"Beberapa hari lalu, warga marah-marah sama petugas di atas" kata Iba dalam percakapannya dengan Dhewa dan saya. Petugas yang ia maksud adalah pegawai di Kantor Resort KSDA Wilayah Fatumnasi yang ada di ujung jalan. Kami baru saja menuntaskan sarapan di dapur. Juga menyiapkan pendakian ke Gunung Mutis. Apa pasal? Mengapa warga marah pada petugas pemerintah yang berjaga di kawasan taman nasional itu?
Kabut Gunung Mutis.Perubahan
Di balik keindahan alam Gunung Mutis, gunung tertinggi di Nusa Tenggara Timur, yang belakangan kerap muncul di unggahan media sosial para pejalan, tersimpan cerita lain yang jarang terlihat. Hamparan sabana, hutan bonsai, dan kabut yang menggantung rendah memang tampak memikat di layar ponsel.
Namun di balik lanskap yang tenang itu, ada dinamika tersendiri. Sebuah perubahan yang tak hanya menyentuh status kawasan, tetapi juga memengaruhi cara manusia berinteraksi dengan gunung ini. Baik para pendaki yang datang maupun masyarakat yang telah lama hidup di sekitarnya.
Mutis dulunya adalah kawasan konservasi yang berstatus cagar alam. Berfungsi sebagai kawasan pelestarian ekosistem, flora, dan fauna yang dilindungi agar berkembang alami tanpa gangguan manusia. Karenanya ia tak bisa dikunjungi sembarangan. Tak boleh ada kegiatan wisata, termasuk mendaki, yang berpotensi mengganggu habitat, mengusik satwa, dan memicu kerusakan.
Tapi dua tahun terakhir, tepatnya sejak September 2024, status Mutis diubah. Ia kini telah menjelma menjadi taman nasional. Dibanding cagar alam, tujuan pengelolaannya menjadi berbeda. Taman nasional memadukan konservasi dengan pemanfaatan terbatas, sedangkan cagar alam difokuskan pada perlindungan mutlak. Dengan status baru sebagai taman nasional, Mutis menjadi lebih terbuka untuk manusia beraktivitas di dalamnya.
Di sinilah persoalan mulai muncul. Perubahan status yang di atas kertas tampak sebagai peluang, di lapangan tidak selalu diterima dengan cara yang sama. Dengan status baru itu, jalur-jalur yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi warga lokal untuk kepentingan tertutup, mulai dibuka. Aktivitas pendakian yang dulu terbatas kini perlahan menjadi lebih umum. Dan tentu itu membawa konsekuensi: meningkatnya jumlah pengunjung dari luar.
Perubahan itu mungkin tampak sederhana dalam dokumen kebijakan. Juga tampak menarik bagi para pendaki. Namun bagi mereka yang hidup di kaki gunung, artinya bisa jauh lebih rumit. Apalagi konon perubahan status tersebut dikabarkan tanpa melibatkan persetujuan warga Suku Dawan, kelompok masyarakat yang sudah mendiami kawasan Gunung Mutis dan sekitarnya sejak berabad-abad silam.
Mutis Bagi Warga
Langit di Fatumnasi mulai terang perlahan. Pukul enam pagi lewat. Motor Honda Scoopy yang semalaman terparkir kedinginan di depan rumah Iba, mesinnya mulai dipanaskan. Seorang pemuda, dengan motornya, datang menghampiri. Dengan dua motor, kami bertiga—saya, Dhewa, dan Iba—akan menuju titik awal pendakian yang jaraknya sekitar lima kilometer.
Kami menyusuri jalan desa. Aspal yang mulus berakhir di ujung sisi utara desa, tempat di mana pintu masuk ke Taman Nasional Gunung Mutis berada. Sebuah pos jaga balai taman nasional juga berdiri tak jauh dari ujung jalan itu. Kemarin, sewaktu tiba untuk pertama kalinya di Fatumnasi, kami telah menyelesaikan urusan administrasi pendakian: mendapatkan simaksi serta membayar tiket wisata.
Melewati kantor yang sederhana ini, mengingatkan saya lagi tentang pro kontra yang terjadi. Taman nasional sering dipandang sebagai konsep global yang lebih progresif melalui penetapan sistem zonasi pengelolaan. Konsep ini dapat cocok diterapkan di beberapa tempat, tapi ada kalanya bertolak belakang dengan sosio-ekologis dan corak produksi masyarakat setempat.
