Tiba-tiba ke Kupang

Di ujung barat Pulau Timor berdiri Kota Kupang, menghadap langsung ke hamparan Laut Sawu yang luas. Banyak pelancong datang ke kota ini hanya untuk singgah sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Seperti ke kota-kota kabupaten di Flores dan Sumba atau pulau-pulau yang lebih eksotis seperti Alor dan Rote.

Kupang sering sekadar menjadi pintu gerbang saja, bukan tujuan utama. Rasanya seperti underrated city. Padahal, seperti banyak kota pelabuhan di Nusantara, apalagi menyandang status sebagai ibu kota provinsi, ia tentu menyimpan cerita. Dan secara tak terduga, sebuah perjalanan mendadak membawa saya ke sana.

Tiba-tiba ke Kupang.


Ke Kupang

Bagi saya, perjalanan ke Kupang terjadi hampir tanpa rencana. Sebuah ajakan membawa saya terbang ke timur, menuju kota pelabuhan yang sejak lama menjadi titik pertemuan budaya, perdagangan, dan jalur laut di kawasan Nusa Tenggara. 

Saya baru dua hari di rumah, usai perjalanan mengikuti lomba lari lintas alam di Lombok. Tiba-tiba, saya sudah harus memesan tiket lagi ke luar kota. Seperti awal cerita di tulisan ini, saya akan ke Kupang. Semua bermula dari Asa, istri saya, yang harus menghadiri sebuah lokakarya di sana. Daripada menunggu cerita saja sepulangnya nanti, saya memutuskan ikut sekalian. Hitung-hitung menambah satu kota lagi dalam daftar tempat yang pernah saya kunjungi.

Bagi saya, walaupun lokakarya itu terdengar menarik, yang lebih menarik malah kesempatan mengunjungi ibu kota Nusa Tenggara Timur itu. Saya sama sekali belum pernah ke sana selama ini. Dan tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi, selalu menjadi magnet. Kota itu memanggil, seolah ada sesuatu yang perlu dilihat dan dilakukan.

Saya lalu menghitung waktu yang bisa dimanfaatkan. Memadukan hari libur dan kesempatan untuk working from anywhere, jadwal pun disusun. Disusul kemudian mencari informasi titik-titik menarik di sekitar Kupang yang bisa dikunjungi. Dari tempat kuliner, pantai, hingga gunung dan hutan.

Nusa Tenggara Timur di Peta Indonesia.

Posisi Kupang di Pulau Timor.


Delay Singa Udara

Singkat cerita, kami berdua berangkat. Menumpang Lion Air, salah satu dari dua maskapai yang menyediakan penerbangan langsung dari Denpasar ke Kupang. Satunya lagi adalah Super Air Jet. Itu maskapai dari Lion Group juga. Yang seperti bisa ditebak, keberangkatannya terlambat. Kali ini, tertunda hingga dua setengah jam.

Jadwal yang telah saya susun di hari pertama jadi berantakan. Kami seharusnya mendarat di tujuan tepat tengah hari. Rencana kami setelah mendarat nanti adalah makan siang di Kupang. Ada satu titik kuliner yang sudah saya tandai. Tapi karena keterlambatan ini dan kami sudah di ruang tunggu keberangkatan, rencana kulineran pun buyar. Mau tak mau kami harus makan siang di Bandara Ngurah Rai, daripada kelaparan.

Sesuai ketentuan penerbangan di Indonesia, ada kompensasi makanan dan minuman berat jika durasi keterlambatan lebih dari dua jam. Hanya saja karena kompensasi itu belum tampak tanda-tandanya akan dibagikan, kami memutuskan membelinya sendiri saja. Kami makan siang di salah satu kedai makanan Jepang yang ada di ruang tunggu.

