Se'i, Lari, dan Kota Kasih

Beberapa hari tinggal di Kupang memberi saya kesempatan melihat beberapa hal di kota ini. Tidak ada agenda wisata besar, hanya hari-hari yang diisi bekerja dari kamar hotel, berjalan atau berlari menyusuri jalan kota, serta mencoba makanan yang sering disebut orang ketika membicarakan Nusa Tenggara Timur. 

Depot Se'i Aroma di Kota Kupang.


Kota Kasih

Kupang adalah Kota Kasih. Dalam bayangan saya, julukan itu terlintas karena berkaitan dengan para penganut Kristen yang dominan di kota ini. Mengenai ajaran Yesus untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Dan walaupun "Kasih" yang disematkan sebagai semboyan kota adalah sebuah akronim "Karya Aman Sehat Indah dan Harmonis", nilai kasih itu oleh banyak orang dianggap selaras dengan ajaran kasih umat Kristiani yang sebenarnya.

Saya jadi ingat dengan akronim-akronim sejenis yang tersemat di berbagai Kota di Indonesia. Ada Jogja Berhati Nyaman, yang artinya: Bersih, Sehat, Asri, dan Nyaman.  Ada Pekanbaru Bertuah, kependekan dari: Bersih, Tertib, Usaha Bersama, Aman, dan Harmonis. Ada Bogor Tegar Beriman, itu diambil dari: Tertib, Segar, Bersih, dan Indah. Hingga kota tempat saya dilahirkan di Bali: Klungkung Asri dengan salamnya Gema Santi. Asri itu Aman, Sehat, Ramah, Indah. Sementara Gema Santi itu adalah Gerakan Masyarakat Santun dan Inovatif.

Ada banyak lagi akronim lain di berbagai daerah, cari saja di internet. Dan biasanya dirangkai lewat kata-kata yang tak jauh-jauh dari aman, bersih, indah, dan sejenisnya. Secara umum, alasannya tentu bertujuan menyederhanakan komunikasi untuk berbagai program atau kebijakan pemerintah. Tapi menurut saya pribadi, itu semua sebagian besar lebih cenderung mengedepankan simbol tampilan luar. Sebuah warisan tradisi birokrasi orde lama hingga orde baru yang gemar menyingkat nama lembaga atau operasi agar lebih mudah diingat.

Padahal kalau kita buka data, pasti ada saja realita kerja buruk dari pejabat di masing-masing daerah yang menggunakan semboyan dari akronim-akronim bagus itu. Korupsi, misalnya. Aneh bin ajaib pejabat kita ini. Seolah-olah kata-kata indah cukup untuk menutupi kenyataan yang sering tidak seindah semboyannya. Barangkali karena itulah akronim-akronim tersebut terasa lebih seperti slogan, bukan cerminan keadaan yang sesungguhnya. 

Dan di Kupang, bagi seorang pendatang seperti saya, julukan “Kota Kasih” saya simpan saja dalam dalam catatan ingatan. Walaupun ia terasa tak berbeda dengan slogan-slogan kota lain, dan sedikit terasa religius, saya ingin merasakan sendiri selama tinggal beberapa hari di sini. Dari kamar hotel tempat saya bekerja jarak jauh, dari jalan-jalan kota yang saya jelajahi, hingga dari orang-orang yang saya temui sepanjang perjalanan. 


Tinggal di Hotel

Pagi pertama ketika bangun tidur di hotel, ada dua pilihan untuk berolahraga. Yang pertama adalah memanfaatkan fasilitas sasana gimnasium. Atau yang kedua adalah berbasah-basahan di kolam renang. Lalu sarapan prasmanan di restoran hotel. Kemudian mandi air hangat. Dan tentu saja dilanjutkan dengan aktivitas membuka laptop untuk beraktivitas ditemani secangkir kopi atau teh dengan kudapan pilihan.

Ternyata, tinggal di hotel itu enak, ya? Dilayani bak raja, bagai tamu istimewa. Sprei putih bersih, diganti setiap hari atau saat kita minta pada petugas. Kamar bersih dan wangi, tak perlu nyapu dan ngepel sendiri. Mandi air hangat yang tinggal putar keran, tidak perlu pakai ember atau rebus air dulu. Pagi-pagi, sarapan tinggal pilih, tak perlu memasak atau jalan ke warung.

Tapi waktu saya duduk di pojok restoran, saya melihat petugas membereskan meja yang baru ditinggal tamu. Ada yang mengisi nampan buah yang sajiannya sudah menipis, ada juga yang mengelap permukaan meja dari tetesan susu. Piring-piring kotor dibawa pergi, diganti yang baru dengan gerakan cepat yang nyaris tak terdengar. Semua berjalan seperti rutinitas yang telah diulang berkali-kali setiap hari. 

Saya jadi berpikir bahwa kenyamanan yang saya nikmati ini datang dari hasil kerja banyak orang. Ada yang bangun lebih pagi dari saya, berangkat bekerja, menyiapkan sarapan. Ada yang meletakkan sendok dan garpu dengan posisi yang sama setiap hari. Barangkali juga ada yang bekerja jauh di balik dapur, memotong buah, mencuci piring, atau menyiapkan bahan makanan sejak subuh atau mungkin dini hari. 

