Timor Tengah Selatan

Kala akhir pekan, setelah beberapa hari di Kupang, tiba saatnya saya melakukan perpindahan tempat. Kali ini, bersama Dhewa Satriawan, seorang kawan dari Indonesia Jelajah Rimba, kami akan menuju kaki Gunung Mutis, puncak tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Perjalanan di Timor Tengah Selatan.


Lintas Kabupaten

Pagi itu, saya telah bersiap melakukan perjalanan, menuju Kabupaten Timor Tengah Selatan. Untuk diketahui, kata Timor berarti timur, serapan kosakata dari bahasa Melayu, merujuk pada lokasinya di ujung timur Kepulauan Nusa Tenggara. Penulisan menjadi "Timor" dengan huruf "o" dipengaruhi oleh pelafalan lokal, dialek, dan adopsi bahasa Portugis. 

Dari namanya, membuat kening saya berkerut. Ia merujuk pada arah "timur", kemudian ditambahi "tengah", lalu ditutup dengan "selatan". Belum lagi singkatannya, ia biasa disebut dengan TTS. Mendengarnya, otak saya refleks merujuk pada permainan kata di atas kertas: teka-teki silang. Unik juga nama kabupaten terluas nomor dua di Pulau Timor ini.

Dengan sebuah Honda Scoopy sewaan, saya dan Dhewa melaju meninggalkan Kota Kupang ke arah timur. Satu daypack kecil nangkring di punggung saya. Lalu satu tas carrier yang lebih besar diletakkan di dek tengah selangkangan motor, bertumpuk dengan satu dry bag, yang berisi berbagai peralatan dan logistik pendakian. Motor kami penuh.

Perjalanan dimulai pada pukul sepuluh pagi. Melintasi jalan lintas di Kabupaten Kupang, yang merupakan kabupaten terluas nomor satu di Pulau Timor. Terbayang betapa panjang jarak yang akan diempuh. Dua kabupaten terluas di pulau ini akan kami lalui dengan sepeda motor. Baru satu jam, pantat kami sudah terasa pegal karena duduk di atas jok terus.

Cuaca tak begitu bersahabat. Awan kelabu bergumpal-gumpal di langit. Menumpahkan hujan sehingga memaksa kami mengenakan jas dan jaket pelindung anti air. Hujan sesekali reda, lalu turun lagi. Begitu berulang sepanjang perjalanan. Itu membuat kami harus bolak-balik mengenakan dan melepaskan jas hujan. 

Di satu ruas jalan, satu sepeda motor mencoba mendahului. Pengendaranya dua perempuan muda, berpakaian pendaki gunung. Mereka menggendong tas carrier lengkap dengan membawa trekking pole. Setengah teriak, kami ngobrol sekilas kala motor kami bersisian mengikuti laju truk yang belum bisa disalip di jalur yang berkelak-kelok.

"Mau ke Mutis, ya?" seru salah satunya bertanya, merujuk pada gunung yang akan kami daki. "Sama dong. Kami mau ke Mutis juga" mereka membalas lagi setelah kami mengiyakan. Rupanya kami tidak sendirian ke sana. Hingga kemudian, mereka melaju cepat meninggalkan kami yang lebih santai. Walaupun nanti, kami bertemu lagi di sebuah toko berjejaring untuk melepas penat.


Ke Kota Soe

Toko tempat kami beristirahat berada di sebuah kota kecamatan. Namanya Kecamatan Takari. Sambil menyeruput kopi kaleng, saya membuka Google Maps. Lalu mengecek posisi. Tak jauh dari tempat saya minum kopi, mengalir Sungai Noelmina, sungai besar dengan endapan tanah kecoklatan di kedua tepiannya. Sungai itu menjadi batas alami antara Kabupaten Kupang di sisi barat dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan di sisi timur.

Usai melepas penat sejenak itu, perjalanan pun dilanjutkan. Dhewa kembali memacu motor membonceng saya. Menyusuri jalan utama yang melalui Pasar Takari di mana keramaiannya tumpah hingga ke jalan. Beberapa bus dan mikrolet tampak ngetem menunggu penumpang. Dan barang dagangan paling unik terlihat berjejer adalah buah pinang, dari yang masih hijau hingga yang berwarna coklat kering untuk dikunyah bersama sirih. Hingga beberapa menit kemudian, kami menyeberangi Jembatan Sungai Noelmina dan mulai memasuki Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Tujuan pertama kami adalah Kota Soe. Keramaian mulai tampak ketika memasuki ibu kota kabupaten ini. Diawali dengan pedagang-pedagang buah yang berjualan di pinggir jalan, di bawah barisan pepohonan rindang. Lalu melalui sebuah pura yang candinya tampil menonjol dibandingkan sekitarnya, namanya Pura Giri Suci. Hingga akhirnya kami melipir di depan sebuah warung. Waktunya istirahat makan siang. Dhewa yang menjalankan ibadah puasa dalam perjalanan ini, memilih menunggu saya di masjid untuk menunaikan ibadah salat duhur.

