Sudah lama sekali saya tak ke Lombok.
Jika diingat-ingat lagi, terakhir kali ke sana adalah sekitar lima belas tahunan lalu, dihitung dari saat saya menulis catatan ini. Saat itu, saya berangkat ramai-ramai bersama teman-teman XL Adventure, komunitas pecinta alam di kantor tempat saya bekerja di Jakarta. Itu dalam rangka program sertifikasi selam. Pulang pergi, naik pesawat.
Sebelumnya, sekitar dua puluh tahun lebih awal, saya ke Lombok bersama beberapa teman Astacala, mahasiswa pecinta alam di Universitas Telkom. Yang ini dalam rangka mendaki Gunung Rinjani. Dari Bandung, menggunakan kombinasi transportasi darat dan laut. Murah meriah yang pas dengan kondisi waktu dan kantong mahasiswa yang suka naik gunung kala itu.
Kini, dari Bali, saya ke Lombok lagi dengan tujuan mengikuti lomba lari lintas alam di Senggigi. Sedikit berbeda dengan dua perjalanan sebelumnya, sekarang saya memilih jalur yang bisa membawa saya ke tujuan lebih cepat. Bukan dengan pesawat yang perlu proses check-in dan check-out yang lama, atau naik feri yang berjam-jam.
***
Saya ke Lombok menggunakan kapal cepat. Orang-orang lebih sering menyebutnya dengan speed boat. Ada banyak pilihan lokasi berangkat, seperti dari Serangan dan Sanur di Denpasar, atau dari Padangbai di Karangasem. Karena tujuan saya di Lombok adalah Senggigi, pilihan terbaik yang saya dapatkan adalah berangkat dari Padangbai, menggunakan kapal cepat yang direkomendasikan oleh seorang teman di Bali Trail Running. Nama penyedia layanan kapal cepat itu: Eka Jaya.
Pilihan saya jatuh padanya karena benar-benar cepat. Dari Padangbai ke Senggigi, hanya dua jam waktu yang dibutuhkan dengan satu kali transit di Gili Trawangan. Bahkan satu setengah jam saja jika tanpa transit. Untuk diketahui, layanan penyeberangan Padangbai ke Senggigi oleh Eka Jaya ini memiliki tiga pilihan keberangkatan dalam satu hari, dua di antaranya langsung tanpa transit.
Berbeda dengan kapal cepat lain, sebagian besar rutenya memiliki banyak titik transit. Biasanya dari Sanur atau Padangbai, untuk bisa merapat ke Lombok harus transit dulu ke Nusa Penida dan Nusa Lembongan serta Gili Trawangan dan Gili Meno. Jalurnya di laut jadi zigzag, waktu tempuh jadi lebih lama. Selain itu, kapal-kapal cepat ini lebih banyak berlabuh di Bangsal, dermaga lain yang lokasinya puluhan kilometer di utara Senggigi.
Naik kapal cepat ini mengingatkan saya akan kapal-kapal cepat di Maluku yang bernama Cantika Lestari. Jika kita melakukan perjalanan antar pulau di negeri rempah itu, maka nama kapal ini rasanya tak akan asing. Nah, seperti itulah kapal cepat yang saya gunakan dari Padangbai ke Senggigi. Yang berbeda mungkin pada ukurannya, dalam penyeberangan Bali - Lombok ini, kapalnya lebih kecil.
***
Kondisi kapal cepat yang saya tumpangi ini masih tergolong baru. Bersih dan nyaman. Peralatan keselamatan lengkap sesuai jumlah penumpang. Tertib. Proses naik dan turun penumpang berlangsung profesional. Dan yang paling penting: tepat waktu. Saya selalu menyukai ketertiban seperti ini. Tak ada jadwal molor, tak ada rencana berantakan. Dua jempol untuk Eka Jaya, setidaknya berdasarkan pengalaman saya kali ini.
Saya juga memperhatikan bahwa sebagian besar penumpang di rute Bali–Lombok ini adalah wisatawan mancanegara. Mungkin karena itulah layanan transportasi laut di jalur ini terasa sangat baik. Sepengalaman saya, kualitasnya berbeda jika dibandingkan dengan beberapa penyeberangan lain yang pernah saya gunakan, baik kapal cepat maupun feri.
Menyadari hal ini, saya jadi berpikir. Mengapa standar pelayanan sering kali tampak lebih tinggi ketika yang dilayani adalah tamu dari luar? Seolah-olah mutu, keselamatan, dan ketepatan waktu menjadi prioritas ketika ada sorot mata asing yang menyaksikan. Sementara di tempat lain, ketika penumpangnya sebagian besar adalah kita sendiri, standar itu terasa lebih longgar.