Saat menyempurnakan catatan ini ke dalam bentuk tulisan, berseliweran berita demo penolakan taman nasional ini di beranda media sosial saya. Entah apa yang ada di pikiran pembuat kebijakan sehingga perubahan status kawasan yang disucikan oleh warga lokal ini bisa terjadi. Di tengah turunnya tingkat kepercayaan masyarakat pada aparat pemerintahan, dari tingkat lokal hingga nasional, alasan apa yang bisa meyakinkan kita?
Rasanya keputusan dibuat karena negara masih menggunakan cara pandang yang percaya bahwa kemiskinan adalah penyebab kerusakan lingkungan. Orang miskin dianggap tak bisa mengelola lingkungan karena minimnya pengetahuan. Parameter tidak punya pengetahuan banyak dihubungkan dengan tingkat pendidikan formal yang relatif rendah. Tapi kenyataannya, orang kaya berpendidikan dengan korporasinya yang lebih sering mengeruk sumberdaya alam lebih banyak dari orang miskin. Miris, ya?
Seperti kisah Fatunausus di catatan saya sebelumnya, Mutis dengan berbagai "fatu" di dalamnya juga sama. Gunung dan hutan bagi warga setempat merupakan bagian dari jati diri mereka. Batu, pohon, dan air tak sekadar objek fisik, tetapi memiliki jiwa dan nama yang sakral, dan menjadi bagian terpenting dari identitas kehidupan spiritual komunitas ini.
Walaupun didominasi oleh penganut kristiani, masyarakat adat di sekitar Mutis masih mempertahankan dan menjalankan tradisi-tradisi lama. Upacara adat masih sering dilakukan. Mereka percaya jika permohonan dan rasa syukur dijembatani oleh perantara roh-roh leluhur yang bersemayam gunung. Batu-batu dipercaya sebagai nenek moyang yang memberi perlindungan dan menyimpan sejarah. Merusak bebatuan, berarti menghilangkan peradaban mereka.
Hutan Bonsai
Motor-motor kami menderu, melaju di jalan yang tak lagi mulus. Bebatuan, tanah kecoklatan, dan kubangan air menjadi santapan roda-roda kecil motor sewaan kami. Setiap tarikan gas terasa berat. Ban berputar sambil sesekali kehilangan cengkeraman, memercikkan lumpur ke celana dan sepatu. Baru beberapa ratus meter meninggalkan desa, kedua roda telah berbalut lumpur tebal. Bagian bawah mesin beberapa kali terantuk batu. Kami bahkan sempat terpeleset dan jatuh.
Terbersit kekhawatiran pada pemilik motor, seandainya ia tahu kendaraan barunya dipaksa menembus jalur seperti ini: jalur offroad, yang rasanya lebih pantas dilalui motor bertipe trail. Namun perlahan, kekhawatiran itu tersisih oleh pemandangan yang terbentang di sekeliling.
Dalam udara dingin berbalut kabut pagi, hutan di kaki Gunung Mutis selepas Fatumnasi ini sedikit terasa sunyi. Hanya satu-dua kendaraan melintas, juga beberapa orang yang membawa kayu bakar. Pepohonan eukaliptus tumbuh di mana-mana, batangnya kecil hingga sedang, berlekuk-lekuk dan meliuk seperti bonsai alami yang tak pernah selesai dibentuk. Angin, suhu, dan tanah di ketinggian tampaknya memaksa mereka tumbuh rendah, seolah alam sendiri yang memangkas dan mengarahkannya selama bertahun-tahun.
Kabut bergerak pelan di antara batang-batang pohon. Sesekali membuka pandangan, lalu menutupnya kembali. Di satu-dua titik, kubangan air membentuk semacam danau kecil. Beberapa ekor sapi dan kerbau berdiri di tepinya, menatap sekilas saat kami melintas, lalu kembali menunduk. Kuda-kuda tampak lebih acuh, terus merumput seolah kehadiran kami bukan sesuatu yang mengusik. Kehidupan hewan-hewan itu berjalan begitu saja, tanpa banyak terusik.
Perlahan, jalan yang kami tempuh menampakkan sedikit pemandangan terbuka di depan. Pepohonan merenggang, berganti hamparan sabana yang hijau dengan rerumputan. Di sanalah titik awal pendakian Gunung Mutis berada.
Ada kubangan kecil dengan air yang tenang, dikelilingi kuda-kuda yang merumput bebas. Beberapa di antaranya mengangkat kepala saat kami datang, lalu berlari menjauh ketika saya mencoba mendekat. Suara derap kaki mereka memecah sunyi, sebelum kembali merumput di tempat yang lebih jauh.
