Fatumnasi

Perjalanan ke Gunung Mutis membawa saya ke sebuah desa yang menjadi titik awal pendakian. Tempat saya sejenak menyaksikan nilai-nilai yang menyimpan cara pandang berbeda tentang alam dan kehidupan. Di ketinggian Pulau Timor, di antara kabut yang turun perlahan, Fatumnasi memberikan cerita yang berjalan pelan dalam ingatan.

Fatumnasi dengan batu tua di belakangnya. 


Desa di Atas Awan

Kabut dan dingin terus turun kala kedatangan saya dan Dhewa Satriawan di Fatumnasi. Udara terasa basah dan tipis, menusuk pelan hingga ke sela-sela jaket, sementara pandangan hanya dibatasi beberapa puluh meter ke depan. 

Fatumnasi adalah nama sebuah desa di sisi selatan Gunung Mutis. Belakangan, desa di tengah Pulau Timor bagian Nusa Tenggara Timur ini cukup terkenal. Penyebabnya karena daya tarik dari gunung yang berdiri gagah di wilayahnya. Ia berlokasi di ketinggian seribu lima ratusan meter dari permukaan laut, sering disebut sebagai desa di atas awan. Pada pagi dan sore hari, kabut bisa turun begitu rendah hingga atap-atap rumah seperti tenggelam di dalamnya.

Nama desa ini menarik perhatian saya. Sebelumnya saya mengunjungi Fatu Nausus, batu marmer di wilayah lain. Kini, Fatumnasi. Keduanya memiliki nama identik, dengan awalan sama: Fatu. Dan di Google Maps, saya juga melihat ada banyak tempat yang namanya diawali dengan "fatu". Apa gerangan artinya?

Rasa penasaran itu terjawab setelah saya bertanya pada Dhewa. “Fatu itu batu,” katanya. “Mnasi itu tua.” Fatumnasi, dengan begitu, berarti “batu tua”.  Keduanya adalah kosa kata dari bahasa lokal, bahasa yang digunakan masyarakat Suku Dawan, kelompok etnis mayoritas di Timor yang sebagian besar mendiami wilayah Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara.

Lalu di mana batu tua itu? Ada di sisi timur desa. Tapi sepanjang mata memandang ke arah matahari terbit dari desa ini, yang terlihat hanya lapisan udara putih. Ketebalannya yang bergerak pelan dan halus seolah menyembunyikan gunung dan hutan yang seharusnya tampak di kejauhan. 

Jalan utama yang membelah di tengah perkampungan begitu mulus, lurus memanjang dari selatan ke utara, seperti baru saja diaspal. Di masing-masing tepiannya, di sisi barat maupun timur jalan, rumah-rumah warga yang sederhana berdiri lebih rendah dari posisi jalan. 

Di beberapa halaman, terlihat kayu bakar ditumpuk rapi. Asap tipis mengepul dari rumah-rumah beratap jerami, menandakan aktivitas sore yang tetap berjalan meski kabut belum sepenuhnya terangkat dan gelap akan datang. Kami berhenti dan memarkir motor. Lalu turun ke salah satu rumah. 

Sang pemilik rumah rupanya tak ada. Dhewa celingukan mencari di mana ia gerangan. Saya memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitarnya. Menyusuri tanah becek, melihat-lihat keadaan, di mana satu rumah dengan rumah lain tak ada pagarnya. Beberapa ekor anjing menyalak melihat saya, orang asing yang tiba-tiba keluyuran di wilayah kekuasannya.

Saat pagi atau sore jika cerah, gumpalan awan tampak di ujung jalan di Desa Fatumnasi.

Kawasan hutan di Desa Fatumnasi, di kaki Gunung Mutis.

Di depan Kantor Resort KSDA Fatumnasi. Tempat mengurus Simaksi pendakian ke Gunung Mutis.


Ibrahim Bay

Sesosok pemuda kurus berotot kemudian datang dan menyambut ramah, langkahnya ringan di tanah yang masih basah. Dialah sang pemilik rumah. Namanya Ibrahim Bay, usia tiga puluhan awal. Panggilannya Iba.

Iba adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Dua kakaknya sudah berkeluarga, satu lagi merantau di Kupang. Kedua orang tuanya telah lama berpulang, sehingga kini ia tinggal sendiri di rumah itu, rumah yang juga kerap menjadi tempat singgah bagi Dhewa dan teman-teman Indonesia Jelajah Rimba. 

Untuk mendaki Gunung Mutis, yang menjadi tujuan utama saya ke Fatumnasi, ada beberapa aturan yang harus dipatuhi. Tidak boleh berkemah di dalam kawasan hutan atau padang rumput. Dan pendaki juga wajib menggunakan jasa pemandu lokal. Di sinilah peran Iba dalam perjalanan saya. Ia yang akan menemani saya esok hari menyusuri gunung. 

Sehari-hari, Iba bertani. Menanam ubi atau jagung di ladangnya di tepian desa. Memelihara beberapa ekor babi, sapi, kuda, dan ayam. Juga memiliki seekor anjing yang tadi menyalak pada saya dan kini telah berubah jadi ramah. Anjing yang bernama Joni itu terlihat malas dan mendengkur di pintu belakang yang terhubung dengan dapur dan rumah Iba yang lama.

Bli Gejor bersama Iba dan Dhewa.