Angin semilir berhembus ketika saya berdiri di depan warung, di tepi jalan utama kota yang terhubung ke Kota Atambua hingga Dili di timur. Udara di Soe terasa lebih sejuk dibandingkan Kupang yang panas di pesisir. Letaknya yang berada di dataran lebih tinggi membuat kota ini terasa lebih teduh. Lalu lintasnya tidak terlalu ramai, dan orang-orang tampak bergerak santai seperti di kota kecil pegunungan pada umumnya.

Saat menikmati makan siang, tak disangka rombongan pendaki yang saya temui di Takari tadi juga mampir di warung yang sama. Beberapa di antaranya malah duduk semeja dengan saya. Obrolan basa-basi pun berlanjut lagi. Jumlah mereka tiga puluhan orang, ramai juga. Mereka berangkat dan mendaki bersama dari perkenalan di media sosial. Jika sore ini saya dan Dhewa akan bermalam di salah satu rumah warga di kaki gunung, mereka akan membuka tenda di sebuah lapangan umum.

Pukul dua siang, Dhewa menjemput saya lagi dan kami pun melanjutkan perjalanan. Saya teringat sebuah tayangan yang dulu saya jadikan referensi awal mendaki Gunung Mutis. Yaitu sebuah kanal Youtube Kool Trip milik vokalis Superman Is Dead yang hobi berkendara overland. Ia dan istrinya ke Kupang, singgah ke rumah pamannya, dan kemudian mendaki gunung. Jalurnya sama persis seperti jalur yang saya lalui ini. Begitu pula rumah pamannya dan pom bensin yang saya jadikan patokan. Tak banyak perubahan dibandingkan tayangan tersebut yang sudah setahun lalu.


Kuda Timor

Makin lama, udara makin dingin. Di satu ruas jalan, kami berhenti. Pemandangan di ketinggian Pulau Timor ini mengingatkan saya akan perbukitan di Bali Selatan seperti di Jimbaran atau Ungasan. Sabana luas terbentang, berupa dataran tinggi berbukit dengan rerumputan hijau yang meski musim hujan tetap tampak agak kering. Anginnya juga kencang.  Dibandingkan di Bali, di sini, tepatnya di daerah yang termasuk bagian dari Kecamatan Molo Tengah dan Utara, jauh lebih dingin.

Hingga kemudian, jalan yang kami tempuh makin menanjak dan berkelok. Melalui hutan-hutan yang didominasi pepohonan eukaliptus dengan rerumputan di dasarnya. Kabut turun makin tebal. Samar-samar terlihat banyak kuda yang merumput bebas, tanpa tali dan pagar, di hutan-hutan itu. Saya meminta Dhewa untuk berhenti. Pemandangan hewan-hewan tersebut begitu menakjubkan. Saya mengambil beberapa gambar dengan kamera di telepon genggam, yang sayangnya tak bisa diperbesar terlalu jauh.

Di Nusa Tenggara Timur, termasuk Pulau Timor ini memang terkenal sebagai daerah penghasil kuda. Banyaknya hewan tunggangan bertenaga besar itu disebabkan karena ketersediaan padang rumput yang luas. Didukung pula oleh iklim curah hujan rendah dan intensitas cahaya matahari tinggi. Kondisi itu menjadikannya ideal bagi hewan-hewan tersebut untuk berkembang biak dan hidup, tanpa kekurangan pakan.

Kuda Timor, menurut beberapa catatan yang saya baca, adalah salah satu ras kuda lokal Indonesia yang berkembang di Pulau Timor dan wilayah Nusa Tenggara Timur. Asal-usulnya diduga berasal dari persilangan kuda lokal dengan kuda yang dibawa para pedagang dari Asia pada masa lalu. Pengaruh kuda Mongol dan beberapa ras dari Asia Timur sering disebut dalam berbagai catatan sejarah perdagangan di kawasan ini.

Tubuhnya relatif kecil, dengan tinggi rata-rata sekitar seratus dua puluhan sentimeter di bagian pundak. Karena ukuran itu, dalam klasifikasi internasional kuda ini sering digolongkan sebagai tipe poni. Meski begitu, kuda Timor dikenal sangat tangguh. Ia mampu hidup di lingkungan yang kering dan berbatu dengan ketersediaan pakan yang terbatas. Daya tahannya membuat kuda ini cocok dengan kondisi alam di Timor.


Batu Marmer Nausus

Kabut turun makin tebal yang sesekali hilang dihembus angin. Hujan rintik dan gerimis, juga berulang. Kami melanjutkan perjalanan lagi, memacu motor menembus udara yang makin dingin. Di sebuah pertigaan, kami berbelok ke kiri walau kaki Gunung Mutis yang menjadi titik awal pendakian arahnya ke kanan. Kami mau mampir ke sebuah kawasan bukit marmer. Namanya: Fatunausus. Atau secara lebih luas disebut Batu Nausus.