Tak Ada Kuda Liar
"Tak ada kuda liar di Timor" kata Iba ketika kami melangkah hati-hati pada setapak berlumpur di atas sabana yang basah.
"Kuda, sapi, dan kerbau di Mutis ini ada pemiliknya. Walau dilepas bebas, hewan-hewan tersebut memiliki tanda masing-masing" lanjutnya.
Ah! Jadi saya salah kaprah selama ini. Klaim tentang kuda liar di Mutis seperti yang banyak tersaji di konten-konten media sosial tak sepenuhnya benar. Sekaligus tak sepenuhnya juga salah. Mereka memang berkeliaran bebas, tetapi tetap memiliki pemilik. Mereka hanya dilepasliarkan di alam, bukan kuda liar alami seperti burung atau monyet di hutan. Saya manggut-manggut mendengar kenyataan ini.
Dari jauh tapi terukur, saya kemudian memperhatikan lebih saksama. Di telinga beberapa kuda, tampak potongan kecil sebagai penanda. Ada pula yang diberi cap tipis berupa huruf di bagian pantatnya. Tanda-tanda itu tampak menjadi pembeda, rasanya itulah penunjuk kepemilikan di tengah hamparan sabana yang terbuka. Dan Iba, juga Dhewa, membenarkannya.
Bagi warga sekitar, melepas ternak di alam seperti ini bukan hal asing. Padang rumput di kawasan Gunung Mutis yang luas memang cocok menjadi sumber pakan alami. Hewan-hewan itu dibiarkan mencari makan sendiri, lalu sesekali dikumpulkan kembali oleh pemiliknya. Jika mau ditangkap untuk dijual, biasanya hewan-hewan tersebut digiring untuk bisa dijerat untuk selanjutnya dibawa turun ke desa.
Dua Sabana dan Makam Belanda
Kami bertiga terus melangkah. Menyusuri hutan dengan jalur pendakian yang berkelok tapi cukup jelas. Bahkan bisa dibilang sangat jelas, kendaraan dengan sistem penggerak empat roda juga bisa melaluinya. Sebagian besar berupa makadam yang bercampur tanah coklat kemerahan. Suara burung bersahutan dan desir angin tak menyurutkan kabut yang terus turun menutupi pandangan.
Sekitar satu jam, jarak tiga kilometer dari titik awal pendakian sudah ditempuh. Kami akhirnya tiba di sebuah padang rumput luas yang bisa disebut sebagai Sabana Satu. Suasananya menakjubkan. Saya merasa seperti berada di lanskap negeri dongeng, bak menjelajahi dunia film Lord of The Rings. Kami keluar hutan eukaliptus, lalu terbentang hamparan luas dengan kabut tebal dan angin yang membawa sedikit rintik hujan.
Kami seharusnya, beristirahat di tepian sabana ini. Tapi saya memutuskan untuk lanjut jalan saja. Pasalnya, di balik keindahan sabana, ada satu hal yang membuat saya sedikit jijik. Yaitu banyaknya kotoran sapi dan kuda di hamparan padang rumput yang menghijau ini. Jika padang rumput ini adalah wajah manusia, maka kotoran-kotoran hewan yang banyak ini ibarat jerawat yang merajalela.
Di tengah-tengah sabana, mengalir kali kecil. Airnya mengalir jernih. Area sekitarnya membentuk rawa-rawa. Kami harus lompat-lompat di gundukan tanah yang ditumbuhi rumput untuk bisa menyeberanginya. Untung saja tak ada satu pun dari kami terpeleset.
Di seberangnya, saya memperhatikan lagi pemandangan ini. Tak perlu susah-susah mencari alasan kenapa sapi dan kuda betah berkeliaran di Mutis. Rumput dan airnya melimpah. Ketika hewan-hewan itu kekenyangan lalu membuang kotoran, rumput akan memanfaatkannya kembali sebagai pupuk. Ia tumbuh semakin subur, dan siklus itu terus berulang.
Setelah melewati rawa kecil itu, langkah kami kembali menyusuri sabana yang kini mulai menanjak. Beberapa ekor sapi terlihat menjauh ketika jalur pendakian kami mengarah kepada hewan-hewan pemamah biak tersebut. Tak berselang lama, jalur masuk ke dalam hutan lagi. Untuk kemudian keluar ke sebuah sabana yang lain lagi: Sabana Dua. Luasnya lebih kecil dibandingkan sabana sebelumnya. Tetapi jalur pendakian mulai sedikit lebih menanjak.