Walaupun kemudian, usai makan sekitar tiga puluh menit jelang boarding, kami dibagikan sekotak makanan dan minuman kemasan oleh petugas. Karena sudah kenyang, saya bawa saja di dalam tas. Ternyata nanti, ketika saya buka setibanya di hotel, makanan kompensasi itu adalah makanan dari kedai tempat kami makan siang. Dua kali menu yang sama deh jadinya.


El Tari

Perjalanan kami di udara terbilang lancar walaupun langit berawan dan sedikit gelap. Itu membuat saya sedikit khawatir. Sang burung besi terbang ke arah timur dibayangi awan-awan mendung. Hanya pilot yang sekarang lebih punya kuasa akan keselamatan kami semua. Perjalanan selalu demikian, ada sekilas rasa takut, tetapi juga berbarengan dengan rasa ingin tahu yang menggebu pada tempat yang dituju.

Sekitar satu setengah jam setelah lepas landas dari Bali, pesawat mulai berputar perlahan menurunkan ketinggian di atas Pulau Timor. Dari jendela terlihat bentang perbukitan yang bergelombang, hijau tua di beberapa bagian dan kecokelatan di bagian lain yang lebih kering. 

Di kejauhan berdiri satu punggungan gunung yang tampak paling menonjol di antara lanskap sekitarnya. Wilayahnya lebih hijau dari yang lain. Saya menduga itulah Gunung Mutis, puncak tertinggi di Nusa Tenggara Timur. Gunung yang sejak lama masuk dalam daftar tempat yang ingin saya datangi suatu hari nanti.

Setelah pesawat mendarat dan parkir di salah satu sisi landasan, kami berjalan menuju gedung terminal diiringi hujan yang turun rintik. Kami bergegas tanpa payung walau payung-payung dibagikan pada para penumpang yang turun. Rasanya rintik seperti ini tak akan membuat basah kuyup. Toh jarak dari tangga pintu pesawat ke bagian pintu masuk gedung terminal hanya beberapa puluh meter saja.

Tulisan besar "El Tari Airport Kupang" tampak begitu menonjol, tertempel di dinding gedung. Ada banyak nama tokoh yang melekat menjadi nama jalan, bandara, pelabuhan, dan lain-lain; tapi lebih sering kita tak mengetahui siapa sebenarnya mereka yang dimaksud itu. Seperti El Tari ini, siapa ia gerangan?

Nama panjangnya setelah dibaptis secara Kristen adalah Elias Tari. Seorang mayor jenderal anumerta, yang menjadi pejuang kemerdekaan dan dikenal sebagai seorang pemimpin karismatik. Ia yang berasal dari Pulau Sawu, pernah menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur sejak 12 Juli 1966 sampai kematiannya 29 April 1978. Anugerah tanda kehormatannya banyak, terutama di bidang militer.

Lalu, kenapa bandara yang dulunya bernama Penfui, sesuai nama daerah, diganti menjadi El Tari sejak tahun 1988 di masa pemerintahan Presiden Soeharto? Selain penghormatan terhadap jasanya, dalam pandangan saya, rasanya itu juga berkombinasi dengan gaya politik Orde Baru. Pada masa itu, tokoh militer yang menjadi kepala daerah sering dipandang berjasa dalam stabilitas daerah. Itu menyebabkan pemerintah pusat cenderung memberi penghormatan simbolik kepada pejabat daerah yang loyal.

Bagaimana dengan masa kini, ketika negara dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto yang merupakan mantan tentara? Atau era sebelumnya ketika Presiden Joko Widodo dikenal dekat dengan institusi kepolisian? Tetiba saya memikirkan program makan bergizi gratis dan Gibran Rakabuming menjadi wakil presiden setelah putusan mahkamah konstitusi. Kok jadi ke mana-mana tulisan saya ini?


Hotel Harper

Kami menginap di Hotel Harper, lokasi kegiatan lokakarya yang diikuti istri saya. Rasanya hotel ini adalah hotel terbaik di Kupang. Seorang teman mengatakan bahwa sering ada acara dinas di hotel yang baru berdiri sekitar tiga tahunan ini. Bahkan, pejabat negara setingkat presiden hingga menteri juga menginap di sini kala kunjungan kerja daerah.

