memilih melakukannya langsung saat pengambilan race pack ini.
Pertama, melakukan medical check-up. Standar saja. Dengan biaya empat puluh ribu rupiah, saya mendapatkan surat keterangan layak ikut serta setelah dicek tensi dan saturasi oksigen. Sialnya, saya membayar dengan uang pecahan lima puluh ribu rupiah tetapi lupa meminta kembalian.
Setelah mendapatkan surat keterangan sehat, berikutnya adalah pengecekan mandatory gear. Syarat ini sebenarnya bisa dilakukan secara daring dengan memotret perlengkapan dan mengunggahnya ke situs lomba. Namun entah mengapa, tautannya terus tak bisa saya buka. Jadilah saya membawa semua perlengkapan untuk diperiksa langsung. Lolos, dan tak ada masalah.
Berikutnya adalah mengambil race pack itu sendiri. Dalam goodie bag yang diberikan berisi BIB atau nomor dada, jersey, dan jaket acara. Dilengkapi beberapa produk sponsor seperti minuman susu kedelai, energy bar, madu, permen, dan voucher belanja. Ya, cukup-cukup saja.
Setelah semua proses dilewati, saya berfoto beberapa saat di depan ballroom. Ramai, tetapi tak ramai-ramai amat. Mungkin karena jumlah keseluruhan pesertanya hanya sekitar tujuh ratus orang, seperti yang saya lihat di akun media sosial panitia. Saya merasa kemeriahannya sedikit kurang dibandingkan beberapa lomba yang saya ikuti sebelumnya, seperti Mantra 116 di Malang atau BTR Ultra di Bali.
Lari pada Dini Hari
Saya tak ikut technical meeting yang diselenggarakan pada sore hari. Saya lebih memilih tidur di hotel, mempersiapkan diri agar lebih fit menjelang lomba yang dimulai pada pukul satu malam.
Berkaca pada pengalaman sebelumnya, musuh terbesar saya adalah kantuk dan mual saat lomba berjalan. Maka dari itu, saya tak mau melewatkan tidur siang hingga sore menjelang lomba. Juga memastikan tidur malam beberapa hari sebelumnya cukup. Ditambah tak mengonsumsi makanan atau minuman yang memicu asam lambung.
Tepat pukul satu, saya dan para peserta kategori 50K mulai berlari. Dua kilometer awal menyusuri pantai di sebelah timur Merumatta Resort menuju Pura Batu Bolong. Jalur masih berupa paving block kawasan resort. Gelap gulita, tetapi masih ramai dengan para suporter yang bertepuk tangan riuh dari venue ke arah pantai.
Setelahnya, jalur berubah menjadi pasir gembur. Itu membuat saya sulit berlari. Sementara di bagian pasir yang lebih padat dan mendekati laut, ombak yang bergulung membuat saya enggan mendekat karena bisa membasahi sepatu. Hingga akhirnya kami keluar dari pantai di dekat Pura Batu Bolong, pura yang berdiri di atas batu karang yang menjorok ke laut.
Mendaki Bukit Batu Penyu
Keluar dari pantai, kami menyusuri Jalan Raya Senggigi beberapa puluh meter lalu berbelok ke timur. Dari sinilah pendakian pertama dimulai. Dari berkas GPX yang diberikan sebelum lomba, sudah terlihat jelas bahwa jalur akan menanjak sejauh lima kilometer, lalu turun dengan jarak yang sama ke arah jalan raya lagi.
"Siap-siap, Bli! Ini bakal nanjak terus," kata Sukma Wijaya, pelari dari Bali Trail Running yang berpapasan dengan saya. Ia tiba di Senggigi tiga hari sebelum lomba dan sempat melakukan survei jalur dengan sepeda motor.
Saya berlari santai saja, berusaha menyimpan tenaga agar tetap kuat untuk bisa terus menepuh jarak puluhan kilometer yang masih panjang. Di sekitar saya masih banyak pelari lain. Sesekali marker atau penanda jalur tak sinkron dengan jalur pada berkas GPX. Saya lebih memilih mengikuti penanda plastik berwarna merah dan putih itu, seiring sorot head lamp para pelari yang sudah di depan. Kata beberapa pelari yang sempat kebingungan, lebih baik mengikuti marker karena itu yang disarankan saat technical meeting.
Lima kilometer menanjak ini sebagian besar melalui jalan kampung, lalu masuk ke jalan setapak kecil dengan rumah warga di kanan-kiri, sesekali kebun atau ladang, atau mungkin hutan perbukitan. Tak begitu jelas karena gelap dan saya focus untuk lari saja. Hingga akhirnya saya tiba di puncak Bukit Batu Penyu, titik tertinggi pendakian pertama.
Di puncak, saya bertemu Komang Kusdyantara yang membawa kamera Insta360. Saya memilii kamera perti itu juga dan biasa membawanya saat latihan reguler dengan teman-teman Bali Trail Running. Tap kali ini saya memutuskan tak membawa action cam itu karena lomba. Rasanya saya tak akan fokus mengabadikan apa pun. Lagipula, saya lebih khawatir tak bisa finish dengan baik dibandingkan tak memiliki dokumentasi video.