Dan di ujung sabana, terdapat beberapa tumpukan batu yang rupanya menandai sebuah makam. Kata Dhewa, itu makam orang Belanda yang pernah tinggal di kawasan ini puluhan tahun silam. Hanya saja, Dhewa mengatakan bahwa makam tersebut telah kosong. Jenazah di dalamnya sudah diangkat dan diambil keluarganya.
Di tengah lanskap yang begitu alami, keberadaan makam ini terasa ganjil. Rasanya seperti potongan sejarah yang tertinggal dan tak sepenuhnya menyatu. Jejak itu mungkin telah ditinggalkan, bahkan jasadnya telah dipindahkan. Namun penandanya tetap ada. Keberadaannya seolah mengingatkan bahwa gunung ini pernah menjadi bagian dari cerita yang lebih panjang di masa lalu.
Gerbang Adat
Dari sabana kedua, jalur kembali menanjak dan menghilang ke dalam hutan. Makin lama, hutan terasa makin rapat. Setapak menjadi lebih terjal dari sebelumnya. Kami menyusul dan menyalip satu kelompok pendaki yang sepeda motornya kami lihat saat tiba di titik awal pendakian.
Tak sampai satu kilometer dari sabana, ada sebuah batu besar yang bagian atasnya mendatar seperti meja. Di ujungnya yang ditumbuhi rerumputan, tampak mengering beberapa anyaman dari daun kelapa. Juga sisa-sisa kemenyan, batang dupa, puntung rokok.
Batu ini disebut sebagai gerbang adat, tempat ritual persembahan dilakukan. Saya melihat Iba menyalakan rokok dan meletakkannya di sana. Tak ada kata-kata khusus, tak ada doa yang terdengar, tetapi saya cukup memahami gesturnya. Itu simbol izin kepada pemilik gunung, entitas yang tak terlihat, tetapi diyakini keberadaannya, demi kelancaran perjalanan.
Bagi saya, pemandangan itu terasa akrab. Mengingatkan pada kebiasaan di Bali, ketika orang-orang meletakkan canang atau sedikit makanan di tempat yang dianggap sakral. Apa pun bentuknya, pastinya itu adalah sebuah ritual sederhana untuk menghormati hubungan dengan alam semesta raya.
Di Timor, meski telah menganut agama Kristen, masyarakat lokal memiliki keyakinan tradisional yang masih kuat terhadap Gunung Mutis. Gereja berdiri, doa-doa dipanjatkan setiap Minggu, tetapi di saat yang sama, penghormatan pada leluhur dan penjaga alam tetap hidup dalam keseharian.
Istirahat di Pos 3
Tak berapa lama kemudian, kami tiba di sebuah tempat datar yang dinaungi pepohonan rindang. Disebut sebagai Pos 3. Dinamai demikian rasanya karena Sabana Satu dan Sabana Dua dianggap sebagai Pos 1 dan Pos 2.
Di Pos 3 ini, udaranya terasa lebih dingin dan lembap. Cahaya matahari hanya sesekali menembus sela-sela daun, jatuh sebagai garis tipis di tanah yang basah. Kami beristirahat beberapa menit. Membongkar perbekalan dari dalam carrier. Sarapan ringan yang harusnya dilakukan di Sabana Satu, kami lakukan di sini. Minum kopi susu dan makan sepotong roti.
Saya penasaran dengan rokok kretek yang dinikmati oleh Iba. Mereknya Satu Lima Tiga. Mengingatkan saya akan rokok sejenis Dua Tiga Empat. Keduanya ternyata dari produsen yang sama. Namanya berupa kombinasi angka yang jika ditotal berjumlah sembilan, angka yang dipercaya membawa keberuntungan.
Saya mencoba sebatang untuk menemani kopi. Sekaligus menasihati Iba bahwa sebagai seorang pendaki gunung, merokok itu tak baik. Karena bisa mengurangi daya kerja paru-paru dalam mengolah oksigen. Tapi jawabannya sambil berkelakar malah lucu. Katanya sambil tertawa, "Kami orang lokal bisa mati tanpa rokok kalau ke gunung".
Sementara, Dhewa berpuasa. Jadi ia tak makan dan minum apa pun. Saya jadi tak enak menikmati asupan ringan di depannya, walaupun ia bilang itu tak masalah.