Lokasinya tak jauh dari kantor-kantor instansi pemerintahan. Berdiri megah di area yang sepertinya baru dibuka. Tampak dari jalanannya yang rapi dan lurus, beberapa petak ada yang sedang dibangun, dan sebagian yang lain masih ditumbuhi ilalang tapi jelas telah terkapling. Jika dibandingkan dengan tempat lain, ia tampak seperti kawasan Mega Kuningan di Jakarta atau Renon di Denpasar.

Kami mendapatkan kamar di lantai lima, dengan sisi jendela lebar yang menghadap ke arah barat. Laut biru terlihat di kejauhan. Juga Pulau Semau dan Pulau Kera dengan pasir putihnya tampak memikat mata. Sementara di jalan depan hotel, tampak hilir mudik orang-orang yang sedang berolahraga lari di hari yang sedang menjelang sore.

Suasana kamar cukup luas dan nyaman. Standar hotel bintang empat terpenuhi dengan baik: tempat tidur besar, kamar mandi bersih dengan air panas, sinyal wifi yang lancar, serta meja kerja yang langsung saya klaim sebagai “kantor” selama beberapa hari ke depan.

Yang unik adalah perangkat komunikasi. Hotel pada umumnya menyediakan telepon dengan nomor-nomor penting seperti panggilan untuk front office atau room service. Di Harper, perangkat telepon itu tak ada. Digantikan dengan Google Nest, peralatan pintar yang terhubung dengan Google Assistant untuk mengontrol suara. Cukup berkata "Hi Google. Restaurant!" maka kita akan terhubung ke bagian restoran.

Saya lebih sering kurang suka dengan alat-alat seperti ini. Dengan kemampuannya mengontrol suara, siapa yang menjamin bahwa ia tak akan nguping dan merekam percakapan di kamar? Kekhawatiran yang masuk akal, bukan? Padahal telepon genggam yang kita pakai sehari-hari mungkin berlaku lebih jauh lagi. Jangankan mendengar, alat kecil itu bahkan bisa melihat dengan kamera depan maupun belakangnya tanpa kita sadari. Kemewahan privasi apa lagi yang masih kita miliki di zaman internet ini?


Pantai Kelapa Lima

Usai istirahat sejenak dan menyantap makanan kompensasi keterlambatan Lion Air, saya bersama Asa memutuskan untuk jalan-jalan ke pantai. Tujuannya adalah Pantai Kelapa Lima, wilayah di Kota Kupang yang banyak berdiri hotel megah. Nama-nama yang mencolok antara lain: Aston, The Rock, dan Swissbell-court.

Saya tertarik ke pantai di sisi utara kota ini, karena sebelumnya sempat ingin menginap barang sehari di salah satu hotel itu. Alasannya karena dekat pantai dan bisa melihat pemandangan laut lebih dekat. Hanya saja, beberapa hotel berdiri dekat dengan area pemakaman, bahkan ada yang di sampingnya persis. Asa yang sedikit penakut, mewanti-wanti untuk tidak menginap di sana.

Sebuah taksi daring mengantar kami ke pantai tersebut kala hari telah menjelang sore. Rasanya waktu yang tepat untuk duduk-duduk santai sambil melihat pemandangan matahari terbenam. Kami turun di pelataran pantai di mana ada bangunan-bangunan tinggi beratap ilalang. Saya kira itu adalah tempat semacam bale bengong, tetapi ternyata itu adalah tempat pedagang berjualan ikan.

Kami berjalan kaki santai, menyusuri trotoar yang di kanan kirinya banyak pedagang kaki lima berjualan kopi kekinian. Ada juga yang menjual jagung bakar, pop mie, dan berbagai minuman saset dan kemasan. Muda-mudi tampak berseliweran nongkrong diiringi musik yang mengalun riang dari pengeras-pengeras suara pemilik warung. Sementara di arah barat, perlahan matahari menjadi bulatan kuning kemerahan yang memantulkan pendarnya di permukaan air.

