Skip to main content

Sebuah Percakapan dalam Perjalanan

Langit Jakarta perlahan mulai gelap. Lampu-lampu gedung dan penerang jalan mulai menyala terang. Pun begitu juga dengan sorotan-sorotan lampu dari kendaraan yang lalu-lalang di sepanjang jalan MT Haryono dan Gatot Subroto sore itu. Saya sedang berada di dalam taksi bersama dua orang sahabat menuju salah satu sudut tempat belanja yang konon katanya terbaru di metropolitan ini. Percakapan pun terjadi di sepanjang perjalanan yang lancar di penghujung akhir pekan ibu kota.

* * *

"Gila! Tanah di Bali harganya tak terkira. Baru sebulan lalu bisa dibeli, sekarang sudah jauh melambung tinggi", begitu ujar salah seorang membuka pembicaraan. Katanya, harga tanah di pulau  pariwisata dunia ini harganya memang pasti tinggi dan selalu melaju naik tinggi. Ia berpendapat bahwa ini karena maraknya para pejabat dan orang-orang yang memiliki pangkat tinggi melakukan pencucian uang dalam tindakan korupsinya. Lihat saja contoh mantan Komisaris Jenderal Djoko Susilo yang memiliki tanah luas di Tabanan, Bali. Dari mana ia mendapatkan uang untuk membelinya? Sementara masyarakat sendiri kesusahan untuk bisa memiliki rumah, terutama mereka yang membutuhkan, orang-orang muda yang baru beranjak dewasa dan membentuk keluarga.

Ok, itu jika dilihat dari sudut pencucian uang oleh oknum-oknum koruptor. Kalau pendapat yang lain berbeda lagi, harga tanah melambung tinggi  disebabkan oleh timpangnya kemampuan masyarakat. Banyak anak muda yang bekerja di luar daerah pada perusahaan asing atau multi nasional pulang membawa uang yang tak sedikit. Juga anak-anak muda Bali yang menghabiskan waktunya di atas kapal, konon katanya juga pulang membawa uang melimpah. Belum lagi isu banyaknya perilaku kotor dalam penerimaan aparatur negeri atau PNS, juga konon ada pengerucutan aliran uang. Oleh pemiliknya, semua itu cukup untuk bisa dengan mudah membeli tanah tanpa banyak menawar. Inilah yang merusak harga, mengubah daya beli masyarakat dan pola pasar. Kehancuran mengancam. Alih fungsi lahan pun makin menjadi. Daripada bertani lebih baik jual beli tanah, begitu mungkin sekarang kebiasaan yang ada menari-nari.

Sebuah Percakapan dalam Perjalanan
Kemudian, tak usah pula mengambil contoh di Bali saja. hampir di setiap daerah harga tanah melambung tinggi. Banyak tempat dan banyak yang menjadi sebab. Mari kita lihat sebab yang lain : perubahan gaya atau pola hidup dan budaya masyarakat. Ini sangat amat besar pengaruhnya. Gaya atau pola hidup dan budaya yang saya maksudkan ini adalah tertanamnya rasa yang tidak pernah merasa cukup. Lihat saja sekarang ini, semua berlomba-lomba memiliki mobil walaupun harus mencicil dengan  bunga yang besar dan waktu yang lama. Ukuran kesejahteraan masyarakat sekarang dinilai dari kepemilikan mobil, sebuah fenomena masyarakat yang merajalela di negara berkembang. Kemudian ukuran yang lain adalah memiliki rumah di kota. Jika sudah memiliki satu rumah, masih tetap ada keinginan untuk menambah lagi. Belum lagi berbagai barang teknologi lainnya yang saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok : handpone elit yang tak cukup hanya satu, laptop mewah, pakaian kinclong berbagai mode, tas dan jam tangan mahal, serta berbagai asesoris lainnya. Kebutuhan manusia seperti tak pernah ada cukupnya. Apalagi di mana-mana orang yang sebenarnya intelek dan bisa membuat perubahan dalam masyarakatnya berlomba-lomba untuk bisa mencapai kondisi sempurna yang digadang-gadang dengan sebutan passive income.

Ah... Passive income katanya. Sekarang mari coba sedikit berbicara tentang passive income ini. Menurut saya teori yang disampaikan dalam passive income adalah benar. Benar, tetapi tidak bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat, semua umat manusia. Sekali lagi, tidak untuk semua. Ia harus ada objeknya. Objeknya ini adalah objek yang menjadi penderita, mereka yang bukan pemilik modal. Ia yang memiliki modal akan semakin besar dan membesar. Sementara sang objek yang kecil tak memiliki modal akan semakin kecil, mengecil dan tertindas. Pikirkan saja, jika semua orang berpikir memiliki aset dan berniat menyewakannya untuk mencapai passive income, lantas siapa yang akan menjadi penyewanya?