Dan karena perjalanan ke puncak dari Pos 3 ini makin terjal dan mendaki, kami memutuskan bahwa hanya saya dan Iba yang akan ke puncak. Demi menghemat waktu, juga supaya Dhewa tak banyak beraktivitas berat, ia akan menunggu di Pos 3 sambil menyiapkan makan siang.
Lalu, usai kopi susu dan roti disantap habis, saya dan Iba pun bergerak. Meninggalkan Dhewa yang memulai aktivitas memasak di bawah naungan flysheet.
Puncak Mutis
Dari Pos 3 ke puncak, hutan masih sama. Eukaliptus mendominasi. Kabut turun menambah suasana gunung makin syahdu. Di beberapa titik, saya melihat jejak-jejak kaki binatang. Ternyata itu adalah jejak kuda, seperti kata Iba. Jauh juga kuda-kuda itu keluyuran hingga mendekati puncak gunung. Padahal rumput yang menjadi pakan mereka lebih melimpah di area bawah yang banyak sabana.
Saya melihat jam dan peta di layar ponsel. Pukul sepuluh lewat. Kami sudah berada di gigiran gunung. Beberapa puluh meter lagi, kami akan tiba di puncak. Di gigiran ini, tampak ada jalur lain yang mengarah ke timur laut. Di peta, ia tergambar menuju Desa Noepesu di Kabupaten Timor Tengah Utara. Tapi jalur itu tidak direkomendasikan untuk dilalui. Berdasarkan peraturan yang ada, kegiatan wisata mendaki gunung hanya boleh dari Fatumnasi saja.
Langkah kami terasa makin pelan. Tanah mulai sedikit lebih terbuka, dan angin bertiup lebih kencang dari sela-sela pepohonan. Kabut bergerak, tak sekali pun membuka pandangan lebih jauh. Beberapa puluh meter terakhir itu terasa lebih panjang dari sebelumnya.
Tepat pukul setengah sebelas siang, kami berdua tiba di Puncak Gunung Mutis. Sebuah tugu triangulasi berlumut berdiri sebagai penandanya. Bertuliskan keterangan pendakian yang dilakukan oleh Tim Bhayangkara Polres Timor Tengah Selatan pada tahun 1991. Lengkap dengan nama-nama pendaki serta jabatannya di tim tersebut.
Di sekitar tugu triangulasi, bertebaran berbagai plakat yang bertuliskan nama gunung dan ketinggiannya. Serta kalimat-kalimat romantis khas pendaki masa kini, seperti: "Nggak ada yang lebih indah dari langit dan gunung. Kalau pun ada, mungkin itu saat kita bersama". Sebagian terasa menghibur, sebagian lain sedikit mengganggu. Dulu, ketika kegiatan mendaki gunung tak seramai sekarang, tak pernah rasanya ada plakat-plakat seperti ini dan sebanyak ini.
Asa Masa Depan
Saya menikmati waktu beberapa saat di puncak. Saya tak melakukan selebrasi apa pun. Hanya berdiri diam beberapa saat, menarik napas panjang, membiarkan tubuh dan pikiran menuju kondisi yang lebih tenang. Tak ada panorama luas yang tersaji. Kabut seperti tak bosan menemani. Ia menutup segalanya. Dunia seolah berhenti hanya sejauh beberapa meter di sekeliling kami.
Sambil menikmati beberapa potong biskuit, saya memandangi pepohonan yang berselimut kabut. Sesekali gerimis turun, membasahi tanah, lalu meresap jauh ke dalamnya. Air hujan yang diserap itu akan menetes kembali di lereng lain sebagai mata-mata air yang menjadi hulu sungai-sungai. Alirannya mungkin jauh dari pandangan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia menghidupi ladang, ternak, dan rumah-rumah di bawah sana.
Mutis mungkin jauh dari kehidupan kita, tetapi nasibnya terikat erat dengan nasib manusia di Timor. Di dalam tubuhnya, lapisan bebatuan menyimpan air, menahannya perlahan sebelum dilepaskan kembali sebagai sumber kehidupan. Ia juga memiliki keragaman hayati tinggi. Ia simbol yang disakralkan. Jika gunung ini rusak, kehidupan di sekitarnya perlahan akan ikut berubah. Sebaliknya, jika ia tetap terjaga dan lestari, maka Timor memiliki asa masa depan yang berkelanjutan. []
I Komang Gde Subagia | Timor Tengah Selatan, Februari 2026

Comments
Post a Comment
Tulis nama Anda. URL bisa dikosongkan atau lengkapi dengan http/https.