Dari puncak, jalur kembali turun melalui padang ilalang. Pemandangan terbuka, tetapi masih gelap. Jauh di bawah terlihat kerlap-kerlip lampu dan pendar Selat Lombok. Andai langit lebih terang, saat matahari terbit atau tenggelam, pemandangannya pasti indah.
Peta jalur lari di Perbukitan Senggigi, Lombok.Water Station Pertama
Saya tak banyak memperhatikan sekitar saat turun. Hanya menyusuri jalan kecil, sesekali ada marshal yang menunjukkan arah. Hingga akhirnya jalur keluar ke jalan besar dan menyusuri aspal hingga kembali ke Jalan Raya Senggigi.
Berjalan di aspal membuat kaki saya sedikit tersiksa. Dengan sepatu trail yang bantalan empuknya tak terlalu maksimal, telapak kaki terasa panas. Saya merasa salah memilih tipe sepatu. Belakangan saya melihat Agus Yuda, seorang teman dari Bali Trail Running, menggunakan sepatu road yang alasnya lebih empuk di lomba ini.
Beberapa ratus meter setelah tiba di jalan raya, ada water station pertama sekaligus check point. Lokasinya di depan sebuah mini market yang tutup pada dini hari. Sajian di pemberhentian ini cukup sederhana: semangka, pisang, permen, air mineral, dan minuman elektrolit. Tak ada makanan berat.
Tanpa banyak protes, saya makan beberapa potong buah, mengisi penuh soft flask, mengenakan gelang pertama, lalu kembali berlari menyusuri tepian jalan raya hingga berbelok lagi ke kiri menuju pendakian kedua.
Banyak Nyasar dan Lewat Kuburan
Pendakian kedua jalurnya agak zigzag. Walaupun elevasinya lebih landai dari pendakian pertama, tantangannya adalah tersesat. Saya dan beberapa pelari sering kehilangan jejak, tak melihat satu pun marker. Sementara jalur pada berkas GPX di jam tangan sudah melenceng jauh. Bahkan beberapa kali saya masuk ke halaman rumah warga sebelum kembali mengikuti pelari lain.
Sebagian besar jalur berupa hutan atau kebun warga. Setelah menyeberangi jembatan di sebuah embung, kami tersesat lagi. Tak ada penanda terlihat. Saya memutuskan maju sendiri di tengah gelap hingga akhirnya menemukan marker dan melanjutkan lari seorang diri.
Di tengah sunyi hutan perkebunan yang gelap, hanya diterangi cahaya head lamp, saya berlari sendirian. Setelah satu-dua kilometer, jalur keluar ke area terbuka berilalang dengan pohon kelapa di sekitarnya.
Saya mempercepat langkah. Ada perasaan aneh. Dalam hati saya curiga: ini seperti kuburan. Dan saya sendirian. Tanpa mau berpikir macam-macam, saya bergegas hingga tiba di gang warga yang sudah diterangi lampu.
Beberapa anjing menggonggong saat saya melintas. Tak lama kemudian terdengar azan subuh sayup-sayup. Akhirnya saya keluar ke jalan beraspal, dan seorang marshal di pertigaan jalan lalu menunjukkan arah.
Menyusuri Aspal yang Panjang
Langit perlahan mulai terang. Jalur masih menanjak menyusuri jalan aspal. Saya makin yakin seharusnya menggunakan sepatu tipe road saja, bukan tipe trail. Telapak kaki makin panas.
Di sebuah tikungan, saya melihat seorang pelari yang sedang tiduran di pondok pinggir jalan. Dalam lomba jarak jauh seperti ini, tidur sebentar memang memungkinkan untuk menghalau kantuk dan mual karena harus berlari di malam hari. Saya pernah melakukannya sebelumnya saat lomba Mantra kategori 34K di Gunung Arjuno di Jawa Timur.
Jalur aspal yang saya susuri ternyata sangat panjang dan terus menanjak, mungkin sekitar tiga kilometer. Perbukitan di sekitar terlihat menghijau. Asri benar suasananya, walau saya tak bisa lama menikmatinya.
Karena waktu sudah berjalan beberapa jam dan pagi menjelang, saya bisa menyalip beberapa pelari yang mulai kelelahan tetapi tetap terlihat pantang menyerah. Salah satunya adalah rekan saya dari Bali Trail Running, Tiara Susila. Kami saling menyemangati dalam napas yang tersengal.
Hingga akhirnya saya tiba di water station kedua pada pukul setengah tujuh pagi. Sajian kali ini lebih lengkap: nasi, telur, sup, ubi, jagung, air mineral, isotonik, serta coca cola dan sprite. Lumayan untuk menambah energi.