Ini gila menurut saya. Passive income hanya menyejahterakan segelintir orang, tidak merata kepada seluruh masyarakat, tidak merata kepada semua umat manusia. Dan yang lebih parah lagi, pola hidup dan budaya seperti ini adalah boros. Ia membutuhkan banyak sekali sumber daya. Orang berlomba-lomba untuk melipatgandakan uang dan segala yang dibutuhkannya dengan mengeksploitasi sumber daya sebanyak-banyaknya. Karena ingin memiliki rumah yang banyak untuk disewakan maka sawah-sawahnya diubah menjadi rumah kontrakan, pertokoan, dan lain-lain; maka sawah pun habis. Karena ingin melipatgandakan hasil perkebunan, hutan-hutan ditebang untuk perluasan kebun; hutan pun habis dan hewan-hewan yang menyeimbangkan kehidupan menjadi hilang. Karena ingin memperbanyak persediaan makanan laut, ikan-ikan ditangkap secara besar-besaran; sumber daya laut pun makin menipis tidak sesuai dengan percepatan pemulihannya. Karena mobil dan motor makin banyak digunakan untuk sekedar bergaya atau benar-benar perlu, bahan bakar minyak pun digali besar-besaran untuk bisa mensuport kebutuhan motor dan mobil itu; sumber bahan bakar menjadi makin menipis dan habis. Karena gadget yang dimiliki makin banyak untuk update status dan bersosialisasi dalam media sosial di dunia maya, listrik pun makin banyak dibutuhkan; maka pemadaman bergilir pun dilakukan, batubara makin menipis, pembangkit listrik makin banyak dibangun dan merusak ekosistem alami. Jadi, hampir semuanya menjadi benar-benar boros. Pola hidup dan budaya kita cenderung membutuhkan banyak sumber daya yang sebenarnya tidak atau belum kita perlukan. Percepatannya terlalu cepat.

Kalau dipikir-pikir, apa yang saya sampaikan itu cenderung sosialis dan melawan kapitalis. Menurut saya, ini bukan masalah sistem yang dianut dalam peradaban manusia di planet bumi ini. Bukan masalah kapitalis itu jelek dan sosialis itu baik, atau sebaliknya. Bukan pula masalah saya sedang menyatakan sistem apa yang saya anut. Sekali lagi, bukan. Bukan. Tetapi bagi saya ini adalah masalah keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat.  Kehidupan kita semua. Siapa yang bisa mengontrol kepemilikan lahan? Siapa yang bisa mengontrol jual beli motor dan mobil? Siapa yang bisa mengontrol pemborosan makanan dan berbagai sumber daya alam karena gaya hidup kita? Adalah mereka yang memegang kebijakan, memegang masa depan orang banyak : pemerintah. Saya sangat cenderung setuju dengan pendapat Ahok -Wakil Gubernur DKI Jakarta- yang mengatakan bahwa "hentikan kemampuan dan niat menjual aset oleh rakyat, tetapi tingkatkan pemenuhan kebutuhan rakyat secara merata".

Kenapa kita tak tahu atau kenapa tak ada pertaturan yang membatasi kepemilikan lahan? Tentang pembatasan kepemilikian berbagai benda yang banyak menghabiskan sumber daya? Kenapa kebutuhan pokok manusia tidak bisa dinikmati oleh seluruh manusia? Seperti kesehatan dan pendidikan yang gratis untuk semuanya? Makan dan pakaian yang bisa dipenuhi oleh setiap orang dengan baik? Rumah yang bisa dimiliki oleh mereka yang memang membutuhkannya? Andai itu terjadi, maka tak ada lagi orang berlomba-lomba menghabiskan segala sumber daya yang ada di bumi ini karena segala kebutuhannya yang mendasar tercukupi dengan baik. Sangat jauh lebih baik orang berlomba-lomba menambah kesejahteraannya melalui kreativitasnya, kreativitas yang dilahirkan oleh buah pemikirannya yang tidak menghabiskan banyak sumber daya. Kalau istilah kerennya : intensifikasi, bukan ekstensifikasi.

Hhh... Tapi sekarang, memang beginilah kenyataannya. Sebagian besar dari kita terbuai dalam masa persimpangan budaya dan teknologi tanpa dibarengi berpikir dengan lebih kritis. Mungkin saya yang terlalu berlebihan mengutarakan tentang apa yang saya rasakan. Dan saya juga tak memungkiri juga bahwa saya ikut terlibat dalam fenomena gaya hidup dan budaya masyarakat sekarang ini. Walaupun secara tindakan yang besar bisa diambil oleh pemegang kebijakan, oleh pemerintah, tapi kita sendirilah sebagai individu yang bisa berbuat untuk mewujudkan kehidupan manusia ke depannya lebih baik. Kehidupan yang layak bagi kita semua umat manusia.

Kalau seandainya kita memiliki sedikit waktu untuk berpikir, di tengah kenyamanan yang bisa kita capai atau kita miliki sekarang, cobalah untuk memikirkan bagaimana kehidupan kita semua (sekali lagi : kita semua) di masa sepuluh atau seratus tahun yang akan datang. Apakah nanti akan lebih baik atau lebih buruk dari sekarang? Semoga apa yang kita miliki saat ini masih cukup untuk ribuan generasi di masa depan. Bukan hanya pada generasi diri kita sendiri, keluarga kita sendiri, atau masyarakat dan golongan kita sendiri, tapi bagi semua umat manusia dan segala mahluk hidup yang menghuni dunia ini.

* * *

Taksi pun merapat di tepian jalan Dokter Satrio. Malam sudah bertambah malam. Lalu-lalang orang berlalu di sepanjang pedestrian gedung baru yang nyaman ini. Di seberang, warna-warni cahaya lampu pada penyangga beton fly over berpendaran dengan indahnya, seolah ia memperlihatkan suasana clebongkah batan biu gumi linggah ajak liu : banyak orang di dunia ini dengan berbagai tujuan dan kepentingannya. Dan begitulah adanya di dunia ini. Semoga saja tujuan dan kepentingan berbagai macam orang itu itu bisa membawa kebaikan bagi kita semua. []

Jakarta, Juli 2013

Comments