Jalan yang kami tempuh mulai tak mulus. Hanya berupa makadam yang bercampur tanah. Padang rumput hijau di sekitarnya dengan pepohonan yang jarang. Sementara bebatuan berbagai ukuran tersebar. Saat memarkir motor, di samping bebatuan berbentuk kotak yang dinaungi pohon besar, pahatan tulisan di dindingnya yang datar lurus membuat saya mengernyitkan dahi. "Pengunjung harap sopan, karena lokasi ini sudah diritual" dengan beberapa ukiran patung kepala manusia di atasnya.

Bagi masyarakat lokal, Nausus adalah batu perempuan yang merangkul dan menyusui. Ia punya arti khusus, dimaknai sebagai perempuan yang menyusui itu. Ia merawat dan perlu juga dirawat sehingga tidak boleh hilang. Dikutip dari wawancara Aleta Baun, tokoh yang berjuang demi kepentingan lingkungan kawasan ini, disebutkan bahwa ada empat hal mendasar yang menjadi filosofi kepercayaan lokal. Keempatnya itu: ‘fani on nafum’ yang berarti ‘rambut atau pori-pori adalah hutan’, ‘fatu fani on nuif’ atau ‘batu adalah tulang’, ‘eol fani on na’ atau ‘air adalah darah’, dan ‘afu fani on nesa’ atau ‘tanah adalah daging’. 

Setelah berjalan beberapa puluh meter, saya terkesima menyaksikan batu raksasa yang berdiri tegak dan kokoh. Tapi ia terlihat memiliki luka-luka. Dindingnya tegak lurus, jelas terlihat bahwa itu adalah bekas potongan gergaji mesin tambang. "Dulu ada perusahaan tambang yang beroperasi di sini" kata Dhewa sambil menunjuk sayatan-sayatan pada dinding batu. "Mama Aleta yang memimpin perjuangan warga menolak tambang di kawasan ini" sambungnya. Nama yang disebutnya itu adalah Aleta Baun, dan wawancaranya tentang Nausus inilah yang saya kutip di tulisan ini.

Lantai yang saya jejaki tampaknya juga adalah bekas potongan mesin. Tampak rapi dan mulus, sekaligus menjadi licin ketika hujan membasahinya. Dulu, di tahun 1980-an hingga 1990-an, masyarakat setempat tak tahu akan tambang yang entah bagaimana bisa mendapatkan izin beroperasi. Tak ada pengetahuan tentang tambang. Mereka beranggapan marmer yang dihasilkan akan mempercantik gunung. Namun lambat laun mereka tahu bahwa batu yang dipotong-potong dan dibawa keluar itu sama halnya dengan pembunuhan, karena itu tak berbeda dengan memotong tubuh dan menghancurkan identitas mereka.

Begitulah kapitalisme tambang. Ia selalu datang dengan bahasa pembangunan, investasi, dan kemajuan. Bahkan juga kebohongan. Tetapi di banyak tempat seperti ini, yang benar-benar terjadi hanyalah pengambilan sumber daya dari satu tempat untuk memperkaya tempat lain yang jauh. Gunung dipotong, batu diangkut, lalu dikirim entah ke kota mana untuk menjadi lantai hotel, meja makan, atau dinding gedung megah. Sementara bagi orang-orang yang hidup di sekitar gunung itu sendiri, yang tersisa hanyalah lubang, kenangan, dan perubahan yang tidak pernah mereka minta.

Saya kemudian duduk di atas sebuah batu kecil di kaki batu raksasa itu. Dari sana, lanskap perbukitan Timor Tengah Selatan terbentang jauh di depan mata. Kabut terus bergerak ditiup angin, kadang menutup seluruh pandangan, lalu sesekali tersingkap seperti tirai yang perlahan dibuka. Di sela-sela celah kabut itu, tampak aliran sungai berkelok di lembah dan hamparan hijau yang membentang di antara perbukitan. Pemandangan yang indah, sekaligus membuat saya kembali merenungkan keadaan, bahwa tempat yang tampak tenang ini pernah hampir kehilangan sebagian tubuhnya. 


Menuju Fatumnasi

Hujan gerimis turun lagi ketika kami meninggalkan Batu Nausus. Kabut kembali turun perlahan menutup perbukitan di sekelilingnya, seolah menelan kembali lanskap yang tadi sempat terbuka. Saya dan Dhewa kembali ke motor dan melanjutkan perjalanan menuju Desa Fatumnasi, desa terakhir sebelum memasuki kawasan Gunung Mutis. 

Di desa itu, terdapat pos jaga untuk para pendaki. Di sana, kita bisa mengurus izin masuk ke kawasan gunung. Kawasan yang dulunya berstatus cagar alam, tapi beberapa tahun terakhir telah berubah menjadi taman nasional. Perubahan itu menyisakan berbagai cerita dan kekhawatiran tersendiri, yang akan saya dengar lebih banyak ketika kabut menyambut perjalanan kami berikutnya. []


I Komang Gde Subagia | Timor Tengah Selatan, Februari 2026

Comments