Check Point di Hutan Pusuk
Dari water station kedua ini, jarak ke water station ketiga sekitar lima kilometer. Di sana terdapat satu-satunya cut off point untuk kategori 50K, dengan batas waktu pukul sembilan pagi. Kurang lebih tiga jam tersisa untuk saya.
Saya pun tancap gas lagi, menyusul beberapa pelari yang baru selesai beristirahat. Saya berbarengan dengan Judy Sena, salah seorang pelari senior dari Bali Trail Running. Jarang-jarang kami bisa bareng karena ia termasuk pelari cepat dan tangguh. Ternyata kali ini ia mengalami cedera, makanya saya bisa berlari bersamanya, bahkan menyalipnya kemudian.
Saya berlari kecil sambil sesekali melakukan power walk, menyusuri jalan setapak di tengah hutan perkebunan. Hingga akhirnya tiba di water station ketiga di tikungan Monkey Forest Pusuk Lestari sekitar pukul delapan lewat. Aman.
Saya beristirahat lebih lama di sini, menikmati nasi dan sup hangat, minum coca cola, serta mengisi penuh soft flask dengan isotonik. Ada layanan pijat juga, tetapi saya tak menggunakannya karena khawatir malah cedera dan tak bisa berlari lagi.
Tersesat
Jalur berikutnya menyeberangi jalan raya dan mendaki bukit di sebelah barat. Hutan alami dengan banyak monyet ekor panjang bergelantungan. Seorang fotografer mengambil gambar saya di sini, yang kemudian saya beli melalui aplikasi Fotoyu.
Setelah mencapai puncak bukit yang Bernama Bukit Duduk, jalur kembali turun. Di sini saya bersama beberapa pelari kategori 50K bertemu pelari kategori 15K. Dan parahnya, kami tersesat berjamaah saat menuruni bukit ini. Tak ada marker dan tak sesuai dengan jalur GPX. Banyak yang terpeleset dan menggerutu.
Akhirnya jalur yang benar ditemukan. Saya kembali berlari bersama beberapa rekan dari Bali Trail Running: Om Gondrong, Gede Widnyana, Sari, Agung Suyantra, dan Devi Yasinta. Bukit demi bukit kami lalui.
Di satu titik, jalur melewati sungai kecil. Beberapa pelari membasahi tubuh karena cuaca sangat panas. Saya juga menyiram kepala dengan air. Segar sekali rasanya.
"Masih ada dua bukit lagi, Bli!" seru Sari ketika kami tiba di water station berikutnya. Tak ada pilihan untuk menyerah. Gas!
Dua Bukit Lagi
Saya melanjutkan perjalanan. Kali ini lebih banyak melakukan power walk karena panas terik. Tak sampai satu kilometer, ada water station kelima. Rasanya dua water station berdekatan kurang efisien, tetapi saya tetap minum seperlunya lalu lanjut lagi.
Menuju puncak Bukit Jahe sekitar delapan ratus meter. Saya bisa mengatasi tanjakannya, tetapi kewalahan oleh panas. Beberapa kali berhenti berteduh sebelum akhirnya tiba di check point dan mendapatkan gelang.
Turunan berikutnya saya manfaatkan untuk berlari kecil. Namun di depan, Bukit Kerandangan, yang menjadi bukit terakhir, sudah menunggu. Panas, lelah, tetapi tak ada pilihan.
Seorang marshal memberi saya sebotol air mineral dingin. Saya minum dan menyiram kepala. Segar sekejap, cukup memberikan sedikit kesegaran untuk mendaki lagi.
Akhirnya tiba di check point terakhir. Tinggal empat hingga lima kilometer lagi. Meski sempat disalip beberapa pelari, saya terus melaju.
Beberapa marker ternyata milik komunitas Hash Lombok yang pernah menggunakan jalur ini. Saya sempat salah jalur sedikit sebelum kembali ke rute benar dan akhirnya tiba di Jalan Raya Senggigi.
Akhirnya Finish
Merumatta Resort sudah tak jauh lagi. Saya menambah kecepatan. Masuk ke resort, melipir tepi pantai, dan akhirnya finish. Ucapan selamat dan medali pun dikalungkan di leher saya.
Capek, tentu saja. Tak ada cedera berarti, kecuali pangkal paha lecet akibat gesekan celana dalam,hal yang sama pernah saya alami saat mengikuti lari Jarak jauh sebelumnya. Ini menjadi pekerjaan rumah untuk bisa diatasi di lomba-lomba selanjutnya.
Saya mengecek hasil. Total waktu tempuh saya adalah tiga belas jam empat puluh lima menit. Masih tersisa satu jam lima belas menit dari cut off time. Jarak tempuh tercatat empat puluh delapan kilometer, walaupun lomba berkategori 50K. Dengan elevasi dua ribu delapan ratusan meter.
Tanpa cedera berarti dan dengan capaian waktu ini, saya akhirnya sah menjadi seorang ultra trail runner. Bravo! []
I Komang Gde Subagia | Senggigi, Februari 2026


Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.