Rumah Bulat

Saya melihat banyak rumah beratap jerami berbentuk bulat kerucut di desa ini. Hampir di setiap halaman, satu bangunan berdiri dengan bentuk yang sama. Bangunan aneh nan unik itu seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap rumah. 

Kemudian, saya pun tahu. Itulah rumah bulat. Warga setempat menyebutnya Ume Kbubu. Sebuah bangunan yang biasanya difungsikan menjadi dapur dan tempat menyimpan hasil panen. Ada tungku perapian di dalamnya, yang jika memasak, asap putih akan mengepul dari celah-celah jerami dan dinding-dindingnya yang terbuat dari bambu. 

Dalam perjalanan dari Kupang hingga Soe, saya hampir tak melihat rumah jenis ini. Ume Kbubu memang khas milik masyarakat Suku Dawan, kelompok masyarakat yang mendiami wilayah Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, hingga sebagian Timor Leste. Di Fatumnasi, keberadaan rumah tradisional ini masih terjaga. 

Meski telah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh pemerintah, rumah adat ini juga menyimpan persoalan. Tungku yang menyala di dalam ruangan membuat suhu menjadi panas, sementara ventilasi yang minim menyebabkan asap terperangkap. Dalam beberapa catatan, kondisi seperti ini kerap dikaitkan dengan tingginya kasus infeksi saluran pernapasan di wilayah Timor. 

Saya menyempatkan diri masuk ke dalam Ume Kbubu di salah satu rumah tetangga Iba. Sang pemilik mempersilakan saya masuk untuk sekadar ngobrol di sore hari. Di dalamnya temaram. Cahaya hanya masuk dari pintu yang rendah. Langit-langitnya menghitam oleh asap, dan lantainya berupa tanah dengan bebatuan yang disusun sederhana sebagai tempat duduk. Bau kayu bakar masih tersisa di udara. 

Di dalamnya terasa hangat. Ini begitu kontras dengan dingin di luar. Mungkin karena Fatumnasi berada di ketinggian, rumah-rumah seperti ini dengan perapiannya tetap bertahan. Rasanya tak jauh berbeda dengan tradisi “ngidu” di Bali, ketika orang-orang berkumpul di dapur, duduk di depan api, berbagi cerita sambil menghangatkan tubuh. Dapur rasanya bukan sekadar ruang memasak, tetapi juga ruang keluarga.

Rumah bulat atau Ume Kbubu.


Makam Keluarga 

Ada satu hal yang sempat terasa seperti gegar budaya atau culture shock bagi saya selama berkunjung ke Indonesia Timur, termasuk di Pulau Timor: makam yang berada di lingkungan rumah. Kadang ada di halaman, kadang bahkan menyatu dengan bangunan. 

"Itu makam Bapak dan Mama" kata Iba ketika saya bertanya perihal makam di samping rumah bulatnya. Letaknya persis di dekat setapak yang menghubungkan rumah utama dengan kamar kecil di bagian belakang.

Bertutup keramik hijau yang rapi, datar dan cukup luas seperti meja, makam itu tampak menyatu dengan halaman. Tidak ada kesan angker. Yang ada justru terasa bersih dan terawat, seperti bagian dari rutinitas kehidupan sehari-hari. 

Saat hari raya seperti Natal, ziarah atau siram rampai dilakukan. Keluarga membersihkan pemakaman, menyalakan lilin, berdoa, lalu makan bersama di sana sebagai simbol syukur dan rasa berbagi dengan kerabat yang telah berpulang.

“Kasihan Bapak dan Mama jika dimakamkan di tempat pemakaman umum,” lanjut Iba. Bagi saya, kalimat itu sederhana, tapi mengandung cara pandang yang berbeda. Yang telah tiada tetap dianggap dekat, bukan sesuatu yang harus dijauhkan. Kesempatan untuk merawat makam pun tidak bisa sering dilakukan jika lokasinya jauh dari rumah.

Meski ada imbauan dari pemerintah daerah terkait pelarangan pemakaman di dalam rumah, banyak warga tetap mempertahankan tradisi ini. Selain karena ikatan emosional, sering kali ada pula wasiat keluarga untuk dimakamkan di halaman rumah. 

Malam hari, menyadarkan saya akan satu hal kecil. Saya, yang biasa terjaga hingga larut dan hendak buang air kecil sebelum tidur, harus melewati setapak di samping makam keluarga itu, dalam gelap dan udara yang dingin. Untung saja ada Si Joni yang ikut terbangun dan menemani, berjalan di samping saya sambil mengibas-ibaskan ekornya.

Si Joni.


Malam di Fatumnasi

Malam di Fatumnasi turun seperti kabut itu sendiri. Nyaris tanpa keributan berarti, lalu perlahan berubah menjadi sunyi. Dingin merayap masuk melalui celah-celah dinding. Di dalam rumah, saya meringkuk di dalam kantong tidur yang hangat sambil menuliskan beberapa catatan di ponsel yang tak mendapatkan sinyal. Sementara Iba dan Dhewa tampak pulas dan mendengkur di kasur seberang saya.

Di luar, sesekali terdengar lolongan anjing di jalanan. Dengkur Si Joni yang sayup. Serta dengus suara babi yang terikat di kandang belakang. Fatumnasi, dengan segala kesederhanaannya, perlahan mengantarkan saya terlelap dan mendaki ke alam mimpi. []


I Komang Gde Subagia | Fatumnasi, Timor Tengah Selatan 2026



Comments