Saya hanya tamu. Mereka yang bekerja itu, menyiapkan panggungnya. Dan dari pemandangan itu, pikiran saya berkelana ke mana-mana. Hidup ini bisa jadi hotel yang maha besar. Ada kuasa alam semesta yang menyiapkan segala sesuatu dengan sempurna. Nyawa kita, nafas kita, udara yang dihirup, rezeki, kesehatan, kasih sayang, bahkan hingga penderitaan dan jalan pulang. Kita cenderung lebih sibuk menikmati atau meratapi, sering luput siapa pemilik dan pengatur itu semua.

Ingatan tentang kuasa semesta itu datang sekilas ketika saya memperlambat aktivitas dan memperhatikan sekeliling. Manusia sebagai makhluk hidup di dunia ini, begitulah adanya. Sama seperti saya, Anda yang sedang membaca, dan kita semua. Peran dan panggung kita mungkin berbeda, tetapi pada dasarnya sama saja. Kita semua hanya sedang menjalani bagian masing-masing.

Dan daripada merenung lebih dalam dan jauh, lebih baik "kembali ke laptop". Beberapa surat elektronik dan pesan di kotak masuk, sudah menunggu untuk dibaca. Berbagai permintaan datang. Pekerjaan yang tertunda selama perjalanan juga mulai memanggil untuk diselesaikan satu per satu. Di kamar hotel yang tenang, hari kerja saya pun dimulai. 


Se'i Aroma

Waktu istirahat makan siang tiba. Untuk melunasi target kuliner yang tak sempat dicoba sehari sebelumnya karena keterlambatan pesawat, kali ini saya menyambanginya. Bersama Asa, saya meluncur ke sana diantar oleh taksi daring yang jadi pilihan moda transportasi  kami di Kupang. Tujuan kami: Depot Se'i Babi Aroma. Jaraknya tak sampai dua kilometer saja dari hotel tempat kami tinggal.

Se'i, dengan penulisannya yang berisi tanda petik tunggal antara "se" dan "i" ini, adalah kuliner daging asap khas Kupang. Diiris tipis dan dimasak perlahan dengan cara diasapi berjam-jam tanpa boleh terkena nyala api langsung. Asapnya pun adalah asap yang berasal dari kayu bakar berjenis kosambi, kayu arang yang banyak ada di Rote dan Timor. Bukan asap buatan dari kompor yang tentu sangat tidak sehat.

Pada awalnya, se'i ini adalah metode mengolah daging rusa hasil buruan di hutan. Praktik yang berasal dari tradisi masyarakat lokal. Namun seiring waktu dan karena rusa dilindungi, bahan utamanya perlahan beralih ke daging sapi atau babi. Beberapa ada juga se'i yang berbahan daging dari ikan atau kambing, walau tak banyak. Juga makin banyak disajikan dan bisa ditemui hingga di berbagai kota besar lainnya di Indonesia.

Di Kupang, ada banyak sekali depot atau warung makan yang menyediakan menu se'i ini. Dari berbagai rekomendasi yang saya dapatkan, pilihannya mengerucut pada dua tempat, yaitu Depot Aroma dan Depot Bambu Kuning. Keduanya menyajikan se'i babi yang melegenda. Bagi yang tak boleh mengkonsumsi daging babi, ada banyak pilihan tempat makan lain yang menyediakan se'i sapi, walaupun kurang dikenal sebagai destinasi kuliner utama kota ini.

Di Aroma, kami memesan dua porsi paket se'i babi dengan sayur daun pepaya, yang disajikan lengkap dengan sup, nasi putih, dan es teh manis. Sepengamatan saya, tingkat kematangan daging asapnya adalah medium well. Bagian dalam dagingnya coklat muda dengan sedikit merah muda, serat padat. Walaupun saya lebih suka yang well done, atau daging yang matang sempurna dan kering, sajian se'i di Depot Aroma ini tetap mantap saya nikmati. Aroma asapnya terasa kuat, dengan sedikit rasa pedas manis dari bumbu yang meresap. 

Setelah makan siang, kami tak berlama-lama di depot. Perut kenyang dan rasa asap se'i yang masih tertinggal di lidah menjadi penutup yang cukup untuk jam istirahat. Kami pun kembali ke hotel. Di kamar, laptop kembali saya buka untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat ditinggal. Sementara di kepala saya sudah terlintas rencana lain untuk nanti sore usai pekerjaan dituntaskan. Mungkin saatnya keluar lagi, berolahraga dengan berlari kecil menyusuri jalan-jalan kota.


Lari Sore Keliling Kota

Berlari sore di Kota Kupang akhirnya saya lakukan pada hari berikutnya. Saya memilih rute menyusuri jalanan di sekitar hotel yang merupakan kawasan bisnis. Ada banyak orang yang juga berolahraga lari di tempat ini. Rasanya, memang di sinilah, di sekitar Hotel Harper, pusat para penggiat lari berkumpul dan berkegiatan. Karena dibandingkan dengan tempat lain yang sempat saya lihat, tak ada yang seramai kawasan ini.