Bukankah semestinya kualitas tidak bergantung pada siapa yang menumpang? Laut yang kita arungi sama, risiko yang dihadapi sama, dan nyawa yang dibawa pun sama berharganya. Jika pelayanan bisa dibuat tertib, aman, dan profesional di satu rute, mengapa tidak di semua rute? Rasanya kebaikan hanya menjadi etalase. Ia ditampilkan saat menyambut tamu, tetapi diabaikan ketika hanya kita yang menjadi pengguna.
Aneh, memang. Barangkali yang perlu dibenahi bukan sekadar sistemnya, melainkan cara pandang kita sendiri: bahwa pelayanan yang baik bukan bentuk keramahan sementara, melainkan cerminan penghargaan terhadap diri kita sendiri sebagai manusia.
***
Pemandangan pagi di Padangbai cukup aduhai. Saya melihat anak-anak sekolah dasar, yang didampingi beberapa guru, sedang bersih-bersih pantai di sekitar pelabuhan. Itu instruksi langsung dari Presiden Prabowo usai pidatonya yang mengkritik pantai-pantai di Bali penuh sampah.
Anak-anak berseragam olahraga itu bergerak menyusuri pasir. Matahari baru saja naik, menyinari laut yang tenang, biru, jernih, dan enak dipandang. Sekilas, pantai itu tak tampak kotor. Tak banyak tumpukan sampah yang mencolok, tak ada bau menyengat yang mengganggu.
Namun kebersihan di permukaan tak selalu berarti bebas dari masalah. Di antara butir-butir pasir yang halus, mungkin saja tersembunyi serpihan plastik yang telah hancur menjadi partikel-partikel kecil, tak lagi kasatmata. Mikroplastik, yang tak terlihat mata, tapi perlahan masuk ke rantai kehidupan laut. Laut memang tampak bersih pagi itu, tetapi siapa yang benar-benar tahu apa yang mengendap di dalamnya?
Ada sesuatu yang menggetarkan sekaligus mengganjal. Anak-anak itu membungkuk memungut sampah satu per satu, sebagian tertawa, sebagian lagi tampak hanya ikut-ikutan. Apakah ini pendidikan lingkungan, atau justru pelimpahan tanggung jawab? Ironis rasanya. Generasi yang seharusnya belajar tentang masa depan justru sibuk membereskan warisan kebiasaan kita hari ini.
Sementara kita tahu belakangan ini persoalan pengelolaan sampah di kota-kota besar seperti Denpasar masih amburadul. Tempat pembuangan penuh, truk pengangkut kewalahan, sistem pemilahan belum konsisten, kebiasaan membuang sembarangan belum benar-benar berubah. Seolah-olah, kita lebih mudah menggerakkan barisan siswa untuk aksi simbolik daripada membenahi sistem yang berulang kali gagal.
Saya tentu menghargai semangat mereka. Tidak ada yang salah dengan mengajarkan kepedulian sejak dini. Tetapi kepedulian tentu tidak boleh berhenti pada seremoni dan dokumentasi. Laut tak peduli siapa presidennya, siapa wali kotanya, atau siapa yang memegang sapu. Laut hanya menerima apa pun yang kita buang.
Jika pengelolaan sampah di kota-kota besar Bali belum tertata, maka aksi bersih-bersih akan selalu menjadi siklus: kotor, bersih sesaat, lalu kotor lagi. Anak-anak itu mungkin belajar tentang tanggung jawab. Namun pertanyaannya: apakah kita orang dewasa juga belajar hal yang sama?
***
Tali tambat dilepas, dan kapal pun mulai menjauh dari Padangbai dengan dengung mesin yang mantap. Langit mendung kelabu, namun laut tampak tenang. Saya berjalan-jalan di dek atas saat keberangkatan ini, merasakan angin berdesir tipis. Di kejauhan, Gunung Agung berdiri gagah diam, separuh tubuhnya diselimuti awan, seakan menjadi lukisan khas yang selalu tersaji di Selat Lombok.
Jejak buih putih tertinggal panjang di belakang, seperti garis yang menandai perpisahan. Padangbai mengecil, Gunung Agung perlahan larut dalam mendung. Laut tampak bersih dan tak tersentuh, namun saya teringat bahwa apa yang tak terlihat sering kali lebih menentukan dari yang kasatmata. Arus bawah laut, serpihan plastik yang hancur menjadi partikel halus, atau kebiasaan-kebiasaan kecil di darat, semuanya mengalir ke tempat yang sama.
Kapal terus melaju ke arah timur, membelah selat yang sejak lama dijadikan patokan oleh Alfred Russel Wallace untuk menandai sebaran spesies barat dan timur. Di antara deru mesin dan desir angin, saya pun duduk kembali ke kursi di dek bawah, menyaksikan deburan-deburan ombak yang percikannya membasahi sisi luar jendela. []
I Komang Gde Subagia | Padangbai - Senggigi, Februari 2026

Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.