Angin laut bertiup pelan dari Teluk Kupang, membawa aroma asin yang khas ketika kami meneruskan perjalanan menyusuri trotoar Pantai Kelapa Lima. Langit senja perlahan berubah warna, dari biru pucat menjadi jingga keemasan di ufuk barat. Di kejauhan, tampak nelayan beraktivitas dengan latar matahari yang hampir tenggelam di cakrawala. Walaupun beberapa saat sempat hujan gerimis, pemandangan tepi laut ini terasa begitu hangat.


Kampung Solor

Dari Pantai Kelapa Lima, ke mana lagi kami  melakukan eksplorasi setelah gelap telah menyelimuti kota? Tak ada jawaban lebih baik selain berwisata kuliner untuk makan malam. Sopir taksi yang tadi mengantar kami merekomendasikan sebuah nama: Pasar Malam Kampung Solor. Itu tempat di mana ada banyak pedagang makanan hasil laut alias seafood. Gas lah! Kami pun ke sana.

Lokasinya ada di Kota Lama, sebuah kecamatan di Kota Kupang yang bersejarah. Tepatnya berada di sepanjang Jalan Kosasih, jalan umum yang ditutup saat malam untuk pasar ini. Kawasan sekitarnya terkenal menjadi pusat pelabuhan dan perdagangan penting sejak era kolonial Portugis dan Belanda. Areanya yang strategis di pesisir menjadikannya pusat pendaratan ikan segar langsung dari nelayan. Maka hasil laut yang melimpah pun diolah dan dijual di sana.

Saat kami tiba, ia terlihat seperti pasar senggol di Bali, pasar malam yang menjual aneka makanan. Hanya saja di Kampung Solor ini, menu jualan pedagangnya didominasi hasil laut. Berbagai ikan, udang, lobster, cumi-cumi, kepiting, dan kerang laut; dipajang di depan gerobak jualan mengundang naluri untuk memilih. Asap putih mengepul ditiup kipas, bercampur aroma sedapnya bumbu pada ikan yang dibakar.

Pedagangnya terlihat tak banyak, mungkin hanya belasan saja, yang memanggil dan merayu kami untuk makan di tempat mereka. “Ikan segar, Kak! Pilih saja!” seru salah seorang sambil menunjuk deretan ikan. Secara acak, kami pilih salah satu di antaranya. Sekaligus memilih ikan untuk dibakar, memesan sayur tumis kangkung, nasi, dan es jeruk. 

Oh, ya. Saya sebenarnya hendak memesan sayur tumis daun pepaya, masakan yang populer di Indonesia Timur seperti di Kupang ini. Hanya saja Asa tak setuju. Katanya daun pepaya rasanya pahit. Padahal, dari pengalaman saya, rasanya enak-enak saja. Tapi saya menurut saja. Mungkin esok atau lusa, kami akan coba di tempat kuliner lain.


Malam Pun Larut

Usai makan malam di Kampung Solor, kami tak ada singgah ke mana-mana lagi. Kembali ke hotel dan segera beristirahat rasanya pilihan yang paling tepat kala malam kian larut. Perjalanan seharian ini membuat saya cepat mengantuk. 

Di bawah lampu-lampu merkuri kala kami menunggu taksi daring yang akan datang menjemput, orang-orang dan kendaraan masih lalu-lalang di jalanan. Kota ini terlihat hidup dengan cara yang sederhana. 

Kupang mungkin tidak seramai kota wisata lain di Indonesia, tetapi ia tetap mempesona, bergerak dengan ritmenya sendiri. Saya seperti baru berkenalan dengan seseorang, walau yang saya kenal ini bukan manusia, melainkan sebuah kota dan kehidupannya. []


I Komang Gde Subagia | Denpasar - Kupang, Februari 2026


Comments