Rute lari saya kemudian menuju Jalan El Tari, jalan yang namanya diambil dari nama Gubernur Kedua Nusa Tenggara Timur. Ini adalah kawasan kantor pemerintahan, tempat di mana gubernur dan jajarannya beraktivitas. Sasando, alat musik tradisional Rote, menjadi ikon paling menonjol dari kantor sang gubernur.  Dan masih dalam satu kompleks, ada juga kantor-kantor instansi lain seperti rumah dinas pejabat, Kantor DPRD Tingkat I, hingga Kantor Kejaksaan dan Pengadilan Tinggi. 

Di seberangnya, di sepanjang trotoar, berderet pedagang kaki lima. Mereka menggelar lapak tempat berjualan dengan meja dan kursi untuk pembeli yang beratapkan terpal. Menu jualannya: jagung bakar, bubur kacang hijau, mie goreng dan rebus, serta berbagai jenis minuman kopi dan teh, juga minuman berbagai rasa yang sebagian besar adalah minuman dari bubuk kemasan saset.

Saya menyusuri sepanjang Jalan El Tari ini ke arah barat daya. Berlari-lari santai hingga tiba di sebuah pertigaan jalan yang jadi ujungnya, di mana di pojokannya ada kompleks Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur.  Lapangan olahraganya yang hijau begitu menonjol terlihat dari sisi luar. Konon, lapangan ini adalah yang terbaik di Kota Kupang. 

Yang menarik, jalan berikutnya dari persimpangan di dekat kantor polisi ini bernama Jalan Jenderal Soeharto. Tergelitik dengan penamaannya, saya mencari tahu. Nama itu disematkan sejak tahun 1966, masa ketika sang presiden kedua itu baru naik ke pucuk kekuasaan. Juga masa di mana Provinsi Nusa Tenggara Timur sedang disiapkan dari pemekaran Provinsi Sunda Kecil, di mana ia masih bergabung bersama Bali, Lombok, dan Sumbawa.  Kota mana pun di dunia, termasuk Kupang, menyimpan banyak lapisan cerita sejarah, termasuk politik dan sosialnya sendiri.


Bertemu Teman Baru

Berkunjung ke Kupang, membuat saya menargetkan pendakian ke salah satu gunung yang belakangan ini sedang naik daun. Yaitu: Gunung Mutis. Saya yang tak membawa banyak peralatan mendaki, kemudian mendapatkan rekomendasi untuk bisa mewujudkannya. Tersebutlah satu nama: Indonesia Jelajah Rimba atau biasa disingkat IJR. Beberapa kenalan saya ternyata pernah berkeliling Timor dengan anak-anak dari IJR ini.

Saat lari dan mampir ke base camp mereka, ternyata kosong. Pintunya terkunci. Rupanya mereka semua sedang buka puasa bersama. Ya, karena Ramadhan baru datang. Anggota IJR yang sebagian besar beragama Islam dan merupakan alumni Himpunan Mahasiswa Islam dari berbagai kampus di Kupang, tentu merayakan waktu berbuka itu. Pesan saya kirimkan dan berbalas. Malam usai tarawih, kami akan bertemu.

Di sebuah warung kopi di salah satu sudut pinggir Jalan El Tari, akhirnya kami duduk dan berbincang. Adjam, Gafur, dan Dhewa. Mereka bersama beberapa temannya, yang sebagian besar baru lulus kuliah beberapa tahun belakangan ini, merintis usaha persewaan alat-alat kemping dan mendaki gunung. Juga menyediakan jasa pengelolaan perjalanan, baik yang bersifat terbuka atau open trip maupun tertutup atau private trip. Kebanyakan melayani gunung-gunung di Timor dan Flores.

Dari perbincangan kami berempat, Dhewa sepakat akan menemani saya mendaki. Ia bilang perjalanan ke Mutis tidak sulit diatur. Kami berbincang sebentar tentang peraturan di sana,  jalur yang biasa dipakai,  serta perlengkapan yang perlu disiapkan. Selebihnya, kami akan berkoordinasi lewat Whatsapp dan mengatur detailnya dalam satu dua hari ke depan sebelum hari-H.


Janji Pendakian

Kami kemudian berpisah setelah obrolan yang terasa hangat dan ringan. Rasanya menyenangkan bisa menemukan teman baru di kota yang sebelumnya sama sekali asing bagi saya. 

Kupang yang awalnya hanya tempat singgah untuk beberapa hari, perlahan membuka pintu-pintu kecil pengalaman yang lain. Dari meja warung kopi sederhana, rencana perjalanan berikutnya mulai terbentuk. Beberapa hari lagi, kami akan bergerak ke arah timur, menuju kaki Gunung Mutis di Kabupaten Timor Tengah Selatan. []


I Komang Gde Subagia | Kupang, Februari 2026

Comments